• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengelolah dan beban kognitif presentasi Power- Point

Dalam dokumen Download (1MB) (Halaman 177-181)

Slide Power Point

4. Mengelolah dan beban kognitif presentasi Power- Point

Untuk menyajikan hubungan proposional dengan komponen terbesar dibagian atas atau bawah.

Gambar 5.1: Delapan Kelompok Pernyataan Grafis dari Smart- Art

4. Mengelolah dan beban kognitif presentasi Power-

ciple, 4) The Multimedia Principle, dan 5) The Conherence Principle.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut peneliti menggu- nakan beberapa cara untuk mengelolah beban kognitif dalam penelitian ini. Cara yang digunakan adalah: menerapkan prin- sip multimedia (menggunakan gambar dan kata-kata), seg- menting, weeding, aligning, signaling, yang di implementasi- kan pada PowerPoint 2007. Dalam pembahasan ini informasi verbal yang dipakai dalam PowerPoint dibatasi hanya tulisan di layar (0n-screen text). Karena alasan praktis informasi ver- bal dalam bentuk suara, narasi atau musik tidak digunakan.

Prinsip multimedia. Caranya adalah menambahkan gam- bar yang relean pada slide yang hanya berisi tulisan. Keung- gulan dari PowerPoint adalah kemudahannya untuk menam- bahkan informasi visual seperti misalnya gambar, foto, dan obyek lainnya. Sehinnga jika presentasi PowerPoint hanya berisi tulisan saja, berarti fungsi PowerPoint sebagai media pembelajaran multimedia sia-sia saja. Penelitian membukti- kan bahwa manusia lebih mudah belajar melalui gambar dan tulisan dibandingkan presentasi yang hanya berisi tulisan sa- ja. Hal ini sesuai dengan prinsip Multimedia (The Multimedia Principle). Dalam hal ini PowerPoint menyediakan fitur-fitur untuk menyajikan informasi visual, antara laindengan kemu- dahan menambahkan gambar, tersedianya Clip-Art yang beri- si koleksi gambar-gambar.

Segmenting, pada umurya pengajar sudah mempunyai materi misalnya dalam bentuk Word. Kemampuan cut-paste dan kompatibilitas antara PowerPoint dengan Word dan Ex- cel, menyebabkan pengajar cenderung hanya memindah ma- teri dari Word ke PowerPoint begitu saja. Sehigga tampilan

PowerPoint padat dengan tulisan. Hal ini tentunya membe- bani memori kerja. Untuk mengurangi beban kognitif adalah dengan memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (bite size segment). Untuk melihat slide yang sudah dibuat PowerPoint menyediakan fitur view. Default view dai PowerPoint adalah Normal View. Normal View hanya mampu menampilkan 6 (enam) slide pada layar, dengan demikian se- cara tidak terasa dalam membuat slide pengajar tidak mem- perhatikan jumlah dan urutannya. Untuk mengatasi masalah ini gunakan slide sorter. Pada slide sorter view menampolkan 20 (dua puluh) slide dalam layar, sehingga pengajar dapat melihat sudah berapa banyak slide yang dibuat dan alur in- formasi dari presentasi, selanjutnya pengajar dapat mengatur isi slide agar tidak terlalu padat dan juga mengatur alur in- formasinya. Cara ini termasuk dalam The Segmenting Prin- ciple.

Weeding. Dalam praktek tidak mudah untuk menambah- kan gambar-gambar yang relevan dengan materi, karena ti- dak sesuai materi mudah untuk tidak divisualisasikan. Se- hingga pengajar cenderung hanya menambahkan sembarang gambar bahkan juga suara dan animasi. Kondisi ini menye- babkan beban kognitif extraneous yang berlebihan. Untuk itu sebaiknya gambar, animasi dan suara yang tidak relevan di- buang, cara ini disebut weeding. Upaya ini mengimplementa- sikan Prinsip Koheren (The Contiguity Principle).

