BAB III PENDEKATAN PEMBELAJARAN
B. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran
42
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan suatu pandangan yang menentukan arah pelaksanaan atau kegiatan pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik dengan tujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, pendekatan pembelajaran merupakan tata cara seorang pendidik dalam mengelola kelas.
43
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
menyusun strategi yang bervariatif dengan memberdayakan peserta didik dalam setiap kegiatan belajar.
Ardiyanto (2013) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, pendidik dapat menggunakan media hands on activity dan memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas.
Dalam pendekatan kontekstual, pendidik lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
pendidik bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru”. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi
44
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills). Masita (2012) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dengan menghadapkan peserta didik pada bidang penelitian, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.
b) Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang menjadi landasan berfikir dengan membangun sedikit demi sedikit pengetahuan yang didapatkan dan hasil pengetahuan tersebut diperluas dengan konteks yang terbatas serta tidak secara tiba-tiba. Kelebihan konstruktivisme adalah peserta didik dapat membimbing pengetahuannya secara mandiri dan aktif melalui proses belajar yang continue antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran yang terbaru. Konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman
45
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
baru. Seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan (tuning)
Seseorang individu juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, yaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang telah ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar dibangun dengan membina konsep sendiri melalui kegiatan menghubungkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang telah ada pada mereka.
Kadir (2013) membuktikan bahwa penggunaan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan dari pada peserta didik yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Sedangkan Sariningsih (2014) juga turut membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme dapat membantu peserta didik dalam menemukan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi.
46
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
c) Pendekatan Deduktif-Induktif Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran.
Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui letak persoalan dan konsep dasarnya .
Pendekatan Induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus- kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sains dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama peserta didik. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
47
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika.
Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif. Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur- prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau generalisasi.
48
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Pendekatan induktif-deduktif melatih siswa memecahkan soal atau masalah. Winarso (2014) menyatakan bahwa induktif dan deduktif dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif.
Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif.
Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran
“yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (1994).
Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
d) Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat
Pendekatan sains, teknologi dan masyarakat (STM) merupakan the teaching and learning of science in the context of human experience. Artinya, STM dipandang sebagai proses pembelajaran disesuaikan dengan konteks pengalaman manusia. Pendekatan ini melatih kreativitas, sikap ilmiah, dan menggunakan konsep serta proses peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Rintayati & Putro (2014) bahwa STM merupakan approach is able to improve learning
49
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
activity with character intelligent and creativity student. Maka dari itu, pembelajaran STM haruslah diterapkan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape science and technology. Dengan demikian, maka STM adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi.
Hasil penelitian Jauhar (2018) yang menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan STM dapat mealatih kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini pendidik sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam
50
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari-hari, yang dalam pemecahannya menggunakan rancangan prosedur yang terlebih dahulu ditentukan.
e) Pendekatan Open-Ended
Pendekatan open-ended pendekatan belajar yang menyajikan suatu problem yang dirancang agar memikiki multi jawaban yang benar, dikenal dengan istilah problem tak lengkap atau soal tebuka. Tujuan utamanya bukanlah untuk mendapatkan jawaban tetapi bagaimana cara agar untuk sampai pada jawaban. Dengan demikian, bukan hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban.
Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. Contoh penerapan masalah open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir.
51
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
f) Pendekatan Saintifik
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “mengapa”. Ranah keterampilan menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “bagaimana”. Ranah keterampilan menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “apa”. Hasil akhir adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak dari peserta didik yang meliputi aspek keterampilan sikap, dan pengetahuan.
Proses belajar dengan pendekatan saintifik terdiri atas lima kegiatan, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data atau eksperimen, mengolah informasi dan mengkomunikasikan.
Dalam proses mengamati, peserta didik diharapkan dapat menyaksikan tentang apa yang di sajikan pendidik, melalui video atau alat peraga yang terkait materi, pendidik juga bisa menampilkan gambar-gambar yang juga terkait dengan materi.
52
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Selain itu pengamatan juga dapat dilakukan pada saat guru melakukan simulasi. Setelah itu, peserta didik merumuskan pertanyaan yang nanti akan diperoleh melalui proses pengamatan terhadap media yang ditampilkan oleh pendidik, selanjutnya peserta didik mengumpulkan informasi. Informasi yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang sudah dibuat, informasi tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber belajar seperti buku, perpustakaan, internet dan lain-lain.
Informasi yang telah didapat diolah dan dipresentasikan bersama teman-teman yang lain untuk saling berbagi informasi.
g) Pendekatan Realistic
Pendekatan realistik adalah salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang menekankan pada keterkaitan antar konsep-konsep matematika dengan pengalaman sehari- hari. Dalam pembelajaran realistik, dunia nyata dijadikan sebagai sunber pemunculan konsep matematika. Pengenalan konsep-konsep matematika dilakukan dengan menghadapkan siswa pada masalah dari kehidupan mereka, pengalaman mereka, atau apa yang pernah mereka lihat atau dengar, tetapi yang mereka anggap sebagai kenyataan sehingga siswa segera melibatkan dirinya dalam kegiatan belajar secara bermakna.
