Perspektif Jacques Derrida Agustinus Rangga Respati
B. FTMP sebagai Pasar Simbolik
Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 42
Kontestasi Teater Pelajar di Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) Se-NTB 2014
Dharma Satrya HD
Universitas Hamzanwadi Lombok, Mahasiswa Pascasarjana UGM [email protected]
Abstract
This research discusses student’s theaters contestation in the 16th NTB FTMP (modern student theaters festival) 2014.
Research uses Pierre Bourdieu's theory of the field. The analytical method used the method of habitus analysis and structure analysis. The result of this research is FTMP as a symbolic market in which there is a fight to reach the position.
The fight takes place between Teater Putih’s people (active members and alumnus) and who are not Teater Putih (general participants). In the case of the 16th FTMP, the overall champion is achieved by the participants whose trainers are not Teater Putih, but Teater Tereng (SMKN 3 Mataram). Teater Tereng takes over the position of a student theater group whose trainers come from Teater Putih. Teater Tereng took the overall champion position by bringing the realist play, Kursi Ilusi.
Keywords: contestation, FTMP, position A. Pengantar
Teater Putih merupakan komunitas teater yang bernaung di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram NTB, yang dapat dikatakan mapan secara estetik. Sejak awal berdirinya sekitar tahun 1983, Teater Putih memproduksi teater modern. Setiap tahun ia cenderung menampilkan pertunjukan drama-drama modern.
Penguasaannya terhadap estetika teater modern membuatnya membentuk satu program kerja, yaitu Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) se-NTB sejak tahun 1999. Menurut Satrya (2016), FTMP sebagai sebuah strategi mengembangkan kelompok teater pelajar di NTB. Selain itu, FTMP diadakan dalam rangka menciptakan iklim berteater di kalangan pelajar. FTMP hadir sebagai panggung tempat alumni teater putih dan alumni pendidikan bahasa dan sastra mengambil peran sebagai pelatih teater, dan sebagai satu ruang untuk menetapkan satu aturan atau standard estetika berteater (Satrya, 2016b: 307-308). Dalam tulisan yang lain, Satrya menunjukkan posisi dan disposisi teater putih, yaitu sebagai kelompok teater yang dominan. Posisi itu diraih melalui program kerjanya, yaitu pentas tunggal, festival teater, diklat teater pelajar, pentas keliling, dan goes to school (Satrya, 2016a: 453). Teater putih, menurut Satrya (2016a) cenderung mendidik dan melakoni. Disposisi demikian itulah yang membuat teater putih menentukan program kerjanya sebagai teater lembaga. Tulisan ini melihat teater putih dalam perkembangannya dengan fokus pada kasus FTMP ke 16 tahun 2014. Pada FTMP ke-16 ini anggota teater putih mengalami kekalahan dengan naiknya teater tereng menjadi juara umum. Tulisan ini menggunakan teori Pierre Bourdieu tentang arena produksi kultural. Arena dipahami sebagai sebuah struktur. Arena adalah ruang tempat terjadinya pertarungan untuk meraih sebuah posisi (Bourdieu 1993;1996: 231).
Bourdieu mendefinisikan arena sebagai relasi objektif antar posisi. Posisi-posisi di dalam arena ditentukan oleh kepemilikan kapital. Dengan konsep tersebut kontestasi teater pelajar dalam FTMP dapat dipetakan berdasarkan kepemilikan kapital dan habitusnya. Namun, yang paling penting disini adalah kapital kultural dan simbolik. Menurut Bourdieu (1995), habitus adalah sistem disposisi, sekumpulan disposisi, struktur yang distrukturkan, sebagai prinsip genartif dan yang menstrukturkan tindakan. Disposisi, sebagaimana dijelaskan Haryatmoko (2003: 11) adalah “sikap, kecenderungan dalam mempersepsi, merasakan, bertindak, berfikir, yang diinternalisasi oleh individu berkat kondisi objektif eksistensi seseorang.” Dengan konsep tersebut metode analisis dalam penelitian ini adalah metode struktur dan fenomenologis.
