• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lahirnya Gadai

4.8 Penggolongan Jaminan

4.8.4 Lahirnya Gadai

harus dibayar maka benda siapa yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya.”

“Berdasarkan pasal tersebut maka kreditor yang beritikad baik dapat menganggap bahwa debitor yang menguasai benda bergerak tidak bernama adalah pemilik dari benda tersebut”.251

Jika mencermati lebih lanjut dapat dikatakan bahwa, apabila benda bergerak tersebut adalah benda bergerak atas nama maka kreditor bukanlah kreditor yang beritikad baik, karena pemilik sebenarnya dari benda bergerak tersebut dapat diketahui dari surat-surat yang menyertainya. Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa orang yang berwenang untuk menggadaikan suatu benda adalah pemilik dari benda tersebut. Apabila dia bukan pemilik benda, maka penerima gadai yang beritikad baik tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak boleh dituntut untuk mengembalikan benda tersebut oleh pemilik sebenarnya. Namun, apabila benda yang digadaikan padanya adalah benda bergerak atas nama, maka pemilik dari benda tersebut boleh menuntut pengembalian bendanya karena dianggap kreditor sudah beritikad buruk.

kreditor. Persyaratan ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1152 ayat (2) dan ayat (3) KUHPerdata yang menyatakan sebagai berikut:

Ayat (2) “Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang bawa diletakkan dengan membawa benda gadainya di bawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.”

Ayat (3) “Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang tetap dibiarkan dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan si berpiutang”. Dari ketentuan Pasal 1152 ayat (1) dan (2) KUHPerdata dapat disimpulkan bahwa sahnya suatu perjanjian gadai itu didasarkan kepada penyerahan kebendaan yang digadaikan ke dalam penguasaan kreditor atau pihak ketiga yang ditunjuk bersama. Apabila benda gadai tetap berada dalam penguasaan debitor maka gadai tersebut tidak sah. Penyerahan disini bukanlah penyerahan secara yuridis yang menyebabkan si penerima menjadi pemilik benda gadai. Hal ini berarti, penerima gadai tidak memiliki hak untuk menikmati benda gadai dan hak untuk bertindak bebas terhadap benda gadai itu.

Oleh karena itu, dengan penyerahan tersebut, pemegang gadai hanya berkedudukan sebagai pemegang saja dan benda gadai hanya sebagai jaminan pemenuhan prestasi. Penerima gadai tidak menjadi bezitter dalam arti bezit keperdataan yaitu suatu keadaan di mana seseorang menguasai suatu benda seolah-olah benda itu adalah miliknya sendiri.253

Oleh karena itulah, maksud dari penyerahan tersebut adalah benda gadai harus keluar dari penguasaan pemberi gadai. Berdasarkan hal tersebut maka pada prinsipnya ada 2 (dua) syarat untuk lahirnya gadai. Pertama, adanya perjanjian gadai. Kedua, adanyapenyerahan benda gadai dari debitor kepada kreditor, antara lain sebagai berikut:

1) Perjanjian gadai. Perjanjian gadai sebagai perjanjian assesoir memiliki arti bahwa untuk terjadinya gadai, harus terlebih dahulu dibuat suatu perjanjiangadai dengan tujuan untuk memberikan jaminan terhadap perjanjian pokoknya. Bentuk dari perjanjian gadai tidak ditentukan secara khusus, apakah dibuat secara tertulis atau lisan, namun yang terpenting adalah bahwa perjanjian gadai tersebut harus dibuktikan adanya.

2) Penyerahan benda gadai dari pemberi gadai kepada pemegang gadai. Syarat yang kedua yang mesti ada yaitu

253Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2002, h. 63.

adanya penyerahan nyata kebendaan yang digadaikan tersebut dari tangan debitor pemberi gadai ke dalam penguasaan kreditor pemegang gadai.254

Penyerahan nyata tidak perlu harus merupakan penyerahan dari tangan ke tangan, yang penting benda jaminan keluar dari kekuasaan pemberi jaminan. “Dengan cara traditio brevi manu atau secara simbolis tidak menjadi halangan sepanjang benda gadai sudah ada dalam tangan pemegang gadai”.255

Sesuai dengan yang sudah disebutkan sebelumnya objek gadai terdiri dari benda bergerak tidak bertubuh dan benda bergerak bertubuh, maka penyerahan bendanya dapat dibagi berdasarkan:

a. Gadai terhadap benda bergerak bertubuh dan tagihan atas bawa, dilakukan dengan cara membawa kebendaan yang akan digadaikan tersebut dan kemudian diserahkan kepada kreditor untuk dijadikan jaminan.

b. Gadai terhadap tagihan atas tunjuk dilakukan dengan cara penyerahan dan endosemen karena memuat piutang-piutang yang memuat nama orang yang menerima pembayaran.

