• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menjembatani Pembelajaran Puisi dengan Pengembangan Kemampuan Mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

Maria Vincentia Eka Mulatsih Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

[email protected] Abstrak

Artikel ini membahas pentingnya pembelajaran puisi sebagai bagian dari karya sastra yang akhir-akhir ini cenderung disingkirkan semenjak dikeluarkannya peraturan Kemenristek no. 15 tahun 2017. Karya sastra puisi secara dinamis dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan mengajar mahasiswa khususnya dalam hal kemampuan membagikan pengetahuan yang telah diperoleh. Beragam penerapan di dalam dua kelas mata kuliah puisi semester genap tahun 2017 diulas, disertai dengan tanggapan mahasiswa atas beragam kegiatan pembelajaran puisi bagi pengembangan kemampuan mengajar mahasiswa tersebut. Data diperoleh melalui pencatatan hasil observasi dan rekapitulasi hasil pengisian questionnaire. Berdasarkan analisis data, terdapat dua hal penting sebagai temuan, yakni: beragam penerapan pembelajaran puisi dapat menjadi jembatan antara bidang sastra dan bidang pendidikan; mahasiswa menyetujui bahwa penerapan pembelajaran puisi di dalam kelas dapat mengembangkan kemampuan mengajar mereka. Hal ini dibuktikan dengan total raihan 3.16 dari skala Likert 4. Menilik dua temuan tersebut, penulis menekankan pembelajaran karya sastra di dalam kelas tidak seharusnya dinomorduakan mengingat sifat dinamis yang dimiliki beragam karya sastra.

Pembelajaran karya sastra dapat menjangkau banyak segi kehidupan dan memberi manfaat bagi keberlangsungan kemanusiaan dari segi manapun.

Kata kunci: penerapan pembelajaran puisi, pengembangan kemampuan mengajar, tanggapan mahasiswa.

A. Pengantar

Puisi sebagai bagian dari karya sastra tidak dapat begitu saja dipisahkan dari pendidikan. Benton (1999) menyebutkan pentingnya pendidikan puisi bagi siswa pada sekolah tingkat menengah terkait nilai moral yang didapat dari pembelajaran puisi. Beberapa peneliti juga memiliki pendapat yang senada dengan Benton terkait nilai moral dalam puisi (Gilligan 1990, Harrison 1994, Kook 1978). Tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra mengedukasi penikmat yang membaca atau menikmatinya. Mahasiswa tidak hanya akan mendapat nilai moral dari pembelajaran puisi namun juga dapat menginspirasi mahasiswa lain dengan menyuguhkan kreatifitas masing-masing. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Puisi ini belajar bagaimana mengemas pengajaran dengan menarik bagi siswa masa depan terkait kecintaan akan puisi.

Pembelajaran mata kuliah Puisi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan mengajar mahasiswa. Terkait dengan pernyataan “learning by doing”, mahasiswa diharapkan memahami teori poetry dahulu, menulis interpretasinya pada pertengahan semester pertama. Kemudian, pertengahan semester berikutnya mahasiswa menerapkan teori yang didapat dalam presentasi pengajaran yang menarik untuk menggugah minat mahasiswa lain yang berperan sebagai siswa.

Maka, pengimplementasian pengajaran dalam mata kuliah poetry ini tidak hanya dalam hal penguasaan teori namun pengembangan kemampuan mengajar.

B. Penerapan Pengajaran dalam Dua Kelas Puisi

Sebagai calon guru, mahasiswa diberi kesempatan untuk mulai melakukan pengajaran dalam ruang lingkup kelas.

Pengajaran yang dimaksud, sesuai dengan definisi Smith (2015), adalah tindakan spesifik guna membantu murid mempelajari hal baru. Smith juga menyebutkan bahwa pengajaran berkaitan dengan membagikan nilai atau kepercayaan hidup. Senada dengan Smith, Hirst (1975) juga menyebutkan bahwa pengajaran dimaksudkan agar peserta dapat memahami suatu hal. Berdasarkan definisi dari dua ahli tersebut, terdapat dua hal pokok yang mendasari pengajaran:

1) adanya pembelajaran dari peserta didik, 2) adanya kegiatan untuk berbagi pengetahuan. Suatu kegiatan dapat dikategorikan menjadi pengajaran dengan adanya dua hal pokok tersebut. Sehingga, pengajaran dalam dua mata kuliah puisi terkait dengan kemampuan membagikan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa mengenai materi puisi kepada mahasiswa lain sehingga mahasiswa lain dapat mempelajari hal-hal terkait puisi.