Aligning. Kondisi lain yang menyebabkan kelebihan be- ban adalah gambar dan tulisan yang saling menjelaskan le- taknya berjahuan. Hal ini menyebabkan meningkatnya beban kognitif di memori kerja. Untuk mengatasi hal ini dilakukan proses aligning, yaitu meletakkan gambar dan tulisan saling

berdekatan. Hal ini sesuai dengan prinsip kedekatan (The Contiguity Principle).

Signaling. Cara ini merupakan cara yang paling banyak dipakai. Ccara ini dipakai dalam kondisi dimana saluran visu- al dan verbal salah satu kedua-duanya mengalami beban le- bih, dan sudah tidak ada cara lain untuk meguranginya. Mi- salnya kontern yang akan disajikan sifatnya kompleks dalam hal ini beban intrinsic nya tinggi, atau sulit mencari gambar yang sesuai dengan materi, maka signaling merupakan jalan keluar. Signaling menggunakan signal atau cue untuk mem- berikan panduan bagi pembelajar. Cara yang paling mudah adalah memberikan kode warna, menambahkan tanda beru- pa anak panah, atau simbol lainnya. Dalam beberapa peneli- tian terbukti pemakaian kode warna dapat meningkatkan ha- sil belajar (Ozcelik et al, 2008; Jamet, Gavota & Quaireau, 2008). SmartArt dari PowerPoint 2007 merupakan fitur yang sangat bermanfaat bagi signaling. Fitur yang disediakan SmartArt merupakan visualisasi dari lima jenis struktur peng- tahuan (Mayer, 2001), yaitu representasi dari proses, per- bandingan, generalisasi, enumerasi, dan klasifikasi. SmartArt juga dapat menambahkan gambar pada slide sebagai imple- mentasi prinsip multimedia.

Fitur lain dari PowerPoint yang dapat dipakai untuk proses signaling adalah dengan mengguanakan animasi. Po- werPoint menyediakan tiga jenis gerakananimasi yaitu 1) en- trance, 2) emphasis, 3)exit untuk tiap-tiap elemen dari slide yang selanjutnya dapat di kontrol oleh custom animations. Ge- rakan atau perpindahan dari tiap slide, diatur oleh transitions.

Entrance, animasi untuk memasukkan sebuah topik. Ob- yek yang mendapatkan animasi ini akan memilikiefek mema-

suki daerah presentasi, Emphasis, efek berubah bentuk, yang digunakan untuk menarik perhatian dalam presentasi, dan Exit, kebalikan dari entrance. Efek ini digunakan sebagai sig- nal untuk mengakhiri suatu topik atau presentasi.

Efek animasi dapat sebagai signaling salam upaya men- gurangi beban kognitif, namun pemakaiannya tisak boleh ter- lalu banyak, harus dipakai pasa momen yang tepat. Karena animasi yang terlalu banyak justru akan menimbulkan beban kognitif.

Cara lain dalam signaling adalah dengan mengganti title menjadi heading dan memberikan outline pada awal presen- tasi.

H. PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN ELERNING

Pada era modern ini, proses pembelajaran tidak hanya da- pat dilakukan dengan face to face, namun juga bisa dilakukan dengan jarak jauh. Hal itu memerlukan fasilitas yang canggih dan yang sekarang ini dikembangkan. Jadi jarak tidak lagi men- jadi penghalang untuk melakukan proses pembelajaran. Pem- belajaran model yang demikian ini biasanya disebut dengan pembelajaran jarak jauh atau e-learning. Dengan menggunakan e-learning, pembelajar tidak hanya terbatas dalam suatu nega- ra, bahkan antar negara-negara di dunia. Maka dari itu, penulis akan membahas dengan detail mengenai e-learning tersebut dengan menggunakan informasi-informasi terbaru yang beras- al dari internet.

Dalam dokumen Download (1MB) (Halaman 177-181)