Peapua Lamboja hingga Peapua Abdurabbie
C. SIMBOL-SIMBOL DAN ADAT DI KERAJAAN BUNGKU
II. Perkawinan Rakyat biasa
Pada rinsipnya upacara perkawinan bagi rakyat biasa tahapan- tahapannya sama dengan perkawinan bangsawan yang membedakan hanyalah jumlah undangan dan ramainya pelaksanaannya. Tahapanya sama yaitu mulai dari mobale sala atau memanu-manu, montine tabako sampai morensa guba sama. Yang perlu dicatat adalah baik perkawinan kaum bangsawan maupun rakyat biasa; biasanya dirangkaikan dengan takubiru (hatam Qur’an) dan Mangkilo (sunatan).
Jika ada orang sunatan mereka di pangku dan diarak bersama pengan laki-laki ke rumah pengantin perempuan.
Acara yang dijelaskan tersebut mengindikasikan bahwa kehidupan Raja-Raja di Kerajaan Bungku sama juga dengan Kerajaan lainnya memiliki simbol-simbol kerajaan untuk kebesaran Kerajaan Bungku dalam sektor publik. Adat istiadat yang diterapkan selain perkawinan raja dalam masyarakat Kerajaan Bungku juga ada adat istiadat berupa: rukun, sopan santun, kemandirian, ketaatan pada orang tua, disiplin, tanggungjawab, kejujuran, dan pengabdian.
Pada masyarakat etnis Bungku semua konsep nilai-nilai budaya mempunyai kedudukan yang sama di dalam praktek bertingkah laku
178 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
sehari-hari, dalam arti bahwa semuai konsep nilai-nilai budaya harus dilaksanakan secara utuh karena bila yang satu dilaksanakan namun yang lainnya tidak diperhatikan maka hal itu tetap saja membawa dampak penilaian terhadap tingkah laku seseorang, dimana orang tersebut akan dianggab kurang beradab. Konsep yang dimaksud seperti antara lain:
a. Samaturu atau Rukun.
Samaturu artinya, merasa satu dalam ikatan kekeluargaan. Praktek samaturu dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat Bungku diwujudkan dalam bentuk metapoko-poko fali atau metatulungi yakni bekerja sama dan saling menolong. Bila seorang kerabat atau sahabat baik yang kebetulan tidak ada kegiatan pribadi yang terlalu mendesak, jika mengetahui keluarga, kerabat atau teman baik yang ada kegiatan seperti mengerjakan ladang, mengerjakan rumah, atau mengadakan acara-acara syukuran maka tanpa diminta bantuanya ia harus melibatkan diri untuk membatu. Umumnya bantuan yang diberikan adalah berupa buah-buah pikiran dan terutama bantuan berupa tenaga. Jika ada kegiatan keluarga seperti tersebut di atas dan salah seorang dari kerabat dekat tidak turut serta tanpa pembritahuan maka ia akan dipertanyakan, apa sebab sehingga tidak menyempatkan diri hadir dalam kegiatan tersebut. Jika hal itu terjadi tanpa halangan yang dapat diterima sebagai alasan kuat, maka ia akan dikucilkan.
b. Kona’adati atau Sopan Santun.
Kona’adati=konalelu=kona atora artinya bertingkah laku sesuai dengan tuntunan adat istiadat. Wujut dari pada kona’adati dalam kehidupan sehari-hari seperti bertutur kata sopan dan lemah-lembut, berkelakuan baik, menghormati dan menghargai orang lain dan lain sebagainya.
c. Kemandirian
Kemandirian berasal darai kata mandiri yang berarti berdiri sendiri, dalam bahasa Bungku identik dengan tumorampanta, tumade mpanta atau lumakompanta artinya hidup sendiri, berdiri sendiri atau berjalan sendiri. Sikap kemandirian ini ditanamkan sejak kecil
dengan maksud jika anak kelak menjadi dewasa ia mampu melayani diri sendiri dan orang lain tanpa tergantung dari fasilitas dan bantuan orang lain; termasuk fasilitas dan bantuan orang tuanya sendiri.
d. Ketaatan Anak Terhadap Orang Tua
Taat terhadap orang tua merupakan kewajiban seorang anak.
