• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan meningkatnya ketegangan dunia termasuk koersi dengan

Dalam dokumen KEPEMIMPINAN BAHARI (Halaman 150-153)

ETII(A DAIIIM SIMBOLISME BAIIARI Oleh: Nois A. Nugroho dan Basuki Isrnael

I. AUT SEBAGN SUMBER ETIKA BAI{ARI Oleh: Kasij an Rornirnohtarto

5. Dengan meningkatnya ketegangan dunia termasuk koersi dengan

senjata nuklir, bangsa-bangsa di dunia melihat lautan yang memisahkan sekaligus menyatukan bangsa-bangsa itu untuk mencari kedamaian dan mulai memandang lautan sebagai "slat" untuk menciptakan kerja sama internasional di berbagai bidang.

Dengan meningkatnya perhatian manusia terhadap

laut,

meningkat pula kesadaran akan pentingnya laut sebagai sumber penghidupan dan oleh karenanya kehadirannya di permukaan bumi

ini

sebagai sumber daya perlu dijaga dan dilestarikan. Namun, pertambahan penduduk di Indonesia khususnya dan di duniaumumnya telah menimbulkan berbagai masalah kelautan seperti perambahan pemukiman ke arah tepi

laut

dan pencarian sumber-sumber daya laut baru dengan melanggar wilayah perairan laut negara tetangga, dan beberapa lagi. Kegiatan-kegiatan semacaln

ini

tidak lagi memandang etika sebagai nilai kehidupan yang luhur dan sebaliknya kebijakan-kebiakan yang dianut hanya didasarkan pada kebutuhan sesaat yang egoistis'

Sumber-Sumber Etiko Bohori unluk Dilestorikon

Laut

telah dimanfaatkan

untuk

berbagai kepentingan.

Laut

sebagai

sumber

daya,

baik nirhayati maupun hayati telah banyak memberi

sumbangan kepada pembangunan ekonomi negara kita.

Di

samping itu laut juga dimanfaatkan untuk media perhubungan, wisata dan rekreasi, sumber arkeologi, kegiatan industri, pertahanan dan keamanan dan pengembangan iptek. Setiap pemanfaatan tersebut mengandung etika yang selalu harus dijaga dan dipupuk agar hasilnya malsimal, tetapi tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan laut beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya.

Untuk

membahas sumber etika bahari tersebut saya hanya

ingin

mengambil tiga bidarrg pem anfaatansaja, yakni sumber dayahayai, media perhubungan, dan pengembangan iptek, tanpa melupakan bahwa bidang-bidang pemanfaatan lain pun mengandung etika bahari yang tidak saya bahas.

l. Pernanfaatan Surnber Daya Hayati

Sumber

daya

hayati,

khususnya

perikanan, telah berabad-abad

dimanfaatkan oleh nelayan baik untuk menghidupi keluarga maupun untuk diperdagangkan. Nelayan tradisional dengan menggunakan alat tangkap ikan yang sederhana dan perahu-perahu kecil melakukan kegiatan mereka sehari-hari dengan sangat terbatas baik

ditinjau

dari daerah penangkapan maupun

waktu

penangkapan. Nelayan-nelayan dengan peralatan yang lebih baik dan perahu-perahu lebih besar dan bermotor cenderung untuk meluaskan daerah penangkapan ikannya ke perairan lebih luas, tidak saja

di propinsi di

mana mereka

bermukim,

tetapi

juga

ke perairan

jauh di

luar propinsi tersebut. Dengan kemajuan teknologi penangkapan ikan dan pelayaran yang canggih, maka kemampuan nelayan-nelayan yang mampu menggunakan

teknologi canggih

akan

lebih

besar

dalam

mengarungi samudera

dan

mengeksploitasi sumber daya

perikanan dibandingkan

dengan dua

kelompok

nelayan

terdahulu. Kelompok

yang

terakhir ini

bahkan mampu mencari ikan di perairan di luar perairan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

Terdapatnya tiga kelompok nelayan ini sering menimbulkan pertentangan kepentingan antara

mereka

yang tidak dapat dihindari.

Terdorong oleh keinginan mengeruk

kekayaan

laut

sebesar-besarnya dan

mencari

keuntungan sebesar-besarnya

pula

maka

nilai

dasar yang terkandung dalam sila ke-5 dari Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sesama nelayan), dan etika agar mereka bersifat adil dalam menangkap ikan, sudah tidak lagi diperdulikan.

