BAB III METODE PENELITIAN
G. Tahap-tahap Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan empat tahap yaitu:
43 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya, 2012), 330.
a. Tahap Pra Lapangan
Pada tahap ini peneliti menentukan topik atau tema yang akan diangkat kemudian dilanjutkan dengan membuat usulan penelitian yang berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian kepustakaan, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Pada tahap ini peneliti mencari sumber data primer dengan langsung terjun ke lapangan.
c. Tahap Analisa Data
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah menyusun data yang telah diperoleh. Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, penulis melakukan reduksi data (memasukkan data kedalam kategori tema, fokus), melakukan display data (penyajian data ke dalam sejumlah matrik, yang menunjukkan jalinan pengaruh antar faktor di dalam proses peristiwa), kemudian melakukan penarikan kesimpulan dan segera digarap oleh peneliti untuk di analisis ke dalam bentuk laporan penelitian.
d. Tahap Penulisan Laporan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah kegiatan penulisan laporan penelitian yang dibuat sesuai dengan format laporan penulisan skripsi yang berlaku di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember.
BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Obyek Penelitian
1. Sejarah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sabda Ria Nada Yayasan Sabda Ria Nada merupakan sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan islam. Didirikan oleh Haji Hasbiallah, S.Ag. pada 13 juni 1999. Mengusung misi membentuk insan yang beriman sempurna, berilmu luas, beramal sejati, berjiwa ikhlas dengan iman dan taqwa. Yayasan pendidikan islam Sabda Ria Nada terletak di Desa Tlogosari Selatan Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo. Saat ini yayasan Sabda Ria Nada telah menaungi beberapa lembaga pendidikan, diantaranya: PAUD Sabda Ria Nada terdaftar tahun 2006, RA Sabda Ria Nada berdiri tahun 1999 terakreditasi B, MI Sabda Ria Nada berdiri tahun 1999 status terakreditasi B, MTS Sabda Ria Nada berdiri tahun 2005 status terakreditasi B. Yayasan Sabda Ria Nada sangat berkembang pesat dari tahun ketahun dan diterima baik oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya jumlah peserta didik dari tahun ketahun.
Jumlah total peserta didik yang menempuh ilmu di Yayasan Sabda Ria Nada sebanyak 896 orang siswa dan sebagian menetap diasrama sebanyak 180 orang.
Kecamatan Sumbermalang tempat Yayasan Sabda Ria Nada berdiri memiliki potensi pertanian yang cukup baik. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Berada di lereng pegunungan Argopuro membuat lahan pertanian di Kecamatan Sumbermalang cukup subur. Beberapa komuditi yang biasa dikembangkan diantaranya; tembakau, kopi, jagung, padi serta beberapa tanaman tahunan seperti sengon, jati, gamilina, dan mahoni. Keterbatasan akses pasar, dan sebagian besar petani yang masih awam dalam mengelola sumber daya alam, serta tidak berminatnya generasi muda terhadap sektor pertanian menyebabkan potensi pertanian yang cukup baik ini belum bisa termanfaatkan dengan maksimal. Disamping itu, banyak generasi muda yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya.
Sebagai yayasan yang lahir dengan semangat bahu membahu dan kebersamaan dengan masyarakat, yayasan Sabda Ria Nada bermaksud menjawab peluang dan tantangan tersebut. Maka pada tahun ajaran baru 2016 yayasan Sabda Ria Nada bermaksud mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sabda Ria Nada jurusan pertanian bidang keahlian agribisnis dan agroteknologi dengan tujuan menghasilkan putra-putri daerah yang memliki produktivitas serta daya saing untuk mengembangkan potensi daerah. Dengan demikian potensi pertanian dapat termanfaatkan dengan baik ditahun-tahun selanjutnya sehingga
dapat membuka lapangan pekerjaan untuk mengangkat taraf ekonomi masyarakat sekitar.
B. Penyajian Data dan Analisis
Sebagai penjelasan, bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai alat untuk memperoleh data yang berkaitan dan mendukung dalam penelitian ini dan memberi intensifikasi pada metode observasi dan interview. Untuk mendapatkan data yang kualitatif dan berimbang, maka dilakukan juga dengan menggunakan metode dokumentasi.
