F. Jalan Lokal Sekunder
4.1. Bagian-Bagian Jalan
4.1.2. Lajur Lalu-Lintas
Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan, memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana.
Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana, yang dalam hal inidinyatakan dengan fungsi dan kelas jalan seperti ditetapkan dalam Tabel di bawah ini. Jumlah lajur ditetapkan dengan mengacu kepada MKJI berdasarkan tingkat kinerja yang direncanakan, di mana untuk suatu ruas jalan dinyatakan oleh nilai rasio antara volume terhadap kapasitas yang nilainya tidak lebih dari 0.80. Untuk kelancaran fungsi drainase permukaan jalan, lajur lalu lintas pada alinyemen lurus memerlukan kemiringan melintang normal sebagai berikut :
1) 2-3% untuk perkerasan aspal dan perkerasan beton;
2) 4-5% untuk perkerasan kerikil.
Lebar lajur lalu lintas merupakan bagian yang paling menentukan lebar melintang jalan secara keseluruhan. Besarnya lebar lajur lalu lintas hanya dapat ditentukan dengan pengamatan langsung di lapangan karena :
1. Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapat diikuti oleh lintasan kendaraan lain dengan tepat.
30 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA
2. Lajur lalu lintas tak mungkin tepat sama dengan lebar kendaraan maksimum. Untuk keamanan dan kenyamanan setiap pengemudi membutuhkan ruang gerak antara kendaraan.
3. Lintasan kendaraan tak mungkin dibuat tetap sejajar sumbu lajur lalu lintas, karena kendaraan selama bergerak akan mengalami gaya-gaya samping seperti tidak ratanya permukaan, gaya sentrifugal di tikungan, dan gaya angin akibat kendaraan lain yang menyiap.
Lebar lajur lalu lintas dipengaruhi oleh faktor-faktor Kapasitas Dasar dan Kapasitas Mungkin. Kapasitas Dasar dan Kapasitas Mungkin dari suatu jalan dapat berkurang dikarenakan oleh lebar lajur yang sempit dan penyempitan lebar bahu, hambatan di sepanjang daerah manfaat jalan, kelandaian, serta kendaraan yang berukuran besar.
Tabel 4.1 Lebar Lajur Minimum
VD
(Km/Jam)
Lebar lajur lalu lintas paling kecil (m)
Kecepatan tinggi: VD ≥ 80 3,60 Kecepatan sedang: 40 ≤ VD < 80 3,50 Kecepatan rendah: VD < 40 2,75
Sumber: Pedoman Desain Geometrik Jalan Nomor 13/P/BM /2021
Lebar lajur lalu lintas untuk Jalan Bebas Hambatan (JBH) dan Jalan Raya (JRY) diukur dari sisi dalam marka membujur garis tepi jalan atau sumbu marka garis membujur pembagi lajur ke sisi dalam marka membujur garis menerus atau ke sumbu marka membujur garis terputus-putus. Sedangkan lebar lajur lalu lintas untuk Jalan Sedang (JSD) dan Jalan Kecil (JKC) diukur dari sumbu marka membujur ke sumbu marka membujur.
DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 31 Tabel 4.2 Lebar Lajur Jalan pada JSD
Sumber: Pedoman Desain Geometrik Jalan Nomor 13/P/BM /2021
Unsur Lebar
Jalur (m) Keterangan
Lajur umum 3,5 Lebar lajur lalu lintas umum yang digunakan pada semua jalan dengan batas kecepatan < 80Km/Jam
Lajur paling tepi yang diperlebar 4,2-4,5 Lokasi dimana pengendara sepeda motor dan Pengguna Jalan yang lain berbagi lajur yang sama
Lebar minimum antara muka kerb dengan saluran/gutter (untuk tempat mendahului kendaraan yang mogok)
5,0
Lebar satu lajur tunggal yang dapat digunakan pada lajur membelok ke kiri atau lebar satu jalur pada jalan dua jalur dua arah dengan median yang dipertinggi.
2 x 4,0 (8,0)
Lebar dua lajur yang memungkinkan dua kendaraan untuk secara pelan-pelan mendahului kendaraan yang mogok
32 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA
Tabel 4.3 Lebar Lajur Jalan pada JRY dan JBH
Sumber: Pedoman Desain Geometrik Jalan Nomor 13/P/BM /2021
Unsur Lebar Jalur
(m) Keterangan
Lajur lalu lintas umum 3,6 Untuk JBH dan JRY dengan VD ≥ 80Km/Jam Lajur pada ramp- interchange 3.5-4.5 Rentang lebar lajur pada ramp interchange
2.0-3.0*2) Rentang lebar bahu kiri Bahu kiri (berpenutup pada
seluruh lebar bahu)
3.0
Lebar bahu minimum yang berbatasan dengan pagar pengaman.
Lebar bahu minimum untuk JBH dengan jumlah lajur per arah tiga atau lebi
Bahu dalam/pembatas*1) (berpenutup pada seluruh lebar bahu)
2.0-3.0*2) Rentang lebar bahu jalan
3.0
Lebar bahu minimum yang berbatasan dengan pagar pengaman
Lebar bahu minimum untuk JBH dengan jumlah lajur per arah tiga atau lebih
DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 33 4.1.3. Bahu Jalan
Bahu jalan merupakan bagian jalan yang terletak di kedua sisi jalur lalu lintas. Secara fungsi struktural, bahu jalan berfungsi untuk memberikan dukungan lateral bagi lapisan perkerasan jalan. Sedangkann fungsi bahu jalan bagi lalu lintas antara lain sebagai berikut:
1. Memberikan ruang bagi kendaraan kehilangan kendali kembali terkendali.
2. Ruang bagi kendaraan untuk berhenti di atas permukaan keras pada jarak aman dari lajur lalu lintas.
3. Daerah yang bisa dilalui untuk penggunaan kendaraan darurat.
4. Ruang bebas terhadap halangan lateral seperti rambu- rambu.
5. Ketika bahu jalan diberi lapis aspal, akan memberi lebar tambahan untuk lintasan roda kendaraan besar.
6. Jarak pandang ditingkatkan sehingga meningkatkan keselamatan jalan.
7. Kapasitas jalan meningkat karena kecepatan seragam dimungkinkan.
8. Keterbukaan ruang yang dibuat oleh bahu jalan lebar, membuat mengemudi lebih mudah mengendarai kendaraan dengan ketegangan (stress) yang lebih kecil, dan
9. Dalam keadaan tertentu, bisa menjadi ruang bagi pengendara sepeda.
Lebar bahu jalan diukur dari tepi luar jalur lalu lintas ke tepi terluar badan jalan dan tidak termasuk lebar untuk berm, verge rounding, atau lebar tambahan apapun yang disediakan untuk mengakomodasi patok pengarah jalan atau pagar pengaman.
Kemiringan bahu jalan umumnya lebih curam dari lajur lalu lintasnya untuk membantu drainase permukaan jalan dengan kenaikan marjinal sebesar 1%. Namun, jika bahu jalan terdiri dari perkerasan penuh dan diberi lapisan penutup, lerengnya bisa
34 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA
sama dengan perkerasan jalan di sebelahnya untuk memfasilitasi konstruksi.