BAB 5 ANALISIS HASIL PENELITIAN
5.1 Peran Program Bujaya dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
5.2.1 Usaha yang Dimiliki Masyarakat Desa Puro
mandiri tersebut diganti tanpa ada bunga. Masyarakat cukup mengganti dana sebesar dana yang dipinjam saja.
Program Bujaya semakin berkembang dan semakin banyak masyarakat yang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan individu.
Produk-produk keterampilan yang diajarkan dalam program Bujaya, dapat dijadikan usaha bagi masyarakat yang ingin mengentaskan diri dari kemiskinan.
Gambar 5.6 Produk Usaha Widyati Keripik Ampas Tahu
(Sumber: Rumah Widyati, Juni 2020)
Gambar di atas merupakan salah satu produk usaha dari Widyati, yaitu keripik dari ampas tahu. Produk usaha yang ditekuninya itu mampu membuatnya menjadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan tanpa harus bekerja keluar rumah. Sistem penjualan produknya melalui sosial media dan dipromosikan kepada teman- temannya dari mulut ke mulut. Informan Widyati mengungkapkan mengenai penghasilannya sebagai berikut:
. “Penghasilan saya perbulan bisa sekitaran 1 juta untuk keripik ampas tahu.” (Widyati, Jumat 19 Juni 2020 Pukul 12.50 WIB)
Informan di atas memiliki penghasilan yang cukup besar untuk tingkat ibu rumah tangga yang dulunya tidak berpenghasilan. Informan Widyati mengungkapkan
bahwa program Bujaya mampu membantu dirinya untuk memiliki usaha yang dapat membantu masalah perekonomian keluarganya.
Informan Widyati selain memiliki usaha keripik ampas tahu, juga memiliki usaha membuat dan menjual tas anyaman. Tas anyaman tersebut awalnya diciptakan sebagai wadah keripik ampas tahu, namun semakin lama tas anyaman yang diciptakan semakin bervariasi dan masyarakat banyak yang memesan tas anyaman tersebut dengan model tas seperti permintaan pelanggan.
Gambar 5.7 Produk Usaha Widyati Tas Anyaman
(Sumber: Rumah Widyati, Juni 2020)
Gambar 5.7 di atas merupakan tas anyaman dari Widyati yang dijadikan sebuah usaha untuk memenuhi kebutuhan perekonomiannya. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan informan Tenyarti sebagai berikut:
“Sangat berpengaruh mbak. Karena dari mengikuti pelatihan keterampilan Bujaya itu para ibu-ibu rumah tangga bisa mempunyai usaha sendiri dan menghasilkan pendapatan sendiri.” (Tenyarti, Selasa 30 Juni 2020 Pukul 10.30 WIB)
Pernyataan informan Tenyarti di atas, memperkuat bahwa program Bujaya mampu membantu masyarakat dalam membuka lapangan pekerjaan sehingga ibu- ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan dapat memiliki usaha serta penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Informan Tenyarti sebelum mengikuti program Bujaya, sudah memiliki beberapa keterampilan yaitu membuat bros atau pernak-pernik dari kain perca dan membuat pupuk kompos. Namun, keterampilan yang dimilikinya itu belum dapat berkembang dengan baik dan belum dijadikan suatu produk untuk usaha. Beliau mengikuti program Bujaya awalnya sebagai pembicara dalam pelatihan pembuatan pupuk kompos. Informan Tenyarti dapat mengembangkan usahanya melalui berbagai rangkaian pelatihan dari program Bujaya. Tidak hanya menjadi pengisi acara saja, informan Tenyarti juga menjadi peserta dalam pelatihan manajemen usaha program Bujaya. Seperti yang diungkapkan informan Tenyarti sebagai berikut:
“Saya mengikuti Bujaya bisa mengembangkan keterampilan yang saya punya menjadi produk yang layak dijual, cara memanajemen usaha dan cara memasarkan usaha saya.” (Tenyarti, Selasa 30 Juni 2020 Pukul 10.45 WIB)
Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa manfaat mengikuti program Bujaya menurut informan Tenyarti yaitu dapat mengembangkan keterampilan yang telah dimilikinya menjadi produk usaha yang siap bersaing dengan produk lain di pasar. Informan juga ingin memiliki kemampuan manajemen usaha yang sesuai dan terstruktur, serta mengetahui cara memasarkan produk usaha yang dimilikinya menjadi produk yang banyak dikenal oleh masyarakat Desa Puro maupun masyarakat di luar Desa Puro. Informan Tenyarti memiliki berbagai produk usaha yang di dapatkan dari pelatihan keterampilan program Bujaya.
