BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.4 Pembahasan
5.4.1. Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Menurut Friedman (2010) dukungan keluarga merupakan bentuk support system yang diberikan oleh keluarga dalam menghadapi masalah anggota keluarganya. Keluarga merupakan orang yang paling dekat dan tempat yang paling nyaman bagi pasien gangguan jiwa. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap pasien gangguang jiwa. Dukungan keluarga yang di wujudkan dalam bentuk kasih sayang, adanya kepercayaan, kehangatan, perhatian saling mendukung dan menghargai antar keluarga.
Pada kuesioner dukungan keluarga terdapat 4 indikator yang menjadi kajian penelitian yaitu : dukungan penilaian, dukungan instrumental, dukungan informasional dan dukungan emosi.
Dukungan penilaian dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 14 orang, cukup sebanyak 41 orang dan kurang sebanyak 43 orang. Dukungan penilaian pada penilitan menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Hasil sama dengan penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa bahwa dukungan penilaian dari keluarga pasien skozofrenia mayoritas kurang masing-masing dengan hasil 38,6%. Sama hal nya dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan nyata kurang sebanyak 51,2%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan penilaian pada dukungan keluarga sudah menunjukan hasil yang cukup, dimana dukungan penilaian berperan peranting terhadap proses kekambuhan pada pasien.
Dukungan instrumental yang diberikan keluarga secara umum menunjukan dukungan yang kurang. Dukungan instrumental dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 44 orang dan kurang sebanyak 42 orang. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui cukup dalam mendapatkan dukungan instrumental.
Penelititian ini sejalan dengan penelitian Susanti (2019) pada penelitian terhadap 28 responden tentang penilaian kekambuhan pasien skizoprenia dari beberapa aspek dukungan keluarga menunjukkan bahwa dukungan instrumental yang diberikan keluarga untuk mencegah terjadinya kekambuhan pasien masih kurang. Sementara itu penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan instrumental baik sebanyak 73,7%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan instumental pada dukungan keluarga menunjukan hasil yang kurang, hal ini disebabkan karena mayoritas penegtahuan keluarga terhadap kondisi pasien masih minim.
Dukungan informasional pada penelitian ini menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 40 orang dan kurang sebanyak 46 orang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan informasi kurang baik sebesar 51,2%. Sementara penelitian tidak sejalan dengan penelitian
Ratnawati, (2016) terhadap 40 pasien skizofrenia di Puskesmas Kaibon menunjukkan bahwa mayoritas pasien mendapatkan dukungan informasi baik. Jadi, peneliti berpendapat bahwa pada kuesioner dukungan informasi banyak keluarga yang memahami maksud dari setiap kuesioner yang diberikan walaupun masih ada yang tidak memahami maksud dari dukungan informasi terhadap pasien, hal ini disebabkan karena penelitian berlangsung saat pandemic sehingga terdapat aturan dalam berinteraksi dengan responden.
Dukungan emosional berdasarkan rekapitulasi jawaban kuesioner oleh keluarga pasien mayoritas secara umum menunjukkan dukungan yang cukup. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 15 orang, cukup sebanyak 43 orang dan kurang sebanyak 40 orang. Hasil penelitian berbeda dengan penelitian Nasutiaon, dkk (2018) menunjukkan bahwa dari 43 responden diketahui bahwa mayoritas keluarga yang memiliki dukungan emosional kurang baik sebanyak 76,7%.5 Namun hasil berbeda dengan penelitian Susanti, (2019) menunjukkan bahwa dari 126 responden mayoritas memiliki dukungan emosional baik sebanyak 62%. Dukungan Emosional yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti berpendapat bahwa mayoritas hasil rekapitulasi kuesioner kurang, hal ini kemungkinan disebabkan karena
banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien menurun salah satunya adalah keteraturan dalam pengobatan serta motivasi dari diri pasien yang menginginkan sehat dan hidup seperti orang normal lainnya, dalam hal ini peneliti tidak meneliti variabel keteraturan pengobatan dan motivasi dari pasien skizofrenia sehingga hal tersebut mempengaruhi hasil penelitian, oleh karena ini penelitia berharap agar dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai keteraturan pengobatan dan motivasi pasien skizofrenia dengan kekambuhan.
Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya. Anggota keluarga sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya karena hal ini akan membuat individu tersebut merasa dihargai dan anggota keluarga siap memberikan dukungan untuk menyediakan bantuan dan tujuan hidup yang ingin dicapai individu (Marlisa, 2017). Komponen dukungan menurut Kohen dan MC Kay dalam Marlisa (2017) adalah dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan nyata, dan dukungan pengharapan.
