BAB I PENDAHULUAN
B. Kajian Teori
1) Luas Permukaan Bola
Luas permukaan bola adalah sama dengan 4 kali luas lingkaran yang memiliki jari-jari yang sama.
Luas Bola = 2 x luas lingkaran Luas Permukaan Bola = 2 x 2 x luas lingkaran
= 4 x luas lingkaran
= 4 xπr²
= 4 π r² 2) Volume bola
Volume Bola = π r³
4. Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember
a. Sejarah Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember
Jember terkenal dengan kabupaten pendhalungan hal ini dikarenakan masyarakat Jember campuran dari penduduk Jawa dan Madura, dimana masyarakat Jember bagian utara didominasi dari penduduk migrasi dari daerah Madura dan masyarakat Jember selatan didominasi suku Jawa, sehingga budayanya juga campuran dari kedua suku tersebut. Jember telah menjadi kota Afdeling pada tahun 1883, maka hal tersebut membuat kota Jember ramai dengan masyarakat migran yang beragama Islam. Sehingga tempat-tempat peribadatan islam mulai sempit karena jamaah semakin banyak. Melihat kenyataan tersebut maka dibangunlah masjid yang berada di pusat kota yaitu
masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember. Berselang waktu berlangsungnya kegiatan kegamaan tersebut.Saat Bapak RT Notohadinegoro menjadi Bupati Jember pada tahun 1928, beliau menilai arah kiblat masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember terdapat penyimpangan sekitar 24 derajat dan mengalami kerapuhan sehingga Bupati memiliki inisiatif untuk merenovasinya.
Semakin pesatnya perkembangan Jember pada tahun 1970-an maka bertambahnya kuantitas jamaah setiap tahunnya sehingga masid Jami’ tidak dapat menampungnya. Pada saat itu Jember dipimpin oleh Bupati Letkol H. Abdul Hadi, menjadi jamaah shalat Jum’at yang selalu bertempat dibawah pohon asam di sebelah timur jalan kartini atau sebelah barat alun-alu Jember. Hal ini menyebabkan timbulnya gagasan Bupati untuk memperluas dan membangun Masjid Jami’ Jember agar tidak mengganggu pejalan kaki di jalan kartini dan jamaah shalat Jumat tidak lagi kepanasan.29
Tepatnya pada tannggal 13 Juli 1972 Bupati Jember H. Abdul Hadi mengundang para Kyai dan tokoh Masyarakat untuk bermusyawarah tentang Masjid Jami’ Jember. Apakah Masjid Jami’
Jember perlu direnovasi atau tidak ? dan adakah dana untuk membiayainya.30 Adanya musyawarah tersebut menjadikan suatu aspirasi untuk mengutarakah pendapat para kyai dan pemerintah sampai dengan hasil kata mufakat. Bupati H. Abdul Hadi sangat yakin
29Moch Ihsan dan Zainal Anshari.Sejarah Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember mengurai peran dan Kontribusinya. (Jember: Superior, 2017),19
30Ihsan, 27
bahwa Jember memiliki potensi yang besar, dengan keyakinan, optimis dan rasa kebersaman serta gotong royong akan mampu melaksanakan pembangunan tersebut.
Hasil dari musyawarah tersebut membuahkan kata sepakat dan mufakat bahwasanya ide dan gagasan yang diusulkan untuk malakukan pembangunan masjid Jami’ Al Baitul Amien yang baru (Masjid Sekarang) dengan tidak membongkar masjid yang sudah ada (Masjid Jami’ lama) agar tidak menghilangkan amal jariyah para pendiri masjid.
Gagasan tersebut disampaikan secara tertulis pada tanggal 17 Agustus 1972 yang ditandatangani atas nama para Kyai Jember diantaranya KH.
Umar (Sumberwringin), KH. Abdul yakin (Mojokerto), KH. Daniel Adimenggala, KH. Dhofir salam (Jember), KH Djauhari Zawawi (Kencong). Hal ini juga disosialisasikan kepada para kyai dan ulama di Jember, Serta DPRD Jember bahkan seluruh staf Pemerintahan Kabupaten Jember menjadi target sosialisasi. Dengan persetujuan para ulama, DPRD Jember serta menteri dalam Negeri tanggal 20 Oktober 1972, Restu mentri Agama RI tanggal 19 Oktober 1972 dan Gubenur kepala daerah Jatim tanggal 23 Oktober 1972, maka disusunlah panitia Pusat pembangunan Masjid Jami’ Jember yang dituangkan dalam Surat Keputusan Jember No. Sek/III/40/1972 tanggal 25 Oktober 1972, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Qur’an tahun 1972.31
31Ihsan,28-29
Lokasi proyek pembangunan Masjid dengan 7 kubah memerlukan lokasi yang luas sehingga diletakkan di tengah kota di samping Masjid Jami’ lama (tanpa membongkar Masjid lama) dengan membeli tanah dan rumah sederetan took-toko di pinggir JL. Raya Sultan agung. Membeli rumah huni di atas tanah pengairan dekat sungai Jompo. Membeli tanah di Arjasa untuk mengganti memindahkan rumah dinas atau kantor pembantu Bupati Jember. Dan memindahkan selokan penggelontor yang tadinya di tengah proyek pembangunan ke pinggir jalan.32
Pengosongan dan pembongkaran bangunan dan sebagainya yang berada di lokasi proyek untuk melakukan lahan pembangunan dilaksanakan pada tangal 3 Agustus 1973. Kemudian diadakan selamatan di tempat proyek pada tanggal 19 agustus 1973 yang dihadiri oleh Muspida, Wakil Ketua DPRD, Bupati dan Pelaksana, dan diteruskan dengan pencangkulan pertama pembuatan pondasi yang dilaksnakan berturut-turut oleh almukarrom KH. Achmad Siddiq, dandim 0824, Wakil ketua DPRD (KH. Abdul Muchith Muzadi, Ba) dan Bupati Kepala Daerah Tk. II Jember beserta pelaksana lainnya.
