• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan Keselamatan

Dalam dokumen Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya (Halaman 110-124)

F. Jalan Lokal Sekunder

8.1. Koordinasi Alinyemen

8.1.1. Pertimbangan Keselamatan

Dalam merencanakan alinyemen jalan, aspek keselamatan merupakan aspek yang utama. Guna menciptakan alinyemen yang aman, berikut ini pertimbangan yang perlu diperhatikan.

a. Lengkung vertikal overlap dengan ujung akhir lengkung horizontal. Jika lengkung vertikal cembung overlap salah satu pada awal atau akhir lengkung horizontal, maka pengemudi akan mempunyai sedikit waktu untuk bereaksi begitu mulai terlihat. Hal ini cukup tidak aman jika ada pengurangan kecepatan operasi pada awal lengkung horizontal.

b. Lengkung vertikal melewati kedua ujung lengkung horizontal. Jika pada lengkung vertikal cembung overlap kedua ujung lengkung tikungan tajam, suatu resiko bahaya akan muncul karena kendaraan harus melalui perubahan arah mendadak sementara jarak pandang berkurang.

c. Pemisahan antar lengkung tidak memadai. Jika pemisahan antara ujung-ujung lengkung horizontal dan

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 105 vertikal tidak memadai, lengkung berbalik palsu bisa muncul pada garis tepian luar pada awal lengkung horizontal, atau di garis tepian pada akhir lengkung horizontal.

d. Panjang elemen-elemen geometrik horizontal dan vertikal tidak serupa. Lengkung horizontal yang pendek hendaknya tidak ditempatkan dalam suatu lengkung vertikal yang panjang. Hal ini bisa mengarah ke masalah keselamatan adalah Ketika cekungan kecil dalam alinemen vertikal menghasilkan cekungan tersembunyi.

e. Jalan lurus panjang dan datar. Jalan lurus panjang dan datar menyulitkan pengemudi untuk menilai jarak dan kecepatan kendaraan yang mendekat sehingga mengarah ke kecelakaan waktu mendahului. Kendaraan yang mendekat pada jarak 2500m di jalan lurus akan tampak tetapi dalam situasi yang sama pada lengkungan besar memberikan perubahan pandangan bagi pengemudi yang memungkinkan memperkirakan kecepatan dan jarak.

f. Kelandaian naik-turun (Roller coaster grading). Kondisi yang demikian perlu untuk dilakukan perbaikan alinyemen guna memperkecil kemungkinan terjadi kecelakaan lalu lintas.

106 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Gambar 40. Roller Coaster Grading Berakibat Cekungan Tersembunyi

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 107 8.2. Penomoran Stationing (STA)

Stationing atau penomoran panjang jalan pada tahap desain adalah pemberian nomor pada jarak-jarak tertentu dari awal proyek. Penomoran ini atau stationing dgn symbol Sta, dibutuhkansebagai prasarana komunikasi bagi pengguna jalan dari tahap desain sampai dengan jalan tersebut terbangun. Oleh sebab itu, STA jalan berguna untuk :

1. Penunjuk tempat atau lokasi dari bagian jalan yang didesain atau dilaksanakan.

2. Penunjuk panjang jalan yang sedang didesain atau dilaksanakan.

3. Informasi tentang panjang Tikungan jalan secara keseluruhan.

Penomoran stationing Jalan pada ruas Jalan yang lurus, Sta jalan ditulis menggunakan angka a + b00 yang berarti a Km dan b00 m dari awal proyek, sebagai contoh :

- Sta 0+000, berarti 0 Km dan 0 m dari awal proyek.

- Sta 10+250, berarti 10 Km dan 250 m dari awal proyek.

Penomoran pada tikungan jalan, penomoran panjang jalan pada tikungan jalan adalah memberikan nomor pada interval-interval tertentu dari awal dimulainya tikungan. Penomoran pada tikungan jalan yaitu:

a. Stationing titik CT pada tikungan jenis lingkaran sederhana.

b. Stationing titik TS c. Stationing titik SC d. Stationing titik CS e. Stationing titik ST

(Catatan: b,c,d,e pada tikungan jenis Spiral Circle Spiral dan Spiral Spiral).

