BAB 3 METODE PENELITIAN
3.5 Menjaga Kualitas Penelitian (Maintaining Quality)
5. Mendefinisikan dan menamakan tema
Pada tahap ini peneliti melakukan penentuan tema besar atau tema akhir dari tema-tema yang telah ditentukan sebelumnya. Tema akhir adalah penggabungan dari semua tema yang telah dibuat, menjadi satu tema besar dan dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana peran program Bujaya di perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.
6. Membuat laporan
Tahap ini merupakan tahap akhir dari menganalisis data penelitian yang dikumpulkan. Setelah peneliti yakin bahwa tema yang telah dibuat sudah mewakili semua data dan dapat menjawab rumusan masalah, selanjutnya peneliti menuliskan laporan yang menjelaskan tema-tema hasil analisis data pada bab 5 yang berisi interpretasi dan penjelasan dari tema-tema tersebut.
1. Credibility
Credibility yaitu uji kepercayaan terhadap data dari hasil penelitian kualitatif yang disajikan oleh peneliti untuk mengetahui kesesuaian data dengan keadaan yang sebenarnya dilapangan. Uji credibility dilakukan dengan mengecek kelengkapan data yang diperoleh dari berbagai sumber (Satori & dkk, 2012: 164). Dalam penelitian ini, untuk menjaga kualitas penelitian peran program Bujaya di perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro, dengan melakukan pengamatan yang cukup lama untuk menumbuhkan keakraban dengan masyarakat serta melakukan pembicaraan dengan masyarakat yang di luar kriteria informan namun tetap termasuk masyarakat Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.
2. Transferability
Transferability disebut juga validitas eksternal yang menunjukkan tingkat ketepatan hasil dapat diterapkan ke pupolasi di mana data penelitian diambil.
Transferability berkaitan dengan bagaimana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan pada situasi lain. Oleh karena itu, peneliti harus menyusun hasil penelitian dengan rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya supaya penelitian ini dapat dipahami oleh orang lain dengan mudah. Mardikanto (2012: 276) menyatakan bahwa supaya orang lain dapat memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut, maka di dalam laporan harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya. Transferability dalam penelitian ini mengenai peran program Bujaya di
perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro dapat dilihat dari kriteria informan dan dari penjelasan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
3. Dependability
Dependability disebut juga reliabilitas yang dilakukan dengan melakukan audit terhadap seluruh proses penelitian. Proses ini dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing untuk mengaudit seluruh aktivitas peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian. Dimulai dari peneliti menentukan masalah penelitian, terjun ke lapangan untuk mengambil data, menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data, hingga membuat kesimpulan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, tahap dependability dapat dilakukan dengan pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Dimulai dari bagaimana peneliti menentukan tema penelitian, menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data, sampai membuat kesimpulan penelitian.
4. Confirmability
Confirmability yaitu mirip dengan dependability sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Uji confirmability berarti menguji hasil penelitian dan dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar confirmability (Sugiyono, 2016: 277). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan review dengan pembimbing maupun pihak lain agar terhindar
dari subjektivitas pada proses maupun hasil penelitian. Sehingga confirmability dalam penelitian ini tercapai dengan adanya kegiatan review dari tiga masyarakat Desa Puro untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan sumber informasi yang jelas, objektif dan mendapatkan kesepakatan banyak orang.
39
BAB 4
GAMBARAN UMUM OBJEK DAN SUBJEK PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Perpustakaan Bukuku Guruku yang berada di Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen, berdiri karena mengikuti Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang pembentukan perpustakaan desa, yang terbentuk dari amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pada tahun 2008, pemerintah Desa Puro mendapatkan surat dari kantor Arpusda kabupaten Sragen untuk mengirimkan perwakilan yang akan mengikuti pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan desa. Setelah mendapatkan pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan desa, pemerintah Desa Puro mulai memperhatikan dan mengembangkan perpustakaan desa, yang dipelopori oleh salah satu perangkat Desa Puro, yaitu ibu Sri Hartati yang akrab disapa dengan ibu Tatik, yang sekarang menjadi kepala perpustakaan Bukuku Guruku.
