ASPEK ARKEOLOGI DI BUNGKU
A. PERADABAN DE STEENHOUWERS DAN DE POTENBAKKER
Menurut Albert C. Kruyt bahwa daerah yang didiami oleh penduduk Toraja Sulawesi Tengah itu pada mulanya, telah lebih dahulu didiami oleh suatu kelompok penduduk yang belum jelas diketahui identitasnya. Akan tetapi Klleiweg de Zwaan, masih dapat menemukan sisa-sisa dari penduduk Loinang yang berlokasi di jazirah Timur Sulawesi Tengah. Selanjutnya menurut Kruyt, terjadilah migrasi dua tahap, baik ke Sulawesi Tengah maupun ke Sulawesi Selatan;
akan tetapi tidak dijelaskan kapan berlangsungnya kedua tahapan tesebut. Hanya dikatakan bahwa migrasi pertama adalah kedatangan penduduk yang mendukung Kebudayaan Megalith yang disebut oleh Kruyt sebagai kebudayaan “De Steenhouwers” (pemecah batu).
Penduduk ini diperkirakan datangnya dari dua arah, yakni: Pertama, arahnya datang dari bagian arah Utara, diduga berasal dari peradaban tua di Kepulauan Jepang. Mereka masuk ke Sulawesi Tengah lewat Minahasa, menyusuri Daratan terus ke Selatan melalui Gorontalo, Teluk Tomini, sehingga akhrinya sampai di Sulawesi Tengah. Migrasi kedua, datang dari bagian arah Selatan, diperkirakan melalui lembah Sa’dang, terus ke daerah jazirah bagian Utara Sulawesi Selatan.
Peninggalan-peniggalan penduduk berkebudayaan Steenhuowers ini, antara lain berupa kuburan-kuburan batu (Kalamba), lesung-lesung batu, patung-patung dalam ukuran besar, Menhir dan Dolmen. Bukti yang disebutkan oleh Kruyt tersebut sampai sekarang masih dapat disaksikan di daerah Bada, Besoa, Napu serta beberapa tempat di Kabupaten Donggala.
Migrasi kedua dinamakan oleh Kruyt sebagai peradaban
“Depottenbakkers” (pembuatan tembikar) dari tanah liat. Benda- benda itu, berupa tempayan-tempayan besar yang rupa-rupanya
digunakan untuk penyimpanan atau penguburan mayat, dan periuk-periuk kecil, mungkin untuk keperluan memasak. Kruyt juga memperkirakan penduduk dengan kebudayaan pottenbekkers ini masuk Sulawesi Tengah dari arah Teluk Bone yakni dari suatu tempat di antara Malili dan Wotu. Kedatangan dari sini penduduk pembuat tembikar itu menuju kearah Utara, ke daerah Pegunungan Lore, hingga ke daerah aliran Sungai Koro. Dari sana arahnya, kemudian membelok kembali ke Selatan dan berhenti di suatu tempat yang bernama Waebunta, suatu tempat di daerah Galumpang yang kini termasuk wilayah Kabupaten Mamuju Sulawesi Selatan.
Mengacu pada dua pendapat di atas dipadukan dengan bukti- bukti temuan purbakala menunjukkan bahwa penduduk yang mendukung kebudayaan MEGALITH yang oleh Kruyt disebut peradaban “De Steenhouwers” (pemecah batu) umumnya mendiami daerah-daerah pedalaman Kabupaten Poso umumnya, khususnya Lembah Bada, Besoa, Napu, dan Pamona, sementara penduduk sebagai pendukung kebudayaan dan peradaban “De Pottenbakkers”
(pembuatan tembikar) dari tanah liat tersebar merata di wilayah Kabupaten Poso dan terutama pada daerah di Pesisir Pantai bagian Timur termasuk Wilayah Bungku.
Penduduk pendatang baru itu, membawa anasir peradaban dan kebudayaan baru ke dalam kehidupan penduduk pribumi dalam lapang sosial, ekonomi, kebudayaan, dan religi, antara lain sebagai berikut :
1. Pada lapangan ekonomi diperkenalkan teknik pertanian berpengairan.
2. Pada lapangan religi disumbangkan satu sistem yang mengenal struktur dewa-dewa yang bertingkat-tingkat. Selain itu juga dipekenalkan upacara-upacara keagamaan yang rumit.