Setelah mengalami proses peralihan data dengan berbagai metode yang dipakai mulai global hingga sampai data yang fokus, maka secara berurutan akan disajikan data-data yang ada dan mengacu pada fokus penelitian.
1. Implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi, sosial, akademik dan vokasional siswa di SMK Sabda Ria Nada Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo Tahun Pelajaran 2017-2018.
a. Implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi di SMK Sabda Ria Nada Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo.
Mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi, Taufik selaku guru penyuluhan pertanian menjelaskan:
“Sebenarnya dek, dalam mengembangkan kecakapan pribadi siswa itu sendiri. Ada beberapa indikator yang harus dipenuhi oleh siswa sebagai syarat telah mencapai target dan memiliki kemampuan berwirausaha yang baik. Melalui strategi pendidikan kewirausahaan ini siswa diharapkan memiliki arah tujuan hidup yang mandiri, bisa berwirausaha, berani membuka usaha, memperbaiki mindset yang dulunya bercita-cita sebagai pegawai, sekarang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Siswa bisa mengetahui pengelolaan kopi bagaimana, dari proses mensortir kopi, menjemur, dan mengemasnya, jadi kecakapn pribadinya itu betul-betul digembleng. Ada juga dek, harapan jangka panjang dan jangka pendeknya,yakni kalau jangka panjangnya siswa bisa memiliki karakter inovasi dan kreatifitas yang tinggi. Sedangkan jangka pendeknya yakni dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa itu sendiri.”44
Sedangkan menurut Dulla Absori selaku guru prakarya dan kewirausahaan, implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan pada aspek kecakapan pribadi mengatakan:
“Kecakapan pribadi sebagai seorang wirausaha ini sendiri bisa diperoleh melalui proses pembelajaran. Strategi yang digunakan yakni yang sesuai dengan karakteristik siswa, berpusat pada siswa dan tujuan pembelajaran. Kalau keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa sebagai seorang wirausaha atau calon wirausaha yaitu, menanamkan rasa percaya diri, siswa harus memiliki semangat kemandirian, dapat mengambil resiko, berani memulai, memiliki jiwa kreatif dan inovasi yang tinggi serta pantang menyerah. Saya rasa itu yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan pada diri siswa.
Kalau soal keahliannya siswa diajarkan berwirausaha itu melalui kegiatan pengelolaan kopi, dari menjemur, mengemas dan mereka praktikum ini gak cuma-cuma, ya dikasih upah meski gak seberapa”45
Selain itu peneliti juga mewawancarai Waka Kurikulum mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan
44 Taufik, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
45 Dulla absori, Wawancara, Situbondo, 07 Juli 2018.
pribadi di SMK Sabda Ria Nada, Sudaryanti selaku Waka Kurikulum mengatakan:
“Pelaksanaan pendidikan kewirausahaan disini saya rasa sudah berjalan dengan baik. Contohnya siswa tidak hanya diajari bagaimana menghasilkan produk, tetapi bagaimana memasarkannya. Strategi agar menstimulasi semangat siswa melalui pemberian reward bagi siswa yang berhasil menjual produknya. Semisal setiap penjual produk yang dijual siswa mendapatkan laba. Jadi melalui strategi seperti ini kecakapan individu siswa itu bisa dikembangkan sejak dini. Sehingga siswa semangat baik dalam pembelajaran maupun dalam kegiatan kewirausahaan. Dengan harapan siswa dapat memiliki kepercayaan diri, memiliki semangat yang tinggi, dan bisa memiliki jiwa berwirausaha yang baik.”46
Setelah melakukan wawancara terhadap guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sabda Ria Nada, peneliti menghampiri salah satu siswa yang bernama Boby Susilo selaku siswa kelas X , menanyakan terkait dengan implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi, ia mengatakan:
“Kalau disini pak. Mata pelajaran kewirausahaan itu adalah prakarya dan kewirausahaan atau kwu pak. Melalui kegiatan ini kami selain diajari teori juga langsung praktek lapangan pak.