Awal berdirinya perpustakaan Bukuku Guruku pada tahun 2008 hanya diberi nama perpustakaan Desa Puro. Seiring berkembangnya perpustakaan, nama
“Bukuku Guruku” dicetuskan oleh ibu Tatik pada tahun 2012, dengan alasan belajar itu sepanjang hayat dan kegiatan belajar sangat identik dengan guru.
Masyarakat yang sudah lanjut usia atau ibu rumah tangga, sudah tidak memiliki guru seperti anak muda yang masih menuntut ilmu. Oleh karena itu, ibu Tatik
mencetuskan nama “Bukuku Guruku” karena buku dianggap sebagai guru oleh masyarakat dan sebagai sumber ilmu yang dapat memberikan pengetahuan sepanjang hayat. Semakin berkembangnya waktu, perpustakaan Bukuku Guruku semakin berkembang hingga saat ini karena didukung oleh pemerintah Desa Puro terutama dalam hal pendanaan.
Dalam awal pengembangan dan pengelolaan perpustakaan, ibu Tatik dibantu oleh kelompok ibu-ibu PKK dalam pengklasifikasian koleksi maupun penataan ruang perpustakaan. Seiring berjalannya waktu, ibu Tatik menciptakan beberapa program, yaitu Bujaya, Buimas, Bubimbel, Bulisa Buhassam dan Bulida. Program tersebut lebih disasarkan kepada ibu-ibu rumah tangga dan remaja yang membutuhkan keterampilan untuk membantu perekonomian keluarga.
Tujuan dikembangkannya oerpustakaan Bukuku Guruku, yaitu mencerdaskan masyarakat melalui gerakan literasi yang digalakan oleh perpustakaan dan pemberdayaan masyarakat Desa Puro terutama dalam bidang perekonomian masyarakat. Menciptakan masyarakat yang cerdas dengan memanfaatkan buku yang ada di perpustakaan dan mampu membantu masyarakat dalam mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Melalui keterampilan, masyarakat diharapkan mampu menciptakan karya yang dapat diperjual belikan.
Tidak hanya menyediakan buku untuk masyarakat, perpustakaan Bukuku Guruku juga menciptakan enam program dekat manfaat untuk membantu masyarakat dalam pengentasan kemiskinan masyarakat dan dalam upaya peningkatan literasi masyarakat. Enam program tersebut, yaitu Bulisa, Bujaya, Buimas, Bubimbel,
Buhassa, dan Bulida. Program tersebut memiliki tujuan untuk memberdayakan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua dalam mencerdaskan dan meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat Desa Puro. Selain mengembangkan keterampilan, perpustakaan Bukuku Guruku juga menyediakan tempat dan informasi yang dibutuhkan oleh anak-anak sekolah dalam mengerjakan tugas maupun hanya sekadar mencari hiburan.
4.2 Visi, Misi dan Tujuan
4.2.1 Visi
Visi dari perpustakaan Bukuku Guruku, yaitu terciptanya masyarakat berliterasi yang sejahtera.
4.2.2 Misi
Misi dari perpustakaan Bukuku Guruku, sebagai berikut:
1. Melaksanakan program pendidikan masyarakat melalui perpustakaan.
2. Meningkatkan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dasar IT dan wirausaha.
3. Mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat melalui program Dekat Manfaat.
4. Mengadakan gerakan “Kusumaku” untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
4.2.3 Tujuan
Perpustakaan Bukuku Guruku memiliki tujuan meningkatkan literasi untuk kesejahteraan masyarakat Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.
4.3 Susunan Pengurus Perpustakaan Bukuku Guruku
Bagan 4.1 Susunan Pengurus Perpustakaan Bukuku Guruku
4.4 Kegiatan di Perpustakaan Bukuku Guruku
Beberapa masalah yang timbul di dalam masyarakat seperti kurangnya minat baca masyarakat, rendahnya kemampuan yang dimiliki masyarakat, ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi perekonomian dalam kehidupan sehari-hari, membuat perpustakaan Bukuku Guruku mengadakan beberapa program kegiatan
KEPALA DESA Suyanto, S.H., M.H.
KEPALA PERPUSTAKAAN Sri Hartati, S.H.
