Sebuah karya tentang sejarah Kerajaan Bungku yang persiapannya memakan banyak waktu dan biaya, hingga keberhasilan karya dan penerbitannya ini membuahkan sederet prestasi. Sumbangan dan segala pemikiran narasumber pada seminar penutup tanggal 15 Desember 2011 di Kabupaten Morowali tentang sejarah kerajaan Bungku telah banyak membantu dalam proses penyelesaian buku ini.
SAMBUTAN BUPATI MOROWALI
Oleh karena itu, penulisan Sejarah Kerajaan Bungku merupakan produk penelitian yang dituangkan dalam buku sebagai media promosi dan upaya memperkenalkan kebudayaan Bungku kepada dunia luar secara nasional dan internasional. Oleh karena itu kami berharap dengan diterbitkannya buku ini dapat menambah wawasan keilmuan kita dan memberikan kesimpulan yang bertujuan untuk membangun Kabupaten Morowali di masa yang akan datang.
PENGANTAR PENULIS
Latar Belakang Tulisan
5 Hubungan Kerajaan Bungku dengan Kerajaan Mori diawali dengan Perjanjian Tompira pada tahun 1900 antara Owolu Marunduh ke-4 dengan Raja Bungku Peapua Kasili. Wacana baru tentang sejarah kabupaten yang muncul dari Kabupaten Poso pada tahun 1999 mempunyai dua argumentasi penting.
Persoalan, Tujuan, dan Manfaat Penelitian
Bagaimana proses sejarah akumulasi Kerajaan Bungku hingga terbentuknya Kabupaten Morowali dilihat dari berbagai aspek kehidupan seperti bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Rekonstruksi dan deskripsi prosesi sejarah Kerajaan Bungku hingga terbentuknya Kabupaten Morowali, mulai dari masa prasejarah hingga sejarah terbentuknya kabupaten tersebut saat ini.
Metodologi Sejarah
- Pendekatan, Teori, dan Konsep
- Tahapan Penelitian
- Sumber Sejarah Bungku
Kruyt yang bertajuk “De West Toraja van Midden Celebes” mengkaji berbagai aspek dan dinamika kehidupan masyarakat Toraja di Sulawesi Tengah Barat. Ia membeberkan latar belakang sejarah dan struktur politik kerajaan-kerajaan tersebut, termasuk cara mempertahankan hegemoni mereka di Sulawesi Tengah.
Kajian Tentang Bungku
Namun tulisan Mead tidak menjelaskan perkembangan Kerajaan Bungku sebagai kesatuan peradaban dan kebudayaan di Sulawesi Tengah. Penelitian ini tidak banyak menyinggung tentang keberadaan Kerajaan Bungku sebagai sebuah kerajaan di Sulawesi Tengah, melainkan tentang kesatuan masyarakat Bungku yang menggunakan satu.
GEOGRAFI
- Letak dan Luas Wilayah
- Iklim
Tanaman perkebunan yang ditanam antara lain: kelapa (Cocos nucifera), kopi (Coffea sp.), coklat (Theobrema caccao), cengkeh (Eugenia coryophyllus s.) dan kacang mete (Anacardium occidentale L). Jenis hewan ternak yang dipelihara masyarakat Bungku adalah sapi (Bos indicus), kambing (Capra sp.) dan unggas khususnya ayam (Gallus gallus).
DEMOGRAFI: BUNGKU DARI MASA KE MASA 1 Bungku Tahun 1852
- Penduduk Bungku Tahun 1930 dan 1961
- Penduduk Bungku Tahun 1970-2007
Tahun ini Bungku Tengah berpenduduk 18.960 jiwa, Bungku Selatan berpenduduk 14.565 jiwa, Bungku Utara berpenduduk 9.347 jiwa, dan Kepulauan Menui berpenduduk 9.352 jiwa. Apalagi pada tahun 1990 terjadi peningkatan jumlah penduduk, hampir satu kali lipat dibandingkan jumlah penduduk pada tahun 1980. Pada tahun 1995, jumlah penduduk Bungku terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan, hal ini terlihat dari peningkatan jumlah penduduk pada tahun ini.