Misalkan mengelola kopi, mengemas kopi sehingga kami yang awalnya hanya dikasih teori saja langsung praktek kami langsung paham. Yang paling penting percaya diri dulu dan banyak belajar pak. Nanti setelah lulus bisa jadi pengusaha kopi kan di Sumbermalang banyak yang punya kebun kopi pak.”47
Dalam kesempatan lain peneliti mewawancarai kepala sekolah mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam
46 Sudaryanti, Wawancara, Situbondo, 31 Mei 2018.
47 Boby Susilo , Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi, Ahmad Muhlisin mengatakan:
“Terkait dengan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dalam mengembangkan kecakapan pribadi siswa, di sekolah ini memang kegiatan belajar mengajarnya, teori praktek seperti itu. Karena kalau soal pengelolaan kopi teori saja tanpa langsung praktek omong kosong. Langsung praktek aja anak-anak kadang masih kaku. Jadi, setiap pembelajaran pasti langsung terjun ke lahan atau ke gudang. Kami dalam setiap kegiatan yang memiliki nilai ekonomi seperti ini kami tidak mempekerjakan siswa secara sukarelawan, jadi kami memberikan upah lah kepada siswa agar mereka termotivasi. Setiap minggunya kami mampu memproduksi puluhan kemasan kopi. ”48
Sedangkan menurut Hasbiallah, mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan, mengatakan:
“Penanaman nilai-nilai PAI di sekolah sudah terlaksana dengan baik, hal ini dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang siswa lakukan seperti sholat berjamaah. Terkait dengan kewirausahaan paling tidak nilai-nilai pendidikan agama Islam itu terealisasikan kedalam kehidupan pribadi siswa sebagai wirausahawan muslim”.49
Berdasarkan hasil observasi peneliti, implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi. Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sabda Ria Nada dalam mengembangkan kecakapan pribadi siswa yaitu pada saat kegiatan belajar mengajar siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan baik dan memiliki nilai tugas diatas rata-rata diberi reward sebagai
48 Ahmad Muhlisin, Wawancara, Situbondo, 04 Juli 2018.
49 Hasbiallah, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
bentuk penghargaan agar siswa termotivasi belajarnya, dan pada saat siswa (sebanyak 10 siswa) melakukan kegiatan menjemur kopi juga diberi upah setiap siswa mendapatkan upah 30 ribu rupiah yang kegiatannya mulai jam 8 pagi sampai jam 12 siang.
Penjemuran kopi disini apabila musim kemarau hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 4 jam dalam sehari dengan panas matahari. Keesokan harinya siswa yang melakukan kegiatan penjemuran kopi diganti dengan siswa lain yang jumlahnya juga sebanyak 10 orang siswa. Siswa yang tidak memiliki jadwal untuk menjemur kopi diajarkan cara memilih kopi yang berkualitas, dalam kegiatan memilih kopi disini siswanya lebih banyak yaitu sebanyak 20 orang siswa. Kopi-kopi yang dipilih itu merupakan kopi yang baru dipanen, proses pemilihannya yaitu kopi yang berwarna merah dipisah dengan kopi yang kulitnya masih berwarna hijau. Begitupula dengan ukuran kopinya, kopi yang berukuran kecil dipisah dengan kopi yang berukuran besar.
Kopi yang kulitnya sudah berwarna merah termasuk kopi yang memiliki kualitas bagus. Proses memilih kopi disini merupakan kegiatan siswa yang hanya duduk melingkar dengan kopi yang sudah ditaruh diatas terpal (alas yang terbuat dari bahan karung dengan ukuran yang lebar). Kopi yang berkualitas tersebut dikemas menjadi produk unggulan yang diberi label “Argopuro Coffee”.50
