6.1. U mum
6.1.2. Perkembangan di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang
Sebelum tahun 1933 Amerika Serikat telah menganut suatu sistim emas dim ana pemerintahnya selalu bersedia menukar setiap dollar dengan emas. Hal ini dikenal dengan sistim standard emas. Artinya siapa saja, balk itu perorangan, bank ataupun Pemerintah, dapat menukarkan mata uang dollar dengan emas yang equivalent dengan nilai dollar tersebut.
Pada bulan April 1933 pemerintah Amerika Serikat telah memutuskan unrok tidak lagi mengadakan penukaran emas terhadap dollar untuk perorangan. Setelah April 1933 sistim tersebut dikenal sebagai "gold excuange standard", dimana hanya Bank Sentral dan Pemerintah saja yang dapat menukar dollar dengan emas.
Perubahan tersebut diadakan karena sistim lama telah mempengaruhi cadangan emas Amerika Serikat sedemikian rupa hingga telah mulai banyak emas mengalir keluar Amerika Serikat. Sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1970 cadangan emas Amerika Serikat telah merosot dalam jumlah yang besar, yaitu dari kurang lebih $ 21 miliar menjadi sekitar $ 10,5 miliar. Sebaliknya negara-negara diluar Amerika Serikat dalam jangka waktu yang sama cadangan emasnya telah meningkat dari kurang lebih $ 13 miliar menjadi $ 26 miliar.
Gejala berkurangnya cadangan emas Amerika Serikat ini dalam tahun 1968 tdah memyebabkan adanya spekulasi dalam pasaran emas. Para spekulan emas pada waktu itu memperkirakan bahwa pemerintah Amerika Serikat pasti akan menaikkan harga emas untuk melindungi cadangan emasnya. Hal ini telah memyebabkan terjadinya suatu rush untuk membeli emas secara besar-besaran dibeberapa pasaran em as internasional.
Pada waktu itu harga emas telah meningkat menjadi sekitar $ 45 per troy ounce, yang resminya harganya hanya $ 35 per troy ounce.
Oleh negara-negara yang mempunyai cadangan emas yang besar kemudian diambil suatu kebijaksanaan untuk menentukan dua harga emas, yaitu untuk transfer resmi tetap dipergunakan harga $ 35, tetapi untuk pasaran bebas diserahkan kepada kekuatan pasar. Sistim ini, yang disebut “two tier system" dalam bidang emas, ternyata dapat meredakan spekulasi emas yang terjadi pada waktu itu.
2. adanya pengeluaran untuk keperluan pertahanannya, baik di Eropa, Asia maupun Jepang.
Hal ini telah memyebabkan neraca pembayarannya mengalami tekanan yang berat. Namun demikian defisit tersebut selama itu masih belum mempengaruhi neraca perdagangannya, yang masih tetap dapat dipertahankan untuk menghasilkan suatu surplus.
Keadaan ini ternyata tidak dapat dipertahankan sehingga akhirnya dalam bulan April 1971 juga neraca perdagangan Amerika Serikat tdah mengalami defisit untuk pertama kalinya sejak tahun 1893, yaitu sebesar $ 215 juta. Defisit ini dalam bulan- bulan berikutnya telah meningkat sedemikian rupa hingga akhirnya perin diambil tindakan pengamanannya. Pada tanggal 15 Agustus 1971 PresideD Nixon telah mengambil beberapa tindakan guna mengatasi keadaan ini berupa :
A. Tindakan keluar :
1. Penghapusan konvertibilitas dollar terhadap emas;
2. Pengenaan bea masuk 10% terhadap semua barang impor;
3. Pemotongan bantuan luar negeri sebesar 10%.
B. Tindakan kedalam :
1. Pembekuan gaji dan upah
2. Pembekuan harga-harga dalam negeri
3. Penurunan pajak penjualan bagi kendaraan bermotor.
Tindakan-tindakan tersebut dimaksudkan tidak saja untuk mengatasi kesulitan neraca pembayaran, tetapi juga sekaligus untuk menekan inflasi.