Sering

terjadi

nelayan-nelayan tradisional harus kehilangan sumber penghasilannya karena ladang ikannya telah dikuras habis oleh nelayan- nelayan berteknologi

tinggi.

Sebagai akibatnya

terjadilah

gejolak sosial nelayan. Untuk mencegah hal ini, diberlakukanlah berbagai undang-undang perikanan seperti pelarangan penggunaan alat tangkap yang menguras sumber ikan, penutupan daerah perairan bagipenangkapan ikan berteknologi

drgg,

dan sebagainya, yang tujuan utamanya untuk melindungi penghasilan nelayan tradisional dan sumber daya ikan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran nelayan. Meskipun undang-undang telah dibuat dan diterapkan, tetapi masih banyak nelayan yang melakukan pelanggaran

Etika Bahari dan Manaiemen lGbhinekmn Masyarakat: ....

demi keuntungan pribadi. Mereka ini sudah tidak memiliki etika bahari. Satu- satunya cara untuk mendidik mereka adalah mengenakan sanksi hukum yang berlaku yang mestinya cukup berat.

Pada kejadian

lain

terdapat nelayan-nelayan

dari

propinsi yang satu melakukan penangkapan

ikan jauh di "perairan propinsi" yang lain.

Walaupun

belum

ada batas-batas

propinsi untuk laut namun

secara tak tertulis nelayan-nelayanyang berdomisili di perairan tersebut akan merasa bahwa

itu

adalah daerah mata

pencahaiannya.

Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan

dari

propinsi

lain

akan menimbulkan bentrokan sesama nelayan. Etika pergaulan sesamanelayan perlu ditumbuhkan agar tidak terjadi hal-hal seperti itu.

Sebenarnya tanpa merugikan nelayan kecil, pemerintah telah membuat kebij aksanaan-kebij aks anaan perikanan yang cukup menguntun gkan b agi perusahaan-perusahaan

perikanan

nasional

dan

perusahaan patungan dengan negara lain untuk mengeksploitasi ikan di perairan bebas tertentu yang sumber daya ikannya sudah diperhitungkan, dengan cara memberi lisensi kepada kapal-kapal penangkap ikan. Meskipun demikian, menurut

informasi,

ada

juga yang tidak memperdulikan etika, dengan cara

mengelabuhi petugas keamanan laut dengan memberi nomor lisensi sama

untuk

beberapa

kapal

penangkap

ikan

yang

berbeda,

sehingga kapal- kapal penangkap

ikan

yang

belum/tidak

mendapat lisensi seakan-akan sudah memperoleh lisensi, tetapi setelah diperiksa surat-suratnya terbukti melanggar peraturan. Banyak nelayan

dari

beberapa negara asing yang tidak mempedulikan etika pergaulan internasiorral antara bangsa-bangsa bertetangga, dengan melakukan

pencurian Ikan

(poaching)

di perairan

nusantara kita sehingga merugikan negara kita. Negara-negara yang tercatat nelayan-nelayannya melakukan

pencurian ikan

adalah Jepang, Taiwan, Korea dan Thailand. Sebalik ny a ada nelayan-nelayan kita yang melakukan hal yang sama di perairan negara tetangga seperti Australia dan Pilipina.

Penangkapan ikan dengan merusak ekosistem pun merupakan pelanggaran etika.

Penggunaan

bahan peledak dan beracun untuk

menangkap ikan sebanyak-banyaknya dengan mudah tidak memperhatikan kelestarian sumber daya ikan, yang berarti tidak mempedulikan kepentingan orang lain dan generasi mendatang untuk ikut memanfaatkan sumber ikan

rd8 lGlemimpitran Bahari

:,

.

['ut*

tersebut. Etika-etika bahari yang terkandung

di

dalam kegiatan-kegiatan penangkapan

ikan

tersebut

di

atas sudah seharusnya

dihidupkan

dan dilestarikan bukan saja melalui penerapan hukum dan sanksi hukum, tetapi

melalui

kesadaran

pribadi

dan keteladanan

dari

para kapten kapal dan pendega atau pun kepala nelayan.

Dalam dokumen KEPEMIMPINAN BAHARI (Halaman 150-153)