Metode penelitian terbagi menjadi dua tahap. Pertama, metode pengumpulan data, dan kedua, metode analisi data. Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu metode observasi partisipan, wawancara, dan metode dokumentasi. Pada metode pertama, peneliti terlibat langsung di dalam sumber data, terlibat tidak secara aktif tetapi secara pasif. Peneliti tidak sebagai panitia pelaksana Festival Teater Modern Pelajar. Pada yang kedua, peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur dengan sumber data, dengan kata lain dilakukan dengan teknik berdiskusi atau dengan mengobrol. Pada yang ketiga, data diperoleh dengan melihat dokumen-dokumen baik data pelatih atau peserta maupun laporan pertanggungjawaban panitia. Data mengenai FTMP sebagai sebuah pasar simbolik adalah posisi-posisi dan modal-modal yang dimiliki agen dalam arena teater. Analisis data dilakukan dengan analisis struktur dan analisis habitus.
43| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017
semacam dominasi pada modal-modal yang tersedia. Pertunjukan gaya realis adalah modal paling penting dalam FTMP dan gaya tersebut menjadi modal bersama. Gaya realis lahir dari proyek modernitas. Pemahaman akan gaya realis sudah lama diproduksi dan direproduksi oleh Teater Putih dari genersi ke generasi. Akibatnya, hampir semua anggota Teater Putih mengilhami gaya itu.
FTMP adalah ruang Teater Putih sendiri yang di dalamnya para anggota aktif dan para alumninya bertarung meraih suatu posisi. Dalam pengertian tertentu, FTMP adalah ruang bagi kelompok teater pelajar untuk menaikkan predikat sekolahnya. Di pasar simbolik, teater pelajar tidak bisa muncul kecuali sebagai barang, tepatnya sebagai simbol yang maknanya berada di luar dirinya, dan fungsinya, yaitu untuk mendukung pelestarian atau peningkatan modal simbolik yang dipegang oleh Teater Putih. Sanggar sekolah seperti Teater DQ (MA Addidul Qoyyim), Teater Odop (SMA 6 Mataram), Teater Smansaga (SMA 1 Gangga) Teater Titi (SMAN 1 Praya Tengah, dan lain-lain hanyalah hadir sebagai penguat eksistesi Teater Putih sebagai teater lembaga. Selama ini, kelompok teater di sekolah muncul hanya jika untuk mengikuti festival. Artinya, dibuatnya kelompok teater hanyalah untuk mengikuti festival. Dengan tujuan untuk mengikuti festival, maka sekolah mendukung dan memfasilitasi siswa untuk mendirikan kelompok teater dengan alasan sebagai sebuah pembelajaran. Dalam konteks demikian, maka eksistensi teater pelajar, dapat dimaknai sebagai penguat modal simbolik penyelenggara. Pada aspek yang lain seperti yang disebutkan di atas, muncul sebagai pelestarian modal simbolik Teater Putih sebagai pelopor dan bahkan penggerak teater di NTB. Adanya konsep itu tidaklah muncul secara tiba-tiba, namun terkonstruksi dengan baik. Anggota Teater Putih yang menjadi pelatih memiliki tanggung jawab melatih teater sebagai akibat ia memiliki modal berteater dan karena ia bergerak di dalam dunia pendidikan, seperti yang dialami oleh Wawan Irawan (pelatih Teater DQ) dan Mutia (pelatih SMAN 1 Mataram). Begitu juga dengan yang di alami oleh Mulyadi yang menjadi pelatih SMAN 6 Mataram dan SMAN 1 Gangga; Noviastuti Ade Katutari yang menjadi pelatih SMAN 1 Narmada; Sahirul Alim pelatih SMAN 1 Praya Tengah. Sikap demikian membuat modal simbolik Teater Putih mangalami peningkatan, yaitu pencipta iklim berteater. Sejak Teater Putih melaksanakan festival, teater pelajar atau sanggar sekolah mulai bermunculan. Tidak menutup kemungkinan akan menjamur sanggar sekolah dikemudian hari melebihi jumlah sanggar yang ikut di festival yang ke-16. Dengan sikap itu juga, Teater Putih menjadi penggerak teater di NTB, khsusnya di Lombok. Status-status itulah yang oleh Bourdieu (1998) disebut sebagai modal simbolik yang secara kontinu dipeliahara dan ditingkatkan.
