BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
11) Membolehkan
Fungsi tindak tutur permissives yang kedua adalah membolehkan.
Fungsi ini digunakan penutur untuk memberi kesempatan atau keleluasaan kepada mitratutur untuk melakukan sesuatu hal (Yahya:
2013). Tindak tutur membolehkan dapat dilihat pada data berikut.
(11) Ibu :”Kamu boleh memilih sediri apa yang menjadi keinginan- mu, Mayana.”
Doa pertama yang terjawab. Pemberian kebebasan oleh ibu tentu saja menumbuhkan respek di hatiku, salah satu benih cinta yang bisa dipupuk kemudian.
Yana :”Terima kasih, Bu,” bisikku.
Terasa pelukanku membalasnya erat, mencairkan lagi gumpalan es di sana di dalam dadaku.
...
Ibu :”Ya sudah, semoga diterima,” ujar ibu.
( MMHt I/38/254 )
Kutipan di atas menunjukkan makna membolehkan penutur ke- pada mitratutur untuk memilih sendiri apa yang menjadi keinginannya.
Mitratutur berterima kasih karena penutur membolehkan untuk memilih sendiri apa yang menjadi keinginannya. Pernyataan membolehkan ini ditandai dengan kalimat kamu boleh memilih sendiri apa yang menjadi keinginanmu.
Berdasarkan keseluruhan data I dan analisis data I, yaitu data yang berasal dari tindak tutur direktif yang digunakan para tokoh dalam novel Matahari Mata Hati Karya Dian Nafi ditemukan 38 macam tindak tutur direktif. Tindak tutur direktif tersebut terbagi menjadi 11 macam.
Adapun rincian 11 macam tindak tutur direktif tersebut adalah sebagai berikut : 1) meminta 6 data (16%), 2) menyuruh 6 data (16%), 3)
menasihati 8 data (21%), 4) menuntut 2 data (5%), 5) bertanya 2 data (5%), 6) mengajak 1 data (3%), 7) mengingatkan 1 data (3%), 8) menantang 7 data (18%), 9) mengarahkan 3 data (7%), 10) berdoa 1 data (3%), 11) membolehkan 1 data (3%).
Selanjutnya rincian penggunaan tindak tutur direktif dalam novel Matahari Mata Hati Karya Dian Nafi dapat juga dilihat pada data dan analisis data tabel 1. di bawah ini !
Tabel 1. Tindak Tutur Direktif dalam Novel Matahari Mata Hati Karya Dian Nafi ( Data I )
No.
Macam-macam Tindak Tutur Direktif dalam Novel Matahari Mata Hati Karya Dian Nafi
Jumlah Data I Angka Prosentase
1. Menyuruh/memerintah 6 16%
2. Meminta 6 16%
3. Menasihati 8 21%
4. Mengajak 1 3%
5. Mengingatkan 1 3%
6. Menantang 7 18%
7. Menuntut 2 5%
8. Mengarahkan 3 7%
9. Bertanya 2 5%
10. Berdoa 1 3%
11. Membolehkan 1 3%
Jumlah 38 100%
2. Penggunaan Tindak Tutur Direktif dalam Novel Menantu untuk Ibu Karya Faradhina Izdhihary
Berdasarkan keseluruhan data II dan analisis data II, yaitu data yang berasal dari tindak tutur direktif yang digunakan para tokoh dalam novel Menantu untuk Ibu Karya Faradhina Izdhihary maka penggunaan tindak tutur direktif dalam novel Menantu untuk Ibu Karya Faradhina Izdhihary ditemukan 34 macam tindak tutur direktif. Tindak tutur direktif tersebut terbagi lagi menjadi 10 macam tindak tutur direktif yaitu menyuruh/memerintah, meminta, menasihati, mengajak, mengingatkan, menantang, melarang, menuntut, menghendaki, dan menyetujui.
Uraian setiap tindak tutur direktif dalam novel Menantu untuk Ibu Karya Faradhina Izdhihary adalah sebagai berikut.
1) Menyuruh/Memerintah
Kridalaksana (1993:31) menyatakan bahwa suruhan merupakan tuturan yang berusaha agar pendengar melakukan sesuatu sesuai dengan pembicara. Memerintah dalam KBBI berarti ‘memberi perintah; menyuruh melakukan sesuatu’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 859).
Tindakan ini tertuang dalam pertuturan di bawah ini.
(12) Ibu : “Alhamdulillah, Nduk! Kamu hebat ! Piye tho iki? Ini Kan berarti besok ?”
Suci : “ Iya, Bu!”
Ibu : Waduuuh...kamu harus belajar dan mempersiapkan segalanya dengan baik. Ibu yakin tak mudah untuk menembus final lomba tingkat nasional ini, Nduk!
( MuI II/ 01/10)
Kutipan di atas menunjukkan suruhan atau perintah seorang ibu kepada anaknya Suci agar belajar dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi final lomba tingkat nasional yang dicapainya dengan tidak mudah. Perintah atau suruhan dalam pernyataan ini ditunjukkan pada kalimat “ waduuh... kamu harus belajar dan mempersiapkan dengan baik.
2) Meminta
Meminta dalam KBBI berarti ‘minta’; berkata-kata supaya diberi atau mendapat sesuatu’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002:
745-746). Tuturan dengan maksud meminta dapat diihat pada contoh berikut.
