PENGANTAR PENULIS
A. GEOGRAFI
A. 1 Letak dan Luas Wilayah
Secara Astonomis wilayah eks. Kerajaan Bungku atau Tombuku terletak pada posisi 121 BT -122,7 BT dan 1,7 LS sampai 3,3 LS.
Kerajaan Tombuku yang terletak di pantai Timur Sulawesi dan berada di bawah kekuasaan Sultan Ternate, merupakan sebuah daerah sempit memanjang yang di sebelah Timur di batasi dengan laut, di sebelah Utara dengan wilayah Banggai, sebelah Barat dan Selatan dengan kerajaan Luwu dan Laiwui.2 Batas utara ditetapkan dimulai dari pulau Tegonteya dan batas Selatan kerajaan ini membentang sampai negeri Lembo Belala. Teluk Tomori yang di peta tertulis Teluk Tolo, menjorok ke Darat di Pantai Timur, dan Daerah Tello menjorok paling dalam di kedalaman teluk antara di daerah Tombuku sehingga Kerajaan Tombuku terpisah melalui teluk daerah Tomori menjadi dua, menjadi Tombuku Utara dan Selatan. Kerajaan Tombuku selain itu dibagi menjadi empat distrik yakni:
a) Tombuku asli yang daerah pantainya dari Tomori di daerah sempit mengecil membentang sampai ke Negeri Faja atau Tanjung Faja, yang disebut Tapu Uluno oleh orang pribumi;
b) Daerah Bahu Solo yang dimulai di Tapu Uluno di selatan berakhir dengan Negeri Bilala dan di Barat dibatasi dengan Daerah Tu Eppe yang di sebelah Utara dibatasi dengan Distrik Tombuku dan daerah Tomori serta di Barat dan Selatan ditutup dengan Kerajaan Luwu.
2 Grenzen, “Het Lanchap Boengkoe,” Tijdschrift, voor Indische Taal Land en Volkenkunde, uit gegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenchapen, 1908, hlm. 489.
c) Daerah Toe Eppe yang di Utara dibatasi oleh Distrik Tombuku dan Daerah Tomori, sementara di Barat dan Selatan ditutup oleh daerah Kerajaan Luwu.
d) Distrik Tofi yang di Selatan dan di Timur dibatasi dengan Tomori, dan di Utara bergabung dengan wilayah Bungku Utara. Orang-orang Tomori menguasai daerah ini sehingga masih termasuk Tombuku hanya di atas kertas. Tombuku utara yang dinyatakan sebagai distrik kelima, hampir seluruhnya tidak berpenghuni; mungkin di sana-sini dihuni oleh beberapa suku Alfur yang tidak mengakui kekuasaan itu. Para kepala Tombuku juga tidak mengetahui kondisi daerah kerajaan ini dan tidak memiliki hubungan dengannya.
Pada sepanjang Pantai Tombuku beberapa Pulau Karang yang banyak menghasilkan tripang dan termasuk wilayah kerajaan itu berada. Pulau-pulau yang utama dimulai dari Selatan adalah Boboni, berpenghuni dan menghasilkan beras putih serta merah, rotan dan kelapa. Orang di sana menemukan banyak kentang dan buah lain serta kerbau dan kambing. Lenui, seperti pulau di atas; Padar, Baniti, Pulu Tiga, Pulu Duwa, Lambiki, Safaeli, Bumi-Tanderi, Untawa, Sai-Unowa, Toko-Sega, Padu-Padu, Batu-Tutuhapaku, Balafoa Batu- Manu, Tibranu, Kanda-Puti, Langgala dan Bollu, yang semuanya tidak berpenghuni namun yang karangnya menghasilkan sejumlah besar tripang. Akhirnya terutama perlu disebutkan pulau Manui yang penduduknya disibukan dengan pembuatan perahu dan paduakang, yang di pantai membawa banyak beban dan karenanya mendatangkan kesejahteraan khusus.
Pantai Sulawesi memiliki pemandangan yang tidak bersahabat, khususnya bagian yang termasuk Tombuku. Daerah pantai sangat rendah, pegunungan pedalaman sangat tinggi tanpa ujung lain menjulang selain Gunung Tokala. Dari Tanjung Poso pantainya penuh rawa, ditumbuhi dengan bakau dan dikelilingi dengan banyak karang.
Pedalaman nampaknya terutama memiliki formasi kapur; dari sana nampak pemandangan gundul dan tandus, yang ditunjukan pantai timur Sulawesi. Penduduknya langka dan kebanyakan tinggal di pegunungan;
42 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
beberapa negori terletak di tepi pantai namun pindah dari waktu ke waktu, ketika wabah melanda daerah yang penuh rawa ini sepanjang waktu, mengurangi jumlah penduduk dan juga meninggalkan tempat tinggal. Para kepala dan penduduk pantai adalah orang Islam, penduduk pegunungan masih kafir. Mereka termasuk ras manusia berkulit terang, lebih tegap dan lebih cakap tubuhnya daripada penduduk kepulauan Banggai; namun pria tidak bisa dibandingkan dalam hal kekuatan dan kecekatan dengan penduduk yang tinggal di Barat. Kaum wanita sebaliknya bisa disebut cantik dan lembut.