URUSAN PENGADAAN DAN PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA
1. Heru Hernando 2. Sukirmanto
URUSAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN 1. Indrarini
2. Ayu Erika Alfiati 3. Novanda Sinta Adhila
yang disebut dengan program dekat manfaat yang dapat membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Program yang diadakan oleh Perpustakaan Bukuku Guruku, antara lain:
1. Bulisa (Buku Keliling Desa)
Program ini dilakukan dengan mengadakan perpustakaan keliling di 13 Posyandu dan kegiatan kemasyarakatan lainnya yang berada di Desa Puro. Kegiatan Bulida dilakukan dengan menyesuaikan jadwal operasional Posyandu dan jadwal kegiatan kemasyarakatan lainnya. Program ini bertujuan untuk menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat khususnya untuk ibu-ibu dan anak-anak yang berada di dalam kegiatan kemasyarakatan agar dapat memanfaatkan bahan bacaan dengan mudah dan untuk meningkatkan literasi membaca di kalangan masyarakat.
Perpustakaan Bukuku Guruku tidak hanya menarik masyarakat untuk datang ke perpustakaan, namun juga melakukan kegiatan untuk mendekat kepada masyarakat melalui program Bulida yang dilakukan dengan mendatangi kegiatan kemasyarakatan yang sedang berlangsung.
Gambar 4.1 Kegiatan Bulisa ketika mendatangi Posyandu di Karangmalang
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
2. Bujaya (Buku Jadi Karya)
Program ini dilakukan dengan mengadakan kerja sama antara perpustakaan dengan Pokja 2 dan Pokja 3 PKK Desa Puro. Kegiatan yang dilaksanakan adalah pelatihan keterampilan, wirausaha, seminar dan sosialisasi yang melibatkan masyarakat Desa Puro. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat supaya mampu menghasilkan produk yang dapat diperjual-belikan supaya mampu meningkatkan kualitas perekonomian rumah tangga. Kegiatan tersebut rutin diadakan setiap bulan pada tanggal 20 pukul 13.00 WIB.
Gambar 4.2 Kegiatan Bujaya Membuat Kue Kukus
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
3. Bubimbel (Buku Pembimbing Belajar)
Perpustakaan mengadakan program bimbingan belajar untuk siswa SD kelas 4, 5, 6 yang diadakan setiap hari Kamis dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Untuk siswa SD kelas 1 sampai dengan kelas 6 diadakan setiap hari Sabtu dengan mata pelajaran Matematika. Kegiatan Bubimbel dilakukan di dalam perpustakaan maupun di luar perpustakaan. Selain mengadakan bimbingan belajar untuk siswa, perpustakaan juga mengadakan pelatihan kesenian, meliputi pelatihan tari dan pelatihan memainkan alat musik angklung, yang diikuti oleh siswa SD.
Gambar 4.3 Kegiatan Bubimbel Di Luar Ruangan
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
4. Buimas (Buka Internet Untuk Masyarakat)
Perpustakaan menyediakan pelayanan internet mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Perpustakaan juga menyediakan empat komputer dan dua laptop yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari informasi maupun untuk sekadar hiburan. Selain itu, perpustakaan mengadakan pelatihan dasar mengenai komputer dan internet yang rutin dilakukan setiap hari Selasa dengan sasaran yaitu anak- anak, remaja maupun orang tua. Kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan mengetik, mengoperasionalkan komputer dan menggunakan internet dengan benar. Kegiatan berikutnya yang dilakukan oleh perpustakaan, yaitu wirausaha online untuk masyarakat Desa Puro, terutama untuk remaja dan ibu rumah tangga.
Kegiatan pelatihan tersebut lebih ditekankan pada penggunaan media sosial untuk media promosi produk yang dimiliki. Wirausaha online dilakukan setiap hari Selasa bersamaan dengan pelatihan dasar mengenai komputer dan internet.
Gambar 4.4 Kegiatan Buimas Penggunaan Komputer Oleh Masyarakat
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
5. Bulida (Bunda Literasi Desa)
Program Bulida yang dilakukan oleh Perpustakaan Bukuku Guruku diciptakan pada tahun 2019. Program Bulida, yaitu kegiatan membaca bergilir oleh ibu-ibu PKK dalam setiap pertemuan ibu-ibu di dalam setiap RT atau biasa yang disebut dengan arisan PKK di Desa Puro. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menumbuhkan minat baca ibu-ibu. Buku yang dibaca saat pertemuan merupakan pengetahuan umum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat khususnya ibu-ibu.
