• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Kehadiran Pengadilan HAM

Dalam dokumen PDF Hukum Hak Asasi Manusia (Halaman 90-94)

PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA INDONESIA

7.1. Latar Belakang Kehadiran Pengadilan HAM

HUKUM HAK ASASI MANUSIA

BAB 7

PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA

tangan dari pihak mana pun”.2

Hasil jajak pendapat menunjukkan sebagian besar rakyat Timor Timur memilih berpisah dari Indonesia. Setelah pengumuman hasil jajak pendapat, terjadi sejumlah tindak kekerasan yang menimbulkan korban jiwa maupun terjadinya kerusakan dalam skala besar terhadap rumah-rumah penduduk serta harta benda lainnya, bahkan terjadi pemindahan penduduk secara meluas. Berdasarkan hal-hal tersebut diduga telah terjadi pelanggaran berat HAM dan pelanggaran hukum humaniter. Menyikapi kekerasan yang terjadi di Timor Timur, pada 1999 Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengeluarkan Nomor 1264 yang mengutuk tindak kekerasan yang terjadi di Timor Timur dan mendesak Pemerintah Indonesia mengadili pihak- pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan. Tak hanya itu, Komisi Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa pada 23–27 September 1999 menyelenggarakan special session mengenai situasi di Timor Timur.

Special Session tersebut menghasilkan Resolusi Nomor 1999/S-4/1 yang menuntut kepada pemerintah Indonesia, antara lain dalam kerja sama dengan Komnas HAM menjamin orang-orang yang bertanggung jawab atas tindak kekerasan dan pelanggaran sistematis terhadap HAM akan diadili. Kemudian Pemerintah Indonesia melalui Komnas HAM membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM di Timor Timur (KPP-HAM) pada 22 September 1999 dengan masa kerja terhitung sejak 23 September 1999 hingga akhir Desember 1999, yang kemudian diperpanjang hingga 31 Januari 2000.3

Dalam laporan yang disusun di Jakarta pada 31 Januari 2000, KPP- HAM menyatakan telah menemukan adanya pelanggaran berat HAM, yaitu mencakup pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran, dan pemindahan paksa serta lain-lain tindakan tidak manusiawi terhadap penduduk sipil, ini adalah pelanggaran berat atas hak hidup, hak atas integritas fisik, hak atas kebebasan, hak akan kebebasan

Nin Yasmine Lisasih, Pembentukan Pengadilan HAM, http://ninyasmine.

Ibid.

15 September Resolusi

2

wordpress.com/2011/07/02/ pembentukanpengadilanham/, 24/04/2013.

3

HUKUM HAK ASASI MANUSIA bergerak dan bermukim serta hak milik. Pada bagian kesimpulan, KPP-HAM menyatakan telah berhasil mengumpulkan fakta dan bukti yang menunjukkan indikasi kuat telah terjadi pelanggaran berat HAM yang dilakukan secara terencana, sistematis, serta dalam skala besar dan luas berupa pembunuhan massal, penyiksaan dan penganiayaan, penghilangan paksa, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, pengungsian paksa, pembumihangusan dan perusakan harta benda yang kesemuanya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia pun diminta untuk membentuk Pengadilan HAM yang berwenang mengadili perkara-perkara pelanggaran HAM dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengacu pada hukum nasional dan internasional, padahal pada saat itu Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai hak asasi manusia maupun pengadilan hak asasi manusia. Kemudian Pemerintah Indonesia menyusun dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada 23 September 1999 dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tanggal 23 November 2000.4

Perhatian dunia internasional tersebut terbukti dengan banyaknya desakan kepada Pemerintah Indonesia agar menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur. Bahkan, terdengar selentingan jika pemerintah Indonesia mengabaikan peristiwa itu. PBB berinisiatif mengambil alih penyelesaiannya dengan membentuk pengadilan tiribunal seperti Tribunal Internasional untuk Rwanda (ICTR) dan Tribunal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY).5 Ancaman itu menjadi kekhawatiran dan dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri bangsa. Pemerintah Indonesia berusaha keras untuk menghindari hal tersebut terjadi. Jangan sampai para jederal dan pejabat sipil diadili di tibunal internasional bentukan PBB. Oleh karena itu, satu-satunya jalan

4

5

Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang Berat, Dignitas Jurnal Hak Asasi Manusia, Vol.