Setelah wilayah eks. Kerajaan Bungku, kemudian diganti dengan nama Wilayah Pembantu Bupati Bungku terbentang memanjang dari Utara ke Tenggara dan melebar ke Barat dan Selatan. Bagian paling Utara terletak Kecamatan Bungku Utara dan dibagian paling Tenggara terdapat Kecamatan Menui Kepulauan yang berdiri dari beberapa pulau-pulau kecil. Secara administratif Pembantu Bupati Wilayah Bungku terletak di wilayah Kabupaten Dati II Poso Provinsi Dati I Sulawesi Tengah dengan luas wilayah sekitar 876.180 ha. Namun setelah dikeluarkannya UU No. 51 tahun 1999 tentang pemekaran Kabupaten Poso yang disahkan di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1999. Kabupaten Poso dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali. Berdasarkan UU tersebut maka pada tanggal 14 Desember 1999 Kabupaten Morowali secara defenitif terpisah dengan Kabupaten Poso setelah Gubernur Sulawesi Tengah meresmikan dengan ibukota Kabupaten3. Adapun rincian perkecamatan yang termasuk dalam Wilayah Pembantu Bupati Bungku sebagai berikut:
1. Kecamatan Bungku Tengah, 271.130 ha 2. Kecamatan Bungku Barat, -
3. Kecamatan Bungku Selatan, 220.200 ha 4. Kecamatan Bungku Utara, 363.856 ha 5. Kecamatan Menui Kepulauan, 20.935 ha
3 Syakir Mahid, “Sosialisasi Nilai Budaya Masyarakat Bungku” (Palu: Kerja Sama UNTAD PRESS dan Pusat Penelitian Sejarah (PUSSej) 2010), hal 38.
Sedangkan batas Wilayah Pembantu Bupati dibatasi oleh batas alam yakni kawasan pantai dan pegunungan/perbukitan dengan batas administrasi sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ampana dan Kecamatan Ulubongka.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan.
- Sebelah Timur berbatasan dengan sepanjang perairan Teluk Tolo.
- Sebelah Tenggara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lembo dan Petasia.
Wilayah Kerajaan Bungku pada tahun 1919 dalam Peta Hindia Belanda dibuat oleh Topografi Inrichting Batavia sebagai berikut ini:
BUNGKU UTARA
Perbatasan Kerajaan Bungku dengan Luwuk terdapat di Muara Tarata tepatnya di Desa Rata dekat Tanjung Rata. Daerah Tanjung Rata sampai Tanjung Damari yaitu antara lain Boea Boeang, Ondolean, Pola, Tanatonapoe, Poeloeng, Soeloe, Mamongi. Daerah dari Tanjung Damari sampai Tanjung Bea antara lain Soeloe, Weontje, Moemoe, Pulau Moemoe, Badero, Boba, Pulau Kolokolo, Sebiti, Tirongan, Malakani, Tokala, Tiworu, sampai Tanjung Bea. Daerah dari Tanjung Bea sampai di perbatasan sebelah Timur dengan Kerajaan Mori yaitu Pulau Roembia, Pulau Satoe, Pulau Nanaka, Morowali, Ranoe sampai muara Sungai Ranoe. Perbatasan ini terdapat tepat di sebuah teluk yang tidak diketahui namanya tetapi yang jelas teluk ini terdapat di dekat di Sungai Ranoe. Perbatasan yang jelas terbentang di atas di Gunung Verbeck dan Pegunungan Tamboesisi. Paling Utara dari Kerajaan Bungku berbatasan dengan daerah Tojo tepatnya di Gunung Loemoet. Perbatasan ini terbentang di atas Gunung Verbeck yang bagian Utaranya terdapat tiga muara besar yaitu Sungai Bongka, Sungai Matogoe dan Sungai Sagoeke.
BUNGKU SELATAN
Dari Tanjung GOLF menuju TOLO, Kerajaan Bungku berbatas dengan Kerajaan Mori di Pesisir Lingkeboe tepatnya di dekat muara Sungai Tambaloko. Kemudian garis perbatasan juga berseberangan dengan B. Tongka Malore dengan melewati garis perbatasan dengan
44 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
Loewoe di muara Sungai Lintoe. Selanjutnya garis perbatasan melewati pula B. Taloe dan B. Saloera sampai melewati tengah Sungai Lampenisoe di dekat Gunung Merapi. Posisi di bagian Selatan Kerajaan Bungku yang berbatasan dengan Wilayah Kendari terdapat pada daerah B. Raoeta sampai di Lerea melewati 2 buah tengah sungai yaitu Sungai Watoepali dan Sungai Epe tembus di B. Pondaipa lalu melewati B. Lahoeaoe dan B. Lamporeo, garis perbatasan ini juga melewati B. Oelognggasoemeto, B. Padandete, B. Taipa, B.Wawonsoeboe dan B. Matahoela. Wilayah di Sungai La Pesae garis perbatasan melewati Kampung Toloengbato dan kemudian melewati 3 sungai yaitu hulu Sungai La Mente, muara sungai La Mboere dan pertengahan sungai Laggikima yang merupakan lanjutan dari Sungai Palanitea kemudian melewati B. Tolinkoe.
