• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Menurut Maria Farida Indrati, menyatakan bahwa: “Norma dasar yang merupakan norma tertinggi dalam sistem norma tersebut tidak lagi dibentuk oleh suatu norma yang lebih tinggi lagi, tetapi norma dasar itu ditetapkan terlebih dahulu oleh masyarakat sebagai norma dasar yang merupakan gantungan bagi norma-norma yang berada dibawahnya, sehingga suatu norma dasar itu dikatakan ‘pre- supposed’.32

Pandangan di atas memberikan gambaran bahwa norma dasar telah ditetapkan terlebih dahulu oleh masyarakat, demikian juga halnya norma yang terdapat dalam UUJF, yang pembentukannya masyarakat sebelumnya hanyalah berpedoman pada yurisprudensi.

Dalam kaitannya dengan hierarkhi norma hukum, Hans Kelsen, mengemukakan teorinya mengenai jenjang norma hukum (Stufentheorie), di mana ia berpendapat bahwa norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarkhi tata susunan, di mana suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya sampai pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipotetis dan fiktif yaitu norma dasar (Grundnorm).33

Teori Hans Kelsen lebih menekankan pada penjenjangan norma dari yang paling tinggi, selanjutnya diturunkan ke norma yang lebih rendah sebagai pelaksanaan norma. Norma paling tinggi bersifat umum yang tidak mungkin dapat dijalankan tanpa didukung oleh norma yang berada di bawahnya.

Menurut A. Hamid S. Attamimi, Pembentukan norma hukum yang berada dalam suatu sistem norma hukum yang utuh, fungsi

32 Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan Dasar-Dasar dan Pembentukannya, Sekretariat Konsorsium Ilmu Hukum UI, Jakarta, 1996, h. 28.

33 Hans Kelsen, General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell, 1945, h. 113.

asas hukum (meski tidak hilang sama sekali) menjadi ‘terdesak’

ke belakang oleh norma hukum. Lain halnya pada pembentukan norma hukum yang berada dalam lingkup kebijakan yang tidak terikat. Di sana asas hukum menjadi penting dalam memberikan bimbingan dan pedoman pada pembentukan norma hukum tersebut.34

Norma hukum berbeda dengan asas hukum pada sifatnya yang mengatur. Sebagaimana diketahui, norma adalah aturan, pola, atau standar yang perlu diikuti. Fungsi norma hukum menurut Hans Kelsen ialah antara lain memerintah (Gebieten), melarang (Verbieten), menguasakan (Ermachtigen), membolehkan (Erlauben), dan menyimpangkan dari ketentuan (Derogieren).35

Menurut pandangan Austin, “Ilmu hukum tidak lain dari pada hukum positif. Hukum positif menurut Austin adalah aturan umum yang dibuat oleh mereka yang mempunyai kedudukan politis lebih tinggi untuk mereka yang mempunyai kedudukan politis lebih rendah.

Hukum positif merupakan suatu perintah penguasa”.36

Aristoteles dalam bukunya Rhetorica, menjelaskan bahwa: tujuan hukum adalah menghendaki keadilan semata-mata; dan isi (materi muatan) hukum ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang dikatakan adil dan apa yang dikatakan tidak adil.

Menurut teori ini hukum mempunyai tugas suci dan luhur, yakni keadilan dengan memberikan kepada tiap-tiap orang, apa yang berhak diterima, serta memerlukan peraturan tersendiri bagi tiap- tiap kasus. Untuk terlaksananya hal tersebut, maka menurut teori ini hukumharus membuat apa yang dinamakan algemene regels (peraturan/ketentuan umum); di mana peraturan/ketentuan umum ini diperlukan masyarakat demi kepatian hukum. Kepastian hukum sangat diperlukan untuk menjami ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat, karena kepastian hukum mempunyai sifat sebagai berikut :

34 A. Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan Dalam Kurun Waktu Pelita I - Pelita IV, Pascasarjana UI, Jakarta, 1990, h. 304.

35 Hans Kelsen, Allgemeine Theorie der Normen, (Wien: Manzsche Verlag &

Universitatsbuchhandlung, 1979), h. 1.