108 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Bila diketahui titik A awal rencana dibagian tangent pertama dan titik B akhir rencana di bagian tangent kedua, C adalah titik pertemuan tangent horizontal (atau PH). Panjang A k C adalah d1

dan panjang C ke B adalah d2. Perhitungan penomoran pada tikungan jalan untuk setiap titik penting adalah sebagai berikut:

1. Pada tikungan FC :

Sta TC = Sta titik A + d1 - TC Sta CT = Sta TC + LC

2. Pada Tikungan SCS :

Sta TS = Sta titik A + d1 - TS

Sta SC = Sta TS + LS

Sta CS = Sta SC + LC

Sta ST = Sta CS + LS

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 109 DAFTAR PUSTAKA

AASHTO, 2001, A Policy on Geometric Design of Highway and Streets, Washington D.C.

AASHTO, 2011, A Policy on Geometric Design of Highway and Streets, Washington D.C.

AASHTO, 2018, A Policy on Geometric Design of Highway and Streets, Washington D.C.

Badan Standarisasi Nasional, 2004, Stadart Geometri Jalan Perkotaan (Ruas Jalan) RSNI T-14-2004, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia, 2005, Modul Perencanaan Geomterik Jalan, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Bina Marga, 1997, Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Bina Marga, 2021, Peraturan Desain Geometrik Jalan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Hendarsin, Shirley.L., 2008, Perencanaan Teknik Jalan Raya, Politeknik Negeri Bandung, Bandung.

Hickerson, T.F., 1964, Route Location and Design, Fifth Edition, Mc. Graw Hill book Company Ltd, New York, USA.

I. H. Suwardo, Perancangan Geometrik Jalan: Standar Dan Dasar-Dasar Perancangan. 2016.

Irvine, W, 2006, Surveying For Construction, 5th Edition, Mc.

Graw Hill book Company Ltd, London.

Peraturan Pemerintah, 2006, Perarturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan, Lembaran Negara Republik Indonesia.

110 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Peraturan Pemerintah, 2014, Perarturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang LLAJ, Lembaran Negara Republik Indonesia.

Rogers Martin., dan Enright Bernard, 2016, Highway Engineering Third Edition, Washington D.C.

Saodang, Hamirhan., 2010, Konstruksi Jalan Raya, Penerbit Nova, Bandung.

Sasongko, R., 2018, Ilmu Ukur Tanah II, Modul Ajar, Politeknik Negeri Malang.

Suwardo,2016, Perancangan Geometik Jalan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sulaksono, Sony., 2001, Rekayasa Jalan, Institut Teknologi Bandung Press, Bandung.

Undang-Undang, 2004, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, Lembaran Negara Republik Indonesia.

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 111 GLOSARIUM

- Kendaraan desain: kendaraan yang mewakili satu kelompok jenis kendaraan yang digunakan untuk suatu desain geometrik jalan.

- Kecepatan desain (VD): suatu kecepatan kendaraan yang ditetapkan untuk disain dan berkorelasi langsung dengan elemen-elemen geometri jalan yang mempengaruhi operasi kendaraan, dinyatakan dalam satuan Km/Jam.

- Kriteria desain teknis jalan: ketentuan teknis jalan yang harus dipenuhi dalam suatu desain teknis jalan.

- Persyaratan teknis jalan ketentuan teknis yang harus dipenuhi oleh suatu ruas jalan agar jalan dapat berfungsi secara optimal memenuhi Standar Pelayanan Minimal Jalan dalam melayani lalu lintas dan angkutan jalan.

- Jalan khusus: jalan yang tidak diperuntukkan bagi lalu lintas umum, tetapi khusus untuk perorangan, atau masyarakat tertentu, atau badan usaha, atau instansi yang penyelenggaraannya dapat dilakukan oleh pemerintah, atau swasta, atau perorangan.

- Jalan umum: jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, termasuk jalan bebas hambatan dan jalan tol.

- Jalan bebas hambatan (JBH): jalan umum yang melayani lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara penuh, tidak ada persimpangan sebidang, dilengkapi pagar ruang milik jalan, dilengkapi dengan median, paling sedikit mempunyai 2 lajur setiap arah, dan lebar lajur paling sedikit 3,5m.

- Jalan raya (JRY): jalan umum yang melayani lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara terbatas, memiliki median dan paling sedikit 2 lajur setiap arah, dengan lebar lajur baku paling kecil 3,5m.

- Jalan sedang (JSD):jalan umum yang melayani lalu lintas jarak sedang, paling sedikit dua lajur untuk dua arah dengan lebar jalur baku paling sedikit 7m.