3. Pada lapangam kehidupan sosial diperkenalkan sejumlah peraturan baru, termasuk inovasi dari suatu lapisan sosial baru, yakni lapisan Bangsawan, yang berada di atas lapisan sosial yang telah ada lebih dahulu berlaku dalam masyarakat, yaitu lapisan budak dan merdeka.
120 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
Eksitensi lapisan sosial bangsawan, sebagai lapisan baru ini terkait pada mitos dan atau legenda Sawerigading dan mitologis tentang “Manuru Laseo” di Danau Poso, mitologis “Mateantina”.
Unsur-unsur kebudayaan baru yang datang bersama orang-orang pendatang baru itu, menurut Kruyt diperkirakan berasal dari unsur- unsur kebudayaan Hindu Jawa, yang berasal dari Pulau Jawa. Tentang mitos atau legenda Sawerigading yang terdapat dalam “Epos Galigo”
sebagai seorang tokoh Orang Bugis Luwu di Sulawesi Selatan dan diduga persebarannya sebagai tokoh legendaris di Sulawesi Tengah meliputi daerah yang amat luas dari Pantai Barat di Selat Makassar, sampai ke Luwuk Banggai di atas Teluk Tolo dan orang-orang Mori dan Bungku. Selain itu, terjadi juga migrasi yang berasal dari luar Sulawesi, sepanjang kehidupan penduduk Sulawesi Tengah, terjadi pula beberapa Migrasi lokal. Kaudern membahas mengenai migrasi yang berlangsung di Sulawesi Tengah dan dia menyatakan bahwa perpindahan penduduk di daerah ini terjadi karena berbagai sebab, seperti bencana alam, epidemi penyakit, dan adat berperang di antara desa-desa. Perang-perang yang amat sering terjadi itu, bertalian erat dengan adat pengayauan mereka. Suasana peperangan itu menyebabkan penduduk desa acap kali mengungsi lebih jauh kepedalaman yang sukar dijangkau oleh musuhnya. Sebagai akibat lebih jauh dari adat peperangan ini, timbul suatu lembaga yang berasal dari tawanan perang, pada beberapa kelompok kaum yang besar di Sulawesi Tengah. Juga punahnya sesuatu kaum tertentu, adalah sebagai akibat adat peperangan itu, seperti kepunahan yang dialami oleh kelompok kaum To Pajapi (Orang Pajapi).
Setelah melalui perjalanan panjang perubahan demi perubahan dilalui penduduk yang mendiami wilayah Kabupaten Poso; secara umum dapat dibagi dalam beberapa etnis, yaitu:
- Etnis Pamona merupakan penduduk asli Kecamatan Poso Kota, Poso Pesisir, Pamona Utara, Pamona Selatan dan sebagian Kecamatan Lage.
- Etnis Mori merupakan pendudduk asli Kecamatan Mori Atas, Kecamatan Lembo dan sebagian Kecamatan Petasia.
- Etnis Bungku merupakan pendudduk asli Kecamatan Bungku Tengah, Bungku Barat, sebagian Bungku Selatan, Menui Kepulauan, sebagian Bungku Utara dan sebagian Kecamatan Petasia 1
- Etnis Pekurehua, Bada, dan Besoa merupakan penduduk asli Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan 2
- Etnis Torau Lalaeyo merupakan penduduk asli Kecamatan Tojo dan sebagian Kecamatan Lage.
- Etnis Taa3 merupakan penduduk asli Kecamatan Ampana Kota, Ampana Tete, Ulubongka dan sebagian Bungku Utara dan Bungku Barat.
Selain etnis yang disebutkan di atas masih ada satu etnis lagi yang mendiami Wilayah Kabupaten Poso terdapat di Walea Kepulauan, Bungku Utara, Bungku Selatan dan Menui Kepulauan yaitu etnis Bajo.4 Etnis Bajo yang menghuni pinggir-pinggir laut di pesisir pulau dan pulau-pulau kecil mengalami perkembangan yang sangat signifikan seperti Bajo di Bungku Selatan dan Bajo di Bungku Utara.
