Pada tahap terakhir, lingkaran keempat bersifat optional (tidak wajib ada). Pada tahap keempat, rangkaian penceritaan diawali dengan kepulangan pahlawan ke rumah dan berharap tidak ada peristiwa lagi serta pahlawan disambut baik.
Dalam lingkaran keempat, langkah ini terjadi pada fungsi 20 sampai 31. Pada cerita Kana Inai Abang Nguak terdapat 1 adegan atau peristiwa dari 12 peristiwa pada lingkaran keempat, yaitu fungsi kepulangan (return) ‘pahlawan kembali ke rumah’. Diceritakan bahwa tokoh Inai Abang dan Warga Desa Batu Nantai berhasil menyelamatkan orang bumi dari orang khayangan, keharmonisan Desa Bantu Nantai kembali seperti semula karena adanya pemangku adat dan mereka melakukan perjalanan pulang ke bumi. Mereka adalah tokoh Inai Abang yang berperang melawan orang khayangan.
Kehidupan warga Desa Batu Nantai pun terpenuhi dan menjadi harmonis. Tokoh Inai Abang hidup dan menetap di Desa Batu Nantai. Akhir cerita yang bahagia ditandai dengan lambang X. Sebelas fungsi lainnya dalam lingkaran keempat tidak terjadi dalam cerita Kana Inai Abang Nguak.
Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 122
4.2.2 Identifikasi Pelaku Kana Inai Abang Nguak
Menurut Propp (Taum, 2011:132-133) pelaku atau dramatis personae dalam 100 cerita rakyat yang dianalisisnya, pada umumnya dapat dikelompokan ke dalam tujuh jenis, yaitu the villain, the donor, the magical helper, the princess and her father, the dispatcher, the hero, dan the false hero. Pada Kana Inai Abang Nguak terdapat 6 identifikasi pelaku.
Keenam identifikasi pelaku dalam cerita Kana Inai Abang Nguak dijabarkkan sebagai berikut.
1. The Villain
The Villain adalah penjahat yang bertarung melawan pahlawan. Penjahat dalam sebuah cerita disebut tokoh antagonis.
Tokoh antagonis dalam cerita Kana Inai Abang Nguak yaitu orang-orang khayangan, Kumang Tanan Remayan, dan Lanai Sarak Tengkelai. Kejahatan mereka adalah menggangu keharmonisan kehidupan orang bumi dengan menyerang dan menculik orang bumi. Orang bumi yang diculik merupakan pemangku adat. Penculiakan dan penyerangan yang dilakukan orang khayangan meresahkan orang bumi sehingga orang bumi pun melakukan upaya penyelamatan dengan menyerang orang khayangan.
2. The donor
The donor adalah donor atau pemberi mempersiapkan pahlawan atau memberi pahlawan barang-barang magis tertentu.
Donor atau pemberi barang-barang magis kepada pahlawan dalam cerita Kana Inai Abang Nguak yaitu Kumang, seorang gadis yang sangat cantik dan memiliki kesaktian. Kumang memberi Keliang sebuah cincin sakti, bulu landak dan selendang pelangi sebagai alat kebutuhan perang melawan orang khayangan. Dengan kesaktian benda-benda tersebut, Keliang mampu membuat sarung pedang yang bisa terbang, mampu membuka kunci pintu orang khayangan dengan bulu landak, dan mampu menyeberangkan ribuan pasukan perang ketika melewati danau yang dijaga oleh raja buaya dan raja ular, mampu mengubah jejak kaki menjadi kaki rusa, mengubah bekas tombak menjadi sarang laron dan pucuk pakis.
3. The magical helper,
The magical helper adalah pembantu magis yang berusaha menolong pahlawan ketika dia menghadapi kesulitan. Dalam cerita Kana Inai Abang Nguak, pembantu magis yaitu para hantu dan roh nenek moyang yang dipanggil oleh Laja untuk membantu dalam berperang. Laja adalah seorang Tuak ‘pelindung perang’. Sebelum tokoh Inai Abang dan warga Desa Bantu Nantai menyerang orang khayangan, Laja memanggil dan memberi makan para hantu dan roh nenek moyang supaya dapat membantu mereka berperang melawan orang khayangan. Kehadiran raja burung juga menjadi pembantu magis karena raja burung menuntun perjalanan orang bumi ke khayangan sehingga mereka tidak tersesat.
4. The princess and her father
The princess and her father adalah puteri raja dan ayahnya yang memberikan tugas kepada pahlawan, menikah dengan pahlawan. Dalam cerita Kana Inai Abang Nguak pahlawan menikahi seorang puteri pemangku adat Desa Batu Nantai.