Gambar 4.5 Kegiatan Pengukuhan Bulida di Desa Puro
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
6. Buhassam (Buka Hasil Sodakoh Sampah)
Program ini dilakukan untuk membangun semangat masyarakat dalam memilah dan memilih sampah yang dapat didaur ulang dan tidak dapat didaur ulang.
Sampah-sampah anorganik dapat dikumpulkan dan dibawa ke perpustakaan.
Perpustakaan Bukuku Guruku juga melakukan kerja sama dengan LPTP (Loka Pengkajian Teknologi Pertanian) dalam menciptakan aplikasi antar jemput sampah dari masyarakat yang diberi nama Rapel. Aplikasi tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam mengumpulkan sampah anorganik untuk perpustakaan. Di dalam aplikasi Rapel terdapat user dan kolektor, jika user ingin mengumpulkan sampah di perpustakaan, user hanya memotret sampah yang akan dikumpulkan lalu mengunggah gambar tersebut ke dalam aplikasi, secara otomatis aplikasi Rapel akan mencari kolektor terdekat yang akan mengambil sampah dari
titik penjemputan yang didaftarkan, kemudian diantar ke perpustakaan. Namun, sebelum menggunakan aplikasi Rapel, user harus mendaftarkan diri ke dalam aplikasi tersebut dan memberikan alamat rumah yang akurat untuk titik penjemputan sampah. Untuk kolektor yang menjemput sampah akan dilakukan oleh masyarakat setempat dengan cara mendaftarkan diri sebagai kolektor dan jika poin penjemputan sampah sudah sesuai batas minimal yang ditentukan, kolektor akan mendapatkan upah.
Sampah yang telah dikumpulkan oleh perpustakaan, selanjutnya akan digunakan pada program Bujaya maupun kegiatan lainnya yang memanfaatkan sampah untuk didaur ulang menjadi kerajinan tangan.
Gambar 4.6 Kegiatan Buhassam Dari Masyarakat ke Perpustakaan
(Sumber: Perpustakaan Bukuku Guruku, April 2020)
4.5 Profil Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Informan terdiri dari 2 pihak, yaitu pihak pertama dari perpustakaan Bukuku Guruku dan pihak kedua dari masyarakat Desa Puro. Profil informan akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Kepala Perpustakaan Bukuku Guruku
Pemilihan kepala Perpustakaan Bukuku Guruku sebagai salah satu informan dalam penelitian ini, karena selain menjadi kepala perpustakaan, beliau juga sebagai pendiri sekaligus pengelola Perpustakaan Bukuku Guruku, yang tidak hanya sekadar mengetahui Perpustakaan Bukuku Guruku, tetapi juga memahami tentang program-program yang dilakukan perpustakaan di dalam masyarakat.
Beliau berperan dalam pencetusan program-program yang ada di perpustakaan.
Selain itu, beliau juga bertanggung jawab atas terselenggaranya seluruh program di Perpustakaan Bukuku Guruku.
2. Pengelola Perpustakaan Bukuku Guru
Pemilihan pengelola Perpustakaa Bukuku Guruku sebagai salah satu informan dalam penelitian ini, karena pengelola perpustakaan terlibat dalam pelaksanaan program yang ada di perpustakaan, beliau juga memahami bagaimana program Bujaya dapat membantu dalam pemberdayaan masyarakat Desa Puro.
3. Masyarakat Desa Puro
Pemilihan masyarakat sebagai salah satu informan dalam penelitian ini, karena masyarakat Desa Puro terlibat langsung dalam program Bujaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Bukuku Guruku, dan masyarakat dapat merasakan perubahan atas terlaksanakannya program Bujaya tersebut. Ada beberapa kriteria pemilihan informan untuk masyarakat Desa Puro, yaitu mengetahui adanya perpustakaan Bukuku Guruku, mengikuti program Bujaya yang dilakukan oleh perpustakaan Bukuku Guruku, dan bersedia untuk diwawancara oleh peneliti.