Gambar 5.8 Produk Usaha Tenyarti Black Garlic
(Sumber: Rumah Teniyarti, Juni 2020)
Gambar 5.8 merupakan usaha black garlic yang dimiliki oleh Tenyarti yang didapatkan dari program Bujaya untuk membantu memenuhi perekonomiannya.
Seperti yang diungkapkan informan Tenyarti mengenai manfaat yang dirasakan setelah mengikuti program Bujaya terhadap usaha yang dimilikinya, sebagai berikut:
“Keterampilan saya yang pertama itu membuat kain perca jadi dompet, tempat tisu gitu. Keterampilan itu saya dapatkan sebelum ada program Bujaya, kemudian ikut Bujaya untuk menambah wawasan, motivasi, inovasi untuk berkembang, kemudian ada lomba perpustakaan gitu untuk membuat essai yang memotivasi orang lain bahwa usaha dengan kain perca itu bisa mendapatkan penghasilan, itu masih kerja sama dengan perpus seru yang diajukan Bu Tatik ke tingkat nasional itu saya menang.
Lalu setelah mengikuti Bujaya saya bisa mengembangkan keterampilan saya seperti membuat Kokedama dan black garlic.” (Tenyarti, Selasa 30 Juni 2020 Pukul 10.58 WIB)
Berdasarkan pernyataan dari informan Tenyarti di atas, program Bujaya tidak hanya memberikan pelatihan mengenai cara membuat produk saja tetapi juga memberikan pelatihan mengenai pengetahuan cara berbisnis yang baik.
Informan Tenyarti juga dapat mengikuti lomba tingkat nasional sebagai pembuat keterampilan yang menarik dari kain perca atau kain yang sudah tidak bisa digunakan untuk membuat pakaian. Keterampilan Tenyarti dalam memanfaatkan kain perca sudah dimiliki sebelum terciptanya program Bujaya, namun keterampilan tersebut belum diasah dan belum dapat dikembangkan sebagai suatu usaha. Tenyarti dapat mengikuti lomba tersebut karena adanya pendampingan dan dukungan dari Perpustakaan Bukuku Guruku melalui program Bujaya yang mampu memberikan semangat serta sebagai teman untuk saling berusaha bersama.
Gambar 5.9 Produk Usaha Teniyarti Kain Perca
(Sumber: Rumah Teniyarti, Juni 2020)
Gambar di atas merupakan produk usaha dari Teniyarti yang sudah berkembang dan dijadikan sebagai penghasilan utama untuk Teniyarti. Dari keterampilan yang hanya dimiliki sendiri dan belum dapat berkembang, setelah mengikuti program Bujaya, Teniyarti mampu mengasah keterampilannya menjadi sebuah produk usaha yang layak jual. Dari terkenalnya produk usaha yang dimiliki informan Tenyarti, beliau dapat memiliki penghasilan harian bahkan penghasilan bulanan yang mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Mulai dari yang awalnya hanya sekadar keterampilan biasa, hingga saat ini menjadi keterampilan yang bisa dijual dan dapat diajarkan ke orang-orang yang ingin memiliki keterampilan yang sama.
