dalam hubungannya dengan keadilan mengajukan 3 (tiga) struktur fundamental (hubungan dasar), yaitu: (a) Hubungan antar individu (ordo partium ad partes); (b) Hubungan antar masyarakat sebagai keseluruhan dengan individu (ordo totius ad partes); (c) Hubungan antara individu terhadap masyarakat secara keseluruhan (ordo partium ad totum).73
Selanjutnya Thomas Aquinas menyatakan bahwa: keadilan distributif pada dasarnya merupakan penghormatan terhadap person manusia (acceptio personarum) dan keluhurannya (dignitas). Dalam konteks keadilan distributif, keadilan dan kepatutan (equity) tidak tercapai semata-mata dengan penetapan nilai yang aktual, melainkan juga atas dasar kesamaan antara satu hal dengan hal lainnya (aequalitas rei ad rem).74
Penghormatan terhadap person/seseorang dapat terwujud apabila ada sesuatu yang dibagikan kepada seseorang tersebut sebanding dengan yang seharusnya ia terima. Dengan dasar pemikiran tersebut maka pengakuan terhadap seseorang harus diarahkan pada pengakuan terhadap kepatutan (equity), kemudian pelayanan dan penghargaan didistribusikan secara proporsional atas dasar harkat dan martabat manusia.
Paul Tillich, memyatakan bahwa: “Keadilan yang terkandung dalam keadilan atributif, keadilan distributif dan keadilan retributif bersifat proporsional (baik positif maupun negatif), selanjutnya keadilan proporsional ini disebut keadilan tributif”.75
Berdasarkan pembedaan keadilan sebagaimana dimaksud dalam pernyataan di atas, maka keadilan distributif dipandang sebagai awal mula munculnya semua jenis teori keadilan. Dinamika keadilan yang berkembang di masyarakat dalam telaah para ahli pada umumnya berlandaskan pada teori keadilan distributif, meskipun dengan berbagai versi dan sisi pandangannya masing-masing.
Dalam teori etika modern terdapat 2 (dua) prinsip untuk keadilan distributif, yaitu prinsip formil dan prinsip materiil.
Kedua prinsip tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: (a) Prinsip formal, sebagaimana yang dikemukakan Aristoteles, bahwa equals ought to be treated equally and unequals may be
73 Ibid., h. 125-126.
74 E. Sumaryono, Etika Hukum Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, Kanisius Yogyakarta, 2002, h. 90-91.
75 Paul Tillich, Cinta, Kekuasaan dan Keadilan, Pusaka Eureka, Surabaya, 2004, h. 74-75.
treated unequally. Prinsip ini beranjak dari asumsi untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama. Prinsip ini menolak adanya perbedaan perlakuan (diskriminasi). (b) Prinsip materiil, menyatakan bahwa prinsip ini mempunyai karakter melengkapi prinsip formil. Prinsip ini bersanding secara korelatif dengan prinsip formil yang menekan pada aspek formalitas prosedural, dengan tetap memperhatikan aspek subtantif terhadap penghargaan perlakuan kepada masing-masing pihak.76
Ukuran dalam menentukan keadilan didasari oleh kebutuhan masyarakat modern dipandang dari sisi etika. Keadilan formal dilandasi oleh pemberlakuan syarat formal dalam melakukan transaksi dan syarat subtansi yang dilandasi oleh kepentingan masing-masing pihak.
Menurut L.J. van Apeldoorn, J.van Kan dan J.H. Beekhuis dinyatakan bahwa: keadilan itu memperlakukan sama terhadap hal yang sama dan memperlakukan yang tidak sama sebanding dengan ketidaksamaanannya. Asas keadilan tidak menjadikan persamaan hakiki dalam pembagian kebutuhan-kebutuhan hidup. Hasrat akan persamaan dalam bentuk perlakuan harus membuka mata bagi ketidaksamaan dari kenyataan-kenyataan.
Terkait dengan pandangan tersebut perlu diperhatikan makna keadilan dari suatu asas yang menentukan bentuk menjadi asas yang memberikan isi dari suatu standar atau ukuran.77
Unsur persamaan dalam bertindak merupakan ukuran keadilan, kalau dinyatakan dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup barulah keadilan itu dipertaruhkan oleh masing-masing pihak. Masing- masing pihak memiliki ukuran tersendiri dalam mengukur keadilan, hakim akan menentukan jika diminta pertimbangan.
