BAB IV METODE PENELITIAN
4.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian akan dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
4.7.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan di lakukan pada bulan Desember 2019 – September 2020 di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
4.8 Prosedur Penelitian
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2016):
1. Mengurus ijin kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia Madiun.
2. Mengurus surat pengambilan data awal kepada Kepala Puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
3. Setelah proposal disetujui oleh pembimbing, peneliti mengurus surat pemohonan ijin untuk melaksanakan penelitian kepada Kepala KESBANGPOLINMAS Kabupaten Madiun untuk melakukan penelitian di Desa Geger Kabupaten Madiun.
4. Mengurus surat permohonan ijin melakanakan penelitian kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun.
5. Mengurus surat pemohonan ijin melaksanakan penelitian kepada Kepala puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
6. Peneliti sebelum melakukan door to door ke responden melakukan brifing dengan 5 asisten tentang bagaimana prosedurnya ke responden. Setiap asisten peneliti mendampingi 4 responden.
7. Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan,manfaat dan prosedur dari penelitian ini kepada responden dan apabila bersedia menjadi responden dipersilahkan menandatangani “Informed Consent” yang disediakan,kemudian responden mengisi kuisoner.
8. Setelah kuisoner diisi dan dikumpulkan kepada peneliti, selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data.
4.9 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 4.9.1 Teknik Pengolahan Data
Setelah data diolah dan dikelompokkan sesuai dengan langkah- langkah berikut:
1. Editing
Editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian lembar formulir atau kuisoner (Notoatmodjo, 2012)
a. Apakah semua jawaban kuisoner sudah terisi lengkap
b. Apakah jawaban atau tulisan dari masing-masing pertanyaan cukup jelas dan dapat dibaca.
c. Apakah jawabannya relevan dengan pertanyaan
d. Apakah jawaban-jawaban dari pertanyaan konsisten dengan jawaban dari pertanyaan yang lainnya.
2. Coding
Setelah data di edit selanjutnya dilakukan peng “kode” an atau
“coding” yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2012)
a. Data Demografi 1) Jenis Kelamin
laki-laki : diberi kode 1
Perempuan : diberi kode 2
2) Usia
Remaja Akhir (17 - 25 tahun) : diberi kode 1
Dewasa Awal ( 16 - 35 tahun) : diberi kode 2 Dewasa Akhir (36 - 45 tahun) : diberi kode 3 Lansia Awal (46 - 55 tahun) : diberi kode 4 Lansia Akhir (56 - 65 tahun) : diberi kode 5 3) Pendidikan terakhir
SD : diberi kode 1
SMP : diberi kode 2
SMA : diberi kode 3
Perguruan Tinggi : diberi kode 4
4) Pekerjaan
PNS : diberi kode 1
Swasta : diberi kode 2
Wiraswasta : diberi kode 3
Buruh tani : diberi kode 4
Lain-lain : diberi kode 5
5) Status Hubungan keluarga dengan orang gangguan jiwa
Anak : diberi kode 1
Orang Tua : diberi kode 2
Suami/Istri : diberi kode 3
Saudara yang tinggal satu rumah : diberi kode 4 6) Suku
Jawa : diberi kode 1
Sunda : diberi kode 2
Batak : diberi kode 3
Madura : diberi kode 4
Lain-Lain : diberi kode 5
b. Variabel Dukungan keluarga
Kurang : diberi kode 1
Cukup : diberi kode 2
Baik : diberi kode 3
c. Variabel Kekambuhan 1 = Ya 2 = Tidak 3. Scoring
Scoring yaitu penilaian data dengan memberikan skor pada pertanyaan yang terkait dengan tindakan responden. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan bobot pada masing-masing jawaban, sehingga mempermudah penghitungan (Nazir, 2011).
Dukungan Keluarga:
Tidak Pernah : 1
Kadang : 2
Sering : 3
Selalu : 4
Untuk menentukan kategori dukungan keluarga menggunakan rumus Azwar (2011) yaitu :
Xmax = 5 Xmin = 1
( )
( ) Lmax = 18 x 4 = 72 Lmin = 18 x 1 = 18
Standar Deviasi =
( ) ( ) Baik = x (M + 1.SD) x (54 + 1.9) x 63
Cukup = (M - 1.SD) x < (M + 1.SD) (54 - 1.9) x < (54 + 1.9) 45 x < 63
Kurang = x < (M - 1.SD) x (54 - 1.9) x < 45
Jadi, kesimpulannya mengenai kategori dukungan keluarga adalah sebagai berikut :
Baik = x 63
Cukup = 45 x < 63
Kurang = x < 45 Kekambuhan
Tidak kambuh : 0
Kambuh : 1 kali, 2 kali ,3 kali, 4 kali, 5 kali, 6 kali, 7 kali, 8 kali,9 kali 10 kali dst...