Diceritakan bahwa Keliang menikaihi Kumang. Kumang adalah seorang puteri dari pemangku adat, memiliki paras yang sangat cantik dan sakti. Dengan kesaktian selendang pelangi yang dimilikinya, ia dapat mengubah Keliang menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Kemudian Keliang bersama tokoh Inai Abang lainnya pergi ke khayangan untuk membebaskan orang tua Kumang (mertua Keliang) yang diculik orang khayangan. Dalam hal ini, ayah Kumang tidak memberikan tugas secara langsung kepada Keliang tetapi atas bencana yang dialami warga Desa Bantu Nantai oleh orang khayangan maka mereka pun melakukan pembebasan (merasa terpanggil) kepada orang tua Kumang dan orang bumi lainnya.
5. The dispatcher,
The dispatcher adalah pengutus atau tokoh yang mengetahui adanya kekurangan dan menghalangi pahlawan sejati.
Dalam Kana Inai Abang Nguak, tokoh yang berusaha menghalangi pahlawan yaitu Kumang Tanan Remayan. Ia adalah seorang gadis cantik dan paling sakti di khayangan. ketika orang pribumi sudah sampai di khayangan, ia mendapat firasat buruk. Ia mendengar suara riuh tetapi ia tidak melihat orangnya. Kemudian ia meminta beberapa orang khayangan untuk memeriksa pintu khayangan akan tetapi kunci pinti khayangan terkunci dengan baik bahkan lebih baik dari biasanya.
Selain itu, perbuatan lain yang dilakukan Kumang Tanan Remayan dalam menghalangi tokoh yaitu, ketika Keliang mencari oorang tua Kumang, ia salah membuka pintu. Pintu yang dibuka adalah kamar Kumang Tanan Remayan. Kumang Tanan Remayan berteriak namun akhirnya ia menjadi luluh akan ketampanan Keliang. Ia bahkan memberitahukan Keliang tempat ayah dan ibu Kumang dan Jengkuan disembunyikan. Keliang pun berjanji bahwa ia akan menjaga dan tidak akan membunuh Kumang Tanan Remayan.
6. The hero or victim/seeker hero
The hero adalah pahlawan sejati yang memberikan reaksi terhadap donor dan menikahi putri raja. Pahlawan dalam cerita Kana Inai Abang Nguak adalah tokoh protagonis. Tokoh protagonis dalam Kana Inai Abang Nguak ialah tokoh Inai Abang, salah satunya Keliang. Keliang menikahi Kumang, sebagai salah satu cara untuk membalaskan dendam orang bumi terhadap orang khayangan. Kedua orang tua Kumang hilang karena diculik orang khayangan. Dengan menikahi Kumang, Keliang dapat membebaskan orang tua Kumang dan orang bumi lainnya. Keliang dibantu selendang pelangi, cincin sakti dan bulu landak milik Kumang maka ia pun berhasil melepaskan tawanan sehingga keharmonisan orang bumi kembali seperti semula.
4.2.3 Skema dan Pola Cerita
Skema dan pola cerita adalah kerangka yang ada dalam sebuah cerita. Skema tersusun setelah fungsi-fungsi disusun atau ditemukan. Pada Kana Inai Abang Nguak, cerita disusun dalam bentuk skema maka kerangka cerita yang membentuk strukturnya akan tampak seperti berikut:
123| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 (α) : β γ A a B C ↑ D E F G H I K ↓ (X)
Skema cerita di atas membantu pembaca memahami jalannya cerita, ringkasan cerita, dan peranan fungsi dalam Kana Inai Abang Nguak. Skema cerita tersebut tersusun dari lambang-lambang berdasarkan fungsi yang terkandung di dalam cerita Kana Inai Abang Nguak. Pergerakan atau perkembangan dalam cerita Kana Inai Abang Nguak berdasarkan skema di atas terdapat satu pola yaitu (α) : β γ A a B C ↑ D E F G H I K ↓ (X).
Pola cerita di atas merupakan bagian dari cerita yang menceritakan awal mula tokoh Inai Abang yang hidup harmonis bersama warga Desa Batu Nantai lainnya. Suatu ketika, mereka merasa terganggu karena adanya penangkapan dan penculikan orang bumi (pemangku adat) oleh orang khayangan. Kemudian para tokoh Inai Abang menyatukan seluruh kekuatan untuk menyerang khayangan. Dengan dibantu benda-benda sakti (cicin sakti, bulu landak, selendang pelangi, raja burung), mereka berhasil melepaskan tawanan di khayangan sehingga keharmonisan di Desa Batu Nantai kembali seperti semula. Mereka hidup aman, tentram dan bahagia.
