• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Krisis Moneter Internasional

Dalam dokumen ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (Halaman 109-112)

6.1. U mum

6.1.1. Latar Belakang Krisis Moneter Internasional

Sebab pokok terjadinya perubahan-perubahan tersebut diatas adalah karena timbulnya gejala inflasi yang terjadi dinegara-negara Eropa, Amerika dan Jepang yang sumbernya dinegara-negara tersebut berbeda-beda:

a) Di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat inflasi tersebut disebabkan karena kenaikan tingkat upah, sehingga memyebabkan naiknya biaya produksi dan akhirnya mengakibatkan harga hasil produksinya menjadi lebih tinggi. Gejala ini dikenal sebagai "cost push inflation".

b) Di Jerman Barat dan Jepang inflasi disebabkan karena investasiinvestasi yang dilakukan secara besar-besaran dikedua negara tersebut yang melampaui kekuaran ekonomi nasionalnya, sehingga harga-harga mulai meningkat. Gejala ini lazim dikenal sebagai suatu "overheated economy".

Setiap inflasi dalam suatu negara pasti akan menimbulkan tekanantekanan kepada neraca perdagangannya dan dengan demikian juga akhirnya kepada neraca pembayarannya. lnflasi ini telah mendorong impor yang lebih besar dari negara-negara yang lebih murah, sehingga volume impornya mengembang dengan cepat. Sementara itu karena harga-harga dalam negeri naik, maka daya saing ekspor negara-negara tersebut dipasaran internasional juga mulai mengalami kesulitan-kesulitan. Jadi disatu pihak impor makin menjadi besar, sedang sebaliknya ekspor makin lama makin menurun.

Proses ini jika terus-menerus berlangsung. untuk beberapa tahun lamanya dapat menimbulkan suatu defisit didalam neraca pembayaran. lnilah sebenarnya yang telah dialami beberapa negara didunia semenjak tahun 1967. Tekanan-tekanan dalam neraca pembayaran tersebut demikian besarnya, sehingga inggris misalnya telah terpaksa mengambil tindakantindakan drastis untuk mengamankannya dengan mengadakan tindakan moneter dan fiskal didalam negeri maupun dalam bidang kurs valuta asing.

Setiap tindakan yang diambil untuk mengkoreksi neraca pembayaran selalu ditujukan untuk disatu fihak mengerem impor dan dilain fihak mendorong ekspor. .

Salah satu cara yang selalu dipergunakan dalam mengerem impor adalah merubah kurs menjadi lebih tinggi; artinya mengadakan suatu depresiasi daripada nilai mala uang. Dengan kurs yang lebih tinggi diharapkan ekspor dapat didorong karena hal ini merupakan perangsang yang lebih besar bagi ekspor.

Kalau dilihat dari segi luar negerinya, tindakan ini berarti membuat barang- barang dinegara yang merubah kursnya tadi menjadi lebih murah, sehingga lebih

menarik untuk membeli atau mengimpor dari negara tersebut. Dengan demikian perubahan daripada kurs selalu merupakan tindakan pertama yang dilakukan didalam mencapai keseimbangan kembali dari neraca pembayaran.

Tindakan kedua untuk mengekang inflasi biasanya dilakukan dengan menaikkan tingkat bunga. Hal ini dimaksudkan untuk membuat kredit menjadi lebih mahal sehingga pertambahan uang beredar didalam masyarakat dapat dikendalikan.

Penyesuaian dalam neraca pembayaran melalui perubahan kurs pertama kali dilakukan oleh Inggris yang terpaksa mengadakan devaluasi daripada poundsterlingnya, dan disusul kemudian oleh Perancis dan Jerman Barat.

Setelah negara-negara Eropa mengambil tindakan-tindakan demikian maka semenjak tahun 1969 neraca pembayarannya bertambah lama bertambah baik sehingga akhirnya negara-negara tersebut, terutama negaranegara di Eropa Barat, berhasil menciptakan suatu surplus didalam neraca pembayarannya.

Akan tetapi pada waktu negara-negara Eropa telah dapat memperbaiki keadaan ekonominya, sebaliknya neraca pembayaran Amerika Serikat kerap menunjukkan defisit. Bahkan defisit tersebut semakin lama semakin besar sedang tingkat inflasinya juga semakin lama semakin bertambah besar.

Bagi Amerika Serikat, tindakan penyesuaian atau depresiasi daripada maca uangnya untuk menghapuskan defisit pada neraca pembayarannya rupa-rupanya agak sulit. Hal ini disebabkan karena beberapa hal :

Pertama, didalam dunia perdagangan internasional, dollar merupakan mata uang cadangan atau reserve currency yang telah diterima sebagai alat likuiditas internasional dan pula sebagai patokan antara marl uang asing yang satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian maka setiap perubahan daripada dollar akan jelas mengakibatkan perubahan-perubahan kurs mata uang asing lainnya yang dapat menimbulkan kegontyangan-kegontyangan dalam perdagangan internasional.

Kedua, suatu perubahan nilai daripada dollar harus dilakukan terhadap emas. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain dimana perubahan nilai suatu marl uang dilakukan terhadap dollar. Mengingat bahwa di Amerika Serikat nilai dollar terhadap emas dilakukan melalui undang-undang, maka pelaksanaan perubahan nilai dollar menyangkut masalah yang rumit seperti persetujuan kongres, akibat-akibat spekulasi emas kalau diketahui bahwa akan ada perubahan harga emas, naiknya claim dollar daripada negara-negara yang mempunyai cadangan emas yang besar (perancis, Negeri Belanda, dsb.), dan sebagainya.