4. Data entry
Data yang dalam bentuk angka atau huruf dimasukkan ke dalam program software computer. Dalam proses ini peneliti dituntut ketelitian dari orang yang melakukan entry data ini. Apabila tidak maka terjadi bias, meskipun hanya memasukkan data.
5. Tabulating
Tabulating adalah kegiatan memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka ,sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori (Nazir, 2011).
4.9.2 Teknik Analisis Data 1. Analisa Univariat
Analisa Univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012) analisa univariat atau variabel yang akan dia analisis dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan dukungan keluarga dalam mencegah kekambuhan pada pasien skizofrenia.
Penyajian yang ada dalam penelitian ini dalam bentuk distribusi seperti: jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status hubungan
keluarga dengan pasien, suku dan variabel penelitian dukungan keluarga dan kekambuhan pada pasien skizofrenia.
2. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat yaitu analisa yang dilakukan peneliti untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan terikat dengan menggunakan uji Chi-Square. Dalam penelitian ini analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dalam mencegah kekambuhan pada pasien skizofrenia.
Pedoman signifikansi memakai panduan sebagai berikut : Bila ρ-value
< α (0,05), maka signifikansi ada hubungan.
4.10 Etika Penelitian
1. Informed Concent (Lembar persetujuan responden)
sebelum melakukan penelitian ,responden akan diberikan lembar persetujuan atau Informed Concent Tujuannya adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, serta manfaat penelitian. Jika subjek bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan.
2. Anonimity (Tanpa nama)
Dalam menjaga kerahasiaan responden,peneliti tidak akan mencabtumkan nama responden pada lembar pengumpulan data tetapi dalambentuk kode masing-masing lembar tersebut.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Peneliti menjaga rahasia identitas penelitian dengan tidak menyantumkan nama (cukup dengan kode responden) pada setiap
kuisoner. Peneliti menjaga rahasia data penelitian dengan menyimpan pada file/komputer pribadi yang tidak mungkin diakses orang lain.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun. Desa Banaran, Desa Klorogan, Desa Sumberrejo, Desa Jatisari, Desa Uteran, Desa Patogan, Desa Purworejo, Desa Slambur, Desa Geger, dan Desa Sareng masuk pada wilayah Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Desa-desa tersebut masih memiliki lingkungan yang baik.
5.2. Penyajian Karakteristik Data Umum
5.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Umur Frekuensi
(f)
Presentase (%)
Rata- Rata Max Min
1. 17 – 25 tahun 13 13,26 25 17
2. 26 – 35 tahun 21 21,43 35 26
3. 36 – 45 tahun 17 17,35 45 36
4. 46 – 55 tahun 23 23,47 55 46
5. 56 – 65 tahun 18 18,37 65 56
6. > 66 tahun 6 6,12 70 66
Total 98 100 50 Tahun
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa sebagain besar berusia 46 – 55 tahun sebanyak 23,47% dan sebagian kecil berusia >66 tahun sebanyak 6,12%.
5.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Suku
Tabel 5.2 Distirbusi Frekuensi Berdasarkan Suku Responden di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Suku Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Jawa 98 98
2. Sunda 0 0
3. Batak 0 0
4. Madura 0 0
5. Lain – Lain 0 0
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa semua responden sebanyak 100% memiliki suku dari latar belakang budaya jawa.
5.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.3 Distirbusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden Di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Jenis Kelamin Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Laki-Laki 57 58,16
2. Perempuan 41 41,84
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 58,16%.
5.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 5.4 Distirbusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden Di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Pekerjaan Frekuensi (f) Presentase (%)
1. PNS 5 5,10
2. Swasta 17 17,35
3. Wiraswasta 26 26,53
4. Buru Tani 37 37,75
5. Lain-lain 13 13,27
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar memiliki perkerjaan sebagai buru tani sebanyak 37,75% dan sebagian kecil memiliki pekerjaan swasta sebanyak 5,10%.
5.2.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Terakhir Responden
di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Pendidikan Terakhir Frekuensi (f) Presentase (%)
1. SD 32 32,65
2. SMP 27 27,55
3. SMA 30 30,62
4. Perguruan Tinggi 9 9,18
5. Tidak Sekolah 0 0
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa sebagain besar berpendidikan SD sebanyak 32,65% dan sebagian kecil berpendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 9,18%.