Di dalam masyarakat, program Bujaya yang memiliki tujuan untuk memberdayakan perempuan dengan memiliki penghasilan sendiri, tidak hanya meminta penghasilan dari suami, program Bujaya sudah berhasil dalam memberdayakan perempuan di Desa Puro dengan memberikan pelatihan keterampilan untuk bekal dalam membangun suatu usaha yang dapat menghasilkan pendapatan. Seperti yang diungkapkan oleh informan Maisy mengenai dampak program Bujaya terhadap penghasilan masyarakat, sebagai berikut:
“Dari memiliki keterampilan itu masyarakat bisa membuat produk yang diperjual-belikan dan menghasilkan uang.” (Maisy, Selasa 28 Juli 2020 Pukul 15.20 WIB)
Berdasarkan pernyataan di atas, keterampilan yang dimiliki masyarakat melalui program Bujaya sangat membantu masyarakat dalam menciptakan suatu produk usaha yang dapat diperjual belikan. Dari usaha yang hanya dikembangkan di rumah, masyarakat sudah berhasil memenuhi kebutuhan rumah tangganya sedikit demi sedikit, sehingga dapat memberikan kesejahteraan di dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti yang dinyatakan informan Tenyarti sebagai berikut:
“Besar, mbak. Sangat membantu dalam perekonomian keluarga terutama.”
(Tenyarti, Selasa 30 Juni 2020 Pukul 10.40 WIB)
Berdasarkan pernyataan informan di atas, perekonomian keluarga mampu tercukupi dengan bantuan ibu-ibu rumah tangga yang mempunya penghasilan sendiri. jika perekonomian keluarga mampu teratasi dengan baik, semakin lama perekonomian yang ada di masyarakat Desa Puro juga membaik dan kemiskinan yang ada di Desa Puro semakin mengecil. Program Bujaya berhasil dalam
melakukan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan yang ada di masyarakat Desa Puro, melalui pelatihan keterampilan yang diikuti oleh ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan informan Tenyarti sebagai berikut:
“Dulu itu banyak ibu rumah tangga yang menganggur sekarang bisa membuat usaha dan mendapatkan penghasilan.” (Tenyarti, Selasa 30 Juni 2020 Pukul 11.05 WIB)
Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perpustakaan Bukuku Guruku melalui program Bujaya sangat berhasil dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga untuk memenuhi kehidupan rumah tangganya. Jika perekonomian keluarga dapat tercukupi, maka perekonomian di dalam seluruh masyarakat Desa Puro juga mampu teratasi.
Peran program Bujaya dalam upaya pemberdayaan perekonomian masyarakat Desa Puro yaitu membantu masyarakat dalam menciptakan suatu usaha yang dapat menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan perekonomiaannya. Masyarakat yang telah mengikuti pelatihan keterampilan dalam program Bujaya, selalu dibimbing melalui program Bujaya untuk dapat menciptakan suatu usaha sendiri. program Bujaya memiliki peran untuk membantu masyarakat dalam menciptakan usahanya sehingga masyarakat memiliki penghasilan yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan perekonomiannya. Usaha yang telah dimiliki oleh masyarakat Desa Puro sebagai hasil dari program Bujaya, kemudian tetap diberi pelayanan oleh Perpustakaan
Bukuku Guruku mengenai perizinan usaha untuk menjadi UMKM Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.
85
BAB 6 PENUTUP
6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai peran program Bujaya di perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan perekonomian masyarakat Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen, peneliti memperoleh 2 tema mengenai peran program Bujaya dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang meliputi peran program Bujaya sebagai tempat untuk meningkatkan keterampilan masyarakat Desa Puro dan peran program Bujaya sebagai sarana masyarakat Desa Puro dalam menciptakan suatu usaha.
Dalam peran program Bujaya sebagai tempat untuk meningkatkan keterampilan masyarakat Desa Puro, program Bujaya memberikan pelatihan mengenai keterampilan tangan maupun keterampilan mengelola suatu usaha.
Pelatihan keterampilan tersebut didasarkan pada koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan Bukuku Guruku, yang kemudian untuk melengkapi materi dan memperluas pengetahuan, pihak perpustakaan mengundang seseorang yang ahli dalam bidang keterampilan yang diajarkan untuk menjadi pengisi acara maupun menjadi pelatih dalam pelatihan keterampilan yang dilakukan. Contohnya, program Bujaya mengadakan pelatihan tentang pembuatan keripik pisang dengan cara-cara yang dilakukan didasarkan pada koleksi bahan pustaka yang ada. Selain memberikan pelatihan keterampilan, program Bujaya juga memberikan seminar
mengenai usaha dengan mendatangkan pembicara yang telah sukses menjadi pengusaha, supaya masyarakat memiliki pemikiran dan pandangan yang lebih mengenai suatu usaha.