Bourdieu (1998) menjelaskan pentingnya status-status itu yang dapat dilihat pada logika ekonomi pertukaran simbolik dan di dalam konstruksi sosial relasi-relasi kekerabatan, relasi dominasi dalam sesuatu yang relasional. Relasi- relasi itu yang membuat sanggar sekolah sebagai barang pertukaran. Barang pertukaran itu ditentukan harganya lewat kepentingan-kepentingan yang mendominasi. Ada relasi antara pelajar dan pengajar atau pelatih. Pelatih atau pengajar dilahirkan oleh dunia pendidikan. Teater Putih ialah orang-orang yang secara akademis dipersiapkan menjadi pengajar atau pelatih. Sadar atau tidak posisi itu menjadi sebuh peluang angota teater putih atau alumni Teater Putih ada dalam dan atau menjadi bagian dari relasi itu. Enam belas sanggar digerakkan oleh anggota Teater Putih baik yang aktif maupun yang alumni dan sisanya adalah pengajar alumni FKIP Universitas Mataram.
Relasi itu berhubungan langsung dengan juri yang didominasi teater putih. Juri adalah penentu atas modal yang akan diberikan kepada peserta. Modal simbolik adalah semua bentuk pengakuan oleh kelompok baik secara institusional atau tidak (Haryatmoko, 2010: 7). Teater Putih memberikan sebelas kategori legitimasi modal dalam FTMP, yaitu penyaji terbaik (I, II, III), sutradara terbaik, aktor terbaik, aktris terbaik, penata artistik terbaik, penata musik terbaik, aktor pembantu terbaik, aktris pembantu terbaik, dan pendatang terbaru terbaik. Pemenang FTMP ke-16 adalah Teater Tereng (SMKN 3 Mataram) sebagai penyaji terbaik satu, Man Selong sebagai penyaji terbaik dua, dan SMAN 1 Dompu sebagai penyaji terbaik tiga.
Di dalam pasar simbolik tersebut Teater Tereng (SMKN 3 Mataram) lebih banyak mendapatkan keuntungan, yaitu lima kategori penilaian. Kelima kategori itu adalah penyaji terbaik, sutradara terbaik, aktor terbaik, aktris terbaik, dan penata musik terbaik. Pencapaian itu menunjukkan bahwa kualitas pentasnya sangat baik diantara peserta yang lain. Dalam sejarahnya, Teater Tereng tidak pernah menjadi juara umum, sejak ia ia berdiri dan pada usianya yang ketujuh tahun ia mencapai puncak pada FTMP ke16. Sejak 2007 sampai 2013, juara umum selalu diraih oleh orang-orang teater putih baik oleh anggota aktifnya maupun alumninya. Kenyataan itu memperlihatkan suatu perubahan atau pergeseran posisi dalam pasar simbolik itu.
FTMP menjadi ruang bertarung meraih sebuh posisi. Pertarungan itu terjadi antar kelompok teater pelajar.
Kalau melihat lebih mendalam, sebenarnya pertarungan itu terjadi bukan antara pelajar dengan pelajar, tetapi antara orang Teater Putih sendiri dan yang bukan Teater Putih. Teater putih dalam keanggotaannya terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu orang Teater Putih yang masih menjadi mahasiswa dan yang sudah menjadi alumni. Peserta FTMP yang berjumlah 38 diantaranya 19 anggota Teater Putih dan sisanya tentunya selain Teater Putih. Para peserta festival dilihat dari penggeraknya dapat diklasfikasikan dalam beberapa kategori. Pertama, peserta dengan pelatih anggota Teater Putih. Kedua, peserta dengan pelatih alumni Teater Putih. Ketiga, peserta dengan pelatih alumni FKIP Universitas Mataram. Keempat, peserta dengan pelatih kalangan umum. Kalau pertarungan dimenangkan oleh selain orang Teater Putih, baik anggotanya maupun alumni, berdampak pada sebuah penilaian bahwa Teater Putih hanyalah organisasi penyelenggara. Pada kasus festival ini kualitas Teater Putih mengalami penurunan.
