BAB XIV TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR (SNI 2433:2011)
14.9 Lampiran
Adapun lampiran pada pemeriksaan ini meliputi : 1) Form Praktikum Titik Nyala dan Titik Bakar Aspal 2) Foto pada saat pengujian.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM JALAN RAYA & TRANSPORTASI
Jalan A. Yani Km. 36 Kampus UNLAM Telp. (0511) 4773858 Banjarbaru 70174
PEMERIKSAAN TITIK NYALA & TITIK BAKAR (SNI 2433:2011)
NO. CONTOH : HARI/TANGGAL: -
PELAKSANA : Kelompok XXIII
SUMBER CONTOH: Shell Ex Singapore JENIS CONTOH : Aspal Keras
UNTUK: Praktikum Perkerasan Jalan
Perlakuan Pembacaan
Waktu Catatan
Contoh dipanaskan
Mulai jam : 08.35 Pembacaan Suhu Oven
Selesai jam : 08,47 Temperatur : 110 0C
Penuangan Contoh
Mulai jam : 09.18 Pembacaan Suhu Menuang
Selesai jam : 09.18 Temperatur : 110 0C
Pengujian Contoh
Mulai jam : 09.20
Selesai jam : 09.37
Titik Nyala dan Titik Bakar Pembacaan Pengukuran Pada Alat
Pengamatan I 251 oC
Pengamatan II 258 oC
Gambar 14. 1 Cawan Cleveland Gambar 14. 2 Cleveland Open Cup
Gambar 14. 3 Termometer Gambar 14. 4 Pengujian Titik Nyala &
Titik Bakar
BAB XV
DAKTILITAS BAHAN-BAHAN ASPAL (SNI 2432-2011)
15.1 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari praktikum Daktilitas Bahan-Bahan Aspal adalah sebagai berikut.
Maksud
Percobaan ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian daktilitas bahan aspal.
Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mendapatkan harga pengujian daktilitas bahan aspal.
15.2 Ruang Lingkup
Standar ini mencakup pengujian daktilitas aspal keras, residu aspal emulsi, residu aspal cair dan bitumen aspal alam yang menunjukkan pemuluran aspal.
Pengujian dilakukan pada temperature 25°C ± 0,5°C atau temperatur lainnya dengan cara menentukan jarak pemuluran aspal dalam cetakan pada saat putus setelah ditarik dengan kecepatan 50 mm per menit ± 2,5 mm. Standar ini tidak mencantumkan semua yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan kesehatan kerja, bila ada menjadi tanggung jawab pengguna.
15.3 Pengertian
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan percobaan yaitu sebagai berikut:
1) Aspal, yaitu material yang diperoleh dari residu hasil pengilangan minyak bumi.
2) Aspal alam, yaitu aspal yang merupakan hasil destilasi secara alam
3) Aspal cair, yaitu campuran aspal padat dengan pelarut dari minyak bumi jenis tertentu
4) Aspal emulsi, yaitu aspal semi padat yang didispersikan ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi
5) Aspal keras, yaitu aspal yang bersifat viskoelastik termasuk aspal alam atau aspal modifikasi (aspal yang diberi bahan tambah seperti polimer, latek)
6) Daktilitas, yaitu sifat pemuluran aspal yang diukur pada saat putus 7) Daktilometer, yaitu alat untuk menguji daktilitas aspal yang mencakup
bak perendam dan mesin untuk menarik aspal dalam cetakan (briket) dengan kecepatan 50 mm per menit ± 2,5 mm.
15.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan pada pengujian ini adalah:
1) Cetakan benda uji daktilitas terbuat dari kuningan seperti ditunjukkan pada Gambar 15.1.
2) Bak perendam harus dapat mempertahankan temperatur pengujian 25°C atau temperatur lainnya dengan ketelitian 0,1°C. Isi air dalam bak perendam tidak boleh kurang dari 10 liter, kedalaman air di dalam bak tidak boleh kurang dari 50 mm agar benda uji dapat terendam pada kedalaman 25 mm;
3) Mesin penguji dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Dapat menjaga benda uji tetap terendam;
b. Dapat menarik benda uji tanpa menimbulkan getaran dengan kecepatan tetap;
4) Termometer dengan rentang pengukuran - 8°C sampai dengan 32°C (lihat Lampiran B).