53
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pendekatan realistik sejalan dengan teori belajar yang lainnya. Ada lima karakteristik dalam pendekatan realistik, yaitu:
1. Masalah-masalah disajikan berdasarkan konteks dunia nyata atau yang dapat dibayangkan oleh siswa.
2. Menggunakan pengembangan model-model yang dibuat sendiri oleh peserta didik yang berguna untuk menjembatani peserta didik dari situasi real ke situasi abstrak.
3. Siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal.
4. Interaksi sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.
5. Membuat jalinan antar topik atau antar pokok disebut
“intertwinment”.
Secara umum, pendekatan realistik melatih siswa menemukan kembali konsep-konsep belajar yang pernah ada atau bila memungkinkan siswa dapat menemukan konsep- konsep yang belum pernah di temukan.
h) Pendekatan Etnomatematika
Menurut Agasi & Wahyuono (2016) pendekatan etnomatematika merupakan pendekatan yang digunakan untuk
54
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
menghubungkan antara realitas budaya dilingkungan peserta didik dengan matematika saat proses belajar mengajar.
Etnomatematika telah diterapkan diberbagai negara, salah satunya adalah Jepang. Etnomatematika memiliki pengertian yang lebih luas dari hanya sekedar etno (etnis) atau suku.
pengajaran matematika di sekolah memang terlalu bersifat formal. Oleh sebab itu pembelajaran matematika sangat perlu memberikan muatan antara matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah.
Pendekatan etnomatematika menggunakan pembelajaran berbasis budaya lokal dimana peserta didik belajar tentang budaya, belajar dengan budaya, dan belajar melalui budaya.
Namun pendidik haruslah memperhatika empat hal penting dalam menerapkan pendekatan etnomatematika, yaitu substansi dan kompetensi bidang ilmu/bidang studi, kebermaknaan dan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, serta peran budaya. Pendidik mengaitkan budaya lokal yang ada dilingkungan peserta didik dan menjadikannya media untuk memperkenalkan subtansi dari matematika.
Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian dari pendekatan pembelajaran?
2. Ada 2 jenis pendekatan, sebutkan dan jelaskan!
3. Sebutkan karakteristik pendekatan pembelajaran!
55
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
4. Sebutkan dan jelaskan macam–macam pendekatan pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar!
5. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran!
6. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan kontekstual?
7. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual?
8. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan konstruktivisme?
9. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme?
10. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan induktif dan deduktif?
11. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan sains, teknologi dan masyarakat (STM)?
12. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak menggunakan pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat (STM) dalam proses pembelajaran?
13. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan open ended? Jelaskan!
14. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan saintifik?
56
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
15. Bagaimana proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan saintifik? Jelaskan!
16. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan realistic?
17. Bagaimana proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan realistic?
18. Sebutkan karakteristik dalam pendekatan realistic!
19. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan etnomatematika?
57
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
A. Pengertian Metode Mengajar
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar dibutuhkan suatu metode pembelajaran untuk menyampaikan materi yang diajarkan oleh pendidik secara efektif dan efisien untuk mempermudah mencapai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
1. Pengertian Metode
Menurut Muhinnin (2011) metode adalah suatu prosedur yang sistematis digunakan untuk melihat gejala atau fenomena kejiwaan. Di sisi lain, Djamarah & Zain (2010) mengatakan bahwa metode memiliki kedudukan sebagai alat motivasi
BAB IV
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
“Jika Kau Menginginkan Sesuatu Dalam Hidupmu yang tak pernah kau punya. Kau harus melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan”
JD Houson
58
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran dan juga sebagai alat untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, dapat dipahami bahwa metode merupakan suatu cara atau jalan yang digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan baik tujuan belajar maupun tujuan mangajar.
2. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah aktivitas mengelola, mengatur, mengorganisasi lingkungan hingga terbentuknya proses belajar.
Lingkungan yang dimaksud tidak hanya kelas, namun juga meliputi media, pendidik, laboratorium, perpustakaan dan lain- lain yang berkaitan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Maka dari itu, mengajar merupakan aktivitas pendidik dengan menggunakan perangkat pembelajaran untuk membimbing peserta didik dalam pembentukan karakternya. Pendidik harus terus menerus mempersiapkan rancangan kegiatan agar penyampaian informasi kepada peserta didik lebih efektif dan memperkuat pemahaman konsepnya.
3. Pengertian Metode Mengajar
Metode mengajar merupakan konsep atau prosedur yang telah dirancang untuk melakukan aktivitas belajar, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada peserta didik.