Berikut ini adalah rincian daftar informan penelitian yang meliputi nama serta keterangan informan:
Tabel 4.1 Daftar Informan Penelitian
No. Nama Informan Status
1. Sri Hartati Kepala sekaligus pendiri dan pengelola Perpustakaan Bukuku Guruku
2. Indrarini Pengelola Perpustakaan Bukuku Guruku
3. Maisy Masyarakat Desa Puro
4. Widyati Masyarakat Desa Puro
5. Tenyarti Masyarakat Desa Puro
Kelima informan di atas telah memenuhi kriteria pemilihan informan yang telah ditentukan oleh peneliti dan telah setuju untuk diwawancarai terkait dengan peran program Bujaya yang dilakukan oleh perpustakaan Bukuku Guruku dalam
upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.
53
BAB 5
ANALISIS HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan hasil penelitian data yang diperoleh peneliti mengenai peran program Bujaya di perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen. Data dalam penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh peneliti dari wawancara secara langsung kepada informan, melalui observasi ke lapangan dan studi dokumentasi. Dalam penelitian ini terdapat 5 informan untuk memenuhi data penelitian yang diperlukan. Informan pertama, kepala perpustakaan Bukuku Guruku yang mana beliau juga sebagai pendiri perpustakaan tersebut. Informan kedua, satu orang pengelola perpustakaan Bukuku Guruku. Informan ketiga, satu orang dari masyarakat Desa Puro yang pernah mengikuti program Bujaya dan informan keempat, dua orang dari masyarakat Desa Puro yang telah mengikuti program Bujaya dan telah memiliki usaha dari program Bujaya yang disediakan oleh perpustakaan Bukuku Guruku.
Program Bujaya bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang perekonomian. Mardikanto (2012) menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses dimana masyarakat yang miskin sumber daya, kaum perempuan dan kelompok yang terabaikan didukung supaya mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya secara mandiri.
Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perpustakaan Bukuku Guruku melalui program Bujaya yang disediakan untuk masyarakat, memiliki tujuan
utama dalam peningkatan perekonomian masyarakat Desa Puro, dengan cara memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pelatihan keterampilan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan berbagai pendekatan, dalam penelitian ini menggunakan pendekatan pemberdayaan (empowerment approach) dalam mengkaji program Bujaya dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro. Elliot (1987) dalam Mardikanto (2012) menyatakan bahwa pendekatan pemberdayaan lebih memfokuskan kegiatannya pada pengentasan kemiskinan melalui program-program pelatihan untuk masyarakat supaya mampu meningkatkan kemampuan secara mandiri. Berdasarkan teori dan hasil analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan analisis tematik, ditemukan 2 tema besar dalam program Bujaya perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro, sebagai berikut:
1. Peran program Bujaya dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro sebagai tempat untuk meningkatkan keterampilan
2. Peran program Bujaya dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Puro sebagai sarana dalam menciptakan suatu peluang usaha.
5.1 Peran Program Bujaya dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Puro sebagai Tempat untuk Meningkatkan Keterampilan
Program Bujaya merupakan salah satu program dari Perpustakaan Bukuku Guruku yang tergabung dalam Program Dekat Manfaat Perpustakaan Bukuku Guruku. Program Bujaya atau buku jadi karya yang dilakukan oleh perpustakaan Bukuku Guruku, merupakan suatu program pemberdayaan masyarakat Desa Puro dengan cara melakukan pelatihan keterampilan.