CATATAN 1:
Apabila benda uji daktilitas direndam dalam bak perendam cara uji penetrasi pada temperatur 25ºC, dapat digunakan termometer yang digunakan pada
15.5 Benda Uji
Persiapan benda uji pada percobaan ini meliputi :
Contoh uji
Contoh uji yg digunakan sebanyak 250 gram aspal.
Persiapan benda uji
Adapun proses persiapan benda uji pada percobaan ini, yaitu :
1) Lapisi seluruh permukaan pelat dasar dan bagian yang akan dilepas (a dan a’, lihat Gambar A.1.) dengan campuran gliserin dan talk atau kaolin dengan perbandingan 3 gram gliserin dan 5 gram talk untuk mencegah melekatnya benda uji pada cetakan daktilitas;
2) Letakkan cetakan daktilitas di atas pelat dasar pada tempat yang datar dan rata, sehingga semua bagian bawah cetakan menempel baik pada pelat dasar;
3) Panaskan contoh uji sekitar 150 gram sambil diaduk untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, sampai cukup cair untuk dituangkan;
4) Saring contoh uji dengan Saringan No.50 (300 µm);
5) Setelah diaduk, tuangkan contoh uji ke dalam cetakan mulai dari ujung ke ujung hingga sedikit melebihi cetakan;.
6) Diamkan benda uji pada temperatur ruang selama 30 menit sampai dengan 40 menit;
7) Rendam benda uji dalam bak perendam pada temperatur pengujian selama 30 menit;
8) Ratakan permukaan benda uji dengan pisau atau spatula yang panas agar rata.
Persiapan air untuk bak perendam
Atur berat jenis air dalam bak perendam mesin uji agar sama dengan berat jenis aspal yang akan diuji dengan cara menambahkan metil alkohol, gliserin atau garam.
15.6 Prosedur Percobaan
Prosedur pengujian pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1) Masukkan benda uji (pelat dasar dan cetakan daktilitas yang berisi aspal) ke dalam bak perendam pada temperatur 25ºC selama 85 menit sampai dengan 95 menit.
2) Lepaskan benda uji dari pelat dasar dari sisi cetakannya (a dan a’ pada Gambar A.1.) dan langsung pasangkan benda uji ke mesin uji dengan cara memasukkan lubang cetakan ke pemegang di mesin uji.
3) Jalankan mesin uji sehingga menarik benda uji dengan kecepatan sesuai persyaratan (50 mm per menit). Perbedaan kecepatan lebih atau kurang dari 2,5 mm per menit masih diperbolehkan.
4) Baca pemuluran benda uji pada saat putus dalam satuan mm (cm).
CATATAN 2:
Selama pengujian, air dalam bak mesin uji harus diatur sedemikian rupa sehingga jarak benda uji kepermukaan dan dasar air tidak kurang dari 25 mm dan temperatur pengujian dipertahankan konstan pada temperatur pengujian 25°C ± 0,5°C.
15.7 Perhitungan
Hasil yang didapat pada percobaan ini adalah:
1) Panjang benda uji : Pengamatan I = > 100 Pengamatan II = > 100 2) Rata-rata panjang benda uji adalah > 100 cm.
15.8 Kesimpulan
Berdasarkan Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.3 pada Tabel 6.3.2.(5) Ketentuan-Ketentuan Aspal Keras, bahwa nilai daktilitas pada aspal dengan penetrasi sebesar 60-70 harus lebih besar atau sama dengan 100 cm.