50 Observasi, Situbondo, 04 Juli 2018.
Proses pengemasan kopi disini ada 2 (dua) cara, yaitu biji kopi yang memiliki kualitas bagus yang sudah kering langsung dikemas dan kopi yang masih diproses menjadi bubuk kopi setelah itu dikemas. Proses pengemasan ini dikerjakan oleh sebanyak 10 orang siswa yang sudah terjadwal setiap harinya. Biji kopi yang memiliki kualitas bagus dikemas dalam plastik kemasan yang sudah diberi label “Argopuro Coffee”. Sedangkan kopi yang akan dikemas menjadi bubuk kopi masih melalui banyak proses, yaitu kopi yang sudah kering masih disangrai dengan mesin pengovenan yang membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan suhu diatas 100 derajat celcius, setelah melalui proses pengovenan kopi tersebut dihaluskan menjadi bubuk kopi dengan memasukkan biji kopi kemesin penggilingan. Proses penggilingan kopi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit/2 kg kopi. Bubuk- bubuk kopi yang sudah digiling didiamkan kurang lebih 5 menit sebelum dikemas kedalam kemasan. Setiap minggunya mampu memproduksi 30 kemasan biji kopi dan 10 kemasan bubuk kopi.
Program keahlian yang dikembangkan adalah program keahlian agribisnis tanaman perkebunan. Program keahlian ini memang cocok dikembangkan mengingat letak geografis sekolah ini berada di lereng gunung Argopuro yang bertujuan mengoptimalkan kearifan lokal yang ada. Seperti yang peneliti amati, sekolah ini memiliki lahan pertanian yang tepat berada disamping gedung
sekolah. Lahan pertanian ini menjadi tempat praktikum bagi siswa, seperti tempat pembibitan kopi.51
Sedangkan data dokumentasi yang peneliti peroleh mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan pribadi siswa di SMK Sabda Ria Nada, sebagai berikut:
Gambar 4.1 Kecakapan pribadi siswa
b. Implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan sosial di SMK Sabda Ria Nada Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo Tahun Pelajaran 2017-2018.
Pada pembahasan ini peneliti menanyakan bagaimana implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan sosial siswa di SMK Sabda Ria Nada.
Menurut Taufik selaku guru penyuluhan pertanian menjelaskan:
“Dalam hubungan sosial masyarakat, anak-anak sering apa namanya. Ya, sering komunikasilah sama masyarakat. Terutama para petani. Contohnya disini kebetulan juga Dinas Pertanian membantu anak-anak dalam pengadaan alat-alat pertanian. Tapi kalo alat-alat kopi yang sudah ada. Disini sudah
51 Observasi , 03 Juli 2018.
terimplementasikan. Terus kecakapan sosial lagi, anak-anak yang perlu ditingkatkan. Maklum dek, disini posisinya anak-anak baru jadi masih dalam proses pendidikan jadi sebagai guru langkah yang terbaik ini kecakapan sosial yaitu mendidik, seperti keagamaan.
Mereka diupayakan terjun ke masyarakat bisa membantu paling tidak bisa bersosiallah. Seperti kemarin apa namanya, bersih-bersih kuburan, kerja bakti inikan kecakapan sosial yang perlu dididik.”52 Mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan sosial di SMK Sabda Ria Nada juga diungkapkan oleh Dulla Absori selaku guru prakarya dan kewirausahaan, ia mengatakan:
“Sebenarnya tujuan berdirinya sekolah ini yakni mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan pendidikan umum. Sekolah ini bertujuan menciptakan lulusan yang sesuai dengan tujuan yayasan dan masyarakat sekitar. Coba lihat divisi dan misi sekolah dimana disana disebutkan lulusan dari sekolah ini mampu menjadi insan yang produktif dan berakhlakul karimah.
Siswa juga dibekali dengan kemampuan berkhotbah, memimpin tahlil, dan mengurus jenazah. Sehingga nanti siswa bisa bermanfaat di masyarakat. Terkait dengan pendidikan kewirausahaan siswa bisa membaca kebutuhan pasar, menjalin kerjasama dengan petani, memiliki keberanian dalam mempromosikan produk, dan bisa mencari peluang. Yang tak kalah penting siswa bisa menjawab kebutuhan pasar dan membaca potensi alam sekitar sebagai ladang berwirausaha dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.”53
Sedangkan menurut Sudaryanti selaku Waka Kurikulum mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan sosial, mengatakan:
“Kalau secara sosial secara tidak langsung siswa belajar bersosialisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