Dengan demikian maka di Amerika Serikat terlihat suatu gejala dimana inflasi terus bertambah besar tetapi keadaan ekonominya mengalami suatu kelesuan. Didalam dua tahun akhir ini tingkat pengangguran telah naik dari 3,6% menjadi 6,1%. Disamping itu idle capacity daripada alat-alat produksinya juga terus meningkat sehingga pada waktu ini mencapai 27% daripada kapasitas penuh. Untuk suatu ekonomi yang efisiensinya sudah tinggi seperti Amerika Serikat, angka ini merupakan angka yang agak tinggi. Disatu fihak pengangguran naik, dilain fihak idle capacity daripada barang- barang modalnya bertambah besar dibarengi dengan suatu keadaan dimana harga-harga terus menaik. Timbullah suatu gejala yang dikenal sebagai keadaan "stagflation", yaitu kombinasi dari "stagnation" dan "inflation".

Untuk menanggulangi keadaan ini pada mulanya pemerintah, Amerika Serikat mempertahankan tingkat bunga bank pada tingkat yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar inflasi dapat direm dengan membatasi pertambahan kredit. Kebijaksanaan ini ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan, bahkan jumlah pengangguran kerap bertambah besar sehingga akhirnya menimbulkan kecaman-kecaman masyarakat terhadap kebijaksanaan tersebut.

Menjelang tahun 1970 kebijaksanaan tersebut dirobah dan diganti dengan menurunkan suku bunga. Dengan kebijaksanaan baru tersebut, yang kemudian juga dilengkapi dengan penurunan pajak, diharapkan dapat menggairahkan ekonomi kembali dan dapat menghilangkan kesulitan-kesulitan dalam neraca pembayaran.

Kebijaksanaan untuk mengbilangkan defisit neraca pembayaran ternyata tidak dapat dicapai bahkan kesulitan tersebut menjadi lebih tajam. Dollar yang mengalir ke Eropa Barat justru bertambah besar pada waktu diadakan perubahan kebijaksanaan tersebut.

Dalam periode tersebut negara-negara Eropa Barat pada umumnya sedang menjalankan suatu "tight money policy" dalam mengatasi masalah inflasi dalam negerinya. Hal ini antara lain dilakukan melalui suatu tingkat bunga yang tinggi guna membatasi perluasan kreditnya.

Dengan demikian maka terdapatlah dua struktur suku bunga yang berbeda, yaitu suku bunga yang tinggi dinegara-negara Eropa Barat dan suku bunga yang rendah di Amerika Serikat. Keadaan inilah yang justru telah memyebabkan makin deras mengalirnya modal jangka pendek dari Amerika Serikat ke Eropa Barat.

Mengalirnya dollar ke Eropa ternyata disertai juga dengan gejala lain dibidang perdagangan emas internasional.

Sebelum tahun 1933 Amerika Serikat telah menganut suatu sistim emas dim ana pemerintahnya selalu bersedia menukar setiap dollar dengan emas. Hal ini dikenal dengan sistim standard emas. Artinya siapa saja, balk itu perorangan, bank ataupun Pemerintah, dapat menukarkan mata uang dollar dengan emas yang equivalent dengan nilai dollar tersebut.

Pada bulan April 1933 pemerintah Amerika Serikat telah memutuskan unrok tidak lagi mengadakan penukaran emas terhadap dollar untuk perorangan. Setelah April 1933 sistim tersebut dikenal sebagai "gold excuange standard", dimana hanya Bank Sentral dan Pemerintah saja yang dapat menukar dollar dengan emas.

Perubahan tersebut diadakan karena sistim lama telah mempengaruhi cadangan emas Amerika Serikat sedemikian rupa hingga telah mulai banyak emas mengalir keluar Amerika Serikat. Sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1970 cadangan emas Amerika Serikat telah merosot dalam jumlah yang besar, yaitu dari kurang lebih $ 21 miliar menjadi sekitar $ 10,5 miliar. Sebaliknya negara-negara diluar Amerika Serikat dalam jangka waktu yang sama cadangan emasnya telah meningkat dari kurang lebih $ 13 miliar menjadi $ 26 miliar.

Gejala berkurangnya cadangan emas Amerika Serikat ini dalam tahun 1968 tdah memyebabkan adanya spekulasi dalam pasaran emas. Para spekulan emas pada waktu itu memperkirakan bahwa pemerintah Amerika Serikat pasti akan menaikkan harga emas untuk melindungi cadangan emasnya. Hal ini telah memyebabkan terjadinya suatu rush untuk membeli emas secara besar-besaran dibeberapa pasaran em as internasional.

Pada waktu itu harga emas telah meningkat menjadi sekitar $ 45 per troy ounce, yang resminya harganya hanya $ 35 per troy ounce.

Oleh negara-negara yang mempunyai cadangan emas yang besar kemudian diambil suatu kebijaksanaan untuk menentukan dua harga emas, yaitu untuk transfer resmi tetap dipergunakan harga $ 35, tetapi untuk pasaran bebas diserahkan kepada kekuatan pasar. Sistim ini, yang disebut “two tier system" dalam bidang emas, ternyata dapat meredakan spekulasi emas yang terjadi pada waktu itu.

Dalam dokumen ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (Halaman 109-112)