Upaya pengumpulan data lapangan yang dilakukan untuk mengungkap asal usul etnis tersebut di atas kurang memberikan hasil sesuai dengan harapan karena data yang dapat dijaring hanya berupa oral tradition,5 atau tradisi lisan yang disampaikan secara turun-temurun, dimana pada umumnya cerita-cerita rakyat hanya menggambarkan bahwa asal usul dari setiap etnis berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun, jika ditelusuri secara saksama, maka akan teridentifikasi bahwa pada umumnya mempunyai kemiripan yaitu, semua etnis mengakui bahwa asal usul nenek moyang mereka
1 Pembagian ini dalam Monografi Kabupaten Poso tahun 1984, hlm. 23, Kecamatan Bungku Selatan dan Kecamatan Menui Kepulauan digolongkan ke dalam Suku Kumapa.
2 Pembagian ini dalam monografi Kabupaten Poso tahun 1984 hlm.. 23 Kecamatan Lore Utara dan Kecamatan Lore Selatan digolongkan ke dalam suku Suku Lore.
3 Lebih populer dengan sebutan suku wana
4 Etnis ini mempunyai ciri dan sejarah tersendiri khususnya di Kabupaten Poso, maupun umumnya di Indonesia.
5 Data lisan
122 SYAKIR MAHID, HALIADI-SADI, WILMAN DARSONO
berasal dari dunia luar, entah itu berasal dari kayangan, berasal dari tumbuhan, seperti pohon kayu atau dari bambu atau dan yang lebih jelas lagi ceritera asal usul manyarakat Tojo, Mori, dan Bungku yang mengakui bahwa asal-usul raja pertama memerintah di kerajaan mereka adalah berasal dari Kerajaan Luwu (Sulawesi Selatan).
Asumsi-asumsi tersebut mengindikasikan penegasan adanya dugaan yang mengatakan bahwa asal usul berbagai etnis yang terdapat di Indonesia umumnya, khususnya di Kabupaten Morowali benar berasal dari daerah lain (dari luar). Namun tentunya kesimpulan itu tidak serta merta dapat diterima begitu saja karena fakta-fakta yang ditemukan di lapangan ada yang perlu pengkajian lebih lanjut untuk pembuktiannya, terutama pembuktian dari arkeologi.
Adanya peradaban dan kebudayaan di berbagai lokasi6 di Bungku baik melalui infomasi yang dapat dijaring dari para informan maupun hasil-hasil yang disaksikan melalui pengamatan lapangan ditemukan bekas-bekas lokasi pemukiman maupun pekuburan berbentuk gua, yang umumnya tersebar di dataran tinggi 7. Beberapa gua ditemukan di Kecamatan Pamona, Lore, Mori, Petasia, dan wilayah Bungku. Informasi yang menarik tentang hal tersebut yaitu adanya beberapa gua di Bungku Selatan dan Bungku Tengah, ditemukan tengkorak yang ukuran tulang keringnya lebih kurang satu meter dan tulang batok kepala sebesar helem, sehingga biasanya dipermainkan oleh para pencari rotan yang kebetulan menemukan gua yang berisi tengkorak tersebut itu dengan cara tulang batok digunakan untuk helem. Budaya ini disebut budaya tajima. Bukti tersebut dapat digunakan untuk memunculkan suatu dugaan bahwa penduduk Kabupaten Morowali di Wilayah eks kerajaan Bungku bukan berasal dari luar melainkan penduduk asli Sulawesi umumnya, khususnya Kabupaten Morowali. Kesimpulan ini diperkuat dengan adanya kesamaan-kesamaan ciri-ciri budaya seperti pergaulan, cara bermasyarakat, bentuk-bentuk rumah, bahasa dan agama purba
6 Hampir diseluruh Kecamatan di Kabupaten Poso.
7 Benda itu berada di gunung-gunung yang sekarang telah menjadi hutan rimba yang hanya dijangkau oleh para pengumpul hasil hutan, terutama pencari rotan.
yang mereka miliki. Namun, kesimpulan ini tentunya masih memerlukan penelitian arkeologi lebih lanjut untuk pembuktian dan penarikan kesimpulan yang lebih akurat. Sisa-sisa kehidupan zaman Prasejarah sekarang masih dapat ditemukan di Kecamatan Bungku Utara, Ulubongka, dan Ampana pada etnis Wana. Mereka adalah etnis terasing atau Komunitas Adat Terpencil (KAT). Wana dapat diartikan hulu, udik, atau hutan. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan sebagian ada yang masih hidup mengembara di hutan-hutan tetapi sebagian dari mereka sudah bergaul dengan masyarakat pantai dan sudah memeluk agama Kristen dan atau Agama Islam.