dari hasil yang didapat, nilai daktilitas aspal pada pengujian adalah sebesar > 100 cm. Maka, dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspal pada
15.9 Lampiran
Adapun lampiran pada pemeriksaan ini meliputi : 1) Form Praktikum Pemeriksaan Daktilitas 2) Gambar pada saat pengujian
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM JALAN RAYA & TRANSPORTASI
Jalan A. Yani Km. 36 Kampus UNLAM Telp. (0511) 4773858 Banjarbaru 70174
PEMERIKSAAN DAKTILITAS (SNI 2432-2011)
No Contoh :
Hari/Tanggal : 15 Maret 2022 Pelaksana : Kelompok XXIII
Sumber Contoh : Shell Jenis Contoh : Aspal Keras
Untuk : Praktikum Perkerasan Jalan
PERLAKUAN PEMBACAAN
WAKTU CATATAN
CONROH DIPANASKAN PEMBACAAN SUHU
OVEN TEMPERATUR : 110° CELCIUS
MULAI : 08.29
19 Menit SELESAI JAM : 08.48
DIDIAMKAN PADA SUHU RUANG
MULAI : 08.48 60 Menit
SELESAI JAM : 09.48 (1 Jam)
DIRENDAM PADA SUHU 25°
CELCIUS
PEMBACAA SUHU WATERBATH TEMPERATUR : 25°
CELCIUS
MULAI : 09.48 60 Menit
SELESAI JAM : 10.48 (1 Jam)
TITIK LEMBEK PEMBACAAN SUHU
ALAT TEMPERATUR 25 DERAJAT CELCIUS
MULAI : 10.48 4 Menit
SELESAI : 11.52
NO. SUHU BENDA UJI
PENGAMATAN I >100 cm
PENGAMATAN II >100 cm
RATA-RATA >100 cm
Gambar 15. 1 Cetakan Kuningan Gambar 15. 2 Benda Uji
Gambar 15. 3 Percobaan Daktilitas
BAB XVI
KEHILANGAN BERAT DENGAN THIN FILM OVEN TEST (SNI 06-2440-1991)
16.1 Maksud dan Tujuan
Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara pemanasan dan tebal tertentu.
Tujuan
Tujuan metode ini adalah menentukan kehilangan berat minyak dan aspal, yang dinyatakan dalam persen berat semula.
16.2 Ruang Lingkup
Metode pengujian ini dilakukan terhadap aspal dengan mencari besaran kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A yaitu cara lapisan tipis. Selanjutnya hasil pengujian ini digunakan untuk mengetahui stabilitas aspal setelah pemanasan. Selain itu dapat digunakan untuk mengetahui perubahan sifat fisik aspal selama dalam pencampuran panas di AMP pada suhu 163ᵒC yang dinyatakan dengan penetrasi, daktilitas dan kekentalan.
16.3 Pengertian
Yang dimaksud dengan penurunan berat minyak dan aspal adalah selisih berat sebelum dan sesudah pemanasan pada tebal tertentu pada suhu tertentu.
16.4 Peralatan
Peralatan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
1. Pengatur suhu untuk memanasi sampai (180oC 1o) C:
2. Pinggan logam berdiameter 35 cm, menggantung pada oven pada poros vertical dan berputar dengan kecepatan 5 sampai 6 putaran per menit;
c. Cawan baja tahan karat atau aluminium berbentuk silinder dengan dasar yang rata; ukuran dalam : 140 mm, tinggi 9,5 mm dan tebal 0,64 mm – 0,76 mm.
d. Neraca analitik, dengan kapasitas (200 0,001) gram 16.5 Benda Uji
Benda uji adalah minyak atau aspal sebanyak 100 gram, yang dipersiapkan dengan cara sebagai berikut :
1) Aduklah contoh minyak atau aspal serta panaskan bila perlu untuk mendapatkan campuran yang merata;
2) Tuangkan contoh kira-kira (50,0 ± 0,5) gram kedalam cawan dan setelah dingin timbanglah dengan ketelitian 0,01 gram (A);
3) Benda uji yang diperiksa harus bebas air;
4) Siapkan benda uji ganda (duplo).
