• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Tujuan Hukum

Kategori agenda Roccipi yang dikemukakan oleh Robert B.Seidman dkk.

Dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Rule atau peraturan, artinya peraturan harus dibuat jelas dan tidak multitafsir; (2) Opportunity atau peluang, peraturan harus tidak memberikan peluang untuk tidak dipatuhi; (3) Capacity atau kepampuan, peraturan harus mengetahui kondisi-kondisi yang berada dalam diri orang yang menjadi subjek peraturan; (4) Communication atau komunikasi, peraturan harus secara tertib diumumkan dan disosialisasikan, sehingga menjadi mudah diketahui masyarakat;

(5) Interest atau kepentingan, peraturan harus memberikan manfaat, baik bagi pembuat pertauran maupun masyarakat yang terkena peraturan; (6) Process atau proses, peraturan harus didasarkan pada proses yang mendororng agar orang mematuhi peraturan perundang-undangan; (7) Ideology atau nilai, peraturan harus memuat nilai yang dianut oleh masyarakat, termasuk sikap mental, pandangan serta pemahaman keagamaan. Metode Roccipi lebih bertumpu kepada pemikiran yang mencerminkan pengalaman yang digabung dengan pemikiran yang mencerminkan cara penyelesaiannya.55

Menurut Gustav Radbruch ada tiga nilai dasar yang ingin dikejar dan perlu mendapat perhatian serius dari para pelaksana hukum : (1) Keadilan; (2) Kepastian hukum; dan (3) Kemanfaatan.

Dengan mengacu pada pendapat Radbruch, maka secara teoritis terdapat tiga tujuan hukum yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.

Mengenai keadilan John Rawls menyatakan, bahwa: keadilan sebagai fairness, atau istilah Black’s Law Dictionary “equal time doctrine” yaitu suatu keadaan yang dapat diterima akal secara umum pada waktu tertentu tentang apa yang benar.

Keadilan menurut Rawls ini disebut dengan istilah fairness adalah karena dalam membangun teorinya Rawls berangkat dari suatu posisi hipotesis di mana ketika setiap individu memasuki kontrak sosial itu mempunyai kebebasan (liberty). Posisi hipotesis itu disebut juga dengan “original position” (posisi asli). Posisi asli itu adalah suatu status quo awal yang menegaskan bahwa kesepakatan fundamental yang dicapai dalam kontrak sosial adalah fair. Berdasarkan fakta adanya

original position” ini kemudian melahirkan istilah “keadilan sebagai fairness.57

Pandangan John Rawls tersebut memandang bahwa apabila seseorang terlibat kontrak atau hubungan hukum dengan orang lain didalamnya terdapat kebebasan, dengan mengedepankan posisi kedua orang tersebut dalam keadaan memperoleh keadilan.

Ditegaskan oleh Rawls bahwa: meskipun dalam teori ini menggunakan istilah fairness namun tidak berarti bahwa konsep keadilan dan fairness adalah sama. Salah satu bentuk keadilan sebagai fairness adalah memandang bahwa posisi setiap orang dalam situasi awal ketika memasuki sebagai kesepakatan dalam kontrak sosial itu adalah rasional dan sama-sama netral. Dengan demikian keadilan sebagai sebagai fairness disebut juga dengan teori kontrak.58

Penonjolan posisi para pihak dalan berkontrak adalah sama dan tercapai keadilan, tidak dipersoalkan setelah kontrak disepakati, belum tentu para pihak mendapatkan keadilan kembali.

57 John Rawls, Teori Keadilan (Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan Sosial Dalam Negeri), Penerjemah Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, h. 14.

58 Ibid.

Rawls merumuskan 2 (dua) prinsip keadilan distributif, sebagai berikut: (1) the greates equal principle, bahwa: “Setiap orang harus memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang. Ini merupakan hal yang paling mendasar (hak asasi) yang harus dimiliki semua orang. Dengan kata lain, hanya dengan adanya jaminan kebebasan yang sama bagi semua orang, maka keadilan akan terwujud (prinsip kesamaan hak); (2) ketidaksamaan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa, sehingga perlu diperhatikan asas atau prinsip berikut: a. the different principle, dan b. the principle of fair equality of opportunity..59

Rumusan prinsip keadilan yang dirumuskan John Rawls, berasumsi dari kelahiran manusia hingga melakukan aktifitasnya dikemudian hari dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Manusia dalam kelahirannya diberikan makna dasar hak asasinya, selanjutnya tumbuh dan berkembang mengalami perbedaan hak.

Dengan penekanannya yang begitu kuat pada pentingnya memberi peluang yang sama bagi semua pihak, Rawls berusaha agar keadilan tidak terjebak dalam ekstrem kapitalisme di satu pihak dan sosialisme di lain pihak. Rawls mengatakan bahwa prinsip (1) yaitu the greatest equal principle, harus lebih diprioritaskan dari prinsip (2) apabila keduanya berkonflik. Sedang prinsip (2), bagian b yaitu the principle of fair equality of opportunity harus lebih diprioritaskan dari bagian a. yaitu the different principle..60

John Rawls yang mengembangkan teori keadilan sebagai justice as Fairness (keadilan sebagai kejujuran). Jadi, prinsip keadilan yang paling fair itulah yang harus dipedomani. Menurut John Rawls, ada 2 (dua) prinsip dasar keadilan, yaitu: (1) Keadilan formal (formal justice, legal justice) yaitu menerapkan keadilan yang sama bagi setiap orang sesuai dengan bunyi peraturan, dan (2) Keadilan substantif (substancial justice) yaitu menerapkan hukum itu berarti mencari keadilan yang hakiki dan didukung oleh rasa keadilan sosial.61

Kemudian dikemukakan oleh John Rawls, bahwa: “Keadilan yang mengandung esensi fairness, yang pada umumnya dikaitkan dengan kewajiban. Kewajiban di sini adalah kewajiban hukum, tidak

59 John Rawls, Op. Cit., h. 72.

60 Ibid., h. 73-74.

61 Ibid., h. 54.

termasuk kewajiban moral. Timbulnya kewajiban yang bersifat mengikat ini terjadi karena adanya perbuatan sukarela baik karena adanya persetujuan yang tegas atau secara diam-diam”.62

Menurut Mochtar Kusumaatmadja, bahwa: memperkenalkan teori hukum pembangunan. Inti ajaran teori hukum pembangunan antara lain bahwa semua masyarakat yang sedang membangun selalu dicirikan oleh perubahan. Hukum berfungsi agar dapat menjamin, bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur. Perubahan yang teratur dapat dibantu oleh peraturan perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi keduanya.

Fungsi hukum dalam masyarakat adalah mempertahankan ketertiban melalui kepastian hukum dan hukum sebagai norma sosial harus dapat mengatur (membantu) proses perubahan dalam masyarakat. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa teori hukum pembangunan bersandar pada sistem norma.

Satjipto Rahardjo memunculkan teori hukum progresif. Pokok- pokok pikiran teori hukum progresif antara lain hukum menolak tradisi analytical jurisprudence atau rechtsdogmatiek. Hukum progresif ditujukan untuk melindungi rakyat menuju pada ideal hukum. Hukum progresif adalah hukum yang prorakyat dan hukum yang prokeadilan.

Asumsi dasar hukum progresif adalah bahwa hukum adalah untuk manusia, bukan sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka hukum tidak ada untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas dan lebih besar. Maka setiap kali ada masalah dengan hukum, hukumlah yang ditinjau dan diperbaiki, bukan manusia yang dipaksakan untuk dimasukkan ke dalam sistem hukum. Hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi (law as a process, law in the making). Secara singkat dapat dikatakan, bahwa teori hukum progresif bersandar pada sistem perilaku. Bertolak dari pandangan teori hukum pembangunan dan teori hukum progresif tersebut.

Romli Antasasmita menyimpulkan, bahwa jika hukum menurut Mochtar merupakan sistem norma (system of norms);

62 Ibid., h. 114.

dan menurut Satjipto merupakan sistem perilaku (system of behavior), maka Romli melengkapi, bahwa hukum dapat diartikan dan seharusnya juga diartikan sebagai sistem nilai (system of values).