112 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

- Jalan kecil (JKC): jalan umum yang melayani lalu lintas setempat, paling sedikit mempunyai 2 lajur untuk dua arah dengan lebar jalur paling sedikit 5,5m.

- Jalan lalu lintas rendah (JLR): jalan umum yang melayani lalu lintas rendah (LHRTD< 2000SMP/hari, atau q JD <

200SMP/Jam), paling sedikit mempunyai 1 lajur untuk dua arah dengan lebar jalur paling sedikit 4,0m.

- Jarak pandang: jarak yang diukur pada pusat jalur lalu lintas, antara mata pengemudi dengan objek pada muka perkerasan jalan atau antardua pengemudi dengan ketinggian tertentu.

- Jarak pandang henti (JPH): jarak pandang pengemudi ke depan untuk menghentikan kendaraannya berhenti dengan aman, dalam satuan meter.

- Jarak pandang mendahului (JPM): jarak pandang pengemudi ke depan untuk mendahului kendaraan yang ada di depannya dengan aman dan terhadap lalu lintas yang datang dari arah berlawanan, dalam satuan meter.

- Arus lalu lintas jam desain (qJD) : arus lalu lintas per jam dalam satuan SMP/Jam yang menjadi dasar desain (penetapan) tipe jalan, yang besarnya ditentukan dari LHRT D dan faktor K.

- Ekivalen Mobil Penumpang (EMP): faktor konversi berbagai jenis kendaraan dibandingkan dengan mobil penumpang sehubungan dengan dampaknya pada perilaku lalu lintas. Catatan: istilah EMP sebelumnya dikenal dengan istilah Passenger Car Equivalent, PCE.

- Faktor jam desain (K): sering disebut faktor K: faktor yang merupakan perbandingan volume lalu lintas per jam tersibuk ke 100 terhadap volume lalu lintas harian rata-rata tahunan desain (LHRTD), digunakan untuk menghitung arus lalu lintas jam desain dari LHRT D yang besarnya adalah K x LHRT D.

- Kapasitas jalan (C): arus lalu-lintas maksimum yang dapat dipertahankan selama satu jam pada suatu bagian jalan dalam kondisi tertentu, dinyatakan dalam SMP/Jam.

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 113 - Lalu-lintas harian rata-rata tahunan (LHRT): volume lalu

lintas total yang melintasi suatu titik atau ruas jalan untuk kedua jurusan selama satu tahun dibagi oleh jumlah hari dalam satu tahun tersebut, dinyatakan dalam satuan kend./hari atau SMP/hari.

- Lalu-lintas harian rata-rata tahunan desain (LHRTD):

LHRT pada tahun akhir pelayanan jalan yang diprediksi dari LHRT tahun awal (biasanya tahun yang sedang berjalan) ke tahun akhir pelayanan dengan nilai pertumbuhan lalu lintas tertentu, dinyatakan dalam satuan kend/hari atau SMP/hari.

- Satuan mobil penumpang (SMP): satuan arus lalu lintas dari berbagai tipe kendaraan yang diubah kedalam mobil penumpang menggunakan ekivalen mobil penumpang, Catatan: istilah SMP sebelumnya dikenal dengan istilah Passenger Car Unit, PCU.

- Panjang lengkung peralihan (LS): panjang jalan yang diperlukan untuk mencapai perubahan dari bagian lurus dengan kemiringan melintang normal ke bagian lingkaran dari tikungan dengan kemiringan melintang penuh, dinyatakan dalam satuan meter.

- Superelevasi (e): kemiringan melintang jalan di tikungan yang berfungsi mengimbangi gaya sentrifugal yang bekerja pada saat kendaraan berjalan menikung, dinyatakan dalam satuan %.

- Radius putar (R): panjang radius yang diperlukan untuk suatu kendaraan berputar, dinyatakan dalam satuan meter.