16.6 Cara Pengujian
Urutan proses dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1) Letakkan benda uji di atas pinggan setelah oven mencapai suhu (163oC
± 1oC);
2) Pasanglah thermometer pada dudukannya sehingga terletak pada tengah-tengah antara pinggir pinggan dan poros (sumbu) dengan ujung 6 mm di atas pinggan;
3) Ambillah benda uji dari dalam oven setelah 5 jam sampai 5 jam 15 menit;
4) Dinginkan benda uji pada suhu ruang, kemudian timbanglah dengan ketelitian 0,01 gram (B);
Apabila hasil pemeriksaan tidak semuanya sama maka benda uji dengan
16.7 Hasil Perhitungan
Perhitungan dapat dilakukan sebagai berikut Hitunglah penurunan berat = (A-B)/A X 100%
Keterangan :
A = berat benda uji semula
B = berat benda uji setlah pemanasan Sampel I
Berat Cawan + Aspal Keras sebelum Pemanasan = 109,77 gr Berat Cawan + Aspal Keras setelah Pemanasan = 109,74 gr
Berat Cawan = 57,65 gr
Berat Sebelum Pemanasan (A) = 109,77-57,65 = 52,12 gr Berat Setelah Pemanasan (B) = 109,74-57,65 = 52,09 gr
Kehilangan Berat ( (A-B)/A X 100%) = (52,12 - 52,09)/52,12 X 100%
= 0,058%
Sampel II
Berat Cawan + Aspal Keras sebelum Pemanasan = 118,18 gr Berat Cawan + Aspal Keras setelah Pemanasan = 118,17 gr
Berat Cawan = 56,59 gr
Berat Sebelum Pemanasan (A) = 118,18-56,59 = 61,59 gr Berat Setelah Pemanasan (B) = 118,18-56,59 = 61,58 gr
Kehilangan Berat ( (A-B)/A X 100%) = (61,59 - 61,58)/(61,59 ) X 100%
= 0,016%
Kehilangan Berat Rata-rata = (0,058 - 0,016)/(2 ) = 0,037%
16.8 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil kehilangan berat sebesar 0,037%. Nilai kehilangan berat ini tidak boleh terlalu besar, karena dalam
nantinya. Apabila pada jalan yang sudah dipakai lama maka zat minyaknya sudah hilang dan mengakibatkan jalan tersebut menjadi getas/pecah-pecah dan berlubang. Zat minyak pada aspal ini berfungsi sebagai pelapis pekerasan jalan dari suhu yang berubah-ubah. Berdasarkan Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.3 pada Tabel 6.3.2.(5) Ketentuan-Ketentuan Aspal Keras, bahwa nilai berat yang hilang dalam persen (%) pada aspal dengan penetrasi sebesar 60- 70 harus lebih kecil atau sama dengan 0,8% (≤ 0,8%). Maka, dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspal pada percobaan ini memenuhi standar sebagai bahan untuk perkerasan jalan.
16.9 Lampiran
Adapun lampiran pada pemeriksaan ini meliputi : 1) Form Praktikum
2) Foto alat percobaan.
3) Spesifikasi Termometer
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM JALAN RAYA & TRANSPORTASI
Jalan A. Yani Km. 36 Kampus UNLAM Telp. (0511) 4773858 Banjarbaru 70174
KEHILANGAN BERAT DENGAN THIN-FILM OVEN TEST (SNI 06-2441-1991)
No Contoh : - Hari/Tanggal : -
Pelaksana : Kelompok XXIII
Sumber Contoh : - Jenis Contoh : -
Untuk : Praktikum Perkerasan Jalan
No
. Kegiatan Uraian
1 Pembukaan Contoh Contoh dipanaskan Mulai Jam = 09.00 Selesai Jam = 09.25
Pembacaan suhu oven = 70 ᴼC 2 Mendinginkan
Contoh
Didiamkan di suhu ruangan
Mulai Jam = 09.25 Selesai Jam = 11.50 3 Kehilangan Berat Dipanaskan pada suhu
163oC
Mulai Jam = 11.50 Selesai Jam = 16.50
Pembacaan suhu oven = 163oC
Keterangan Sampel I Sampel II
Berat Cawan + Aspal Keras sebelum Pemanasan (gr) 109,77 118,18 Berat Cawan + Aspal Keras setelah Pemanasan (gr) 109,74 118,17
Berat Cawan (gr) 57,65 56,59
Berat sebelum Pemanasan = A (gr) 52,12 61,59
Berat setelah Pemanasan = B (gr) 52,09 61,58
A−B 0,058 0,016
Gambar 16. 1 Termometer
Gambar 16. 2 Pinggan Berputar
BAB XVII
KELARUTAN BAHAN-BAHAN BITUMEN (SNI 2438-2015)
17.1 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari praktikum Klearutan Bahan-bahan Bitumen adalah sebagai berikut.
Maksud
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui derajat kelarutan dalam trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane pada bahan aspal yang tidak atau sedikit mengandung mineral.
Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui derajat kelarutan dalam trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane pada bahan aspal yang tidak atau sedikit mengandung mineral.
17.2 Ruang Lingkup
Standar ini menetapkan cara uji kelarutan yang dilakukan untuk menentukan derajat kelarutan dalam trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane pada bahan aspal yang tidak atau sedikit mengandung mineral.