Ketiga hakekat hukum dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia harus dipandang sebagai satu kesatuan pemikiran yang cocok dalam menghadapi dan mengantisipasi kemungkinan terburuk abad globalisasi saat ini dengan tidak melepaskan diri dari sifat tradisional masyarakat Indonesia yang masih mengutamakan nilai (value) moral dan sosial.

Ketiga hakekat hukum dalam satu wadah pemikiran oleh Romli disebut tri partite character of the Indonesian legal theory of Social and Bureaucratic Engineering (SBE).

Rekayasa birokrasi dan rekayasa masyarakat yang dilandaskan pada sistem norma, sistem perilaku dan sistem nilai yang bersumber pada Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Romli Antasasmita menyebut sebagai teori hukum integratif.

Teori hukum integratif memberikan pencerahan mengenai relevansi dan arti penting hukum dalam kehidupan manusia Indonesia dan mencerminkan, bahwa hukum sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat, tidak dapat dipisahkan dari kultur dan karakter masyarakatnya, letak geografis lingkungannya, serta pandangan hidup masyarakat. Keyakinan teori hukum integratif adalah fungsi dan peranan hukum sebagai sarana pemersatu dan memperkuat solidaritas masyarakat dan birokrasi dalam menghadapi perkembangan dan dinamika kehidupan, baik di dalam lingkup NKRI maupun di dalam lingkup perkembangan internasional. Teori hukum integratif dapat digunakan untuk menganalisis, mengantisipasi, dan merekomendasi solusi hukum, yang tidak hanya mempertimbangkan aspek normatif, melainkan juga aspek sosial, ekonomi, politik, dan keamanan nasional serta internasional.63

Sejalan dengan amanat Alenia IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan

“melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum”, maka hukum negara harus dibangun dan dibuat untuk melindungi dan memberi kesejahteraan

63 Soetanto Soepiadhy, Klinik Hukum Ketatanegaraan Hukum Integratif, Surabaya Pagi, Rabu, 5 September 2012.

serta kebahagiaan bagi seluruh rakyat, seperti dimaksud oleh Jeremy Bentham penganut aliran utilitarianism dalam teori hukum. Dengan meminjam kalimat yang ditulis Tamanaha dikatakan :

Law should be designet and implemented to maximize the total quantum of happiness over pain in a community...law as a social tool, to be used by the legislator to achieve the great end of all social action that is the greatest number of people. Hence maximizing the utility of the community thus provides the standard against which both govermment and law are to be evaluated.64

Hal senada juga dengan wacana hukum progresif dalam pembangunan hukum nasional yang diperkenalkan oleh Satjipto Rahardjo, bahwa: “Pembangunan hukum nasional diarahkan sebagai instrumen untuk upaya reformasi hukum yang masih belum berhasil walaupun gaung era reformasi telah dikumandangkan sejak tahun 1998”.65

Selanjutnya Hari Purwadi menyatakan bahwa: “Sebagian besar ajaran sosio-legal bersifat “progresif”, yang saat ini tengah dalam proses pembentukan komunitas asli (genuine community of discourse), membangun garis dasar pengetahuan yg diperoleh dari kontribusi kerja dalam disiplin yang berbeda”.66

Dengan maksud yang sama walaupun diungkapkan dengan bahasa yang berlainan Nonet dan Selznick mengintroduksi tipologi hukum responsif (responsive law) sebagai hukum negara yang harus merespons dan mengakomodasi nilai prinsip, tradisi dan kepentingan masyarakat, sehingga mencerminkan sistem pemerintahan demokratis khususnya dalam kebijakan pembangunan hukum nasional.67

64 Brian Tamanaha, A General Jurisprudence of Law and Society, Oxford University Press, 2001, h. 46.

65 Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif (Penjelajahan Suatu Gagasan), Newsletter Kajian Hukum Ekonomi dan Bisnis, Nomor: 59, 2004, h. 1-4.

66 Hari Purwadi, Materi Perkuliahan Ilmu Hukum, Pendekatan Sistem dan Teori Sistem Hukum, Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Tanggal 5 September 2015.

67 Phillipe Nonet and Philip Selznick, Law and Society in Transition, Toward Responsive Law, New York, Harper Colophon Books, Harper & Row Publishers, 1978, note 27.