Menurut Propp (1987:93:94), tiga puluh satu fungsi yang menjadi kerangka pokok cerita dapat didistribusikan ke dalam tujuh lingkaran tindakan. Setiap lingkaran tindakan dapat mencakupi satu atau beberapa fungsi. Lingkaran tindakan dalam cerita Kana Inai Abang Nguak dapat disimpulkan sebagai berikut.
a. Lingkaran aksi penjahat adalah A dan a, b. Lingkaran aksi donor adalah D, F, c. Lingkaran aksi pembantu adalah G
d. Lingkaran aksi pahlawan adalah B, C, ↑, E, H, I, K, ↓ E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis terhadap cerita Kana Inai Abang Nguak dengan menggunakn teori naratologi Propp, diperoleh lima belas fungsi cerita. Fungsi-fungsi yang sudah ditemukan dapat menjadi fungsi baru (formula baru) yang bisa disusun kembali. Berikut penyusunan kembali fungsi baru pada cerita Kana Inai Abang Nguak.
1. Beberapa orang bumi (orang Tua Keliang, orang tua Dabuang dan orang tua Jengkuan) ditawan dan hendak dibunuh di khayangan sebagai kurban persembahan.
2. Lanai dan Inai Abang tidak menikah karena ada beberapa peristiwa yang menghalangi pernikahan mereka. Lanai menikah dengan Dabuang, Inai Abang menikah dengan Apai Abang.
3. Keharmonisan Desa Batu Nantai terganggu karena adanya penangkapan dan penawanan orang tua para pemangku adat.
4. Inai Abang dan warga Desa Batu Nantai mengharapkan keharmonisan kembali.
5. Keliang diselamatkan Inai Abang dan disembunyikan di dalam tempayan.
6. Tokoh Inai Abang bersama Warga Desa bersatu menyusun kekuatan untuk membalas dendam dan menyerang khayangan untuk membebaskan orang bumi yang ditawan.
7. Laja, Lanai, Keliang dan warga Desa Batu Nantai meninggalkan Desa Batu Nantai dan pergi ke khayangan. Dalam perjalan menuju khayangan, mereka dituntun raja burung sehingga tidak tersesat.
8. Laja memanggil pasukan perang seperti hantu dan roh nenek moyang, sedangkan Keliang mendapatkan cincin sakti, bulu landak dan selendang pelangi.
9. Keliang membebaskan orang bumi.
10. Keliang menggunakan benda magis untuk membebaskan orang bumi.
11. Keliang, pasukan Laja dan warga desa Batu Nantai dibimbing oleh raja burung. Untuk mencapai khayangan, mereka menggunakan akar tenggang.
12. Pertempuran terjadi antara tokoh Inai Abang dengan orang khayangan.
13. Keliang dan tokoh Inai Abang lainnya berhasil melepaskan tawanan dan orang khayangan kalah perang. Orang pribumi mengalami kemenangan.
14. Kemalangan dihadapi orang khayangan. Mereka kalah perang dan tawanan mereka berhasil dibebaskan orang bumi dan orang khayangan gagal mempersembahkan orang bumi pada upacara gawai orang khayangan.
15. Tokoh Inai Abang dan Warga Desa Batu Nantai berhasil menyelamatkan orang bumi dari orang khayangan, keharmonisan Desa Bantu Nantai kembali seperti semula karena adanya pemangku adat dan mereka melakukan perjalanan pulang ke bumi.
Dilihat dari fungsi baru yang terbentuk tersebut, fungsi Propp dapat diaplikasikan pada cerita Kana Inai Abang Nguak. Dalam fungsi Propp, pahlawan selalu meninggalkan rumah untuk melakukan pertualangan pemenuhan kebutuhannya, dan pada Kana Inai Abang Nguak, pahlawan meninggalkan rumah karena ingin mengembalikan keharmonisan hidup seluruh warga Desa Batu Nantai. Inai Abang, Dabuang dan Keliang mendapat amanah untuk menjaga warga Desa Batu Nantai.
Pada Kana Inai Abang Nguak terdapat 6 identifikasi pelaku, yakni: (1) The Villain adalah penjahat yang bertarung melawan pahlawan. Penjahat dalam sebuah cerita disebut tokoh antagonis. Tokoh antagonis dalam cerita Kana Inai Abang Nguak yaitu orang-orang khayangan, Kumang Tanan Remayan, dan Lanai Sarak Tengkelai; (2) The donor adalah donor atau pemberi mempersiapkan pahlawan atau memberi pahlawan barang-barang magis tertentu. Donor atau pemberi barang-barang magis kepada pahlawan dalam cerita Kana Inai Abang Nguak yaitu Kumang, seorang gadis yang sangat cantik dan memiliki kesaktian. Kumang memberi Keliang sebuah cincin sakti, bulu landak dan selendang pelangi sebagai alat kebutuhan perang melawan orang khayangan; (3) The magical helper adalah pembantu magis yang berusaha menolong pahlawan ketika dia menghadapi kesulitan. Pembantu magis yaitu para hantu dan roh nenek moyang yang dipanggil oleh Laja untuk membantu dalam berperang. Kehadiran raja burung juga menjadi pembantu magis karena raja burung menuntun perjalanan orang bumi ke khayangan sehingga mereka tidak tersesat; (4) The princess and her father adalah puteri raja dan ayahnya yang memberikan tugas kepada pahlawan, menikah dengan pahlawan. Keliang menikaihi Kumang. Kumang adalah seorang puteri dari pemangku adat, memiliki paras yang sangat cantik dan sakti. Dengan kesaktian selendang pelangi yang dimilikinya, ia dapat mengubah Keliang menjadi seorang pemuda yang gagah dan
Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 124
tampan; (5) The dispatcher adalah pengutus atau tokoh yang mengetahui adanya kekurangan dan menghalangi pahlawan sejati. Tokoh yang berusaha menghalangi pahlawan yaitu orang khayangan, Kumang Tanan Remayan. Ia adalah seorang gadis cantik dan paling sakti di khayangan; dan (6) The hero adalah pahlawan sejati yang memberikan reaksi terhadap donor dan menikahi putri raja. Tokoh protagonis dalam Kana Inai Abang Nguak ialah tokoh Inai Abang, seperti Keliang, Lanai, Jengkuan, Bedai, Laja. Mereka adalah tokoh kana yang berfungsi menyelamatkan dan membebaskan para penjaga kana dari tawanana orang khayangan. Mereka mengembalikan keharmonisan orang bumi kembali seperti semula.
Setelah dianalisis berdasarkan fungsi Propp, Kana Inai Abang Nguak memiliki bentuk skema atau kerangka cerita dengan satu pola yaitu (α) : β γ A a B C ↑ D E F G H I K ↓ (X). Lingkaran tindakan dalam Kana Inai Abang Nguak memiliki empat bagian yaitu (a) lingkaran aksi penjahat meliputi A dan a; (b) lingkaran aksi donor meliputi D dan F;
lingkaran aksi pembantu meliputi G; dan (4) lingkaran aksi pahlawan meliputi B, C, ↑, E, H, I, K, ↓. Selain itu, Kana Inai Abang Nguak memiliki situasi awal (α) yang menceritakan Inai Abang ingin mengabarkan berita kepada semua warga Desa Batu Nantai bahwa keharmonisan orang bumi terganggu dengan penculikan beberapa orang bumi dan cerita ini berakhir dengan bahagia karena para tokoh Inai Abang dan warga desa berhasil melepaskan tawanan (orang bumi) sehingga keharmonisan Desa Batu Nantai kembalai seperti semula, warga hidup damai, tenang dan nyaman. Akhir cerita yang bahagia ditandai dengan lambang X.
Daftar Pustaka
Endraswara, Suwardi. 2009. Metodologi Penelitian Folklore. Yogyakarta: Media Pressindo.
________________. 2013. Metodologi Kritik Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Eriyanto. 2013. Analisis Naratif: Dasar-dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media. Jakarta: Penerbit Kencana.
Hutomo, Suprian Sadi. 1991. Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Sastra Lisan. Surabaya: Penerbit HISKI Komisariat Jawa Timur.
Propp, Vladimir. 1987. Morfologi Cerita Rakyat (diterjemahkan dalam bahasa Melayu oleh Norah Taslim). Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Susanto, Dwi. 2012. Pengantar Teori Sastra: Dasar-Dasar Memahami Fenomena Kesusastraan, Psikologi Sastra, Strukturalisme, Formalisme Rusia, Marxisme, Interpretasi dan Pembaca, Pascastrukturalisme. Yogyakarta:
Caps.
Taum, Yoseph Yapi. 2011. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertasi Contoh Penerapannya.
Yogyakarta: Penerbit Lamalera.
Wellek, Rene & Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
125| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017