Wujud ketaatan anak terhadap orang tua terlihat pada tingkah laku anak yang selalu patuh pada seluruh perintah orang tua dan menjauhi segala yang dilarang oleh orang tua. Dalam bahasa Bungku dikenal dengan istilah montonda lo’e atau montonda patuju artinya mengikuti perintah atau mengikuti petunjuk. Bagi anak yang tidak patuh dianggap tercelah oleh masyarakat atau disebut birimalu, birifatu atau madoraka.
e. Disiplin dan Cermat
Disiplin identik dengan cermat, disebut katutu atau matutu, artinya seseorang dianggap katutu atau matutu jika ia memperhatikan segala hal dengan cermat. Kalau ia melakukan suatu pekerjaan ia sangat hati-hati dan teliti, juga selalu tepat waktu. Semua tugas-tugas yang diembannya dapat diselesaikan dengan baik tanpa dorongan dan paksaan dari siapapun.
f. Tanggung Jawab.
Tanggung jawab adalah suatu hal atau keadaan yang harus ditangggung. Sebagai tanggungjawab, anak diusahan untuk melatih dan mengarahkan anak agar mampu memikul tanggungjawab, orang tua memberi tugas atau pekerjaan sesuai dengan umur, kemampuan, dan jenis kelamin anak.
g. Kamoleoa atau Kejujuran.
Kejujuran dalam bahasa Bungku disebut kamoleoa atau moleo.
Ketentuan untuk mengarahkan anak menuju sikap jujur maka anak dibiasakan agar selalu bersikap benar, tidak berdusta, tidak curang dan sebagainya.
h. Rasa Pengabdian.
Rasa pengabdian disebut safa montulungi yang juga diidentikkan dengan pongkokolaro; ditanamkan kepada anak melalui kebiasaan-
180 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
kebiasaan melayani orang tua dan saudara-saudara yang pada gilirannya meningkat pada kebiasaan untuk menolong orang lain baik secara pribadi maupun secara kolektif melalui gotong-royong. Dari keseluruhan konsep budaya seperti tersebut di atas haruslah diketahui, dipahami, dihayati dan terutama harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua konsep budaya yang bertentangan dengan itu seperti antara lain, ambi (bohong), monako (mencuri), mongkokolea atau monsisilii (menyakiti) orang, binatang maupun tumbuhan dan sebagainya; sifat-sifat yang dianggap dapat merugikan orang lain harus ditekan dan diusahakan dihilangkan sejak masih kanak-kanak sehingga yang berkembang dalam kehidupannya setelah dewasa hanyalah konsep-konsep nilai budaya yang sejalan dengan konsep- konsep seperti tersebut. Untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam konsep nilai-nilai budaya seperti tersebut di atas tentunya harus memerlukan sarana berupa media dan metode yang digunakan untuk menyampaikannya. Adapun yang dimaksud dengan media yang digunakan untuk menanamkan nilai budaya pada anak-anak disini adalah segala sarana, alat dan cara yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak, oleh masyarakat etnis Bungku. Ada beberapa media yang digunakan masyarakat untuk mensosialisasiakan nilai budaya pada anak-anak mereka yaitu antara lain: ceritera rakyat berupa mitos, legenda dan dongeng, permainan rakyat, nyanyian, hukuman pantangan dan larangan. Ceritera rakyat, dalam bahasa Bungku disebut carita, masih dapat ditemukan dari beberapa orang tua sebagai penuturnya antara lain ceritera mitos seperti caritano Bidadari, ceritera legenda seperti caritano Safirigadi, Mateantina, Fatu Buaeya, Fatu pinodo, Bangka finofali, lemboduruka dan sebagainya, sedang ceritera dongeng antara lain caritano Kolopuha, caritano ngeo, caritano Podi, caritano Poponggu, caritano Lagari, caritano Kalangua dan lain sebagainya.