Tabel 1. Data Peserta FTMP Ke-16
No Nama Sekolah Nama Sanggar Pelatih
1. SMAN 1 Pringgarata T. S. Insting Bukan TP
2. MA NW Kotaraja T. Azma TP Anggota
3. SMA Islam AL-Azhar T. Kayangan Bukan TP
Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 44
No Nama Sekolah Nama Sanggar Pelatih
4. SMA 1 Praya T. Sapa Bukan TP
5. MA NW Selebung T. Mapan Bukan TP
6. SMAN 1 Mataram T. Smansa TP Anggota
7. SMKN 1 Praya T. Saka TP Alumni
8. SMA 4 Mataram T. Piss Bukan TP
9. SMAN 1 Praya Tengah T. Titi TP Alumni
10. SMKN 1 Selong T. Pelangi Bukan TP
11. SMAN 1 Labu Api T. Smanela TP Alumni
12. SMAN 7 Mataram T. Smanju TP Alumni
13. SMAN 2 Narmada T. Snada TP Alumni
14. SMAN 6 Mataram T. Odop TP Alumni
15. MA Addinul Qoyyim T. DQ TP Anggota
16. MA NW Blencong T. Raudatushibian Bukan TP
17. MAN 2 Mataram T. Mata TP Anggota
18. SMA Hangtuah T. Tiga Hati TP Alumni
19. SMKN 2 Praya Tengah T. Datu Bukan TP
20. SMAN 1 Batukliang T. Simba TP Alumni
21. SMKN 3 Mataram T. Tereng Bukan TP
22. MAN 1 Selong T. Embrio Bukan TP
23. SMAK Kesuma Mataram T. Zet-Zet TP Anggota
24. SMKN 1 Praya T. Akar Bukan TP
25. SMAN 1 Narmada T. Sinar TP Alumni
26. SMAN 1 Gangga T. Bintang
Smansaga TP Alumni
27. SMAN 1 Pringgasela T. Songket Merah Bukan TP
28. MAN 1 Praya T. Detak TP Alumni
29. SMAN 2 Mataram T. SBP Bukan TP
30. MA NS Wanasaba T. As-Shufi TP Anggota
31. SMKN 1 Tanjung T. Kumara Ghita Bukan TP
32. MAN 2 Kota Bima T. Kayu Bukan TP
33. SMKN PP Kota Bima T. Negeriku Bukan TP 34. MAN Kandai 2 Dompu T. Plastik Bukan TP 35. MA NW Anjani T. Cahaya Putih
Abu-Abu Bukan TP
36. SMAN 1 Dompu T. Bestra TP Alumni
37. SMAN 1 Taliwang T. Air Bukan TP
38. SMAN 1 Empang T. O Bukan TP
Tabel di atas menunjukkan bahwa peserta FTMP dapat diklasifikasi ke dalam dua kategori, yaitu peserta dengan pelatih dari Teater Putih dan selain Teater Putih. Pelatih yang berasal dari Teater Putih terdapat 18 kelompok yang terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu alumni dan anggota aktif Teater Putih. Pelatih yang selain Teater Putih terdapat pada 20 kelompok teater. Kalau dibuat prosentasenya, maka 47% peserta dilatih oleh orang Teater Putih dan 53% dilatih oleh selain Teater Putih. Artinya, data demikian tidak menunjukkan bahwa teater putih dominan secara kuantitatif. Secara
45| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017
kuantitaif, dominasi Teater Putih tidak dapat dilihat secara langsung. Secara kualitatif upaya dalam mengembangkan jumlah peserta dapat dilihat pergerakan Teater Putih, misalnya saja, yang diakukan oleh Mulyadi. Ia melatih dalam dua kelompok yaitu SMAN 1 Gangga dan SMAN 6 Mataram. Seperti juga yang dilakukan oleh Muh. Zakir yang melatih dua kelompok teater, yaitu SMAN 7 Mataram dan SMA Hangtuah Mataram. Upaya yang dilakukan Zakir bukanlah semata-mata ikut untuk mendapatkan juara, tapi untuk meramaikan FTMP. Ada persoalan tanggung jawab sebagai pelaku dan pecinta teater, itulah yang menyebabkan kenapa anggota Teater Putih juga turun langsung untuk melatih kelompok teater pelajar. Diantara 38 kelompok teater pelajar itu, 6 kelompok teater itu, yaitu MA