Peletakan batu pertama dan pengecoran pertama dilakukan oleh Gubenur Provinsi Jatim (H. Moh Nur) beserta para ulama Jember pada tanggal 30 Agustus 1973. Dilanjutkan pada tanggal 31 Agustus 1973
32Ihsan,, 46.
ditetapkan penentuan arah kiblat dengan surat keputusan Bupati Dati II Jember No Sek//III/1/1973.33
Terlaksananya proyek pembangunan masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember dengan pernyataan persetujuan tertulis para ulama dan pemerintahan Jember bahwa dana diperoleh dengan gotong royong masyarakat di Jember, salah satunya dengan mengumpulkan sumbangan atau shadaqoh hasil bumi (padi) untuk setiap Hektarnya sebanyak 2 kwintal dan sumbangan dari berbagai pihak kalangan serta Menteri dalam negeri. Dengan adanya proyek pembanguan Masjid Jami’ Jember dapat menyatukan rasa persatuan dan kesatuan, kebersamaan, gotong-rayong yang tinggi karena antusias masyarakat Jember sangat luar biasa dalam membantu pembangunan tersebut.
Peneliti menyimpulkan berdiri kokoh banguan Masjid Jami’ AL Baitul Amien Jember dapat mempersatukan masyarakat Jember demi Kemaslahatan umat.
b. Unsur-unsur Matematika pada Masjid Jami’ Al Baitul Aamiin Ide dan rancangan menyetujui konsep bangunan masjid Jami’
Jember oleh para ulama dan Bupati yang telah disiapkan oleh saudara Yaying K. keser A.I.A, Jakarta, arsitek lulusan California dengan rasionalisasi diantaranya :34
1) Motto Pembangunan daerah TK. II Jember dikenal dengan TrilogiPemerintah daerah yaitu :
33 Ihsan, 49
34Ihsan, 42-43.
Taqwalah, artinya taqwa kepada Allah dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya.
Akhlaqul karimah, artinya berpegang teguh pada budi pekerti yang mulia.
Ilmu yang amaliah dan amal yang Ilmiyah.
2) Dipilihnya bentuk bola, yang menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang kemudian tertuang dalam bentuk kubah-kubah, merupakan bola yang saling bertumpu satu sama lain,yang menggambarkan saling berkaitan kebutuhan manusia dengan yang lain.
3) Jumlah kubah yang Tujuh.
Angka tujuh merupakan simbol kemantapan, bahwasanya Allah Swt. telah menciptakan 7 langit dan 7 bumi.Banyak hari dalam seminggu ada 7 hari. Sering mendengar bacaan bismillah sebanyak 7 kali, dan Qul huwallah sebanyak 7 kali.
4) Jumlah tiang penyangga lantai II sebanyak 17 di kubah utama yang mengingatkan kita akan angka keramat bangsa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945. Dan karena hari Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan setiap tahun.
5) Mihrab dan Mimbar
Bangunan mihrab akan terkait dengan mimbar, terdiri dari tiga buah lengkungan yang melukikan trionya agama yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Orang bersujud di mihrab, hatinya terpaut dengan
dengan ka’bah di Mekkah, tempat ia menghadapkan muka dan wajahnya sebagai simbol kesatuan dan persatuan menghadap kepada Tuhan yang Maha Esa. Mimbar sebagai umpan perhatian jamaah dalam mendengarkan khutbah para khotib yang penuh kesan dan pesan tentang kehidupan manusia dihadapan tuhannya.
6) Lengkungan Mihrab
Pada lengkungan mihrab, al mukarom KH.Achmad Siddiq (alm) menfatwakan agar dituliskan ayat al Quran surah Thaha ayat 14.Sedangkan di mihrab kanan dan kirinya terpampang lafadz Allah jalla jalaluhu dan lafadz Muhammad Rasullah yang dibuat oleh sdr.
Faiz dari bangil sebagai bentuk seni kaligrafi. Sedangkan di sekeliling ruangan kubah utama dituliskan surat An Nur.