Angka statistik Kabupaten Morowali menunjukkan jumlah penduduk pada Pilkada tahun 2007 sebanyak 190.012 jiwa. Perkembangan jumlah penduduk Bungku pada tahun 2005 juga mengalami peningkatan yang signifikan, namun ada juga daerah yang jumlah penduduknya menurun karena adanya pemekaran ke lebih banyak wilayah. Pada tahun 2005, Bungku Tengah berpenduduk 20.413 jiwa, kemudian Bungku Barat hanya berpenduduk 8.327 jiwa.
Bungku Selatan berpenduduk 15.470 jiwa, Bungku Utara 11.652 jiwa, dan Kepulauan Menui 12.284 jiwa.
SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT BUNGKU
- Sistem Religi dan Upacara Keagamaan
- Sistem Organisasi Kemasyarakatan
- Pendidikan dan Pengetahuan
- Bahasa dan Sastra Bungku
- Bahasa
- Asal Usul Bahasa Bungku
- Aksara yang digunakan dalam bahasa Bungku
- Petuah – Petuah Orang Tua Bungku
- Kesenian a. Seni Tari
- Mata Pencaharian
- Sistem Teknologi dan Peralatan
- Sektor Pertanian 1 Tanaman Pangan
- Kehutanan
- Pariwisata
Kebudayaan masyarakat Bungku pada umumnya dipengaruhi oleh latar belakang ajaran agama yang berkembang di masyarakat. Sistem perkawinan masyarakat Bungku pada umumnya bernuansa Islami, dimana upacara perkawinannya melalui beberapa tahapan. Namun jika ditilik kembali, pendidikan dan pengetahuan masyarakat Bungku pada zaman Belanda masih sangat terbatas.
Kesenian suara peninggalan nenek moyang yang masih terdapat pada masyarakat Bungku antara lain: Metindi, Mepantu, Tende Bomba, Kayori, Mesantu. Sistem dan peralatan teknologi yang digunakan masyarakat Bungku pada masa lampau untuk mencari/memuaskan kebutuhan. Air Terjun Mempueno merupakan salah satu keindahan alam yang memberikan ciri khas tersendiri diantara sekian banyak tempat wisata alam yang ada di Kabupaten Poso, Kecamatan Bungku Tengah, tepatnya di Desa Painta.
Lokasi air terjun Mempueno berada di Kabupaten Poso, Kecamatan Poso (sekarang Kabupaten Morowali), Kecamatan Bungku Tengah, tepatnya Desa Paina. Dari beberapa tempat wisata di Bungku Tengah yang memenuhi kriteria untuk dikembangkan menjadi objek wisata alam dan dapat memberikan nilai tambah devisa bagi kabupaten Bungku Tengah adalah Air Terjun Mempueno di Desa Painta. Air Terjun Painta menambah daya tarik kegiatan budaya yang sering dilakukan masyarakat Bungku Tengah khususnya Desa Painta yaitu upacara adat perkawinan.
ASPEK ARKEOLOGI DI BUNGKU
PERADABAN DE STEENHOUWERS DAN DE POTENBAKKER
Menurut Kruyt, unsur budaya baru yang datang bersama para pendatang baru tersebut diduga berasal dari unsur budaya Hindu Jawa yang berasal dari Pulau Jawa. Selain itu juga terdapat migrasi dari luar Sulawesi, sepanjang kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah juga terdapat beberapa migrasi lokal. Akibat lebih lanjut dari kebiasaan perang tersebut, muncullah lembaga dari para tawanan perang di beberapa kelompok besar di Sulawesi Tengah.
Suku Pamona berasal dari Poso Kota, Poso Pesisir, Pamona Utara, Pamona Selatan dan sebagian kabupaten Lage. Selain suku-suku yang disebutkan di atas, masih ada suku lain yang mendiami wilayah Kabupaten Poso yang terdapat di Kepulauan Walea, Bungku Utara, Bungku Selatan, dan Menui, yaitu suku Bajo. telah terjadi perkembangan yang sangat penting, seperti Bajo di selatan. Bungku dan Bajo di Bungku utara. Anggapan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa asal muasal berbagai suku bangsa yang terdapat di Indonesia pada umumnya, khususnya di Kabupaten Morowali, memang berasal dari daerah lain (dari luar negeri).
Bukti tersebut dapat digunakan untuk mengajukan klaim bahwa penduduk Kabupaten Morowali di kawasan bekas Kerajaan Bungku bukanlah berasal dari luar, melainkan merupakan penduduk asli Sulawesi pada umumnya, khususnya Kabupaten Morowali.
PERADABAN DAN KEBUDAYAAN BUNGKU
Jejak arkeologis Kerajaan Bungku tersebar di beberapa tempat seperti di Bungku utara sebagai peninggalan peradaban dan kebudayaan masyarakat Wana, di kepulauan Menui di gua-gua Kovalagadi sebagai peninggalan masyarakat Menui, serta di sekitar Bungku di Lanona. dan Benteng Vavontofure sebagai sisa-sisa Kerajaan Bungku, juga sisa-sisa Istana Lama dan Masjid di Bungku. Pengerjaan masjid yang baru direnovasi ini memakan waktu satu tahun dan barulah pada tahun 1836 SM Masjid Kerajaan Bungku berdiri megah, bisa dikatakan merupakan hasil gotong royong masyarakat Bungku. Kelemahan Raja-Raja di Kerajaan Bungku adalah tidak menciptakan lingkungan keraton dan kedato seperti di Pulau Jawa, namun ketika raja terpilih menjadi raja di Kerajaan Bungku maka rumahnyalah yang dijadikan istananya, sehingga di Kerajaan Bungku terdapat apa yang disebut rumah raja di Vafolobani, Benteng Vafongkota I, Vatompeapua, Vafongkota II, Raha Rinante, Vatulelanona, Mendui, Paka Bungi, Marsaole.
Setidaknya kami harus menempuh perjalanan darat selama lima jam dari Danau Matano, untuk mencapai Kerajaan Bungku yang terletak di Kecamatan Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Selatan. Istana Kerajaan Bungku yang berusia ratusan tahun ini masih terlihat bersih seperti aslinya karena telah dipugar oleh dinas pariwisata setempat. Mungkin karena kondisi geografis yang dipisahkan oleh perairan, maka kekuasaan Kerajaan Bungku yang berdiri ratusan tahun lalu tidak terlalu luas.
Dengan demikian, Istana Kerajaan Bungku pun tampak kecil, berbentuk seperti rumah panggung dengan lebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.
MITOS DI BUNGKU
Napalalo ti panagkitak, napalalo ti panagkitak. Napalalo ti panagayatko, ngem sigurado a makaaramidak. Jaji poala'a nomo mi mofafa dahu ai tonia rumapati ira. Diak ammo no ania ti aramidek iti biagko, ngem diak ammo no ania ti aramidek iti biagko. Awan ti aramidek kenka, ngem sigurado a magustuam.
Saarido nika anu hina hinendeno tina ai tonia jaji ipobubu fu'uno opitu tangke kai kaio jaji buani. No'uo asa tempo lako mobuani tama ai tonia, misaa anando anumokokolaromono indono kumitao anano mebahoakoo ta'i jaji me'oalaiomo fumo'ofio ana ai tonia kai bahoo. Ndo'opitu anamolepo ai nahina mia umunda tenangi, pundano samia-samia kai nade jaji umalantebao tina ai tonia.
Anu tepokere patantuo inai tama tajaji tebano, suapokoa tama aindo hina mia umunda tenangi jaji ihumpunsafao tina ai tonia polo'e, kandopegoloti tama aindo tonia.
Peapua Lamboja hingga Peapua Abdurabbie
WILAYAH KERAJAAN BUNGKU
- Tombuku sebenarnya, daerah pantai yang dari daerah Tomori membentang sebagai lahan pantai sempit sampai negori Faya
- Daerah Bahu Solo yang dimulai dari daerah Tapu Uluno, di selatan berakhir di negori Bilala dan di barat dibatasi oleh
- Daerah Toe Eppe yang di utara dibatasi oleh distrik Tombuku dan daerah Tomori, sementara di barat dan selatan ditutup
- Distrik Toffi, yang di selatan dan timur ditutup oleh daerah Tomori dan di utara bergabung dengan daerah Tombuku Utara.” 1
Wilayah Menui merupakan bagian dari Kerajaan Bungku yang meliputi Pulau Padei Laut, Padei Darat dan Pulau Dua. Daerah selanjutnya yang menjadi wilayah Kerajaan Bungku di Kepulauan Bungku Selatan adalah Kepulauan Salabangka dan sekitarnya. Secara politis/teknis dan moral, masyarakat Bajo secara taktis tetap merupakan masyarakat Bone di kerajaan Bone meskipun mereka berdomisili di wilayah Kerajaan Bungku.