Sutikno (2009) berpendapat bahwa metode pembelajaran adalah cara-cara dalam menyajikan materi pelajaran yang
59
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri peserta didik dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Rahman & Maarif (2014) menjelaskan bahwa metode mengajar adalah suatu aktivitas pendidik dalam menjalin hubngan dengan peserta didik pada saat proses belajar mengajar. Selanjutnya Muhibbin (2011) mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pada peserta didik.
Jadi, dapat dipahami bahwa metode mengajar atau metode pengajaran merupakan suatu cara yang digunakana pendidik dalam menyajikan dan menyampaikan informasi berupa pengetahuan, keterampilan, atau sikap agar tujuan pembelajaran tercapai dengan efektif dan efesien.
B. Faktor-Faktor Penentu Metode Mengajar
Pemilihan metode dalam belajar mengajar tidaklah sembarangan. Perlu adanya pertimbangan atas beberapa faktor yang memungkinkan terjadi. Sebagai suatu cara, metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Maka itu, pendidik harus mengerti, memahami dan mempedomaninya ketika akan melaksanakan pemilihan dan penentuan metode. Tanpa mengindahkan hal ini, metode yang dipergunakan tidak akan berjalan efektif.
60
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
Setiap metode mempunyai sifat masing-masing, baik mengenai kelebihan-kelebihannya maupun kelemahan- kelemahannya. Pendidik akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
a. Peserta Didik
Peserta didik merupakan individu berpotensi yang menjadi tujuan akhir pendidikan. Di sekolah, pendidik berkewajiban untuk mendidiknya. Dalam proses belajar mengajar di kelas, pendidik langsung berhadapan dengan peserta didik yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Berbagai status sosial, ekonomi serta jenis kelamin, pada intinya, dari aspek fisik ini selalu ada perbedaan dan persamaan pada setiap peserta didik.
Dilihat dari aspek psikologis, perilaku peserta didik selalu menunjukan perbedaan, ada yang pendiam, ada yang kreatif, ada yang suka bicara, ada yang tertutup (introver), ada yang terbuka (ekstrover), ada yang pemurung, ada yang periang, dan sebagainya. Semua perilaku peserta didik tersebut mewarnai suasana kelas. Jumlah peserta didik yang cenderung banyak rentan akan konflik dan sukar diatur.
Semua perbedaan yang ada pada masing-masing peserta didik tentu mempengaruhi penentuan dan pemilihan metode yang akan diterapkan dalam menciptakan suasana belajar
61
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
mengajar yang efektif demi demi tercapainya tujuan pengajaran yang telah dirumuskan secara operasional. Dengan demikian, jelas bahwa kematangan peserta didik yang bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
b. Tujuan Pembelajaran
Tujuan merupakan target akhir yang ingin dicapai, tujuan mengajar juga diartikan sebagai tempat yang dituju dalam proses belajar mengajar. Secara hierarki tujuan itu bergerak dari yang rendah hingga yang tinggi, yaitu tujuan instruksional dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan intermedier (antara), yang menjadi taget pencapaian dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Tujuan pembelajaran dikenal ada dua, yaitu TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
Perumusan tujuan instruksional khusus, misalnya akan mempengaruhi kemampuan yang terjadi pada diri peserta didik. Proses pengajaran pun dipengaruhinya. Demikian juga penyeleksian metode yang harus pendidik gunakan di kelas.
Metode yang pendidik pilih harus sejalan dengan taraf kemampuan yang hendak diisi ke dalam diri setiap peserta didik. Artinya, metode haruslah tunduk kepada kehendak tujuan dan bukan sebaliknya. Karena itu, kemampuan yang bagaimana yang dikehendaki oleh tujuan, maka metode harus mendukung sepenuhnya.
62
METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA
c. Suasana Pembelajaran
Suasana pembelajaran merupakan lingkungan belajar peserta didik, suasana pembelajaran yang diciptakan pendidik sebaiknya tidak monoton atau sama dari hari ke hari. Pendidik dituntut untuk kreatif menciptakan suasana atau lingkungan belajar yang baru bagi peserta didik, seperti suasana belajar mengajar di alam terbuka, yaitu diluar ruang sekolah. Untuk itu, pendidik perlu memilih metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi yang diciptakan. Di lain waktu, sesuai dengan sifat bahan dan kemampuan yang ingin dicapai oleh tujuan, maka pendidik menciptakan lingkungan belajar peserta didik secara berkelompok. Dalam hal ini tentu saja pendidik telah memilih metode mengajar untuk mentransfer informasi kepada peserta didiknya, yaitu metode problem solving. Demikian, situasi yang diciptakan pendidik mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.
d. Fasilitas Pembelajaran
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar peserta didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Ketiadaan alat peraga, laboratorium matematika, biologi maupun fasilitas lain kurang mendukung penggunaan metode eksperimen atau metode demonstrasi.