Pada permulaan tahun 1971 mengalirnya dollar dari Amerika Serikat ke Eropa terus meningkat sehingga tidak dapat dipertahankan lagi oleh beberapa negara di Eropa.
Dalam bulan Mei pemerintah Jerman Barat memutuskan pengambangan dari kurs DM, diikuti kemudian dengan floating mata uang Belanda. Swiss dan Austria langsung mengadakan revaluasi, masing2 sebesar 5% dan 7% daripada mata uangnya.
Akan tetapi sementara itu perancis dan Belgia tidak bersedia merubah kursnya, melainKan mengadakan perbedaan kurs, yaitu untuk commercial transactions tetap mempertahankan kurs yang lama, sedang untuk capital transactions kursnya dilepaskan kepasaran. Adanya dua mat jam harga ini dikenal sebagai "two tier excuange system".
Tidak lama kemudian yen Jepang terpaksa mengikuti dengan mengambangkan kursnya mengingat derasnya pemasukan dollar yang sulit dipertahankan atas dasar kurs lama.
Revaluasi atau pengambangan kurs berarti apresiasi daripada mata liang, at au membuat mahal mata uangnya terhadap mata uang lain. Ini berarti bahwa setiap revaluasi selalu akan memukul ekspor. Berkurangnya ekspor berarti menurunnya kegiatan ekonomi dan hal ini akhirnya akan menimbulkan bertambahnya pengangguran.
Keadaan ini sebaliknya akan dapat mengakibatkan tekanan-tekanan politik didalam negeri yang sulit dielakkan.
Oleh karena itu setiap floating at au revaluasi daripada mata uang dijaga betul oleh negara-negara tersebut agar tidak terlampau tinggi. Semakin tinggi revaluasi atau floatingnya, semakin besar pula pengorbanan yang harus dilakukan terhadap ekonominya.
Khusus mengenai Jepang yang paling berkeberatan mengadakan revaluasi atau floating system - sebabnya ialah karena ekspor Jepang baik ke Amerika Serikat maupun ke Eropa Barat adalah besar, sehingga Amerika Serikat mempunyai defisit sebesar $ 1,4 miliar dalam perdagangannya dengan Jepang pada tahun 1969 dan $ 1,2 miliar pada tahun 1970. Untuk tahun 1971 dikhawatirkan defisit ini akan menjadi lebih tinggi dari tahun 1969. . Komitmen daripada industri baja, industri perkapalan, elektronika, dan sebagainya terhadap fihak ketiga telah mencapai bermiliar-miliar dollar.
Mengingat bahwa komitmen tersebut dinyatakan dalam dollar, maka suatu revaluasi beberapa persen saja berarti suatu kerugian yang dapat mencapai beratus-ratus juta dollar. Oleh karena itu Jepang selalu berusaha untuk sejauh mungkin mempengaruhi perkembangan pengambangan kurs mata uangnya dengan jalan intervensi. Bahkan pada waktu ditentukan untuk mengambangkan yen, keadaan neraca pembayarannya adalah demikian rupa sehingga banjirnya dollar ke Jepang tidak dapat tertahan lagi. Pada waktu pemerintah Jepang mengambil keputusan untuk mengadakan floating daripada yen, jumlah daripada surplus dollar yang ada di Jepang sudah sama dengan surplus dollar yang masuk ke Jerman Barat.
Nyatalah bahwa disatu fihak negara-negara ini bertahan untuk tidak mengadakan revaluasi karena hal ini berarti merugikan ekonominya, dilain fihak pemerintah Amerika Serikat telah mengambil tindakan-tindakan yang sangat mempengaruhi ekonomi negara- negara lain yang untuk perbaikan ekonominya memang sebenarnya merupakan tindakan-tindakan yang mutlak harus dilakukan.
Dengan demikian maka krisis moneter internasional dewasa ini masalahnya tidak hanya sekedar masalah perubahan kurs, tetapi mempunyai latar belakang kepentingan-kepentingan ekonomi yang sangat dalam.