Surat perjalanan (terlampir) menunjukkan adanya hubungan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi antara Kerajaan Bugis Bone dan Kerajaan Bungku di Pulau Sulawesi bagian timur. Perbatasan antara kerajaan Bungku dan Luwuk berada di Muara Tarat, tepatnya di desa Rata dekat Tanjung Rata. Di bagian selatan wilayah Bungku pada peta ini, terhitung dari Teluk Tolo, Kerajaan Bungku berbatasan dengan kerajaan Mori di pesisir pantai Lingkoboa, tepatnya di dekat muara Sungai Tambaloko.
Posisi Kerajaan Bungku bagian selatan yang berbatasan dengan Wilayah Kendari berada di kawasan pegunungan.
RAJA DAN KERAJAAN BUNGKU
Pada tahun 1900, Hindia Belanda diwakili oleh Kneffer (Kepala Pos Houder di Bungku, yang mendampingi Dr. Jogugu Gani, namun saat itu meninggal, sehingga Ahmad Hadie diangkat menjadi Raja Bungku pada tahun 1925 hingga 1931. Berdasarkan Nouwens Penjelasan arsip, Abdul Razak diangkat menjadi Raja Bungku pada tahun 1931 setelah Ahmad Hadie diberhentikan pada tahun 1931.
Akibat pengusiran tersebut, Raja Bungku yang bernama Ahmad Hadi diasingkan ke Tahuna (Sangir Talaud) pada tahun 1931 sebagai pengasingan politik. Haji Abdullah mengundurkan diri pada tahun 1925 dan SEBA segera mengadakan pemilihan calon bernama Haji Abdullah dan Ahmad Hadi. Pada nisan Abdurabbie tertulis ia menjadi Raja Bungku pada tahun 1941 dan menjadi KPN di Kolonodale antara tahun 1950-1961.
Jika kita telusuri lebih jauh, ketika “Perjanjian Tompir” ditandatangani pada tahun 1900, seorang Tionghoa juga ditunjuk sebagai juru bicaranya.
SIMBOL-SIMBOL DAN ADAT DI KERAJAAN BUNGKU
- Perkawinan Rakyat biasa
Oleh karena itu, orang tua anak laki-laki tersebut berkonsultasi dengan anak laki-lakinya dan menyarankan nama anak perempuan yang berbeda yang disukai orang tuanya. Usai duduk teratur, juru bicara pria membuka pembicaraan dengan melontarkan “Salopa/Pompananga”. Sesampainya di halaman mempelai wanita, arak-arakan mempelai pria dihadang oleh orang-orang yang membentangkan kain untuk menghalangi calon mempelai pria memasuki taman mempelai wanita.
Kemudian sepatu atau sandal pengantin laki-laki dilepas dan kakinya dibasuh.Kemudian perempuan tua itu memegang secarik kain yang dilipat (digulung) seperti lingkaran ke arah depan kepada pengantin pria, yang kemudian pengantin pria menyambut ujung kain tersebut dan memegang ujung kain tersebut. Kain Para laki-laki diarak (ditarik), diantar menuju tempat duduk pengantin wanita (kasur) yang telah disiapkan. Jika ada yang disunat, maka ditaruh di pangkuan dan diarak bersama mempelai pria menuju rumah mempelai wanita. Saat duduk di lantai di atas matras, cara duduk anak laki-laki dan perempuan berbeda.
Bagi kanak-kanak lelaki pula, mereka diajar postur duduk yang sopan iaitu duduk bersila dan sebelah kaki bersilang di hadapan dan sebelah kaki lagi diletakkan.