- Stationing (STA): pemberian nomor pada jarak-jarak tertentu dari awal proyek

114 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA INDEKS

A

Arus lalu lintas jam desain (qJD) ; 25

E

Ekivalen Mobil Penumpang (EMP) ; 39

F

Faktor jam desain (K) ; 39 J

Jalan khusus ; 1 Jalan umum ; 1

Jalan bebas hambatan (JBH)

; 29

Jalan raya (JRY) ; 29 Jalan sedang (JSD) ; 29 Jalan kecil (JKC) ; 29

Jalan lalu lintas rendah (JLR)

; 25

Jarak pandang ; 45

Jarak pandang henti (JPH) ; 47

Jarak pandang mendahului (JPM) ; 48

K

Kendaraan desain ; 35 Kecepatan desain (VD) ; 29 Kriteria desain teknis jalan ; 26

Kapasitas jalan (C) ; 40 L

Lalu-lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) ; 37

Lalu-lintas harian rata-rata tahunan desain (LHRTD) ; 39 P

Persyaratan teknis jalan ; 39 Panjang lengkung peralihan (LS) ; 57

R

Radius putar (R) ; 55 S

Satuan mobil penumpang (SMP) ; 38

Superelevasi (e) ; 60 Stationing (STA) ; 102

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 115 CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

Capaian Pembelajaran (CP)

CPL-PRODI (Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi)Yang Dibebankan Pada Mata Kuliah

S9 Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri.

P1

P2

P3 P4

Menguasai konsep teoritis matematika terapan, sains alam (fisika, kimia), sains rekayasa dan prinsip rekayasa untuk menerjemahkan dan mengkaji perancangan teknis rinci2 (detail engineering design), melaksanakan dan mengawasi proses konstruksi bangunan gedung bangunan air, bangunan jalan dan bangunan jembatanskala menengah

Menguasai prinsip dan teknik perancangan rekayasa meliputi ilmu bahan, mekanika (mekanika teknik, mekanika tanah, mekanika fluida), sistem transportasi, hidrologi, rekayasa geoteknik, rekayasa jalan, rekayasa struktur jembatan, dan rekayasa bangunan gedung, dan bangunan air

Menguasai prinsip survey (tata guna lahan, kontur, transportasi), prinsip pengujian bahan bangunan, dan prinsip perbaikan tanah dasar

Menguasai perkembangan

teknologikhususnya di bidang konstruksi bangunan gedung, bangunan air, bangunan transportasi

KK1 Mampu menerapkan matematika terapan, sains alam (fisika, kimia), sains rekayasa dan prinsip rekayasa untuk melakukan kajian perancangan teknis rinci2, pelaksanaan dan pengawasan bangunan skala menengah

KU1 Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, inovatif, bermutu, dan terukur dalam melakukan pekerjaan yang spesifik di bidang keahliannya serta sesuai dengan standar kompetensi kerja bidang yang bersangkutan

116 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

KU2 Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu dan terukur

CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) CPMK1 Mampu menguasai teori dan ketentuan

perencanaan geometrik jalan (P2)

CPMK2 Mampu menghitung komponen alinyemen horizontal dan vertikal (P1, P2, KK1, KU1);

CPMK3 Mampu merencanakan dan menggambar desain geometrik jalan raya dan drainase (P1, P2, P3, P4, KK1, KU1, KU2)

Diskripsi Singkat MK

Mata kuliah ini diberikan pada semester IV bagi mahasiswa tingkat 2 Program D.IV Manajemen Rekayasa Konstruksi jurusan Teknik Sipil dengan waktu pelaksanaan perkuliahan 5 jam per minggu selama 14 minggu efektif (2 minggu terpotong blok bengkel). Materi meliputi perhitungan komponen alinyemen horizontal dan vertikal, perencanaan dan desain geometrik jalan serta drainase jalan.

Bahan Kajian / Materi

Pembelajaran

1. Lingkup, Perundangan, dan ketentuan perencanaan geometrik jalan raya 2. Kriteria Perencanaan

3. Jarak Pandang dan Daerah Bebas Samping 4. Alinyemen Horizontal

5. Alinyemen Vertikal

6. Perencanaan Drainase Jalan Daftar

Referensi

Utama:

1) Politeknik Negeri Malang, 2021, Modul Ajar Geometri Drainase Jalan Raya

2) Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997, Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 3) Departemen Pekerjaan Umum Direktorat

Jenderal Bina Marga, 1997, Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan.

4) UU tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah

5) AASHTO 2011 6) AASHTO 2018

7) Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, 2021, Pedoman Desain Geometrik Jalan

Media

Pembelajaran

Perangkat lunak: Perangkat keras :

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 117 Autodesk Civil 3D dan AutoCad Notebook

&LCDProjector Nama Dosen

Pengampu

Nain DHaniarti Raharjo, SST, M.T

Dalam dokumen Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya (Halaman 110-124)

Dokumen terkait