Pada cara uji ini dicantumkan pula langkah pengerjaan dan perhitungan jumlah aspal yang terlarut pada trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane.
trichloroethylene (TCE) 1,1,1 trichloroethane merupakan bahan beracun, pada kondisi panas dan lembab dapat membentuk asam yang bersifat sangat korosif.
Karena standar ini tidak mencakup masalah keselamatan yang berhubungan dengan penggunaannya, maka pengaturan keselamatan dan kesehatan kerja serta penerapannya menjadi tanggung jawab pengguna.
17.3 Pengertian
1) Kelarutan, yaitu perbandingan antara berat zat terlarut dalam pelarut organik dengan berat total benda uji yang dinayatakan dalam persen.
2) Bahan yang larut, yaitu bagian dari benda uji yang dapat larut dalam pelarut trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane
3) Bahan yang tidak larut, yaitu bagian dari benda uji yang dapat tidak larut dalam pelarut trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane.
17.4 Peralatan
Perlatan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1) Cawan Gooch (cawan porselin berlubang) berdiameter atas 44 mm, daimeter dasar 36 mm, tinggi bagian dalam cawan 24 mm sampai dengan 28 mm:
2) Saringan fiber glas (glass fiber pad) berdiameter 32 mm, 35 mm atau 37 mm:
3) Labu penyaring (filter flask) berkapasitas 250 mL atau lebih, berdinding tebal dan memiliki pipa pengeluaran:
4) Tabung penyaring (filter tube) berdiameter dalam 40 mm sampai dengan 42 mm:
5) Silinder atau sambungan kaet (rubber tubing atau adapter) untuk menahan cawan Gooch di dalam tabung penyaring:
6) Pompa aspirator untuk penyaringan vacuum:
7) Labu Erlenmeyer berkapasitas 125 mL atau wadah lain yang sesuai:
8) Oven yang dilengangkapi dengan pengatur temperatur untuk memanaskan sampai 110°C ±5°C:
9) Desikator dengan ukuran sesuai kebutuhan:
10) Timbangan berkapasitas 200 gram dan dengan ketelitian 0,0001 gram:
11) Botol pencuci yang berisi bahan pelarut untuk membilas Erlenmeyer atau saringan.
17.5 Benda Uji
Bahan pelarut yang diguankan adalah trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1
17.6 Prosedur Percobaan
Langkah-langkah pengujian adalah sebagai berikut:
1) Masukkan kira-kira 2 gram benda uji ke dalam labu Erlenmeyer 125 mL yang sudah ditimbang dengan ketelitian 0,001 gram:
2) Diamkan abu Erlenmeyer beserta isinya samapi mencapai temperature ruang:
3) Timbang dengan ketelitian 0,001 gram dan catat berat benda uji (B):
4) Tambahkan 100 mL trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane ke dalam labu Erlenmeyer:
5) Tutup dan goyangkan secara berputar sampai benda uji larut dan tidak ada bagian benda uji yang tidak larut menempel pada labu Erlenmeyer . Diamkan selama sedikitnya 15 menit dan periksa bagian yang tidak larut:
6) Siapkan cawan Gooch di atas tabung penyaring:
7) Basahi saringan fiber glas dengan sedikit pelarut:
8) Saring larutan secara dekantasi melalui saringan fiber gelas dalam cawan Gooch dengan disertai vacum dari pompa aspirator;
9) Bagian yang tidak terlarut biarkan tertinggal dalam labu Erlenmeyer sampai semua larutan tertuang ke dalam cawan Gooch;
10) Cuci Erlenmeyer dengan sedikit pelarut dari botol pencuci dan pindahkan semua bagian yang tidak larut ke dalam cawan Gooch;
11) Gunakan batang pengaduk berujung karet jika dibutuhkan untuk memindahkan bahan yang tidak larut dan menempel pada labu Erlenmeyer ke dalam cawan Gooch, serta cuci batang pengaduk dan labu Erlenmeyer;
12) Cuci bahan yang tidak larut dalam cawan Gooch dengan pelarut sampai bersih atau sampai larutan tidak berwarna;
13) Lepaskan cawan Gooch dari tabung penharing dan cuci bagian bawah Gooch hingga bebas dari bahan yang larut;
15) Dinginkan cawan Gooch dan isinya dalam desikator paling sedikit 20 menit dan tentukan beratya;
16) Ulangi pekerjaan pada butir n) dan o) sampai diperoleh berat konstan (tidak berbeda lebih dari 0,0003 g). Catat sebagai berat cawan Gooch dengan bagian tak larut (C).