Terdapat berbagai cara agar mahasiswa lain dapat belajar materi atau hal yang dibagikan rekannya. Meminjam teori dari Fleming (2012), terdapat empat gaya pembelajaran terkait dengan indra manusia, yakni: dengan melihat, mendengar, membaca atau menulis, dan bergerak. Teori ini juga berhubungan dengan teori Dale (dikutip oleh Dugan:

1955). Dale menyebutkan bahwa ada enam tingkatan dimana pembelajar mampu mengingat suatu hal setelah selang waktu dua minggu; seorang pembelajar umumnya akan mengingat 10% dari seluruh hal yang dipelajari ketika dia membaca, 20% ketika dia mendengar, 30% ketika dia melihat, 50% ketika dia mendengar dan melihat, 70% ketika dia berbicara dan menulis, dan puncaknya 90% ketika dia benar-benar melakukan hal yang berkaitan dengan hal yang dipelajari, misalnya: dengan mepresentasikan pengetahuan yang dimiliki.

Dari pemaparan di atas, mengakomodasi cara belajar dan mempertahankan ingatan akan hal yang dipelajari menjadi penting. Variasi kegiatan dalam kelas seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, melihat dan melakukan gerak tubuh dibutuhkan. Kegiatan tersebut hendaknya secara nyata dilakukan dengan dibungkus sesuai kreatifitas dan kecenderungan masing-masing mahasiswa. Beberapa tindakan nyata diantaranya: presentasi, focus group discussion, permainan, dan dramatisasi. Pemilihan kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa sesuai ketertarikan masing-masing, sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan individu mahasiswa dan menuntut kemandirian serta komitmen pribadi mahasiswa. Hal ini sesuai dengan banyak kajian yang

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 80

mengetengahkan tentang pentingnya ketertarikan peserta didik terhadap peningkatan kualitas pembelajaran ke arah yang lebih baik (Schiefele: 1991, Kember & Kwan: 2002, Ames: 1992, Astin, dkk: 2000).

Pada pertemuan pertama, dosen menyampaikan tujuan mata kuliah puisi dan mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan kegiatan apa saja yang akan dilakukan berdasarkan ketertarikan mahasiswa dan usulan mahasiswa.

Pengenalan konteks mahasiswa terhadap pemahaman puisi juga dilakukan pada pertemuan pertama. Mahasiswa menulis pendapat mereka masing-masing mengenai puisi, apakah mereka menyenanginya atau tidak, dan apa yang diharapkan dari mata kuliah puisi. Mahasiswa juga mulai memilih secara mandiri puisi yang sangat disenanginya untuk dijadikan bahan bagi kegiatan analisis dalam kelas. Bagi mahasiswa yang belum menyenangi puisi, mahasiswa mulai bereksplorasi dengan membuka smartphone untuk mencari puisi yang sesuai dengan ketertarikannya di bidang lain dan cukup mudah dimengerti. Berdasarkan hasil refleksi, sebagian besar mahasiswa belum memahami arti puisi dan tidak memiliki ketertarikan terhadap materi puisi.

Pertemuan kedua hingga ketujuh diisi dengan presentasi mahasiswa yang dibungkus dengan focus group discussion. Mahasiswa belajar mandiri mengenai materi yang akan dipresentasikannya, berdiskusi dalam kelompok untuk membagi tugas, mepresentasikan dan mendapat umpan balik ataupun pertanyaan dari kelompok mahasiswa lain. Ujian tengah pertama merupakan produk tulisan mahasiswa mengenai hasil presentasi dan umpan balik mahasiswa lain yang dikemas dalam satu topik pilihan mahasiswa tersebut. Nilai ujian tengah kedua diambil dari penilaian hasil presentasi dan ujian akhir merupakan proyek pilihan pengaplikasian materi puisi dalam pengajaran.