5.2.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Hubungan Keluarga Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Hubungan Keluarga
Responden di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Status Hubungan Frekuensi
(f)
Presentase (%)
1. Anak 20 20.41
2. Orang Tua 33 33.67
3. Suami/Istri 15 15.31
4. Saudara yang tinggal 1 rumah 30 30.61
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar hubungan pasier dengan keluarga adalah orang tua sebanyak 33,67% dan sebagian kecil hubungan pasien dengan keluarga adalah suami/istri sebanyak 15,31%.
5.2.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Rumah Yang Ditempati Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Rumah Yang Ditempati
Responden di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun No Rumah Yang
Ditempati
Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Rumah sendiri 33 33.67
2. Rumah anak 30 30.61
3. Rumah cucu 20 20.41
4. Lain-lain (Kost, Kontrakan, Sewa)
15 15.31
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa sebanyak 33, 67% responden bertempat tinggal rumah sendiri.
5.3. Data Khusus
Setelah mengetahui hasil dari data umum, selanjutnya akan ditampilkan hasil penelitian berdasarkan data khusus yang meliputi:
dukungan keluarga dan kekambuhan pada pasien Skizofrenia dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta tabulasi silang dari variabel independent dan variabel dependent.
5.3.1. Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Tabel 5.8 Dukungan Keluarga Secara umum Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Dukungan Keluarga Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Kurang 48 48,98
2. Cukup 40 40,82
3. Baik 10 10,20
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dari 98 responden
didapatkan 48,98%% dukungan keluarga kurang sedangkan 40,82%
didapatkan dukungan keluarga cukup dan 10,20% untuk dukungan keluarga baik.
Tabel 5.9 Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Dukungan
Keluarga
Dukungan Penilaian
(%) Dukungan Instrumental
(%) Dukungan Informasional
(%) Dukungan Emosi
(%)
Baik 14 14,29 12 12,24 12 12,24 15 15,31
Cukup 41 41,83 44 44.90 40 40,82 43 43,88
Kurang 43 43,88 42 42,86 46 46,94 40 40,81
Total 98 100 98 100 98 100 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.9 dapat diketahui bahwa dari 98 responden untuk dukungan keluarga penilaian pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 14 kategori baik, 41 kategori cukup dan 43 kategori kurang. Kemudian untuk dukungan keluarga instrumental pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 12 kategori baik, 44 kategori cukup dan 42 kategori kurang. Selanjutnya untuk dukungan keluarga informasional pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 12 kategori baik, 40 kategori cukup dan 46 kategori kurang. Dan untuk dukungan keluarga emosi pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 15 kategori baik, 43 kategori cukup dan 40 kategori kurang.
Pada dukungan keluarga didapatkan hasil mayoritas untuk kategori
dukungan emosional dan minoritas untuk kategori dukungan informasional.
5.3.2. Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Tabel 5.10 Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun No Kekambuhan Pada
Pasien Skizofrenia
Frekuensi (f)
Presentase (%)
1. Ya 72 73,47
2. Tidak 26 26,53
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Tabel 5.11 Frekuensi Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Selama 1 Tahun
Kekambuhan Pada
Pasien Skizofrenia Kambuh Tidak Kambuh
Persentase (%)
Jumlah 72 26 100
0 – 10 kali 19 7 26,53
11 – 20 kali 20 5 25,51
21 – 30 kali 3 4 7,14
31 – 40 kali 14 6 20,41
41 – 50 kali 16 4 20,41
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.10 dan 5.11 dapat diketahui bahwa dari 98 responden dengan jumlah kambuh 72 orang dan tidak kambuh 26 orang.
Dimana, dalam rasio 20 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 21 orang yang mengalami kekambuhan dan 11 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak 32,65%. Kemudian untuk rasio 40 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 22 orang yang mengalami kekambuhan dan 10 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak
32,65%. Selanjutnya untuk rasio 50 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 29 orang yang mengalami kekambuhan dan 5 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak 34,70%.
5.3.3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Tabel 5.12 Tabel silang hubungan dukungan keluarga dengan
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Dukungan Keluarga Kekambuhan
Total % P. Value
Kambuh Tidak
Kambuh
F % F %
Kurang 38 52,78 10 38,46 48 48,98 0,037
Cukup 30 41,67 10 38,46 40 40,82
Baik 4 5,55 6 23,08 10 10,20
Total 72 100 26 100 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.12 diatas dilihat dari 98 responden, pasien yang mendapatkan dukungan keluarga kurang sehingga mengakibatkan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 52,78% sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 38,46%. Kemudian untuk dukungan keluarga cukup menunjukan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 41,67%, sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 38,46%. Dan untuk dukungan keluarga baik mengakibatkan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 5,55% sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 23,08%. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga baik sangat berguna untuk menekan tingkat
kekambuhan pada pasien skizofrenia, walaupun masih ada terjadi kekambuhan pada pasien hal ini disebabkan bukan meraka kekurangan dukungan keluarga melainkan banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien salah satunya hal yang paling penting yaitu motivasi dari pribadi pasien, dimana pasien harus memiliki semangat untuk sembuh.