52 Taufik, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
53 Dulla Absori, Wawancara, Situbondo, 07 Juli 2018.
Melalui strategi kewirausahaan ini siswa nantinya bisa menjalin kerjasama dengan pihak manapun dengan kemampuan komunikasi yang baik. Karena dalam dunia usaha public relation itu sangat penting. Siswa bisa menarik konsumen, cara promosi, cara menghadapi konsumen gimana dan banyak sekali. Apalagi disini dibawah naungan yayasan jadi selain dibekali kewirausahaan siswa juga dibekali bagaimana hidup bermasyarakat seperti memimpin tahlil, jadi imam shalat, dan membaca khotbah. Jadi secara sosial banyak sekali.”54
Terkait dengan implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam mengembangkan kecakapan sosial siswa, peneliti juga melakukan wawancara terhadap siswa. Boby Susilo, selaku siswa kelas X mengatakan:
“Kalau soal bersosialisasi dengan masyarakat, saya rasa anak- anak sudah cukup mampu pak. Sekolah kami dan di pesantren jadi disini ada di Masjid seperti jumatan kan bersama masyarakat, mulai jadi khotib sholat jumat, sampai memimpin tahlil kami bisa pak. Kerjabakti juga pak. Kemarin bersih-bersih pemakaman umum bersama masyarakat pak. Banyak sekali pak. Rata-rata kegiatan kami bersama masyarakat.”55
Dalam kesempatan lain Ahmad Muhlisin selaku kepala sekolah terkait dengan implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam mengembangkan kecakapan sosial, mengatakan:
“Saya rasa kalau sosial sosial anak-anak sudah sangat baik.
Hal ini terlihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Maklum sekolah kami berada dibawah naungan pesantren jadi mereka dianggap santri oleh masyarakat yang dianggap bisa dapat memimpin kegiatan keagamaan, misal mimpin tahlil dan lain sebagainya. Juga anak-anak berbaur dengan masyarakat sekitar apabila musim panen kopi. Kalau soal pemasaran anak-anak
54 Sudaryanti, Wawancara, Situbondo, 31 Mei 2018.
55 Boby Susilo, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
sekedar diajarkan dengan teori saja bagaimana cara memasarkan produk melalui media sosial”56
Sedangkan menurut Hasbiallah selaku guru pendidikan agama Islam mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan di SMK Sabda Ria Nada, mengatakan:
“Kecakapan sosial siswa digembleng melalui kegiatan- kegiatan keagamaan sangat banyak mulai dari gotong royong, sholat jamaah, dan kegiatan pengelolaan kopi. penanaman nilai- nilai Pendidikan agama Islam sangat memungkinkan karena siswa bukan hanya menjadi siswa yang aktif pada pelajaran umum saja melainkan diintregrasikan dan dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan”.57
Mengacu pada hasil observasi peneliti, di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sabda Ria Nada, kecakapan sosial siswa terlihat melalui kegiatan gotong royong, yaitu pada jumat pagi bersih- bersih jalan bersama masyarakat sekitar, dan melakukan kegiatan keagamaan bersama masyarakat, yaitu pada hari jum’at melakukan ibadah shalat jum’at bersama masyarakat.58 Lingkungan sekolah ini berada didalam lingkungan pesantren, seperti yang peneliti amati sekolah ini berdekatan dengan masjid, sehingga sebelum jam pelajaran dimulai siswa diwajibkan sholat sunah berjamaah terlebih dahulu bersama dengan siswa-siswa lain yang berada dibawah naungan pesantren, yaitu sholat dhuha berjamaah bersama siswa
56 Ahmad Muhlisin, Wawancara, Situbondo, 04 Juli 2018.
57 Hasbiallah, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.
58 Observasi, Situbondo, 13 Juli 2018.
MI, MTs dan MA. Siswa setiap harinya memiliki kegiatan menjadi imam sholat yang sudah terjadwal dengan siswa lainnya. Dalam mempromosikan produk kopi siswa hanya diajarkan cara memposting ke media sosial, media yang digunakan yaitu instagram yang dikontrol oleh pihak sekolah sendiri. Selain media sosial siswa juga menjaga toko penjualan di unit usaha milik sekolah, setiap harinya toko dijaga oleh 2 orang siswa pada waktu jam istirahat dibantu oleh 2 orang pekerja dari masyarakat umum.