Masyarakat Bungku Juga Mengenai Pantangan dan Larangan.
Media lain yang juga biasa digunakan untuk mensosialisasikan nilai budaya pada anak-anak etnis Bungku adalah peupalia- pantangan-tabu.
Larangan dan kewajiban-kewajiban terkandung dalam pantangan atau
tabu mengandung maksud mencegah sesuatu terutama pada anak- anak. Tabu tidak boleh dilanggar sebab apabila dilanggar akan berakibat buruk dan tidak menguntungkan baik terhadap diri anak, keluarga atau masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh tabu yang berhubungan dengan disiplin antara lain ialah tabu bagi seorang gadis yang sedang memasak sambil menyanyi sebab dia akan kawin dengan seorang dudu. Tabu yang akibatnya menyangkut keluarga seperti, tidak boleh makan tebu pada malam hari sebab ibu akan cepat meninggal. Tabu berhubungan dengan masyarakat umum seperti jangan memandikan kucing sebab akan mengakibatkan hujan yang berkepanjangan. Adat istiadat untuk lebih melengkapi contoh di atas selanjutnya ditampilkan beberapa contoh tentang tabu sebagai berikut:
- Tidak boleh makan di penutup apa saja karena akan menutupi aib yang dibuat orang lain.
- Tidak boleh mengambil makanan yang sudah matang tetapi masih ada di atas tungku untuk dimakan karena akan mati ditikam.
- Tidak boleh makan sambil duduk di kukuran nanti di makan buaya.
- Tidak boleh makan sambil jongkok atau berdiri karena dianggap tidak menghormati makanan.
- Tidak boleh makan tebu pada sore hari karena akan yatim piatu.
- Tidak boleh makan tebu jika orang sedang makan karena menyebabkan pesta kegembiraan dan pesta duka akan muncul bersamaan seperti pesta perkawinan ada pula kematian.
- Anak perempuan tidak boleh makan pakai holue-sendok nasi karena akan menyebabkan jika melahirkan anak model dagunya akan mengikuti model sendok tersebut.
- Tidak boleh makan kepala ikan karena anak akan menjadi bodoh.
- Bagi anak perempuan tidak boleh makan pisang kembar karena bila melahirkan anaknya akan kembar.
- Bagi anak perempuan sementara memasak tidak boleh menyanyi karena akan mendapat suami duda.
- Bagi anak perempuan sementara makan tidak boleh pindah-
182 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
pindah tempat duduk karena akan bersuami banyak.
- Ketika isteri hamil suami tidak boleh mengambil sesuatu milik orang lain karena jika anaknya lahir dan besar nantinya akan menjadi seorang pencuri.
- Ketiak hamil suami/isteri tidak boleh menyakiti binatang karena jika anaknya lahir akan menyerupai binatang yang disakiti tersebut
Pada peradaban Bungku dikenal juga sanksi, penghargaan dan hukuman. Pembinaan dan penanaman nilai-nilai budaya pada anak-anak juga sering menggunakan motivasi seperti penghargaan, hukuman dan sangsi. Jenis penghargaan yang digunakan berbeda antar dekade. Pada dekade sebelum tahun 1950 pada umumnya memakai penghargaan berupa hanya pujian-pujian atau diberi hadiah berupa ceritera rakyak seperti mite, legenda ataupun dongeng.
Sedang penghargaan hadiah berupa uang tidak pernah dilakukan karena dikawatirkan dengan pemberian hadiah jiwa anak-anak terbentuk menjadi jiwa materialistis. Pada dekade generasi 1950- an sampai 1979 penghargaan yang diberikan selain pujian-pujian, juga penghargaan (hadiah) berupa makan seperti buah-buahan atau kue-kue. Penghargaan atau hadiah berupa uang juga tidak dilakukan karena dihawatirkan jiwa anak-anak akan terbentuk menjadi jiwa materialis. Lain halnya denga generasi tahun 1980 hingga sekarang;
penghargaan (hadiah) yang paling umum diberikan adalah berbentuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti baju, celana atau kebutuhan-kebutuhan sekolah seperti sepatu, tas sekolah, buku serta pinsil dan pena, tetapi yang paling banya dilakukan adalah hadiah atau penghargaan berbentuk uang.
Sanksi atau hukuman juga sering diterapkan. Sanksi atau hukuman diperlakukan apabila seorang anak berbuat menyimpang atau melanggar tata aturan yang telah ditetapkan dan berlaku dalam lingkungan keluarga khusus maupun yang berlaku secara umum di lingkungan masyarakat. Namun tidak semua pelanggaran diberikan sanksi atau hukuman, melainkan tergantung pada berat
ringannya pelang- garan yang diperbuat oleh seorang anak. Sanksi atau hukuman yang diberikan kepada anak-anak di masa lampau mempunyai tingkatan seperti, jika Si anak mengumpat seseorang dengan menyebut alat vitalnya; yang sebaya dengannya atau yang lebih muda dari yang mengumpat sanksinya adalah inukopi fifihu (mulutnya dipelintir), sedang apabila perbuatan yang sama dilakukan kepada orang lebih, kakak daripada si pelaku apalagi kalau hal itu dilakukan kepada orang tua hukumannya ginintai (diberi lombok di mulutnya). Bagi anak yang birimalu (tidak mengindahkan perintah) sasaran hukuman ditujukan ke biri (telinga), seperti pinae (ditarik), kinukui (dicubit) atau binosi-dikutik. Anak-anak yang cengeng diberi hukuman tinontompaa (dicubit dibagian dalam pahanya). Anak yang mengambil sesuatu yang bukan haknya hukumannya tinutuki funga limano-dipukul jari tangannya. Anak yang terlalu sering keluar rumah tanpa pamit dan tanpa memperhatikan tugas-tugasnya di rumah serta melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain diberi sanksi atau hukuman sinepi (dipukul dibagian kaki atau di betis).
Sanksi yang dijelaskan di atas pada waktu sekarang mulai mengalami pergeseran dalam arti tidak diperlakukan seketat dulu, namun masih tetap dijalankan. Pada dasarnya sanksi atau hukuman yang diberikan kepada anak-anak hendaknya dapat menyadarkan bahwa perbuatan yang dilakukan memang tercela dan pantas mendapat hukuman. Sanksi hukuman yang diberikan pada anak dijaga agar tidak dianggapnya sebagai suatu siksaan yang tidak adil sehinga anak bukannya memperbaiki tingkah lakunya tetapi sebaliknya dapat merangsang anak-anak untuk berbuat yang lebih negatif lagi. Kesalahan itu dengan pemberian sanksi hukuman pada anak-anak yang tidak taat atau melanggar norma-norma yang berlaku baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat diharapkan dapat membuahkan hasil yang lebih baik terhadap perkembanagan kepribadian anak.
Pada lingkungan masyarakat Bungku seluruh keluarga berperan dalam upaya membina dan penanaman nilai-nilai budaya pada anak, namun ayahlah yang merupakan penanggung jawab utama dan ibu
184 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
sebagai pelaksana pertama dan utama. Keluarga lainnya seperti Kakek, Nenek, Om, dan Tante merupakan alat kontrol. Ayah bersama ibu membiasakan anak untuk makan, tidur, berpakaian, bertutur kata sesuai aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat.
Anak harus membantu orang tua; bertutur sapa yang sopan;
bertingkah laku menurut tata kelakuan yang telah di polakan oleh orang tua dan berlaku umum dalam masyarakat. Dalam rangka untuk mencapai hal tersebut di atas ditempuh dengan melalui penanam tata krama dan sopan santun seperti:
a. Tata Cara Berbicara
Pada tahapan setelah anak mulai tahu mengucapkan kata-kata maka kepadanya nilai kesopanan mulai ditanamkan dan diajarkan kata-kata dan ucapan yang sopan menurut tata krama. Pertama kali diperkenalkan kepadanya adalah tata cara memanggil orang dilingkungannya seperti Ayah dipanggil apu, Ibu dipanggil ina, indo, atau bae. Ayah memanggil anaknya dengan panggilan kesayangan, bagi anak laki-laki sau atau au. Sedangkan, panggilan kesayangan bagi anak perempuan adalah ine. Adik dipanggil Andi, sapaan terhadap anggota keluarga lainnya kakek dan Nenek dipanggil Ua, Paman dipanggil ama, Tante dipanggil ina dsb. (lihat daftar istilah kekerabatan Etnis Bungku).
b. Tata Cara Duduk
Tingkahlaku di Bungku selain sopan santun berbicara, tata krama sikap duduk juga sejak dini diajarkan pada anak, sejak anak masih kecil sudah mulai diajarkan cara duduk yang baik sesuai tata krama dalam masyarakat. Bila duduk dilantai di atas tikar cara duduk antara anak laki-laki dengan anak perempuan mempunyai perbedaan. Bagi anak laki-laki diajarkan sikap duduk yang sopan yakni duduk bersila dan duduk dengan posisi sebelah kaki disilang didepan dan yang satunya ditegakkan. Posisi duduk seperti ini dalam bahasa Bungku disebut tumanda basimpa dan tumanda mekolo-kolontu, sikap duduk basimpa adalah sikap duduk yang paling sopan bagi laki-laki dan duduk mekolo-kolontu masih terhitung sikap yang sopan dan
memenuhi tata kelakuan dalam masyarakat. Jika menghadiri acara resmi harus duduk basimpah. Bagi anak perempuan diajarkan sikap duduk bersimpuh yakni dengan posisi dua kaki di samping kiri atau di sampingkanan menjulur kebelakang, atau duduk bertumpu di atas kedua betis seperti posisi orang duduk tahiyat dalam sembahyan.
Posisi duduk seperti itu disebut tumanda mehimpo dan tumanda melingkudu. Sikap duduk mehimpo adalah sikap duduk yang paling sopan bagi perempuan, di samping itu sikap duduk melingkudu dan mekolo-kolontu masih tergolong cara duduk yang sopan bagi perempuan. Adapun cara duduk yang kurang sopan seperti, menjongkok, duduk melekuk kedua lutut, duduk dengan kedua lutut, duduk dengan kedua kaki direnggangkan keposisi depan dan duduk dengan kedua kaki direnggangkan kesisi depan dan duduk dengan kedua kaki diluruskan kedepan dengan posisi dirapatkan. Keempat sikap duduk yang disebutkan terakhir ini dalam bahasa Bungku masing-masing disebut tumanda bangkede-kede, tumanda mekia- kia olontu, tumanda mengkara dan tumanda melitii. Disamping posisi-posisi duduk dilantai seperti dijelaskan di atas, anak-anak juga diajarkan posisi duduk di kursi. Duduk di kursi baik laki-laki maupun perempuan yang dianggap sopan adalah dengan menjulurkan kedua kaki dengan posisi dirapatkan dianggap paling sopan. Sikap dududk di kursi dengan posisis kaki yang satu diletakkan di atas paha dengan posisi terjulur masih sipandang sebagai sikap duduk yang sopan.
Apabila seorang duduk di kursi lalu mengangkat kaki yang sebelah ke atas paha; sikap duduk seperti ini dianggap tidak sopan dan terlebih lagi bila kaki yang diangkat digerak-gerakkan.
c. Tata Cara Makan
Persoalan tata cara makan dalam hal makan anak-anak selau dibiasakan untuk memperhatikan tata krama dan sopan santun.
Sebelum makan harus terlebih dahulu tangan dicuci bersih. Saat mulai makan harus terlebih dahulu mengucapkan basmalah (dengan nama Allah) dan sesudah makan harus mengucapkan alhamdulillah (bersyukur kepada Allah). Anak dibiasakan makan sendiri dibawah