ETII(A DAIIIM SIMBOLISME BAIIARI Oleh: Nois A. Nugroho dan Basuki Isrnael
I. AUT SEBAGN SUMBER ETIKA BAI{ARI Oleh: Kasij an Rornirnohtarto
5. Dengan meningkatnya ketegangan dunia termasuk koersi dengan
senjata nuklir, bangsa-bangsa di dunia melihat lautan yang memisahkan sekaligus menyatukan bangsa-bangsa itu untuk mencari kedamaian dan mulai memandang lautan sebagai "slat" untuk menciptakan kerja sama internasional di berbagai bidang.
Dengan meningkatnya perhatian manusia terhadap
laut,
meningkat pula kesadaran akan pentingnya laut sebagai sumber penghidupan dan oleh karenanya kehadirannya di permukaan bumiini
sebagai sumber daya perlu dijaga dan dilestarikan. Namun, pertambahan penduduk di Indonesia khususnya dan di duniaumumnya telah menimbulkan berbagai masalah kelautan seperti perambahan pemukiman ke arah tepilaut
dan pencarian sumber-sumber daya laut baru dengan melanggar wilayah perairan laut negara tetangga, dan beberapa lagi. Kegiatan-kegiatan semacalnini
tidak lagi memandang etika sebagai nilai kehidupan yang luhur dan sebaliknya kebijakan-kebiakan yang dianut hanya didasarkan pada kebutuhan sesaat yang egoistis'Sumber-Sumber Etiko Bohori unluk Dilestorikon
Laut
telah dimanfaatkanuntuk
berbagai kepentingan.Laut
sebagaisumber
daya,baik nirhayati maupun hayati telah banyak memberi
sumbangan kepada pembangunan ekonomi negara kita.Di
samping itu laut juga dimanfaatkan untuk media perhubungan, wisata dan rekreasi, sumber arkeologi, kegiatan industri, pertahanan dan keamanan dan pengembangan iptek. Setiap pemanfaatan tersebut mengandung etika yang selalu harus dijaga dan dipupuk agar hasilnya malsimal, tetapi tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan laut beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya.Untuk
membahas sumber etika bahari tersebut saya hanyaingin
mengambil tiga bidarrg pem anfaatansaja, yakni sumber dayahayai, media perhubungan, dan pengembangan iptek, tanpa melupakan bahwa bidang-bidang pemanfaatan lain pun mengandung etika bahari yang tidak saya bahas.l. Pernanfaatan Surnber Daya Hayati
Sumber
dayahayati,
khususnyaperikanan, telah berabad-abad
dimanfaatkan oleh nelayan baik untuk menghidupi keluarga maupun untuk diperdagangkan. Nelayan tradisional dengan menggunakan alat tangkap ikan yang sederhana dan perahu-perahu kecil melakukan kegiatan mereka sehari-hari dengan sangat terbatas baikditinjau
dari daerah penangkapan maupunwaktu
penangkapan. Nelayan-nelayan dengan peralatan yang lebih baik dan perahu-perahu lebih besar dan bermotor cenderung untuk meluaskan daerah penangkapan ikannya ke perairan lebih luas, tidak sajadi propinsi di
mana merekabermukim,
tetapijuga
ke perairanjauh di
luar propinsi tersebut. Dengan kemajuan teknologi penangkapan ikan dan pelayaran yang canggih, maka kemampuan nelayan-nelayan yang mampu menggunakanteknologi canggih
akanlebih
besardalam
mengarungi samuderadan
mengeksploitasi sumber dayaperikanan dibandingkan
dengan duakelompok
nelayanterdahulu. Kelompok
yangterakhir ini
bahkan mampu mencari ikan di perairan di luar perairan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Terdapatnya tiga kelompok nelayan ini sering menimbulkan pertentangan kepentingan antara
merekayang tidak dapat dihindari.