Kotaraja, SMAN 1 Mataram, MA Addinul Qoyyim, MAN 2 Mataram, SMAK Kesuma Mataram, dan MA NS Wanasaba digerakkan oleh anggota Teater Putih. Kenyataan demikian menunjukkan bahwa Teater Putih dengan program FTMP secara tidak langsung menyediakan ruang pekerjaan bagi para anggota dan alumninya (Satrya, 2016b), bahkan membukakan sebuah ruang lain, sebagai sebuah jalan mengabdi sebagai para calon guru, yang secara legitimasi formal adalah orang-orang yang akan dicetak sebagi guru.
Menjadi pelatih membuka peluang masuk untuk menjadi guru di sekolah-sekolah, dan atau sebaliknya, menjadi guru lebih dahulu kemudian mengembangkan karir dengan menjadi pelatih teater. Contoh kasus, ketika Mulyadi (alumni TP) pernah membawa SMAN 7 Mataram menjadi juara umum FTMP, ia memiliki nilai tawar yang tinggi sehingga membuka peluang untuk melatih ditempat lain. Begitu juga yang terjadi pada Wawan Irawan (MA Addinul Qoyyim) dan Helmi Bahtiar (SMAK Kesuma Mataram) yang juga pernah membawa siswa-siswa yang dilatihnya menjadi juara. Mereka yang pernah juara FTMP adalah mereka yang dilatih oleh orang-orang Teater Putih, baik oleh anggota maupun oleh alumni.
FTMP ke-16 dimenangkan oleh teater tereng, kelompok teater yang pelatihnya bukan anggota atau alumni Teater Putih, tetapi dari sekolah itu sendiri yang sudah menjadi alumni. Penghargaan penyaji kedua diraih oleh MAN Selong yang pelatihnya adalah alumni Bahasa Sastra dan Indonesia (Bastrindo) FKIP Universitas Mataram. Teater Putih dalam prosesnya identik dengan mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia (bastrindo), karena hampir semua anggota Teater Putih ialah orang-orang Bastrindo. Teater Putih dengan Bastrindo adalah saudara kembar. Dikatakan demikian, karena dalam perkualiahan drama dan teater, baik teori maupun praktik, diampu oleh orang-orang Teater Putih, sehingga bisa dikatakan bahwa keduanya adalah seperguruan. Kalau ada yang bertanya siapa sebenarnya Teater Putih, maka jawaban yang paling tepat adalah mahasiswa (atau alumni) bastrindo, dan siapa sebenarnya Bastrindo, jawabannya adalah orang-orang dididik oleh Teater Putih. Sekolah-sekolah yang pelatihnya orang bastrindo yaitu SMA 1 Empang dan MA Syaikh Zaenuddin NW Anjani. Pelatih-pelatih dari sekolah-sekolah yang lain dan yang merupakan pendatang baru masih belum jelas identitasnya atau latar belakang pendidikan teaternya. Diantara 38 sanggar, ada satu sanggar yang pelatihnya berasal dari Teater Sasentra Universitas Muhammadiah Mataram. Lima tahun ke belakang, FTMP dikuasai oleh orang-orang Teater Putih. Tahun 2009, juara umum diraih oleh Teater Titi (SMAN 1 Praya Tengah); 2010, juara umum diraih oleh Teater Tujuh (SMAN 7 Mataram); 2011, juara umum diraih Teater DQ (MA Addinul Qoyyim); 2012, juara umum diraih oleh Teater Mekar Kusuma (SMAK Kesuma Mataram); 2013, juara umum diraih oleh Teater DQ; 2014, juara umum diraih oleh Teater Tereng (SMKN 3 Mataram) (Satrya, 2016b: 309). Prosentase kemenangan dalam pertarungan ini lebih sering dimenangkan oleh Teater Putiht. Oleh karena itu, lima tahun terakhir posisi teater putih masih mendominasi FTMP.