Teori keadilan juga dikemukakan oleh Beauchamp dan Bowie yang menyatakan bahwa: ada 6 (enam prinsip agar keadilan distributif dapat terwujud, yaitu apabila suatu keadilan dapat diberikan kepada: (a) Setiap orang bagian yang sama; (b) Setiap orang sesuai dengan kebutuhan individualnya; (c) Setiap orang sesuai dengan haknya; (d) Setiap orang sesuai dengan usaha individualnya; (e) Setiap orang sesuai dengan kontribusinya; (f) Setiap orang sesuai dengan jasanya.78
76 K. Bartens, Pengantar Etika Bisnis, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h. 105.
77 L.J. van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 2004, h. 11-13.
78 J. Van Kan dan J.H. Beekhuis, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, h. 95.
Perkembangan penentuan prinsip keadilan distributif dari satu generasi ke generasi berikutnya akan memberikan kriteria sendiri, disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada jamannya.
Menurut John Locke, Rosseau, Immanuel Kant dan John Rawls memandang bahwa: keadilan dapat tercermin dalam suatu perjanjian, yang telah disadari tanpa perjanjian, hak dan kewajiban yang ditimbulkannya akibatnya masyarakat yang melakukan bisnis tidak aka berjalan. Oleh karena itu tanpa adanya perjanjian, orang tidak akan bersedia terikat dan bergantung pada pernyataan pihak lain, perjanjian memberikan sebuah cara dalam menjamin bahwa masing-masing individu akan memenuhi janjinya, dan selanjutnya hal ini memungkinkan akan terjadi transaksi di antara para pihak.79 Perjanjian merupakan salah satu cara yang digunakan oleh John Locke, Immanuel Kant dan John Rawsl untuk mengukur tingkat keadilan suatu perbuatan atau interaksi manusia, tanpa adanya perjanjian maka keadilan tidak dapat ditentukan.
Keadilan menurut John Rawls adalah: tidak adil mengorbankan hak dari satu atau beberapa orang hanya demi keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi masyarakat secara keseluruhan.
Sikap ini justru bertentangan dengan keadilan sebagai fairness, yang menuntut prinsip kebebasan yang sama sebagai basis yang melandasi pengaturan kesejahteraan sosial. Oleh karenanya pertimbangan ekonomis tidak boleh bertentangan dengan prinsip kebebasan dan hak yang sama bagi semua orang.
Dengan kata lain keputusan sosial yang mempunyai akibat bagi semua anggota masyarakat harus dibuat atas dasar hak (right based weight) dari pada atas dasar manfaat (good based weight). Hanya dengan itu keadilan sebagai fairness dapat dinikmati oleh semua orang.80
Keadilan selain tidak dapat dipisahkan dengan perjanjian juga digantungkan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek keuntungan yang dijalankan setiap orang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
79 Raymond Wacks, Jurisprudence, Blackstone Press Limited, London, 1995, h.
191.
80 James Penner, et al (editors), Introduction to Jurisprudence and Legal Theory (Commentary and Materials), Butterworths, London, 2002, h. 725.
Selanjutnya John Rawls juga melakukan kritik terhadap intuisionisme karena tidak memberikan tempat memadai kepada pemegang asas rasionalitas. Instuisionisme dalam proses pengambilan keputusan moral lebih mengandalkan kemampuan intuisi manusia.
Dengan demikian pandangan ini juga tidak memadai apabila dijadikan pegangan dalam mengambil keputusan, terutama pada waktu terjadinya konflik antar norma-norma moral. John Rawls mencoba menawarkan suatu bentuk penyelesaian yang terkait dengan problematika keadilan dengan membangun teori keadilan berbasis kontrak. Menurutnya suatu teori keadilan yang memadai harus dibentuk dengan pendekatan kontrak, dimana asas-asas keadilan yang dipilih bersama benar-benar merupakan hasil kesepakatan bersama dari semua pihak yang bebas, rasional, dan sederajat. Hanya melalui pendekatan kontrak sebuah teori keadilan mampu menjamin pelaksanaan hak dan kewajiban serta sekaligus mendistribusikan hak dan kewajiban tersebut secara adil bagi semua pihak yang terlibat dalam perjanjian.
Oleh karena itu John Rawls dengan tegas menyatakan bahwa:
“Suatu konsep keadilan yang baik haruslah bersifat kontraktual, yang membawa konsekuensi setiap konsep keadilan yang tidak berbasis kontraktual harus dikesampingkan demi kepentingan keadilan itu sendiri”.81