Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis | 125 4. Kontrol dari pihak berwenang dalam menegakkan etika bisnis masih dianggap lemah. Sehingga kondisi ini dimanfaatkan untuk mencapai keuntungan pribadi atau kelompok.
126 | Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis
segala ketentuanNya. Perhatian terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan etik dan dimotivasi oleh ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa akan meningkatkan kesadaran individu mengenai insting altruistiknya, baik terhadap sesama manusia maupun alam lingkungannya. Ini berarti, konsep tauhid akan memiliki pengaruh yang paling mendalam terhadap diri seorang muslim.
2. Keseimbangan (Equilibrium)
Keseimbangan atau keadilan adalah menggambarkan dimensi horizontal ajaran Islam, dan hubungan dengan harmoni segala sesuatu di alam semesta. Hukum dan keteraturan yang terlihat pada alam semesta mencerminkan keseimbangan harmonis. Tatanan ini pula yang dikenal dengan sunnatullah. Dalam beraktivitas di dunia kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali kepada pihak yang tidak disukai. Islam mengharuskan penganutnya untuk berlaku adil dan berbuat kebajiakan. Dan bahkan berlaku adil harus didahulukan dari kebajikan. dalam perniagaan, persyaratan adil yang paling mendasar adalah agar pengusaha Muslim menyempurnakan takaran bila menakar dan menimbang dengan alat timbangan yang benar, karena hal itu merupakan perilaku terbaik yang akan mendekatkan pada ketaqwaan (Nuryadewi, 2015).
3. Kehendak Bebas (Free Will)
Pada tingkat tertentu, manusia diberikan kehendak bebas untuk mengendalikan kehidupannya sendiri manakala Allah SWT menurunkannya ke bumi. Dengan tanpa mengabaikan kenyataan bahwa ia sepenuhnya dituntun oleh hukum yang diciptakan Allah SWT, ia diberi kemampuan untuk berpikir dan membuat keputusan, memilih jalan hidup yang diinginkan, dan yang paling penting untuk bertindak berdasarkan aturan yang ia pilih.
Konsep Islam memahami bahwa institusi ekonomi seperti pasar dapat berperan efektif dalam kehidupan ekonomi. Manusia memiliki kecenderungan untuk berkompetisi dalam segala hal, tak terkecuali kebebasan melakukan kontrak di pasar. Oleh sebab itu, pasar seharusnya menjadi cerminan dari berlakunya hukum penawaran dan permintaan yang direpresentasikan oleh harga, pasar tidak terdistorsi oleh tangan- tangan yang sengaja mempermainkannya. Islam tidak memberikan
Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis | 127 ruang kepada intervensi dari pihak manapun untuk menentukan harga, kecuali adanya kondisi darurat (Nuryadewi, 2015).
4. Tanggung Jawab (Responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban. Untuk memenuhi tuntutan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya (Nuryadewi, 2015).
Secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan prinisp kehendak bebas. ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya.
Dalam bidang ekonomi dan bisnis prinsip ini dijabarkan menjadi suatu pola perilaku tertentu. Ia mempunyai sifat berlapis ganda dan terfokus baik pada tingkat mikro (individual) maupun tingkat makro (organisasi dan sosial), yang kedua-duanya harus dilakukan secara bersama-sama.
Prinsip pertanggungjawaban ini secara mendasar akan mengubah perhitungan ekonomi dan bisnis karena segala sesuatunya harus mengacu pada keadilan.
5. Kebajikan (Ihsan)
Ihsan artinya melaksanakan perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat kepada orng lain, tanpa adanya kewajiban tertentu yang mengharuskan perbuatan tersebut atau dengan kata lain beribadah dan berbuat baik seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu, maka yakinlah Allah melihat.
Dalam sebuah kerajaan bisnis, terdapat sejumlah perbuatan yang dapat mensupport pelaksanaan aksioma ihsan dalam bisnis (Zubair dalam Hastuti, 2021), yaitu:
a. Kemurahan hati (leniency) b. Motif pelayanan (service motives)
c. Kesadaran akan adanya Allah dan aturan yang berkaitan dengan pelaksanaan yang menjadi prioritas (consciousness of Allah and of His prescrible priorities)
Selain hal tersebut di atas, manusia juga diwajibkan untuk mengenal dan mengobservasi skala prioritas Qur’an, seperti (Badroen dalam Hastuti, 2021):
128 | Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis
a. Lebih memilih kepada penghargaan akhirat ketimbang penghargaan duniawi.
b. Lebih memilih kepada tindakan yang bermoral ketimbang yang tidak bermoral.
c. Lebih memilih halal ketimbang yang haram.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman dan penerapan etika bisnis Islam (Salim, 2018) diantaranya: (1) Tauhid, (2) Keseimbangan, (3) Kehendak Bebas, (4) Tanggung jawab, (5) Ihsan. Adapun tauhid dan ihsan dapat dijadikan untuk menganalisis pemahaman terhadap etika bisnis Islam, dan tiga faktor lainnya yaitu keseimbangan, kehendak bebas, dan tanggung jawab dapat dijadikan alat untuk menganalisis penerapan etika bisnis Islam.
Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis | 129 DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, I . 2013. Etika Bisnis: Teori, Kasus, dan Solusi. Alfabeta. Bandung.
Hadiana, A.P. (2018) Perilaku Bisnis dalam Pengambilan Keuntungan Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Pangkalan LPG Dsn Senden Ds senden Kec Kayen Kidul Kab Kediri). Tesis. IAIN Kediri.
Hanafi, M. M. (2019). Manajemen Edisi Ketiga. STIM YKPN. Yogyakarta.
Hasanah, F. (2016). Pengaruh Pelayanan Prima Terhadap Kepuasan Pelanggan di Jade Bamboo Resto Yogyakarta. Jurnal Keluarga, Vol.
2, No.1.
Hastuti, F.N. (2021). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Etika Bisnis pada Perusahaan yang Terdaftar di Daftar Efek Syariah Indonesia. Tesis. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Kurniawati, N. (2015). Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan dan Dampaknya Terhadap Loyalitas Konsumen. Jurnal Eco Entrepreneur. Fakultas Ekonomi Unversitas Trunojoyo. Bangkalan.
Malaka, M. (2014). Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha. Jurnal Adl, Vol.
7 No. 2.
Meilina, R. (2016). Faktor yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika Bisnis.
Jurnal AKADEMIKA. Vol. 14. No. 2.
Nurvadewi. (2015). Bisnis dalam Perspektif Islam. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam, Vol. 01. No. 01.
Prawirosentono, S. (2014). Manajemen Sumber Daya Manusia : Kebijakan Kinerja Karyawan: Kiat Membangun Organisasi Kompetitif Era Perdagangan Bebas Dunia. Rajawali Press. Jakarta.
Rahmadania, S.E. (2020). Etika Bisnis (Business Ethic) pada PT. TN Jakarta.
Volume 1, Issue 5.
Salim, A. (2018). Analisis Pemahaman dan Penerapan Etika Bisnis Islam Pedagang Pengepul Barang Bekas di Kota Palembang. Islamic Banking, Volume 4 No. 1.
Sumari. (2020). Etika Bisnis. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Persada Indonesia Y.A.I.
130 | Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis
Sumarsid & Winarso, W. (2020). Pengantar Bisnis. CV. AA Rizky. Banten.
Uchrowi, Z. (2012). Karakter Pancasila Membangun Pribadi dan Bangsa Bermartabat. PT Balai Pustaka. Jakarta.
Faktor – Faktor Yang Etika Bisnis | 131 PROFIL PENULIS
Umi Fitria, Lahir pada tanggal 28 Juli 1981 di Blitar.
Gelar Sarjana Pendidikan (S1) yang diperoleh dari Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan IPS Program Studi Pendidikan Ekonomi pada tahun 2003.
Gelar Magister Pendidikan (S2) diperoleh dari Universitas Lambung Mangkurat Jurusan Manajemen Pendidikan pada tahun 2010. Gelar Doktor Pendidikan (S3) diperoleh dari Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Ilmu Pendidikan pada tahun 2022. Menjadi tenaga pengajar pada IKIP PGRI Kalimantan Timur pada Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi sejak tahun 2005 sampai sekarang. Matakuliah yang pernah diampu adalah Kewirausahaan, Ekonomi Moneter, Perekonomian Indonesia, Pengantar Ilmu Pendidikan, Ekonomi Sumber Daya, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran.
132 | Peranan Etika Dalam Bisnis
Peranan Etika Dalam Bisnis | 133 A. IMPLIKASI BISNIS YANG BERETIKA
Dalam dunia bisnis, Etika memiliki peranan yang sangat penting dalam jalannya suatu organisasi bisnis, dimana setiap tindakan, keputusan maupun perilaku pemangku kepentingan bisnis akan di ukur menggunakan parameter etika. Persoalan moralitas para pemangku kepentingan dalam praktik bisnis sering menimbulkan hambatan atau kerugian bagi perusahaan. Praktik bisnis yang tidak beretika yang hanya didasari atas tujuan memaksimalkan keuntungan yang pada akhirnya akan berakibat buruk pula bagi perekonoian dalam skala nasional maupun internasional. Banyak sekali praktik bisnis yang tidak peduli atau bahkan mengakibatkan kerusakan kualitas lingkungan alam dan sekitarnya. Etika bisnis dapat diimplementasikan melalui budaya perusahaan, tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance), manual kode etik perilaku korporasi (Corporate Code of Product), dan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat (Corporate Social Responsibility). Tata kelola yang baik menentukan reputasi perusahaan untuk menghindari kerugian maupun biaya yang timbul akibat mengabaikan prinsip tata kelola perusahaan.