Hasil analisa dengan menggunakan uji chi square dengan program spss versi 20.0 didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar = 0,037 Karena nilai Asymp.Sig < 0,05 maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
5.4. Pembahasan
5.4.1. Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Menurut Friedman (2010) dukungan keluarga merupakan bentuk support system yang diberikan oleh keluarga dalam menghadapi masalah anggota keluarganya. Keluarga merupakan orang yang paling dekat dan tempat yang paling nyaman bagi pasien gangguan jiwa. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap pasien gangguang jiwa. Dukungan keluarga yang di wujudkan dalam bentuk kasih sayang, adanya kepercayaan, kehangatan, perhatian saling mendukung dan menghargai antar keluarga.
Pada kuesioner dukungan keluarga terdapat 4 indikator yang menjadi kajian penelitian yaitu : dukungan penilaian, dukungan instrumental, dukungan informasional dan dukungan emosi.
Dukungan penilaian dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 14 orang, cukup sebanyak 41 orang dan kurang sebanyak 43 orang. Dukungan penilaian pada penilitan menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Hasil sama dengan penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa bahwa dukungan penilaian dari keluarga pasien skozofrenia mayoritas kurang masing-masing dengan hasil 38,6%. Sama hal nya dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan nyata kurang sebanyak 51,2%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan penilaian pada dukungan keluarga sudah menunjukan hasil yang cukup, dimana dukungan penilaian berperan peranting terhadap proses kekambuhan pada pasien.
Dukungan instrumental yang diberikan keluarga secara umum menunjukan dukungan yang kurang. Dukungan instrumental dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 44 orang dan kurang sebanyak 42 orang. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui cukup dalam mendapatkan dukungan instrumental.
Penelititian ini sejalan dengan penelitian Susanti (2019) pada penelitian terhadap 28 responden tentang penilaian kekambuhan pasien skizoprenia dari beberapa aspek dukungan keluarga menunjukkan bahwa dukungan instrumental yang diberikan keluarga untuk mencegah terjadinya kekambuhan pasien masih kurang. Sementara itu penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan instrumental baik sebanyak 73,7%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan instumental pada dukungan keluarga menunjukan hasil yang kurang, hal ini disebabkan karena mayoritas penegtahuan keluarga terhadap kondisi pasien masih minim.
Dukungan informasional pada penelitian ini menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 40 orang dan kurang sebanyak 46 orang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan informasi kurang baik sebesar 51,2%. Sementara penelitian tidak sejalan dengan penelitian
Ratnawati, (2016) terhadap 40 pasien skizofrenia di Puskesmas Kaibon menunjukkan bahwa mayoritas pasien mendapatkan dukungan informasi baik. Jadi, peneliti berpendapat bahwa pada kuesioner dukungan informasi banyak keluarga yang memahami maksud dari setiap kuesioner yang diberikan walaupun masih ada yang tidak memahami maksud dari dukungan informasi terhadap pasien, hal ini disebabkan karena penelitian berlangsung saat pandemic sehingga terdapat aturan dalam berinteraksi dengan responden.
Dukungan emosional berdasarkan rekapitulasi jawaban kuesioner oleh keluarga pasien mayoritas secara umum menunjukkan dukungan yang cukup. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 15 orang, cukup sebanyak 43 orang dan kurang sebanyak 40 orang. Hasil penelitian berbeda dengan penelitian Nasutiaon, dkk (2018) menunjukkan bahwa dari 43 responden diketahui bahwa mayoritas keluarga yang memiliki dukungan emosional kurang baik sebanyak 76,7%.5 Namun hasil berbeda dengan penelitian Susanti, (2019) menunjukkan bahwa dari 126 responden mayoritas memiliki dukungan emosional baik sebanyak 62%. Dukungan Emosional yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti berpendapat bahwa mayoritas hasil rekapitulasi kuesioner kurang, hal ini kemungkinan disebabkan karena
banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien menurun salah satunya adalah keteraturan dalam pengobatan serta motivasi dari diri pasien yang menginginkan sehat dan hidup seperti orang normal lainnya, dalam hal ini peneliti tidak meneliti variabel keteraturan pengobatan dan motivasi dari pasien skizofrenia sehingga hal tersebut mempengaruhi hasil penelitian, oleh karena ini penelitia berharap agar dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai keteraturan pengobatan dan motivasi pasien skizofrenia dengan kekambuhan.
Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya. Anggota keluarga sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya karena hal ini akan membuat individu tersebut merasa dihargai dan anggota keluarga siap memberikan dukungan untuk menyediakan bantuan dan tujuan hidup yang ingin dicapai individu (Marlisa, 2017). Komponen dukungan menurut Kohen dan MC Kay dalam Marlisa (2017) adalah dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan nyata, dan dukungan pengharapan.
Menurut Irma (2015), keluarga merupakan sistem pendukung utama dalam memberi perawatan langsung pada setiap keadaan pasien baik itu sehat maupun sakit. Merupakan suatu kondisi yang umum apabila dalam suatu keluarga memiliki keterbatasan-keterbatasan baik keterbatasan dalam pengetahuan atau informasi tentang penyakit maupun dalam perawatan untuk angota kaluarga yang mengalami masalah gangguan jiwa.
Dukungan keluarga yang tinggi dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga,memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, dan mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Kekacauan dinamika keluarga ini memegang peranan penting dalam menimbulkan kekambuhan. Penderita yang dipulangkan kerumah lebih cenderung kambuh pada tahun berikutnya dibandingkan dengan penderita yang ditempatkan pada lingkungan residensial. Penderita yang paling beresiko untuk kambuh adalah penderita yang berasal dari keluarga dengan suasana permusuhan keluarga yang cemas berlebihan dan terlalu protektif terhadap penderita.
Dukungan keluarga yang tinggi merupakan hal penting dalam proses kesembuhan penyakit seseorang terutama dukungan keluarga. Untuk itu diharapkan keluarga harus memberikan dukungan pada pasien skizofrenia agar bisa sembuh dan tidak mengalami kekambuhan lagi (Febria, 2017).
5.4.2. Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil penelitian menunjukan bahwa kekambuhan pada pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun sebanyak 73,47% sebagian besar terjadi kekambuhan pada pasien Skizofrenia.
Kekambuhan pada pasien Skizofrenia terjadi karena kurang adanya informasi dengan pihak puskesmas. Selain itu diketahui bahwa masih ada pasien yang tidak mau untuk berobat.
Hal ini sejalan dengan penelitian Wijaya (2010) bahwa, semakin sulit atau semakin tidak adanya pelayanan kesehatan yang diterima oleh klien semakin besar kemungkinan untuk seringnya terjadi kekambuhan atau kata lain semakin baik pelayanan kesehatan semakin besar peluangnya dalam mencegah terjadinya kekambuhan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Madrifai (2015), berjudul hubungan peran keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I Klaten yaitu lebih dari separoh klien mengalami kekambuhan sering yaitu sebesar (63%) karena peran keluarga yang rendah semakin sering kekambuhan skizofrenia yang terjadi berarti semakin kurang kepedulian keluarga pada klien dan menimbulkan kerugian bagi keluarga.
Sejalan dengan penelitian Taufik (2014), yang berjudul hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Ghrasia DIY yaitu kekambuhan dengan kategori tinggi yaitu sebesar (43,5%), rata-rata pasien yang mempunyai riwayat skizofrenia lebih sering mengalami kekambuhan dibandingkan dengan pasien gangguan jiwa pada umumnya, karena kekambuhan skizofrenia berpengaruh pada dukungan, peran dan lingkungan keluarga.
Lain hal nya dengan penelitian yang dilakukan Pratama (2015), yang berjudul hubungan keluarga pasien terhadap kekambuhan skizofrenia di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Aceh yaitu dengan kategori kambuh sebesar (50%) dan tidak kambuh sebesar (50%).
5.4.3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil analisa dengan menggunakan uji chi square dengan program spss versi 20.0 didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar = 0,037. Artinya H1 diterima berarti Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyuningrum (2015) berjudul dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang menyatakan bahwa dukungan keluarga berpengaruh pada kekambuhan skizofrenia. Hasil ini diperkuat dengan uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,047. Karena nilai signifikasi yang didapatkan (ρ) < α, maka hipotesis penelitian H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitra (2015), berjudul hubungan antara faktor kepatuhan mengkonsumsi obat dukungan keluarga dan lingkungan masyarakat dengan kekambuhan skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yaitu Hasil analisis Rank Spearman tentang