Menjelang pertemuan akhir, yakni pertemuan keempat belas, mahasiswa secara mandiri membahas bersama anggota kelompok, berlatih dan mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan. Kelas E menyepakati dari awal pertemuan akan mengadakan poetry performance. Kelas ini dibagi menjadi dua kelompok besar, sesuai pilihan mahasiswa yang masing-masing kelompok bekerjasama dengan baik. Mahasiswa dalam kelas E menunjukkan kreatifitas dengan menggabungkan pembacaan puisi dengan dramatisasi, musikalisasi, tema generasi muda bahkan kebangsaan.

Kelas B terbagi dalam enam kelompok yang bergulat dengan bagaimana materi puisi ditampilkan di dalam kelas sehingga peserta didik tergugah untuk mengethaui lebih lanjut. Beberapa diantaranya menggunakan permainan semacam talk show, dua kelompok lain berbentuk dramatisasi dan pantomime.

Presentasi, forum group discussion, proyek kreatifitas mahasiswa mengakomodasi keempat jenis gaya pembelajaran dan lebih kepada melakukan sesuatu secara nyata untuk mempertahankan ingatan akan hal yang dipelajari. Mahasiswa dapat berpraktek langsung dalam meningkatkan kemampuan mengajar khususnya dalam kemampuan membagikan pengetahuan kepada mahasiswa lain.

Perkembangan dalam kelas:

- Competence: mahasiswa mulai memahami beberapa pendekatan untuk menganalisis puisi, dapat memiliki interpretasi pribadi yang orisinal, mampu merepresentasikan hasil diskusi kelompok, hasil quiz yang sebagian besar mencapai rata-rata

- Conscience: sebagian besar mahasiswa berusaha untuk mencari waktu berdiskusi empat mata dengan dosen, mahasiswa sadar tidaklah baik tidak menghiraukan teman yang sedang presentasi, mahasiswa bertanggung jawab menjalankan tugas pribadi dalam kelompok dan tugas individu

- Compassion: kebanyakan mahasiswa mulai memperhatikan penjelasan dari teman, bertanya aktif terhadap penjelasan yang diberikan teman

C. Tanggapan Mahasiswa Terhadap Penerapan Pengajaran

Tanggapan mahasiswa atas penerapan pengajaran materi puisi diperoleh melalui dua sumber: hasil pengisian questionnaire pada akhir pertemuan dan hasil pengisian di SIA (Sistem Informasi Akademik) dosen. Beberapa pertanyaan dalam questionnaire mengarah pada pandangan mahasiswa tentang pengajaran dan keterkaitan antara proyek dengan pengajaran. Berikut merupakan tabel hasil questionnaire terkait hasil persetujuan mahasiswa mengenai konsep pengajaran:

Berdasarkan tabel di atas sebagian besar mahasiswa menyetujui bahwa pengajaran berkaitan dengan pembagian pengetahuan. Tidak ada mahasiswa yang sangat tidak menyetujui konsep pengajaran sebagai pembagian pengetahuan; hanya terdapat tiga mahasiswa yang tidak menyetujui konsep tersebut. Sisanya sebanyak 32 mahasiswa sangat menyetujui dan 34 mahasiswa sangat menyetujui konsep pengajaran sebagai pembagian pengetahuan. Untuk konsep kedua mengenai pengajaran sebagai cara penyampaian dalam membagikan pengetahuan, tidak ada mahasiswa

0 10 20 30 40 50

sangat tidak setuju

Tidak setuju Setuju Sangat setuju membagikan pengetahuan

cara menyampaikan dan membagikan pengetahuan

81| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017

yang sangat tidak setuju ataupun tidak setuju. Sebanyak 26 mahasiswa menyetujui konsep ini dan 42 mahasiswa sangat menyetujui konsep ini. Sehingga rerata dari konsep pertama adalah 3.43 dan konsep kedua adalah 3.62. Berdasarkan rerata tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa setuju bahwa pengajaran erat kaitannya dengan pembagian pengetahuan khususnya cara penyampaian dalam membagikan pengetahuan.

Keterkaitan antara proyek-proyek yang dilakukan dalam kelas dengan pengajaran dituangkan dalam dua hal yakni jalinan proyek dengan tema pengajaran dan jalinan proyek dengan peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa.