(13) Mahmudi : “Bila bapak dan ibu berkenan, saya hendak meminta Sutirah jadi calon istri saya.”
Bapak : “Bapak setuju saja. Namun, ada baiknya kamu ajak orang tuamu ke sini! Biarkan kami para orang tua yang membicarakan soal perjodohan ini,” jawab bapak Sutirah.
( MuI II/33/155 )
Kutipan di atas menunjukkan makna permintaan Mahmudi untuk meminta Sutirah menjadi istrinya. Pernyataan permintaan pada contoh no.
13 di atas ditandai dengan kalimat saya hendak meminta Sutirah jadi calon istri saya. Selanjutnya mitratuturnya juga meminta agar Mahmudi membawa orang tuanya untuk membicarakan soal perjodohannya.
3) Menasihati
Tindak tutur menasihati adalah tuturan yang dilakukan penutur untuk
menasihati atau mengingatkan mitratutur akan sesuatu hal yang akan ia kerjakan ( Rizqi : 2013). Tuturan yang bermakna menasihati dapat dilihat pada contoh berikut ini.
(14) Ibu :”Ya, Suci memang hebat. Tapi apalah artinya sekolah tinggi-tinggi jika kamu tak segera menikah. Kodrat seorang wanita adalah menjadi istri bagi suaminya, menjadi ibu bagi anak-anaknya.”
( MuI II/05/20 )
Kutipan di atas menunjukkan makna menasihati lawan tuturnya Suci bahwa apa artinya sekolah tinggi-tinggi, bila tak segera menikah. Ko- drat wanita adalah menjadi istri dan ibu. Oleh karena itu, tidak ada artinya bagi seorang wanita bersekolah tinggi kalau tidak segera menikah.
4) Mengajak
Mengajak dalam KBBI berarti ‘meminta ( menyilakan, menyuruh, dsb) supaya turut datang dsb’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002:257). Penutur ketika melakukan tindakan ini menginginkan mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Hal itu terlihat dalam pertuturan di bawah ini.
(15) Bram :” Ci...malam ini kita makan bareng ya?”
Suci :” Mau kumasakkan apa ?” tanyaku
Bram :”Nggak aku ingin mengajakmu makan malam di rumah makan. Perayaan atas kelulusanmu.”
( MuI II/23/90 )
Kutipan di atas menunjukkan makna mengajak mitratuturnya, Suci untuk makan malam di rumah makan untuk merayakan kelulusannya.
Pernyataan mengajak ini ditandai dalam kalimat aku ingin mengajakmu
makan malam di rumah makan.
5) Mengingatkan
Mengingatkan dalam KBBI berarti ‘mengingat akan; memberi ingat;
memberi nasihat (teguran, dsb) supaya ingat akan kewajibannya, dsb;
menjadikan ingat (terkenang) kepada’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 433).Penutur menginginkan agar mitratuturnya melakukan sesuatu seperti yang diingatkannya. Hal ini tertuang dalam contoh berikut.
(16) Ibu :“Nduk, jangan lupa pesan ibu. Di mana pun engkau kelak menginjakkan tanah, ingatlah di sana juga bumi Gusti Allah. Jangan lupa shalat dan berdoa pada-Nya.
Dia sebaik-baik tempat meminta dan memohon perto- tolongan.”
Suci :” Iya, Bu. Insyallah. Doakan aku, Bu.”
( MuI II/08/24 )
Kutipan di atas menunjukkan makna peringatan penutur kepada mitratutur untuk selalu mengingat bahwa di mana pun dia (mitra tutur) berada di situ juga bumi Allah. Penutur juga mengingatkan kepada mitratutur untuk tidak melupakan sholatnya dan selalu berdoa kepada- Nya. Pernyataan yang menunjukkan peringatan ini ditandai dengan kata jangan lupa. Selanjutnya mitratutur juga mengingatkan kepada penutur untuk selalu mendoaknnya.
6) Menantang
Tuturan pertanyaan dapat juga difungsikan untuk menantang.
Menantang dalam KBBI berarti ‘mengajak berkelahi ( bertanding, berpe-
rang)’ (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 114). Tuturan ini dimanfaatkan untuk menggugah tekad mitratutur mengatasi sesuatu, seperti terdapat pada contoh berikut.
(17) Andrew :”Itu di negerimu. Negeri yang kaya raya dan segala hal dapat diperoleh dengan mudah dan murah,”
komentarnya lagi.
Suci :” Ya. Tapi darahmu mengalir darah Indonesia. Kau tak bisa memungkirinya.”
Andrew :” Tapi aku dibesarkan dengan air dan tanah negeri ini. Bukan tanah dan air negara eyang putri
moyangku.”
( MuI II/13/52 )
Kutipan di atas menunjukkan makna menantang penutur kepa- da mitratutur bahwa di negerinya tidak mudah untuk memperoleh segala hal. Mitratutur menyanggah bahwa dalam dirinya juga mengalir darah Indonesia tetapi ditantang lagi oleh penutur bahwa dirinya tidak dibesarkan di negara eyang putri moyangnya yang kaya raya dan segala hal dapat diperoleh dengan mudah.