36 GW. Paton (Terjemahan Peter Mahmud Marzuki dalam Buku Penelitian Hukum, Kencana Prenata Media Group, 2013, h. 46), A Texbook of Jurisprudence, English Language Book Society, Oxford University Press, London, 1972, h. 6.

(a) Adanya paksaan dari luar (sanksi) dari penguasa yang bertugas mempertahankan dan membina tata tertib masyarakat dengan perantara alat-alatnya.

(b) Sifat undang-undang yang berlaku bagi siapa saja.37

Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dikenal teori jenjang hukum (Stufen theorie) yang dikemukakan oleh Hans Kelsen. Dalam teori tersebut Hans Kelsen berpendapat bahwa:

Norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki (tata susunan) dalam arti suatu norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya sampai pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipotetis dan fiktif, yaitu Norma Dasar (Grundnorm). Norma Dasar merupakan norma tertinggi dalam suatu sistem norma tersebut tidak lagi dibentuk oleh suatu norma yang lebih tinggi lagi, tetapi Norma Dasar itu ditetapkan terlebih dahulu oleh masyarakat sebagai Norma Dasar yang merupakan gantungan bagi norma-norma yang berada di bawahnya, sehingga suatu Norma Dasar itu dikatakan pre-supposed.38

Menurut Hans Kelsen suatu norma hukum itu selalu bersumber dan berdasar pada norma yang di atasnya, tetapi ke bawah norma hukum itu juga menjadi sumber dan menjadi dasar bagi norma yang lebih rendah daripadanya. Dalam hal tata susunan/hierarki sistem norma, norma yang tertinggi (Norma Dasar) itu menjadi tempat bergantungnya norma-norma di bawahnya, sehingga apabila Norma Dasar itu berubah akan menjadi rusaklah sistem norma yang ada di bawahnya.39

Kelsen menganggap bahwa susunan norma dari yang paling bawah dengan norma diatasnya harus tersusun secara sistematis, sehingga satu norma dengan norma lainnya dalam satu sistem tidak akan bertentangan satu dengan lainnya. Selanjutnya dinyatakan oleh Hans Nawiasky, salah seorang murid Hans Kelsen mengembangkan teori gurunya tentang jenjang norma dalam kaitannya dengan suatu negara.

37 Soetanto Soepiadhy, Klinik Hukum Ketatanegaraan Kepastian Hukum, Surabaya Pagi, Rabu, 4 April 2012.

38 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan, Kanisius, Yogyakarta, 2010, h. 41.

39 Ibid, h.42.

Hans Nawiasky mengatakan suatu norma hukum dari negara manapun selalu berlapis-lapis dan berjenjang-jenjang. Norma yang di bawah berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada suatu norma yang tertinggi yang disebut Norma Dasar. Hans Nawiasky juga berpendapat bahwa selain norma itu berlapis-lapis dan berjenjang-jenjang, norma hukum dari suatu negara itu juga berkelompok-kelompok, dan pengelompokan norma hukum dalam suatu negara itu terdiri atas empat kelompok besar antara lain:

Kelompok I :Staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara);

Kelompok II :Staatsgrundgesetz (Aturan Dasar/Aturan Pokok Negara);

Kelompok III :Formell Gesetz (Undang-Undang ”Formal”);

Kelompok IV :Verordnung&Autonome Satzung (Aturan pelaksana/Aturan otonom).40

Menurut Hans Nawiasky, isi staats fundamental norm ialah norma yang merupakan dasar bagi pembentukan konstitusi atau undang-undang dasar dari suatu negara (Staats verfassung), termasuk norma pengubahannya. Hakikat hukum suatu Staats fundamental norm ialah syarat bagi berlakunya suatu konstitusi atau undang-undang dasar.

Staats fundamental norm ada terlebih dulu sebelum adanya konstitusi atau undang-undang dasar”.41 Selanjutnya Hans Nawiasky mengatakan norma tertinggi yang oleh Kelsen disebut sebagai norma dasar (basic norm) dalam suatu negara sebaiknya tidak disebut sebagai staats grund norm melainkan staats fundamental norm atau norma fundamental negara. “Grund norm mempunyai kecenderungan untuk tidak berubah atau bersifat tetap, sedangkan di dalam suatu negara norma fundamental negara itu dapat berubah sewaktu-waktu karena adanya pemberontakan, kudeta dan sebagainya”.42

Berdasarkan teori Hans Nawiasky tersebut, A. Hamid S.

Attamimi membandingkannya dengan teori Hans Kelsen dan menerapkannya pada struktur dan tata hukum di Indonesia. Untuk menjelaskan hal tersebut, A. Hamid S. Attamimi menggambarkan perbandingan antara Hans Kelsen dan Hans Nawiasky tersebut dalam bentuk piramida. Selanjutnya A. Hamid S. Attamimi menunjukkan

40Ibid, h. 44-45.

41 Ibid., h.46.

42 Ibid, h.,48.

struktur hierarki tata hukum Indonesia dengan menggunakan teori Hans Nawiasky.

Berdasarkan teori tersebut, struktur tata hukum Indonesia adalah:

1. Staats fundamental norm : Pancasila (Pembukaan UUD 1945);

2. Staats grund gesetz : Batang Tubuh UUD 1945, TAP MPR, dan Konvensi Ketatanegaraan;

3. Formell Gesetz : Undang-Undang;

4. Verordnung & Autonome Satzung : secara hierarkis mulai dari Peraturan Pemerintah hingga Keputusan Bupati atau Walikota.43

Agar suatu peraturan perundang-undangan dapat diberlakukan, peraturan perundang-undangan tersebut harus memenuhi persyaratan kekuatan berlaku.

Ada tiga macam kekuatan berlaku antara lain sebagai berikut:

A. Kelakuan atau hal berlakunya secara yuridis, yang mengenai hal ini dapat dijumpai anggapan-anggapan sebagai berikut:

1. Hans Kelsen menyatakan bahwa kaedah hukum mempunyai kelakuan yuridis, apabila penentuannya berdasarkan kaedah yang lebih tinggi tingkatnya;

2. W. Zevenbergen menyatakan, bahwa suatu kaedah hukum mempunyai kelakuan yuridis, jikalau kaedah tersebut, op de vereischte wrijze is tot stant gekomen (Terjemahannya:

terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan);

3. J.H.A Logemann mengatakan bahwa secara yuridis kaedah hukum mengikat, apabila menunjukkan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya.

B. Kelakuan sosiologi atau hal berlakunya secara sosiologis, yang intinya adalah efektivitas kaedah hukum di dalam kehidupan bersama. Mengenai hal ini dikenal dua teori:

1. Teori Kekuasaan (Macht theorie; The Power Theory) yang pada pokoknya menyatakan bahwa kaedah hukum mempunyai kelakuan sosiologis, apabila dipaksakan berlakunya oleh penguasa, diterima ataupun tidak oleh warga-warga masyarakat;

2. Teori Pengakuan (Anerkennungstheorie, The Recognition Theory ) yang berpokok pangkal pada pendapat, bahwa

43 Jimly Asshiddiqie & M. Ali Safaat, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta, 2006, h.,171.

kelakuan kaedah hukum didasarkan pada penerimaan atau pengakuan oleh mereka kepada siapa kaedah hukum tadi tertuju.

C. Kelakuan filosofis atau hal berlakunya secara filosofis. Artinya adalah, bahwa kaedah hukum tersebut sesuai dengan cita-cita hukum (Rechtsidee) sebagai nilai positif yang tertinggi (Uber positieven Wert), misalnya, Pancasila, Masyarakat Adil dan Makmur, dan seterusnya.44

Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto dalam pembentukan peraturan perundangan-undangan harus mem-perhatikan asas-asas peraturan perundang-undangan antara lain:

1. Undang-Undang tidak dapat berlaku surut;

2. Undang-Undang tidak dapat diganggu gugat;

3. Undang-Undang yang dibuat oleh penguasa lebih tinggi mempunyai kedudukan yang tinggi pula (Lex superiori derogat legi inferiori);

4. Undang-Undang yang bersifat khusus akan mengesampingkan atau melumpuhkan undang-undang yang bersifat umum (Lex specialis derogat legi generalis);

5. Undang-Undang yang baru mengalahkan atau melumpuhkan undang-undang yang lama (Lex posteriori derogat legi priori);

6. Undang-Undang merupakan sarana maksimal bagi kesejahteraan spirituil masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan atau pelestarian.45

Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, (Lembaran Negara Republik Inonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) bahwa:

dalam membentuk peraturan perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik meliputi:

a. kejelasan tujuan;

b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;

c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;

d. dapat dilaksanakan;

e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;

44 Soerjono Soekanto & Purnadi Purbacaraka, Perihal Kaidah Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, h., 88-92.

45 Ellydar Chaidir & Sudi Fahmi, Hukum Perbandingan Konstitusi, Total Media, Yogyakarta, 2010, h.,73-74.

f. kejelasan rumusan; dan keterbukaan.

Di samping itu materi muatan yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas:

a. pengayoman;

b. kemanusiaan;

c. kebangsaan;

d. kekeluargaan;

e. kenusantaraan;

f. bhinneka tunggal ika;

g. keadilan;

h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintah-an;

i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau

j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (Pasal 6 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 20011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.)

Menurut doktrin ilmu hukum, pedoman dalam menyusun peraturan perundang-undangan pernah disampaikan oleh I.C. Van Der Vlies dan A. Hamid S. Attamimi.

Menurut I.C. Van Der Vlies membaginya menjadi 2 (dua) klasifikasi, yaitu asas-asas yang formal dan asas-asas yang material.

Asas-asas yang formal meliputi:

1. Asas tujuan yang jelas (beginsel van duideleijke doelstelling);

2. Asas organ/lembaga yang tepat (beginsel van het juiste orgaan);

3. Asas perlunya pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel);

4. Asas dapatnya dilaksanakan (het beginsel van uitvoerbaarheid);

5. Asas konsensus (het beginsel van consensus).46 Sedangkan asas-asas material antara lain meliputi:

1. Asas tentang terminologi dan sistematika yang benar (het beginsel van duidelijke terminologi en duidelijke systematiek);

2. Asas tentang dapat dikenali (het beginsel van de kenbaarheid);

3. Asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechtsgelijk- heidsbeginsel);

4. Asas kepastian hukum (het rechtszekerheids beginsel);

46 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-undangan Proses dan Teknik Pembentukannya, Kanisius, Yogyakarta, 2007, h.,228.

5. Asas pelaksanakan hukum sesuai keadaan individual (het beginsel van de individuele rechtbedeling).47

Sedangkan A. Hamid S. Attamimi berpendapat, bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan Indonesia yang patut, adalah sebagai berikut:

1. Cita Hukum Indonesia;

2. Asas Negara Berdasar Atas Hukum dan Asas Pemerintahan yang berdasar Konstitusi;

3. Asas-asas lainnya.48

Dengan demikian, asas-asas pembentukan peraturan perundang- undangan Indonesia yang patut akan mengikuti pedoman dan bimbingan oleh :

a. Cita Hukum Indonesia yang tidak lain melainkan Pancasila (Sila-sila dalam hal tersebut berlaku sebagai Cita (Idee), yang berlaku sebagai bintang pemandu;

b. Norma Fundamental Negara juga tidak lain melainkan Pancasila (Sila-sila dalam hal tersebut berlaku sebagai Norma);

c. (1) Asas-asas negara berdasar atas hukum yang menempatkan Undang-Undang sebagai alat pengaturan yang khas berada dalam keutamaan hukum (der Primat des Rechts);

(2) Asas-asas pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi yang menempatkan Undang-Undang sebagai dasar dan batas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan pemerintahan.49 Dalam sistem perundang-undangan dikenal adanya hierarki peraturan perundang-undangan. Ada peraturan perundang-undangan yang mempunyai tingkatan yang tinggi dan ada yang mempunyai tingkatan lebih rendah. Pengaturan mengenai jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan diatur dalam Pasal 7 ayat (1) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang;

47 Ibid.

48 Ibid.

49ibid, h.229

d. Peraturan Pemerintah;

e. Peraturan Presiden;

f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Di samping jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan yang disebutkan diatas, Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan juga mengatur jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan yang lain, selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang- Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat;

(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.

Penilaian suatu peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi perlu dilakukan pengujian undang-undang. “Baik di dalam kepustakaan maupun praktek dikenal adanya 2 (dua) macam hak menguji, yaitu hak menguji formal (formele toetsings recht) dan hak menguji material (material toetsings recht)”.50

Adapun yang dimaksud dengan hak uji formal adalah wewenang untuk menilai, apakah suatu produk legislatif seperti undang-undang misalnya terjelma melalui cara-cara (procedure) sebagaimana yang telah ditentukan/diatur dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku ataukah tidak. Sedangkan hak uji material adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan kemudian menilai,

50 Sri Soemantri, Hak Uji Material Di Indonesia, Alumni, Bandung, 1997, h., 6.

apakah suatu peraturan perundang-undangan isinya sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu kekuasaan tertentu (verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu.

Mekanisme pengujian undang-undang dikenal ada 3 (tiga) model pengujian undang-undang, yaitu: “executive review, legislatif review, dan judicial review”.51 Dalam model executive review, mekanisme pembatalan ini dapat juga disebut mekanisme pengujian, tidak dilakukan oleh lembaga kehakiman (judiciary) ataupun legislator, melainkan oleh lembaga pemerintahan eksekutif tingkat atas. Misalnya:

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah mengatur mengenai ketentuan pembatalan peraturan daerah. Dalam model legislative review, pengujian konstitusionalitas (constitutional review) dilakukan oleh lembaga legislatif atau badan-badan yang terkait dengan cabang kekuasaan legislatif. Misalnya: Ketetapan MPR RI No. II/MPR/2000 yang menentukan bahwa Majelis inilah yang diberi secara aktif menilai dan menguji konstititusionalitas undang-undang. Sedangkan dalam model judicial review tidak memerlukan lembaga baru, melainkan cukup dikaitkan dengan fungsi Mahkamah Agung yang sudah ada.

Mahkamah Agung itulah yang selanjutnya akan bertindak dan berperan sebagai Pengawal atau Pelindung Undang-Undang Dasar (the Guardian or the Protector of the Constitution).52

Menurut Robert B.Seidman, Aan Seidman dan Nalin Abeyeesekere, menyatakan: “Dalam menentukan peraturan perundang- undangan ditentukan dengan menggunakan metode ROCCIPI (Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, and Ideology)”.53 ROCCIPI merupakan identifikasi tujuh faktor yang seringkali menimbulkan masalah berkaitan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. Ketujuh faktor tersebut dibagi dalam dua kategori, yakni: “Faktor subjektif terdiri dari interest dan ideology, sedangkan faktor objektif terdiri rule, opportunity, capacity, communication dan process”.54

51 Jimly Asshiddiqie, Model-Model Pengujian Konstitusional Di Berbagai Negara, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, h., 74.

52 Ibid., h.47.

53 Robert B.Seidman et.all, diterjemahkan oleh Johanes Usfatun dkk., Penyusunan RUU Dalam Perubahan Masyarakat Yang Demokratis; Sebuah Panduan Untuk Pembuatan Rancangan Undang-Undang, dikutip dari Sirajudin, Fatkhorohman

& Zulkarnain, Legislative Drafting, Pelembagaan Metode Partisipasi Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Yappika, Jakarta, 2006, h.131.

54 Ibid.

Kategori agenda Roccipi yang dikemukakan oleh Robert B.Seidman dkk.

Dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Rule atau peraturan, artinya peraturan harus dibuat jelas dan tidak multitafsir; (2) Opportunity atau peluang, peraturan harus tidak memberikan peluang untuk tidak dipatuhi; (3) Capacity atau kepampuan, peraturan harus mengetahui kondisi-kondisi yang berada dalam diri orang yang menjadi subjek peraturan; (4) Communication atau komunikasi, peraturan harus secara tertib diumumkan dan disosialisasikan, sehingga menjadi mudah diketahui masyarakat;

(5) Interest atau kepentingan, peraturan harus memberikan manfaat, baik bagi pembuat pertauran maupun masyarakat yang terkena peraturan; (6) Process atau proses, peraturan harus didasarkan pada proses yang mendororng agar orang mematuhi peraturan perundang-undangan; (7) Ideology atau nilai, peraturan harus memuat nilai yang dianut oleh masyarakat, termasuk sikap mental, pandangan serta pemahaman keagamaan. Metode Roccipi lebih bertumpu kepada pemikiran yang mencerminkan pengalaman yang digabung dengan pemikiran yang mencerminkan cara penyelesaiannya.55