Hasil persetujuan mahasiswa tertuang dalam tabel di bawah ini:

3. Proyek dalam kelas berkaitan dengan tema pengajaran 0 3 47 18 3.21 5. Proyek tersebut meningkatkan kemampuan mengajar saya 0 5 47 16 3.16

Sebanyak 47 mahasiswa sepakat bahwa proyek yang dilaksanakan di dalam kelas berkaitan dengan tema pengajaran dan 18 mahasiswa sangat menyetujui hal tersebut; hanya ada tiga mahasiswa yang tidak menyetujuinya.

Berdasarkan data di atas, rerata perolehan dari hasil pertanyaan ini adalah 3.21. Untuk keterkaitan antara proyek dengan peningkatan kemampuan mengajar, sebanyak 47 mahasiswa setuju dan 16 mahasiswa sangat setuju bahwa proyek yang dilaksanakan di dalam kelas dapat meningkatkan kemampuan mengajar. Lima mahasiswa tidak setuju bahwa proyek yang telah dilaksanakan dapat meningkatkan kemampuan mengajar; sehingga diperoleh rerata 3.16. Menilik hasil rerata yang mencapai lebih dari tiga, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa berpendapat bahwa proyek dalam kelas berkaitan dengan tema pengajaran dan dapat meningkatkan kemampuan mengajar mahasiswa.

Pengedepanan kebebasan mahasiswa namun tetap memegang teguh komitmen akan pencapaian tujuan mata kuliah menjadi kunci pokok dalam menjembatani praktek pengajaran dengan materi puisi dalam dua kelas Poetry. Untuk memperteguh hasil ini, berikut merupakan tambahan tanggapan mahasiswa yang diambil dari sia dosen:

Aktifitas seperti presentasi kelompok juga membantu mahasiswa untuk belajar secara kelompok dan dapat memahami materi dengan baik. Dosen juga selalu memberikan feedback dan merangkum apa yang telah dipelajari pada saat itu.

Strategi pembelajaran sudah sangat baik, mahasiswa dapat mengembangkan makna bahkan menganilisis puisi dengan kreatif.

Ujian akhirnya asik, nggak kaya mata kuliah lain. Dosen selalu menanyakan pendapat mahasiswanya ketika ingin menentukan pilihan di kelas.

- Beliau memberikan pilihan kepada mahasiswa untuk menentukan final project. - Beliau sangat ramah dalam melakukan pengajaran kepada mahasiswa. - Beliau sangat mengerti apa yang diinginkan mahasiswanya dengan membatalkan pengumpulan tugas untuk UAS yang mana digantikan dengan pilihan yang diajukan mahasiswa. - Beliau sangat mengapresiasi apa yang telah dikerjakan oleh mahasiswanya. -

Berdasarkan dua jenis data yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di kelas untuk menjembatani materi puisi dengan mengembangkan kemampuan mengajar mahasiswa mengarah pada tanggapan yang bersifat positif. Sebagian besar mahasiswa menyetujui bahwa kegiatan yang telah dilakukan mengarah pada peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam aspek membagikan pengetahuan mengenai puisi yang telah dipelajari secara mandiri.

D. Kesimpulan

Pemberian kepercayaan kepada mahasiswa, memotivasi mahasiswa untuk maju dan menyadarkan mahasiswa bahwa mereka memiliki kemampuan tersebut sangat penting untuk dilakukan sehingga mahasiswa dapat memiliki kepercayaan diri untuk meraih prestasi sesuai dengan kemampuan individu masing-masing. Dengan penerapan Pedagogi Ignasian, mahasiswa diajak untuk lebih merefleksikan kemampuan mereka dan bahwa mereka belajar tidak dengan nol persen pengetahuan akan materi puisi dan kemampuan mengajar.