5.1.1 Pelatihan Keterampilan Berdasarkan Koleksi Bahan Pustaka
Program Bujaya merupakan program pelatihan keterampilan yang dilakukan berdasarkan koleksi yang ada di Perpustakaan Bukuku Guruku. Seperti pernyataan informan Sri Hartati, sebagai berikut:
“Yang dimaksud dengan program bujaya itu adalah salah satu dari program perpustakaan Desa Puro dekat manfaat. Bujaya kepanjangan dari buku menjadi karya. Itu yang dimaksud program bujaya. Program bujaya ini dimaksudkan juga untuk mewujudkan slogan kita literasi untuk kesejahteraan.” (Sri Hartati, Jumat 19 Juni 2020 Pukul 10.45 WIB)
Program Bujaya diciptakan oleh perpustakaan Bukuku Guruku dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Puro. Keterampilan yang diajarkan tersebut diambil dari koleksi perpustakaan, yang kemudian dipraktikan bersama- sama dengan masyarakat Desa Puro. Informan Rini mengungkapkan bahwa:
“Program Bujaya itu program pelatihan keterampilan untuk masyarakat yang didasarkan dari buku yang ada di perpustakaan sini mbak.” (Rini, Selasa 28 Juli 2020 Pukul 11.00 WIB)
Berdasarkan pernyataan informan di atas, pelaksanaan program Bujaya didasarkan pada koleksi perpustakaan. Koleksi yang dimaksud merupakan koleksi ilmu terapan yang dapat dipraktikan di dalam kehidupan sehari-hari, misal koleksi tentang cara membuat suatu kerajinan, koleksi tentang membuat suatu makanan, koleksi mengenai cara menanam tanaman, dan koleksi ilmu terapan lainnya yang dapat dipraktikan di dalam kehidupan bermasyarakat. Koleksi perpustakaan sangat mempengaruhi berjalannya program Bujaya. Koleksi perpustakaan sebagai acuan dasar dalam memilih keterampilan yang akan diajarkan kepada masyarakat.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh ungkapan dari informan Widyati, sebagai berikut:
“Bujaya kan memang program dari perpus desa ya buku jadi karya, ya kita membaca buku kemudian kita mempraktikannya menjadi suatu hasil produk.”
(Widyati, 19 Juni 2020 Pukul 12.30 WIB)
Program Bujaya diadopsi dari koleksi perpustakaan yang dipraktikan untuk dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan suatu produk.
Pernyataan informan Tenyarti mengenai program Bujaya, sebagai berikut:
“Program Bujaya itu program pelatihan keterampilan yang dilakukan dari buku jadi dipraktikkan gitu, kan buku jadi karya. Bujaya itu kegiatan yang sangat membantu masyarakat dalam pengetahuan dan keterampilan juga.”
(Tenyarti, 30 Juni 2020 Pukul 10.30 WIB)
Koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Bukuku Guruku yang dipraktikan dalam pelatihan keterampilan, dapat membantu masyarakat dalam menambah pengetahuan dan juga menambah keterampilan dalam membuat suatu produk.
Berdasarkan pernyataan dari 3 informan di atas, program Bujaya dilakukan dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan yang telah ada. Selain untuk mengadakan pelatihan keterampilan, program Bujaya ditujukan untuk menarik
minta kunjung masyarakat Desa Puro ke perpustakaan Bukuku Guruku. Dengan adanya program Bujaya, masyarakat menjadi tertarik dan membutuhkan buku sebagai pedoman dalam pelatihan maupun dalam usaha yang akan dilakukan.
5.1.2 Kondisi Masyarakat Desa Puro
Program Bujaya berfokus pada pemberdayaan masyarakat, terutama kaum perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh informan Maisy sebagai berikut:
“Ya. Remaja juga boleh mengikuti pelatihan. Ketika saya ikut pelatihan, memang yang lebih banyak pesertanya itu ibu-ibu tapi untuk remaja juga welcome kok. Pelatihannya juga menyenangkan, tidak membosankan dan tidak membedakan antara remaja maupun ibu-ibu.” (Maisy, Selasa 28 Juli 2020 Pukul 15.20 WIB)
Berdasarkan ungkapan informan di atas, program Bujaya dapat diikuti oleh semua masyarakat. Meskipun program Bujaya bertujuan untuk pemberdayaan perempuan, namun untuk laki-laki yang ingin mengikuti pelatihan sangat diperbolehkan. Dari pernyataan informan di atas, pada pelaksanaan program Bujaya hanya ada ibu-ibu dan remaja putri yang mengikutinya. Jumlah remaja putri yang mengikuti pelatihan tidak banyak karena masih menempuh pendidikan dan sulit untuk meluangkan waktu. Program Bujaya juga dilakukan di hari yang tidak tentu, tergantung pada jadwal yang dibuat oleh pihak perpustakaan setiap awal bulan.
Program Bujaya termasuk ke dalam program pemberdayaan perekonomian masyarakat Desa Puro yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Puro. Terciptanya program Bujaya karena kondisi masyarakat yang kurang memiliki semangat untuk menciptakan