Menurut Irma (2015), keluarga merupakan sistem pendukung utama dalam memberi perawatan langsung pada setiap keadaan pasien baik itu sehat maupun sakit. Merupakan suatu kondisi yang umum apabila dalam suatu keluarga memiliki keterbatasan-keterbatasan baik keterbatasan dalam pengetahuan atau informasi tentang penyakit maupun dalam perawatan untuk angota kaluarga yang mengalami masalah gangguan jiwa.
Dukungan keluarga yang tinggi dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga,memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, dan mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Kekacauan dinamika keluarga ini memegang peranan penting dalam menimbulkan kekambuhan. Penderita yang dipulangkan kerumah lebih cenderung kambuh pada tahun berikutnya dibandingkan dengan penderita yang ditempatkan pada lingkungan residensial. Penderita yang paling beresiko untuk kambuh adalah penderita yang berasal dari keluarga dengan suasana permusuhan keluarga yang cemas berlebihan dan terlalu protektif terhadap penderita.
Dukungan keluarga yang tinggi merupakan hal penting dalam proses kesembuhan penyakit seseorang terutama dukungan keluarga. Untuk itu diharapkan keluarga harus memberikan dukungan pada pasien skizofrenia agar bisa sembuh dan tidak mengalami kekambuhan lagi (Febria, 2017).
5.4.2. Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil penelitian menunjukan bahwa kekambuhan pada pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun sebanyak 73,47% sebagian besar terjadi kekambuhan pada pasien Skizofrenia.
Kekambuhan pada pasien Skizofrenia terjadi karena kurang adanya informasi dengan pihak puskesmas. Selain itu diketahui bahwa masih ada pasien yang tidak mau untuk berobat.
Hal ini sejalan dengan penelitian Wijaya (2010) bahwa, semakin sulit atau semakin tidak adanya pelayanan kesehatan yang diterima oleh klien semakin besar kemungkinan untuk seringnya terjadi kekambuhan atau kata lain semakin baik pelayanan kesehatan semakin besar peluangnya dalam mencegah terjadinya kekambuhan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Madrifai (2015), berjudul hubungan peran keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I Klaten yaitu lebih dari separoh klien mengalami kekambuhan sering yaitu sebesar (63%) karena peran keluarga yang rendah semakin sering kekambuhan skizofrenia yang terjadi berarti semakin kurang kepedulian keluarga pada klien dan menimbulkan kerugian bagi keluarga.
Sejalan dengan penelitian Taufik (2014), yang berjudul hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Ghrasia DIY yaitu kekambuhan dengan kategori tinggi yaitu sebesar (43,5%), rata-rata pasien yang mempunyai riwayat skizofrenia lebih sering mengalami kekambuhan dibandingkan dengan pasien gangguan jiwa pada umumnya, karena kekambuhan skizofrenia berpengaruh pada dukungan, peran dan lingkungan keluarga.
Lain hal nya dengan penelitian yang dilakukan Pratama (2015), yang berjudul hubungan keluarga pasien terhadap kekambuhan skizofrenia di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Aceh yaitu dengan kategori kambuh sebesar (50%) dan tidak kambuh sebesar (50%).
5.4.3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil analisa dengan menggunakan uji chi square dengan program spss versi 20.0 didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar = 0,037. Artinya H1 diterima berarti Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyuningrum (2015) berjudul dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang menyatakan bahwa dukungan keluarga berpengaruh pada kekambuhan skizofrenia. Hasil ini diperkuat dengan uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,047. Karena nilai signifikasi yang didapatkan (ρ) < α, maka hipotesis penelitian H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitra (2015), berjudul hubungan antara faktor kepatuhan mengkonsumsi obat dukungan keluarga dan lingkungan masyarakat dengan kekambuhan skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yaitu Hasil analisis Rank Spearman tentang
hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia diperoleh nilai r hitung sebesar -0,346 dengan nilai signifikansi (p-value) 0,000. Analisis uji adalah H0 ditolak karena p-value lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) sehingga disimpulkan terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
Hal ini dijelaskan oleh Taufik (2014), kekambuhan biasanya terjadi karena hal-hal buruk yang menimpa penderita gangguan jiwa, seperti di asingkan oleh keluarganya sendiri.
Dukungan keluarga yang tinggi merupakan hal penting dalam proses kesembuhan penyakit seseorang terutama dukungan keluarga. Untuk itu diharapkan keluarga harus memberikan dukungan pada pasien skizofrenia agar bisa sembuh dan tidak mengalami kekambuhan lagi.
Maka dapat diasumsikan bahwa dukungan keluarga seharusnya diberikan sejak awal pasien masuk rumah sakit jiwa dan setelah pulang ke rumah agar kebutuhan pasien terpenuhi. Sikap positif harus dimiliki oleh keluarga pasien agar kekambuhan pada pasien skizofrenia dapat dicegah.
Keluarga juga perlu memotivasi pasien untuk bertanggung jawab dalam merawat diri dan melakukan aktivitas secara mandiri (Kaplan, dkk 2010).