Sehingga tanpa adanya endosemen, seseorang tidak dapat mengatakan bahwa dia memiliki tagihan atas itu. Endosemen berfungsi sebagai bukti bahwa pembayaran dapat dilakukan kepada kreditor apabila debitor tidak memenuhi prestasinya.

c. Gadai terhadap tagihan atas nama dilakukan dengan cara memberitahukan kepada debitor, bahwa surat tersebut telah dijadikan jaminan gadai. Pemberitahuan dari kreditor ini dapat dilakukan secara lisan ataupun tertulis yang penting pemberitahuan tersebut merupakan bukti bahwa debitor telah mengeluarkan penguasaan atas surat yang dijadikan jaminan gadai tersebut.

Lahirnya gadai dapat dilihat dalam skema berikut:

254 ELIPS, Seri Dasar Hukum Ekonomi 4: Hukum Jaminan Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1998, h. 16.

255 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, Op.Cit., h. 97.

Skema Lahirnya Gadai

Dalam praktiknya, dapat terjadi dua kemungkinan peristiwa yang timbul dalam gadai, antara lain:

1) Gadai Kedua. Peristiwa gadai kedua dapat terjadi apabila adanya dua tagihan pada dua orang kreditor yang timbul pada saat yang sama dan dijamin dengan satu benda gadai yang sama, atau adanya dua tagihan pada dua orang kreditor yang berlainan yang timbul secara berturut-turut, tetapi dijamin dengan benda gadai yang sama. Dalam hal ini, kedudukan kreditor yang satu bagi kreditor lain merupakan pihak ketiga. Dalam hal piutang terjadi berturut-turut tersebut, maka cara meletakkan gadai cukup dengan pemberitahuan kepada pemegang gadai pertama (yang

Kreditor

Perjanjian Gadai Penerima gadai Debitor

Pemberi gadai

Perjanjian Pokok

Benda Pihak ketiga

pemegang gadai (1) Pemegang gadai

Benda Penyerahan

terlebih dahulu menjadi pemegang gadai) tentang adanya perjanjian gadai lagi.

Dengan adanya ciri gadai sebagai hak kebendaan maka pada prinsipnya hak kebendaan yang lahir lebih dahulu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada hak kebendaan yang lahir kemudian. Sehingga adanya gadai yang kedua pada asasnya tidak melemahkan gadai yang pertama.256

2) Gadai ulang. Peristiwa gadai ulang dapat terjadi apabila kreditor pemegang gadai atau pihak ketiga pemegang gadai menjaminkan benda gadai yang ada dalam penguasaannya kepada pihak lain tanpa sepengetahuan pemberi gadai.

Dalam hal ini, benda gadai tetap milik pemberi gadai, sehingga pemegang gadai yang hanya memiliki hak gadai sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk menggadaikan karena dia bukanlah pemilik.

Untuk lebih memperjelas lagi mengenai peristiwa gadai kedua dan gadai ulang, penulis akan mencoba menerangkannya dengan bagan disertai contoh di bawah ini:

Misalkan A berhutang kepada B sebesar 10 juta rupiah dengan menyerahkan sepeda motor seharga Rp. 15.000.000,- dalam penguasaan B sebagai jaminan gadai. Kemudian A berhutang lagi kepada C sebesar Rp. 3.000.000,- dengan jaminan sepeda motornya yang berada dalam penguasaan B. Dalam peristiwa tersebut dari sudut pandang C maka B adalah pihak ketiga yang memegang benda gadai.

Dalam hal pelunasannya apabila A tidak memenuhi prestasinya, maka B mendapatkan pelunasan lebih dahulu sebesar Rp. 10.000.000,- kemudian sisa hasil uang hasil penjualan untuk melunasi hutang C.

Peristiwa inilah yang disebut gadai kedua. Karena menggadaikan untuk

“kedua kalinya” atas benda yang sama.

256 Rachmadi Usman, Op.Cit., h. 125.

Skema Gadai Ulang

Misalkan A berhutang kepada B Rp. 10.000.000,- dan sebagai jaminan hutangnya menyerahkan sepeda motornya seharga Rp.

15.000.000,-sebagai benda gadai dalam penguasaan B. Tanpa sepengetahuan A, B yang berhutang kepada C menyerahkan sepeda motor milik A sebagai jaminan hutangnya kepada C. Peristiwa inilah yang disebut gadai ulang, yaitu peristiwa di mana seorang pemegang gadai (B) menggadaikan barang gadai yang ia pegang kepada kreditornya B yaitu C. Dalam hal ini tindakan B menggadaikan benda gadai yang ia pegang merupakan suatu pelanggaran terhadap prinsip dalam hukum jaminan, dimana B tidak berwenang untuk menggadaikan benda gadai karena dia bukan pemilik dari benda gadai tersebut.