Perbatasan antara Onderfdeling Kendari dengan Kerajaan Bungku juga melewati Teluk dan kawasan perjalanan Labengke merupakan wilayah Kerajaan Bungku termasuk Pulau Labengeke, yang merupakan garis perbatasan paling selatan di Kerajaan Bungku.
Daerah-daerah di Bagian Pesisir Teluk Tolo, Kerajaan Bungku meliputi Tanjung Towara dan menuju Kampung Manso Mboeano yang berdekatan dengan Pesisir Solonsa, Tomaroe dan Kampung Tanoa yang tidak jauh dari Bibir Pantai. Tanjung Baho Mbelu termasuk pula wilayah Kerajaan Bungku dan juga pesisir Pantai Kampung Pebotoa.
Baho Suai, Perampi, Wata, Sawoegi, merupakan daerah yang terdapat di bagian Tanjung Amboeno yang melewati lagi Tanjung Dongkala.
Daerah Mangoni dan safarea terdapat di dekat pesisir Pantai Wosu yang melewati muara Sungai Wosu. Tanjung Tabela melewati beberapa daerah Pesisir Pantai mulai Dari Baho Reko-Reko, Lanona, Baho Moleo (Sungai Bahoe Molea), Baho Mahoni, Bente (Sungai Bente), Ipi, Makansala, sampai di Boengkoe yang mana di tempat inilah berdirinya Masjid Tua Bungku. Kemudian daerah-daerah yang berada di Pesisir Pantai dari Bungku sampai Tanjung Lasoni (pompa) antara lain Sakita, Todoea, Onge Ongi, Lasoni, Mambo, Kaboeroe, Lore Owe. Daerah- daerah dari Tanjung Lasoni (pompa) sampai muara Sungai Bone Ea antara lain Kolono, Bahodopi, dan Baho motewe. Daerah pesisir dari muara Sungai Bone Ea sampai muara Sungai Bahoendopi antara lain
Sioe Mbatoe, Asoembatoe, Bahodopi. Dari muara Sungai Bahodopi sampai Tanjung Salabangka antara lain Oeloemipa, Lailia, Pulau Alang- alang, Labota, Lalompa, Bahongkolori, Tongofa, One Ete, Tondo Oleo, Savaoe, terdapat pula Tanjung Laroga dan Tanjung Lalompa.
Dari Tanjung Salabangka sampai Tanjung Tapoa Oeloena antara lain Sambalgi, Lamontole, Baja, Tanjung Baja, Pandaldi, Pandjalili, Tanjung Togotonona. Dari Tanjung Tapoa Oeloena sampai bagain ujung Selatan Kerajaan Bungku antara lain Pulau Doea, Pulau Leeuen, Pulau Matarape, Matarape, sampai Pulau Labengke. Banyak pulau-pulau kecil di bagian Selatan Bungku antara lain Pulau Alang-Alang, Pulau Batoemanoe, Pulau Bapa, Pulau Padaoele, Pulau Salabangka, Pulau Boee Djangkar, Pulau Boenginkela, Pulau Pakoe, Pulau Kaleroena, Pulau Hondor (Karantoea), Pulau Sama, Pulau Tokoaja, Pulau Took Boentoe, Pulau Pandjalili, Pulau Mintende, Pulau Togonogolo (Pulau Stagar), Pulau Doea, Pulau Leeueeen Eil, Pulau Matarampe, Pulau Matarape, Pulau Labengke, Pulau Dehan Eil, dan Pulau Tiga.
Sementara setelah Pemekaran Kabupaten Morowali dari Kabupaten Poso luas wilayah ini menjadi ± 45.453 km2 yang terdiri atas wilayah daratan ± 15.490,12 km2 dan wilayah perairan ± 29.962,88 km2. Kabupaten Morowali terbentuk dari hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai Kepulauan. Kabupaten Morowali terletak pada titik koordinat 121-002’-24” – 123-015’-36”
Bujur Timur dan 010-31’-12” – 030-46’48” Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayah: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tojo Una-Una; Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara; Sebelah Timur berbatasan dengan perairan Teluk Tolo dan Kabupaten Banggai; Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, Selawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Wilayah daratan Kabupaten Morowali merupakan yang terluas, yaitu 22,77 persen dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Tengah.
Secara administrasi, wilayah Kabupaten Morowali terbagi ke dalam 13 Kecamatan dan 240 Desa dan Kelurahan. Luas Wilayah Kabupaten
46 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
Morowali Menurut Kecamatan. Tahun 2004, wilayah Bungku sebagai bekas Kerajaan Bungku memiliki luas masing-masing : Menui Kepulauan 223,63, Bungku Selatan 1.271,19, Bahodopi 1.080,98, Bungku Tengah 1.112,80, Bungku Barat 758,93, Bumi Raya 504,77, Witaponda 519,70, Bungku Utara 2.406,79, dan Mamosalato 1.480,00. Dengan demikian jumlah keseluruhan Kabupaten Morowali sebesar 15.490,12.4