Terdorong oleh keinginan mengeruk
kekayaanlaut
sebesar-besarnya danmencari
keuntungan sebesar-besarnyapula
makanilai
dasar yang terkandung dalam sila ke-5 dari Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sesama nelayan), dan etika agar mereka bersifat adil dalam menangkap ikan, sudah tidak lagi diperdulikan.Sering
terjadi
nelayan-nelayan tradisional harus kehilangan sumber penghasilannya karena ladang ikannya telah dikuras habis oleh nelayan- nelayan berteknologitinggi.
Sebagai akibatnyaterjadilah
gejolak sosial nelayan. Untuk mencegah hal ini, diberlakukanlah berbagai undang-undang perikanan seperti pelarangan penggunaan alat tangkap yang menguras sumber ikan, penutupan daerah perairan bagipenangkapan ikan berteknologidrgg,
dan sebagainya, yang tujuan utamanya untuk melindungi penghasilan nelayan tradisional dan sumber daya ikan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran nelayan. Meskipun undang-undang telah dibuat dan diterapkan, tetapi masih banyak nelayan yang melakukan pelanggaranEtika Bahari dan Manaiemen lGbhinekmn Masyarakat: ....
demi keuntungan pribadi. Mereka ini sudah tidak memiliki etika bahari. Satu- satunya cara untuk mendidik mereka adalah mengenakan sanksi hukum yang berlaku yang mestinya cukup berat.
Pada kejadian
lain
terdapat nelayan-nelayandari
propinsi yang satu melakukan penangkapanikan jauh di "perairan propinsi" yang lain.
Walaupun
belum
ada batas-bataspropinsi untuk laut namun
secara tak tertulis nelayan-nelayanyang berdomisili di perairan tersebut akan merasa bahwaitu
adalah daerah matapencahaiannya.
Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayandari
propinsilain
akan menimbulkan bentrokan sesama nelayan. Etika pergaulan sesamanelayan perlu ditumbuhkan agar tidak terjadi hal-hal seperti itu.Sebenarnya tanpa merugikan nelayan kecil, pemerintah telah membuat kebij aksanaan-kebij aks anaan perikanan yang cukup menguntun gkan b agi perusahaan-perusahaan
perikanan
nasionaldan
perusahaan patungan dengan negara lain untuk mengeksploitasi ikan di perairan bebas tertentu yang sumber daya ikannya sudah diperhitungkan, dengan cara memberi lisensi kepada kapal-kapal penangkap ikan. Meskipun demikian, menurutinformasi,
adajuga yang tidak memperdulikan etika, dengan cara
mengelabuhi petugas keamanan laut dengan memberi nomor lisensi samauntuk
beberapakapal
penangkapikan
yangberbeda,
sehingga kapal- kapal penangkapikan
yangbelum/tidak
mendapat lisensi seakan-akan sudah memperoleh lisensi, tetapi setelah diperiksa surat-suratnya terbukti melanggar peraturan. Banyak nelayandari
beberapa negara asing yang tidak mempedulikan etika pergaulan internasiorral antara bangsa-bangsa bertetangga, dengan melakukanpencurian Ikan
(poaching)di perairan
nusantara kita sehingga merugikan negara kita. Negara-negara yang tercatat nelayan-nelayannya melakukanpencurian ikan
adalah Jepang, Taiwan, Korea dan Thailand. Sebalik ny a ada nelayan-nelayan kita yang melakukan hal yang sama di perairan negara tetangga seperti Australia dan Pilipina.Penangkapan ikan dengan merusak ekosistem pun merupakan pelanggaran etika.
Penggunaanbahan peledak dan beracun untuk
menangkap ikan sebanyak-banyaknya dengan mudah tidak memperhatikan kelestarian sumber daya ikan, yang berarti tidak mempedulikan kepentingan orang lain dan generasi mendatang untuk ikut memanfaatkan sumber ikan
rd8 lGlemimpitran Bahari
:,
.['ut*
tersebut. Etika-etika bahari yang terkandung