Proyek dalam kelas berkaitan dengan tema pengajaran Proyek dalam kelas meningkatkan kemampuan mengajar 0

20 40 60

Sangat tidak setuju

Tidak setuju

Setuju Sangat tidak setuju

Proyek dalam kelas berkaitan dengan tema pengajaran Proyek dalam kelas meningkatkan kemampuan mengajar

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017 | 82

Kemampuan mengajar dalam hal ini adalah kemampuan membagikan pengetahuan terhadap mahasiswa lain dapat dicapai dengan adanya tiga faktor: pembebasan materi puisi, kemandirian mahasiswa dalam mempelajari materi, penyesuaian dengan ketertarikan tiap-tiap individu mahasiswa. Pembelajaran karya sastra memiliki banyak fungsi dalam beragam aspek kehidupan, bahkan bagi aspek formal seperti mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam hal pengajaran.

Pemisahan karya sastra dari pembelajaran Bahasa menjadikan pembelajaran tersebut kering. Karya sastra yang bersifat dinamis, orisinil dan memotret realita yang terjadi dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa, juga peningkatan beragam aspek kehidupan; salah satunya untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Hendaknya program studi kependidikan tidak serta merta mengeliminir kajian sastra. Mengingat begitu banyak aspek yang dapat dijamah dengan menyelami suatu karya sastra, terlebih aspek kemanusiaan yang senada dengan Pedagogi Ignasian dalam aspek compassion dan conscience.

Daftar Pustaka

Abrams, M.H. (1993). A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart, and Winston,.

Ames, C. (1992). Classrooms: Goals, structures, and student motivation. Journal of educational psychology, 84(3), 261.

Astin, A. W., Vogelgesang, L. J., Ikeda, E. K., & Yee, J. A. (2000). How service learning affects students.

Barnet, S., Berman, M. and Burto, W. (1994). An Introduction to Literature: Expanded Edition. New York: HarperCollins College Publishers.

Beach, R. (1993). A Teacher's Introduction to Reader-Response Theories. NCTE Teacher's Introduction Series. National Council of Teachers of English, 1111 W. Kenyon Road, Urbana, IL 61801-1096 (Stock No. 50187-0015, $9.95 members; $12.95 non-members).

Benton, P. (1999). Unweaving the rainbow: Poetry teaching in the secondary school I.

Christison, M. A., & Bassano, S. (1995). Expanding student learning styles through poetry. Learning styles in the ESL/EFL classroom, 96-107.

Dugan, J. E. (1955). Audio-Visual Methods in Teaching, Revised Edition, by Edgar Dale. The Dryden Press, 520 pp.

Dymoke, S., & Hughes, J. (2009). Using a poetry wiki: How can the medium support pre-service teachers of English in their professional learning about writing poetry and teaching poetry writing in a digital age?. English Teaching, 8(3), 91.

Fleming, N. (2012). Teaching and learning styles: VARK strategies. Springfield: Neil D Fleming

Gilligan, C. (1990). 23. Remapping the Moral Domain: New Images of the Self in Relationship. Essential papers on the psychology of women, 480.

Harrison, G. L. (1994). Wordsworth's vagrant muse: Poetry, poverty, and power. Wayne State University Press.

Kember, D., & Kwan, K. P. (2002). Lecturers’ approaches to teaching and their relationship to conceptions of good teaching. In Teacher thinking, beliefs and knowledge in higher education (pp. 219-239). Springer Netherlands.

Kennedy, X.J. (1983). Literature. An Introduction to Fiction, Poetry, and Drama. Boston: Little Brown and Co.

Kirszner, L. G. and Stephen R. M. (1991). Literature. Reading, Reacting, Writing. Chicago: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Kook, A. I., & Bokser, B. Z. (1978). Abraham Isaac Kook: The lights of penitence, The moral principles, Lights of holiness, essays, letters, and poems (No. 7). Paulist Press.

Rosenblatt, L. M. (1982). The literary transaction: Evocation and response. Theory into practice, 21(4), 268-277.

Rosenblatt, L. M. (1994). The transactional theory of reading and writing.

Sadler, R.K. and Hayllar, T.A.S. (2005). Poetry for Pleasure. South Yarra: Macmillan Education Australia PTY Ltd.

Schiefele, U. (1991). Interest, learning, and motivation. Educational psychologist, 26(3-4), 299-323.

Timpane, John and Watts, M. with The Poetry Center. (2001). Poetry for Dummies. New York: Wiley Publishing, Inc.

83| Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat USD 2017