IV No. 1 Tahun 2006, hlm. 106.

83

Ibid.

Fajrimei A. Gofar, Asinergisitas Pemeriksaan Pendahuluan Perkara

pemerintah Indonesia untuk menghindarinya adalah menyelesaikan sendiri peristiwa itu.6

Agung Yudhawiranata mengurai bahwa hadirnya Pengadilan HAM Indonesia dilatarbelakangi situasi dan kondisi waktu itu yang sangat mendesak dalam hal perlunya sebuah instrumen hukum dalam menyikapi kasus di Timor-Timur Pasca jajak pendapat. Pemerintah dengan segera menerbitkan Perpu No. 1 Tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. Perpu ini sempat menjadi landasan yuridis untuk adanya penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat di Timor Timur oleh komnas HAM. Karena berbagai alasan Perpu No. 1 ini yang kemudian ditolak oleh DPR untuk menjadi undang-undang. Adapun alasan mengenai ditolaknya perpu adalah sebagai berikut:

1.

sehingga sebelum perpu ini disahkan menjadi undang-undang tidak tercakup pengaturannya;

masih terdapat ketentuan yang dinilai menyimpang dari ketentuan yang diatur dalam kovenan tentang pencegahan dan penghukuman kejahatan genosida tahun 1948 dan tidak sesuai dengan asas-asas hukum yang berlaku;

masih menggunakan standar kovenanonal, yakni dengan mendasarkan pada KUHP yang hanya membatasi tuntutan pada personal sehingga tidak mampu menjangkau tuntutan secara lembaga;

Mahrus Ali, Ibid, hlm. 40.

secara konstitusional pembentukan perpu tentang pengadilan HAM dengan mendasarkan pada Pasal 22 ayat 1 undang-undang dasar 1945 yang berbunyi “dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa”, yang dijadikan dasar untuk mengualifikasikan adanya kegentingan yang memaksa dianggap tidak tepat.

2. substansi yang diatur dalam perpu tentang pengadilan HAM masih terdapat kekurangan atau kelemahan antara lain, sebagai berikut:

a. kurang mencerminkan rasa keadilan karena ketentuan dalam perpu tersebut tidak berlaku surut (retroaktif)

pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan

b.

c.

6

HUKUM HAK ASASI MANUSIA d. masih terdapat subtansi yang kontradiktif dan berpotensi untuk

berbenturan atau overlapping dengan hukum positif.7

Setelah adanya penolakan perpu tersebut di atas oleh DPR maka pemerintah mengajukan rancangan undang-undang tentang pengadilan HAM. Dalam penjelasannya pengajuan RUU tentang Pengadilan HAM adalah pertama, merupakan perwujudan tanggung jawab bangsa Indonesia sebagai salah satu anggota PBB. Dengan demikian, merupakan salah satu misi yang mengembangkan tanggung jawab moral dan hukum dalam menjunjung tinggi dan melaksanakan deklarasi HAM yang ditetapkan oleh perserikatan bangsa-bangsa, serta yang terdapat dalam berbagai instrumen hukum lainnya yang mengatur mengenai HAM yang telah dan/ atau diterima oleh negara Indonesia. Kedua, dalam rangka melaksanakan Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai tindak lanjut dari Pasal 104 ayat 1 Undang-undang No.

39 Tahun 1999. Ketiga, untuk mengatasi keadaan yang tidak menentu di bidang keamanan dan ketertiban umum, termasuk perekonomian nasional. Keberadaan pengadilan HAM ini sekaligus diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap penegakan hukum dan jaminan kepastian hukum mengenai penegakan HAM di Indonesia.8

Dalam dokumen PDF Hukum Hak Asasi Manusia (Halaman 90-94)