Etika dalam bisnis dapat membentuk suatu nilai, norma dan perilaku seseorang dalam menciptakan suasana hubungan yang adil dan sehat dalam bersaing. Dari etika bisnis itulah secara tidak langsung akan mendorong adanya sikap tanggung jawab dalam menghadapi berbagai persoalan moral yang terjadi dalam bisnis sehingga segala aktifitas bisnis dapat berjalan dengan baik dan lancar. Seringkali upaya-upaya yang ditempuh para pembisnis dalam merealisasikan tujuan bisnis nya adalah untuk meraup keuntungan maksimal, namun terkadang para pembisnis sering kali akan menghalalkan segala cara yang ujung nya juga akan merugikan pihak konsumen tentunya. Para pembisnis yang menempatkan keuntungan di atas segala-galanya tentu akan menganggap normal moral adalah sebuah kendala dalam mencapai tujuan bisnis mereka. Hal tersebut dengan sendirinya tentunya akan menjauhkan sikap saling percaya diantara semua pihak yang terlibat dalam bisnis. Ketika sebuah bisnis dibangun dengan menerapkan norma-norma moral biasanya akan akan selalu menjanjikan keberhasilan dan kelangengan bisnis walaupun memerlukan waktu yang relatif lama. Pada aras ini bisnis akan identik dengan memberikan perhatian kepada semua pihak yang terkait (stakeholder)secara proposional dan memadai. Tentunya hal
134 | Peranan Etika Dalam Bisnis
tersebut akan memberikan jaminan yang pasti bagi perkembangan dan keberlangsungan suatu bisnis.
Pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik internal perusahaan maupun dengan eksternal, mampu meningkatkan motivasi pekerja, melindungi prinsip kebebasan berniaga, mampu meningkatkan keunggulan bersaing. Nampaknya bisa dikatakan bahwa etika bisnis dapat membantu para pembisnis dalam beberapa hal berikut ini : 1. Etika bisnis sebagai sarana penyadaran
Etika bisnis dengan sendirinya akan memberikan kesadaran kepada para pembisnis nya bahwa diluar tujuan bisnis yaitu mencari keuntungan semaksimal mungkin masih ada hal lain ketika suatu bisnis menerapkan etika dalam bisnis maka selain membawa keuntungan yang maksimal juga akan membuat bisnis menjadi langgeng. Kesadaran moral yang ada akan membawa para pembisnis untuk mendahulukan sikap jujur, adil, bertanggung jawab dan realistis. Kesadaran moral pastinya akan menghindarkan pembisnis dari tindakan korup dan juga tindakan lain yang akan merugikan pihak lain dan juga bisnisnya.
2. Etika Bisnis sebagai sarana pembelajaran
Etika bisnis secara langsung juga dapat menimbulkan suatu kesadaran baru dalam diri bahwa keuntungan tidak dapat diraup begitu saja tanpa keterlibatan pihak-pihak lain baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Dalam melaksanakan bisnisnya dia harus dapat menghormati pihak-pihak lain yang terlibat dalam bisnisnya dan juga tidak membiarkan dirinya diperlakukan secara tidak adil. Perluasan tanggung jawab seorang pembisnis tidak hanya memperhatikan kepentingan –kepentingan pribadi dan keluarganya namun juga memperhatikan kepentingan kepentingan pihak lain. Disini juga tidak hanya menuntut pihak lain melakukan kewajiban mereka namun juga memberikan hak nya kepada pihak lain yang terlibat juga, dalam konteks ini adalah penegakan hak dan kewajiban bagi semua pihak . Penerapan sikap yang positif dalam pengambilan keputusan yang selalu di dasarkan atas pertimbangan –pertimbangan yang rasional akan menjadikan pembisnis menjadi lebih kuat dan pantang menyerah pada permasalahan bisnis yang sulit dalam hal ini akan menjadi
Peranan Etika Dalam Bisnis | 135 pembelajaran bagi para pembisnis untuk menjadi pribadi yang kuat secara moral.
3. Etika Bisnis sebagai jalan kebijaksanaan
Bagi para pembisnis yang menerapkan norma norma moral mereka tidak akan memperlakukan para pekerja atau karyawannya sebagai sarana memperkaya diri, tidak akan merugikan pihak lain, kejujuran, keadilan, rasa hormat dan tanggung jawab akan selalu dijunjung tinggi. Perilaku seperti ini akan menciptakan rasa nyaman bagi para pekerja atau karyawan selain mereka mencari nafkah mereka juga dapat mengembangkan diri sehingga mereka tidak akan segan segan memberikan loyalitas nya terhadap tugas dan tangung jawab yang dipercayakan. Pembisnis yang bijak seperti ini akan senantiasa mendapatkan kepercayaan dari para karyawannya, loyalitas pembeli dan pemasok dengan sendirinya juga akan meningkat, dan hal tersebut juga akan berdampak terhadap kemajuan dan pencapaian tujuan bisnis.