17.7 Perhitungan
Hitung persentase total bahan yang tidak larut maupun persen bahan ayng larut sebagai berikut:
Bahan yang tidak larut = (1)
Bahan yang larut = 100%- (2)
Keterangan:
A adalah masa cawan Gooch (termasuk kertas saring B adalah masa benda uji
C adalah masa cawan Gooch dengan bahan yang tidak larut
Persentase ini tiap fraksi hasil penyulingan, dihitung sebagai berikut : 1. % isi fraksi titik didih suhu 190oC =
2. % isi fraksi titik didih suhu 225oC = 3. % isi fraksi titik didih suhu 260oC = 4. % isi fraksi titik didih suhu 316oC = 5. % isi fraksi titik didih suhu 360oC = Sisa penyuliangan =
Keterangan : T = isi benda uji
T = isi fraksi pada suhu 260oC a = isi fraksi pada suhu 290oC b = isi fraksi pada suhu 225oC c = isi fraksi pada suhu 316oC d = isi fraksi pada suhu 360oC 17.7 Kesimpulan
Dari percobaan didapatkan kadar kelarutan dalam Tricloroethylene sebesar 99,331 %. Menurut Spesifikasi Bina Marga Divisi 6 tahun 2018 pada Tabel 6.1.2.(1) Persyaratan Aspal Emulsi modifikasi untuk Tack Coat untuk Kelarutan dalam Tricloroetylene minimal 97,5 %. Jadi, aspal dengan kadar kelarutan dalam Tricloroethylene sebesar 99,331 % sudah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Tabel 17. 1 Persyaratan Aspal Emulsi Modifikasi untuk Tack Coat
17.9 Lampiran
Adapun lampiran pada laporan ini meliputi :
1) Form praktikum Kelarutan Bahan-bahan Bitumen 2) Foto alat pengujian
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM JALAN RAYA & TRANSPORTASI
Jalan A. Yani Km. 36 Kampus UNLAM Telp. (0511) 4773858 Banjarbaru 70174
KELARUTAN BAHAN-BAHAN BITUMEN (SNI 2438-2015)
No Contoh : - Hari/Tanggal : -
Pelaksana : Kelompok XXIII
Sumber Contoh : - Jenis Contoh : -
Untuk : Praktikum Perkerasan Jalan
BAB I Pemeriksaan Pembacaan
Waktu Catatan
Penimbangan Pelarutan
Mulai jam : 13.00 Pembacaan Suhu Oven
Selesai jam : 13.45 Temperatur : 110 0C
Menyaring
Mulai jam : 13.45
Selesai jam : 14.25
Pengeringan dan Penimbangan
Mulai jam : 14.25
Selesai jam : 14.55
Sampel 1 Sampel 2
Berat Erlenmeyer + bitumen = 121,841 g = 119,576 g Berat Erlenmeyer kosong = 119,726 g = 119,576 g
Berat bitumen = 2,115 g = 2,009 g
Gooch Crucible + endapan = 24,191 g = 19,239 g Gooch Crucible kosong = 24,169 g = 19,233 g
Berat endapan = 0,022 g = 0,006 g
Atau = 1,040 % = 0,299 %
Rata-rata = 0,699 %
Kelarutan = 100 -0,669 % = 99,331 %
Gambar 17. 1 Alat Uji Kelarutan
BAB XVIII
VISKOSITAS ASPAL BAHAN-BAHAN BITUMEN (SNI 03-6441-2000)
18.1 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari praktikum Viskositas Bahan-bahan Bitumen adalah sebagai berikut.
Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan untuk mengukur viskositas apparen aspal minyak pada temperatur yang diinginkan.
Tujuan
Tujuan Pengujian ini adalah untuk mengetahui viskositas apparen aspal minyak pada temperatur yang diinginkan.
18.2 Ruang Lingkup
Metode ini mencakup prosedur pengukuran viskositas apparen aspal minyak pada temperatur 38°C sampai 260°C, menggunakan alat Brookfield Termosel.