Produk kopi yang dipasarkan ditoko ini bukan hanya kopi yang memiliki kualitas bagus dalam kemasan, akan tetapi juga biji kopi yang memiliki kualitas sedang jual diperjualbelikan. Kopi yang memiliki kualitas sedang disini dijual perkilo tanpa kemasan dengan harga 22 ribu rupiah perkilo.59 Sekolah ini mengintegrasikan pola pendidikan keagamaan dengan pola pendidikan umum.
Data dokumentasi mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan siswa dalam aspek kecakapan sosial yang peneliti peroleh di SMK Sabda Ria Nada, sebagai berikut:
59 Observasi, Situbondo, 13 Juli 2018.
Gambar 4.2 Kecakapan sosial siswa
c. Implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan akademik di SMK Sabda Ria Nada Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo Tahun Pelajaran 2017-2018.
Dalam pembahasan ini peneliti melakukan wawancara mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan akademik, menurut Dulla Absori selaku guru prakarya dan kewirausahaan menjelaskan:
“Kalau disini kecakapan akademik siswa itu lebih terfokus pada tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan oleh lembaga maupun yang sudah tersusun secara sistematis dalam kurikulum.
Kemampuan akademik ini juga disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan atau kebutuhan masyarakat. Kalau soal pembelajaran atau teori saya rasa siswa sudah mencapai tujuan pembelajaran.
Namun yang masih perlu dikembangkan yakni keterampilan siswanya. Jadi di sekolah ini siswa banyak melakukan kegiatan pembelajaran dilapangan. Di sekolah kami memang banyak melakukan pembelajaran pada bidang pertanian, mengelola lahan pertanian, mengelola hasil pertanian. Siswa juga dilatih bagaimana pemasaran produk yang baik. Seperti saat ini produk kita sudah
menembus pasar internasional. Kemarin ada pemesanan dari Malaysia.”60
Mengenai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan akademik, Taufik selaku guru penyuluhan pertanian juga mengatakan:
“Kalau soal skill akademiknya, anak-anak dididik satu ya, kalau disini dibidang usaha disesuaikan dengan lingkungan.
Dengan pengertian apa hasil bumi yang ada di Sumbermalang ini.
Contohnya sekarang kita mengembangkan kopi dari pegunungan Argopuro. Disini skill akademiknya anak-anak dilatih ya. Pertama cara mengelola kopi, mengemas kopi ya kemasan yang bagus biar konsumen tertarik, ada daya jual beli di masyarakat. Dan diupayakan dengan media yang ada ini dikembangkan melalui media biar masyarakat tau apa hasil produk dari siswa. Tapi tidak menghilangkan kapasitas anak-anak itu betul-betul memiliki kemampuan sendiri. Kita juga mengadakan pelatihan di Besuki, disana ada tanaman padi organik. Jadi ada kunjungan lapang, disana dilatih anak-anak melihat pemanfaatannya hasilnya, pengetahuannya disitu. Ini nanti anak itu kalau sudah lulus mungkin punya channel untuk mengembangkannya. Kita juga ada kerjasama dengan mitra usaha. Disini pak muhlis punya komitmen untuk mengembangkan kopi mulai dari nangghe’
(madura=membeli) sampai memproses semua melibatkan anak- anak. Seperti sekolah-sekolah pada umumnya kalau soal kecakapan akademik ya melalui ujian akhir semester.”61
Sedangkan pada kesempatan lain, peneliti mewawancarai Waka kurikulum SMK Sabda Ria Nada, Sudaryanti menjelaskan mengenai nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam mengembangkan life skill kewirausahaan dalam aspek kecakapan akademik mengatakan:
60 Dulla Absori, Wawancara, Situbondo, 07 Juli 2018.
61 Taufik, Wawancara, Situbondo, 30 Mei 2018.