FTMP adalah sebuah strategi dominasi Teater Putih dalam menetapkan estetika berteater di NTB. Lebih dari itu, menjadi sebuah alat hegemoni masyarakat tentang cara berteater, khususnya masyarakat pelajar. Dominasi itu dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, pendekatan terhadap para alumni yang menjadi guru di sekolah. Kedua, pendekatan pada selain alumni, yaitu orang yang pernah belajar teater di FKIP Universitas Mataram dan orang yang belajar pada universitas lain. Ketiga, Diklat teater modern pelajar. Pada yang pertama, alumni menjadi strategi dominasi pada jumlah peserta dan tingkatan kualitas. Jumlah peserta dari tahun ke tahun diperbanyak dan diperluas oleh para alumni Teater Putih. Alumni yang keluar secara keanggotaan (anggota aktif) membuat kelompok teater di sekolah tempatnya mengajar dan kemudian menjadi peserta festival. Selain itu, bukan saja menjadi peserta tetapi juga menjadi juri, seperti Imam Safwan, Yusron Hadi, M. Fadhlillah, dan Usup. Bukan berarti sepenuhnya juri dari Teater Putih, satu posisi diberikan kepada seniman taman budaya atau praktisi seni secara umum. Hal itu dilakukan sebagai upaya menghindari anggapan bahwa penilaian dalam festival sepenuhnya dalam perspektif Teater Putih. Perkembangan jumlah peserta sejak 2009 sampai 2013 mengalami peningkatan jumlah, yaitu dari 22 kelompok teater menjadi 30 kelompok (Satrya, 2016b: 307). Perkembangan jumlah itu diulas lebih detail dalam tulisan strategi Teater Putih dalam mengembangkan jumlah teater pelajar di NTB.
Pada tahun 2014, terjadi penambahan jumlah kelompok teater yaitu dari 30 menjadi 38 kelompok teater pelajar. Kalau dicermati, pendatang baru pada FTMP 2014 berjumlah 14 sanggar, artinya ada 6 kelompok teater yang tidak ikut FTMP ke 16. Keempat belasnya yaitu SMA Islam Al-Azhar, MA PA Nusantara, MA NW Selebung, MA Raudatussibyan NW Blencong, SMAN 1 Batukliang, MAN Selong, SMA 1 Gangga, SMAN 2 Narmada, SMAN 1 Pringgasela, MA NS Wanasaba, SMKN PP Kota Bima, MAN Kandai Dompu, MA Syaikh Zainuddin, SMAN 1 Taliwang, SMAN 1 Empang, dan SMKN 1 Tanjung. Penambahan jumlah peserta berasal dari daerah Lombok bagian tengah dan timur, sedangkan jumlah peserta dari Mataram dan Lombok Barat konstan. Sadar atau tidak, pergerakan FTMP bergerak meluas ke timur.
Pergerakan itu secara tidak langsung menjadi sebuah upaya Teater Putih memperluas jangkauan. Sebagai sebuah teater lembaga, Teater Putih setiap tahunnya menerima dan meluluskan anggota. Setiap lulusan, yang kemudian disebut alumni keluar membawa sebuah tanggung jawab bahwa teater harus selalu ada dan diadakan, dimunculkan. Selain masalah tuntutan kerja, membuat kelompok teater pelajar atau komunitas teater adalah bagian dari tanggung jawab teater putih sebagai agen agen teater yang pernah mengenyam ilmu teater baik secara formal maupun tidak.