7) Lantai tempat ibadah utama dituliskan dengan marmer Carara dari Italia.
8) Trap lingkar di halaman batu bata berongga dari keramik yang diolah dengan mesin produksi PT super Bata Cibitung Bekasi jawa Barat untuk memperleh bahan yang kuat.
Ide dan gagasan pada rancangan bangunan Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember memiliki unsur-unsur matematis diantaranya:
Gambar 2.5
Tujuh Kubah pada Masjid Jami’ Al Amien Jember35
Gambar 2.6
Menara Kubah Pada Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember36
35 Gambar atap, Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember diperoleh dari link https://images.app.goo.gl/LisL2xKjHgMQHhzH9 diakses pada 12 Januari 2021
36 Hasil dokumetasi pada tanggal 11 Januari 2021
Sesuai dengan ide gagasan rancangan bangunan Masjid Jami’
Al Amien Jember kubah masjid memiliki bentuk bundar (segmen bola) dan pada setiap menara kubah yang memiliki bentuk seperti kerucut yang berjumlah 7 buah yang memiliki makna, yang berarti simbol kemantapan, yang telah diketahui bahwa Allah Swt. telah menciptakan 7 langit dan 7 bumi.
Gambar 2.7
Tiang Penyangga ke lantai II37
Sesuai dengan ide dan gagasan rancangan bangunan Masjid Jami’ Al Amien Jember memiliki 17 tiang penyangga ke lantai II yang berbentuk seperti tabung, memiliki makna dipilihnya angka 17
37 Hasil Dokumentasi pada tanggal 11 Januari 2021
karena pada tanggal 17 bertepatan dengan tanggal hari Nuzulul Quran dan hari Kemerdekaan Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Model Penelitian dan Pengembangan
Model penelitian yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini menggunakan desain instruksional ADDIE. Model instruksional ADDIE merupakan model yang melibatkan tahap-tahap pengembangan dengan lima fase meliputi Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation). Molenda juga berpendapat ADDIE merupakan model pembelajaran yang bersifat umum dan proses ini dianggap berurutan akan tetapi interaktif.38 Menurut Endang Mulyatiningsih bahwa ADDIE dalam langkah-langkah pengembangan produk, model penelitian dan pengembangan ini lebih rasional dan lebih lengkap dari model 4D.39
Melalui pernyataan tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa model ADDIE merupakan model yang umum digunakan karena memiliki tahapan-tahapan sistematis yang lebih rasional dari model lainnya.
Berdasarkan hal tersebut hal ini menjadi pertimbangan bagi peneliti dalam menggunakan model ADDIE yang dikembangkan secara sistematis dan teoritis yang berlandasan pada desain pembelajaran. Adapun tahapan penelitian pengembangan ADDIE sebelum dimodifikasi menjadi ADD, dalam penelitian ini jika disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
38Michael Molenda, Insearch of the elusive ADDIE model.Pervomance improvement, (February, 2015).hlm40.
39 Endang Mulyatiningsih, Riset terapan Bidang Pendidikan & Teknik (Yogyakarta: UNY Press, 2011),183
Gambar 3.1. Desain Pengembangan
Berikut penjelasan kegiatan pada setiap tahap pengembangan model atau metode pembelajaran, diantaranya:40
1. Analysis (Analisis)
Kegiatan utama yang dilakukan menganalisis kebutuhan untuk mengetahui bahan ajar yang digunakan sudah mampu memberikan pemahaman konsep matematika, analisis kurikulum bertujuan untuk mengetahui kurikulum yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan analisis etnomatematika digunakan untuk mengetahui unsur matematis pada masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember.
2. Design (Perancangan)
Kegiatan ini merupakan proses sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan belajar atau kegiatan belajar mengajar, merancang
40 Mulyatiningsih, 184
Analysis
Design
Developmen t
Implementatio n Evaluation
perangkat pembelajaran, merancang model/metode pembelajaran yang masih bersifat konseptual dan sebagai dasar proses pengembangan berikutnya. Pada tahap ini peneliti melakukan desain produk LKPD dan peneliti juga menyusun instrumen yang digunakan unntuk menilai produk LKPD yang dikembangkan.
3. Development (Pengembangan)
Pada tahap design telah disusun kerangka konseptual, sedangkan pada tahap ini melakukan realisasi pengembangan terhadapat rancangan produk dengan menguji kevalidan produk LKPD yang dikembangkan oleh ke empat validator yang terdiri dari validator ahli materi, validator ahli desain, validator ahli bahasa dan validator ahli pendidikan matematika.
4. Implementation (Penerapan)
Tahap ini diimplementasikan rancangan dan metode yang telah dikembangkan pada situasi nyata, dan materi disampaikan sesuai dengan model/metode baru yang dikembangkan.
5. Evaluation (Evaluasi)
Tahap evaluasi digunakan untuk memberi umpan baik kepada pihak pengguna model/metode dengan melihat apakah sistem pembelajaran yang dibuat sesuai dengan harapan awal atau tidak.
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan