Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Kebidanan di Era Pademi Covid-19
49
setelah 6 bulan. Bersumber pada pedoman serta makalah terkini tentang Covid-19 serta kontrasepsi, konseling reproduksi wajib dicoba sepanjang pandemi Covid-19.
Salah satu permasalahan di sebuah negara yaitu tingginya angka kelahiran. Tingginya jumlah pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan keahlian penciptaan hendak menimbulkan tingginya beban pembangunan yang berkaitan dengan papan, sandang serta pangan. Kepadatan penduduk tidak seimbang dengan jumlah lapangan pekerjaan sehingga menimbulkan tingginya jumlah pengangguran serta rendahnya tingkatan ekonomi suatu bangsa. Hal ini menjadi permasalahan yang cukup besar untuk BKKBN. Pneumonia Coronavirus Disease 2019 ataupun Covid-19 merupakan penyakit peradangan paru yang diakibatkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Indikasi klinis yang timbul bermacam-macam, mulai dari indikasi flu biasa (batuk, pilek, radang tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala) hingga yang berkomplikasi berat (pneumonia ataupun sepsis). Penularan Covid-19 terjadi melalui kontak dengan droplet saluran napas pengidap. Dengan demikian penularan virus ini sangat mudah dan cepat. Pada masa pandemi seperti saat ini menimbulkan berbagai dampak khususnya pada program Keluarga Berencana (KB), antara lain:
1. Penyusutan partisipan KB sebab keterbatasan akses layanan serta pergantian ubah pola,
2. Penyusutan kegiatan dalam kelompok kegiatan penyusutan mekanisme operasional di lini lapangan. Pada kesimpulannya hendak memengaruhi pelayanan serta kepesertaan KB.
Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Kebidanan di Era Pademi Covid-19
51
Wabah Covid-19 sangat memberikan dampak pada pelayanan KB. Partisipan KB mengalami penyusutan pada bulan Maret 2020 dibandingkan bulan Februari 2020 di seluruh Indonesia.
Pemakaian KB IUD pada Februari 2020 mengalami penurunan dari 36.155 menjadi 23.383. Sebaliknya implan meningkat dari 81.062 menjadi 51.536, suntik dari 524.989 menjadi 341.109, kapsul dari 251.619 menjadi 146.767, kondom dari 31.502 menjadi 19.583, MOP dari 2.283 menjadi 1.196, serta MOW dari 13.571 turun ke angka 8.093. Keadaan ini memunculkan kekhawatiran akan adanya lonjakan kelahiran balita ataupun baby boom pasca pandemi Covid-19 dikarenakan warga harus mematuhi peraturan “stay at home” guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Akibatnya kesempatan bersama keluarga dan menjalin hubungan biologis antar suami istri dapat terjalin secara intens. Hal ini membuka kesempatan selebar-lebarnya terhadap kenaikan angka kelahiran balita ataupun dapat kita katakan sebagai prediksi baby boom pasca pandemi Covid-19.
Menjaga jarak serta isolasi diri selama pandemi Covid-19 dengan cepat mengganti gaya hidup serta rutinitas warga. Sikap intim wajib menyesuaikan diri, baik dalam perihal rutinitas serta menjaga jarak (social distancing). Kondisi seperti ini dapat meningkatkan frekuensi kegiatan hubungan suami istri dan meningkatkan risiko kehamilan yang tidak diinginkan serta kekerasan dalam rumah tangga. Isolasi diri menimbulkan penyusutan tajam dalam hubungan intim, suami istri hanya bisa melakukan hubungan intim jarak jauh lewat sexting online.
Wanita bisa menyudahi memakai kontrasepsi hormonal bila
mereka menganggapnya tidak butuh. Walaupun kontrasepsi jangka pendek semacam kontrasepsi oral, transdermal ataupun cincin pada alat kemaluan bisa dihentikan, kontrasepsi jangka panjang reversibel, semacam implan subdermal ataupun perlengkapan kontrasepsi intrauterine membutuhkan penghapusan oleh petugas kesehatan. Tujuan dari riset ini untuk mengenali apakah wanita senantiasa menggunakan tata cara kontrasepsi sepanjang social distancing akibat pandemi, juga apakah terdapat kehamilan yang tidak diidamkan.
Kasus pandemi Covid-19 berdampak pada sasaran atau target program, dimana terbentuknya penyusutan pelayanan partisipan MKJP (tata cara kontrasepsi jangka panjang) karena adanya keterbatasan akses pelayanan, ataupun mungkin adanya pergantian tata cara kontrasepsi. Kebijakan pemerintah dalam upaya penangkalan penyebaran virus Covid-19 dengan social distancing, physical distancing, work from home, dan selalu berada di rumah, berefek pada sulitnya akses pelayanan KB untuk akseptor serta penyusutan aktivitas konseling oleh penyuluh KB. Kunjungan KB ataupun kepersertaan KB yang menyusut juga berefek pada resiko terbentuknya kehamilan yang besar. Persentase akseptor yang putus suntik (tidak melaksanakan suntik KB ulang) pada bulan awal risiko kehamilan sebesar 10%, intra uterine device (KB IUD) terputus risiko kehamilan 15%, dan putusnya pemakaian kapsul KB risiko kehamilan 20%. Dengan terdapatnya risiko kehamilan 15%- 20%, sampai bisa jadi ada penumpukan jumlah kehamilan sekitar 370.000 hingga 500.000 kehamilan (Hasto, 2020). Dengan akumulasi jumlah kehamilan yang
Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Kebidanan di Era Pademi Covid-19
53
ekstrem serta meningkat pesat, 9 bulan berikutnya Indonesia hendak dihadapkan pada permasalahan baby boom atau ledakan jumlah kelahiran balita. Oleh karenanya, BKKBN membuat kebijakan untuk menghimbau para akseptor KB untuk menunda kehamilan sepanjang Covid-19 dengan senantiasa aktif menjajaki program KB. Tidak hanya itu, kehamilan di masa pandemi Covid-19 juga memiliki risiko terpapar Covid-19 lebih tinggi dibandingkan dalam keadaan tidak berbadan dua. Upaya BKKBN dalam menghindari baby boom banyak mengalami tantangan. Tantangan pelayanan KB sepanjang masa pandemi Covid-19 antara lain minimnya pengetahuan pendamping umur produktif (PUS) terpaut Covid-19, banyak sekali data terkait Covid-19 yang beredar di internet maupun sosial media yang belum tentu benar, terdapatnya sarana kesehatan baik primer atau tempat Bidan Praktek Mandiri (PMB) ataupun referensi belum siap dalam pemenuhan Perlengkapan Proteksi Diri (APD).
Fasilitas prasarana pendukung protokol penangkalan Covid-19 yang belum memadai. Terdapatnya tenaga kesehatan yang belum mendapatkan sosialisasi pedoman pelayanan KB di masa pandemi Covid-19. Akses pelayanan KB selama Covid-19 di sarana kesehatan primer/PMB yang juga terbatas sebab adanya pembatasan pelayanan. Meningkatnya kecemasan warga sebab banyak permasalahan orang tanpa indikasi (OTG) yang masih berkegiatan seperti biasanya berisiko menularkan pada warga, tetapi kepatuhan warga dalam protokol penangkalan Covid-19 masih rendah. Dampak Covid-19 di sektor ekonomi juga menimbulkan menyusutnya
energi beli terhadap alokon KB, paling utama untuk PUS yang memilah pelayanan KB di klinik swasta ataupun PMB sebab pertimbangan kontak dengan pengidap Covid-19 lebih rendah apabila dibanding dengan pelayanan di rumah sakit pemerintah.
Sebagian kasus di atas mungkin memicu akseptor untuk tidak melaksanakan kunjungan/kepersertaan KB. Bagaimanapun juga kehamilan tetap harus ditunda sepanjang Covid-19 terutama bagi pengguna KB laktasi. Pengguna KB laktasi yang mengalami kehamilan di masa normal sudah cukup berisiko apalagi kehamilan dalam kondisi pandemi tentunya akan lebih berisiko lagi. Sehingga bagi PUS sangat perlu untuk tetap menggunakan kontrasepsi.