Metode ini tidak dimaksudkan untuk semua permasalahan keamanan yang berkaitan dengan penggunaannya. Merupakan tanggungjawab pengguna standar ini untuk menerapkan tindakan-tindakan yang sesuai dengan keamanan dan kesehatan, dan menentukan penerapan dari batas-batas yang harus ditaati sebelum menggunakan standar ini.
18.3 Pengertian
Berikut merupakan pengertian dari istilah-istilah yang digunakan pada percobaan ini :
1) Viskositas apparen adalah perbandingan antara tegangan geser dengan laju geser cairan Newtonian atau Non Newtonian.
2) Cairan Newtonian adalah cairan dimana laju geser berbanding lurus dengan tegangan geser. Bila tidak berbanding lurus cairan adalah Non
Newtonian. Beberapa cairan memperlihatkan kedua sifat tersebut, baik Newtonian maupun Non Newtonian tergantung pada laju geser.
3) Viskositas; koefisien viskositas adalah perbandingan antara tegangan geser yang diberikan dengan laju geser. Nilai koefisien ini adalah suatu ukuran ketahanan terhadap pengaliran cairan. Satuan viskositas dalam Standar Internasional (SI) adalah Pascal sekon (Pa.s). Satuan viskositas dalam sistim centimeter gram sekon (cgs) adalah poise (dyreis/cm2) dan nilai ini setara dengan 0,1 Pascal sekon (Pa.s).
Biasanya satuan viskositas dinyatakan dalam centipoise (cP), dimana 1 cP sama dengan 1 milipascal sekon (mPa.s).
18.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1) Sistem pengukuran Viskositas temperature tinggi dari Brookfield Termosel menggunakan Brookfield SinkroelektrikTermoselStandar, yang terdiri atas model - modelLV, RV HA atau HB yang penggunaannya tergantung pada rentang viskositas.
2) Spindel.
3) Sistem Termosel.
a. Wadah pemanas dan tabung benda uji.
b. Pengontrol Strip Chart Recorder (SCR) dan Probe.
c. Peralatan untuk membuat grafik.
18.5 Benda Uji
Benda uji dipersiapkan dengan cara sebagai berikut:
1) Aspal cair 18.6 Prosedur Percobaan
Berikut merupakan tata cara prosedur pada percobaan ini :
1) Baca dan pahami informasi pada petunjuk operasional dari pabrik
2) Nyalakan alat Termosel.
3) Atur pengontrol temperature sesuai temperature pengujian yang diinginkan.
4) Kalibrasi pengontrol sesuai petunjuk operasional.
5) Tunggu 1,5 jam (sampai termosel mencapai temperature pengujian), dengan spindel_terpilih di dalam tabung benda uji (periksa lampu pengontrol).Isi tabung benda uji dengan aspal sesuai spindel yang digunakan. Lakukan dengan hati-hati untuk menghindari panas yang berlebihan pada benda uji dan menghindari pengapian benda uji yang mempunyai pemanasan titik nyala rendah. Hitung berat yang diperlukan dari data berat jenis atau kepadatan benda uji.
6) Benda uji yangdiperlukansekitar 8 sampai 10 ml.
7) Jangan mengisi benda uji secara berlebihan. Volume benda uji sangat menentukan sistim kalibrasi. Untuk memperoleh benda uji yang mewakili, lakukan terus pengadukan pada aspal.
8) Ketinggian cairan harus segaris dengan batang spindle pada garis kira- kira 3,2 mm diatas bagian atas spindel yang meruncing.
9) Dengan menggunakan alat penjepit masukkan tabung yang berisi benda uji kewadah pemanas.
10) Tempatkan viscometer tepat diatas wadah pemanas.
11) Pasang spindle ke viskometer, dan turunkan viscometer sehingga spindle masuk kedalam benda uji. Pemilihan spindle dapat dilakukan berdasarkan pengujian awal.
12) Biarkan aspal sampai mencapai temperatur pengujian yang kon stan (kurang lebih 15 menit).
13) Jalankan viskometer Brookfield model RV, HA, HB pada 20 rpm, atau untuk model LV pada 12 rpm, dan amati hasil pembacaan. Bila hasil pembacaan terletak diantara angka 2 dan angka 98, lanjutkan pengujian.
14) Catat tiga pembacaan setiap 60 detik dari setiap termperatur pengujian.