Program Bujaya juga memiliki peran dalam upaya pemberdayaan perekonomian masyarakat Desa Puro sebagai sarana masyarakat Desa Puro dalam menciptakan suatu usaha. Program Bujaya menyediakan fasilitas kepada masyarakat dalam menciptakan suatu usaha yang mampu meningkatkan perekonomiannya. Dengan dilakukannya pelatihan keterampilan, masyarakat yang mengikuti dapat mengasah kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan suatu produk yang kemudian dapat dijadikan suatu usaha. Dari usaha yang dimiliki, masyarakat mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dengan terpenuhinya perekonomian rumah tangga secara mandiri, masyarakat semakin lama dapat saling membantu masyarakat yang lain untuk memperoleh lapangan pekerjaan. Dengan begitu, peran program Bujaya mampu membuat masyarakat Desa Puro keluar dari kemiskinan dengan cara membantu masyarakat untuk menciptakan suatu usaha yang dapat membantu masalah perekonomiannya.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran program Bujaya di perpustakaan Bukuku Guruku dalam upaya pemberdayaan masyarakat sesa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen, peneliti menyampaikan saran yang telah dianalisis, sebagai berikut:
1. Pelaksanaan program Bujaya untuk ibu-ibu dan remaja putri sebaiknya dipisah waktunya. Program Bujaya yang untuk remaja putri diadakan khusus untuk remaja putri dan untuk ibu-ibu diadakan khusus untuk ibu-ibu. Untuk remaja putri sebaiknya dilakukan pada hari libur. Kegiatan tersebut dipisah karena sering kali remaja putri merasa sungkan jika bergabung dengan ibu-ibu. Jika kegiatan program Bujaya dipisah, maka remaja putri akan lebih tertarik mengikuti program Bujaya dan dapat meningkatkan keterampilan tanpa harus malu karena bergabung dengan ibu-ibu.
2. Program Bujaya sebaiknya juga diadakan untuk bapak-bapak supaya bapak- bapak di Desa Puro juga memiliki kemampuan dalam bidang usaha.
3. Pelatihan keterampilan dalam program Bujaya perlu diadakan pelatihan mengenai penggunaan media sosial dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini, mengingat saat ini media sosial lebih memanjakan masyarakat dan banyak dicari oleh masyarakat.
88
DAFTAR PUSTAKA
Abu, R. (2014). The Role of the Rural Public Library in Community
Development and Rural Public Libraries In Malaysia And Australia.
Dissertation. Tersedia dari EBSCOhost OpenDissertation Database.
(86769DEEDA209D37).
Anna, N., dkk. (2019). Evaluation of the Role of Society-Based Library in
Empowering Surabaya City People. Journal of Public Library Quarterly, 1541-1540. https://doi.org/10.1080/01616846.2019.1616272
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakti. Jakarta:
Rineka Cipta.
Braun, V., Clarke, V. (2006). Using Thematic Analysis in Psychology. Journal of Qualitative Research In Psychology, 3(2), 77-101.
Doi: 10.1191/1478088706qp063oa.
Domai, T. (2018). Pelatihan Pengolahan Koleksi Dalam Mendukung
Pengembangan Perpustakaan Desa. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1),
69-83. Diakses dari
http://ejurnal.budiutomomalang.ac.id/index.php/pambudi/article/view/273 pada 20 Maret 2020.
Emzir. (2012). Analisis Data: Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Hadiwijoyo, S. S. (2012). Perencanaan Pariwisata Perdesaan Berbasis Masyarakat (Sebuah Pendekatan Konsep). Yogyakarta: Graha Ilmu.
Herdiansyah, H. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika.
Heriyanto. (2018). Thematic Analysis sebagai Metode Menganalisa Data untuk Penelitian Kualitatif. Jurnal Anuva, 2(3), 317-324. Diakses dari https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/view/3679/2059 pada 2 April 2020.
Idrus, M. (2009). Metode ilmu pengetahuan sosial. Yogyakarta: Erlangga.
L. Cohen. (2007). Research Methods in Education (6th ed.). New York:
Routlege Falmer.
Lestari, D., Slamet S. (2017). Peran Perpustakaan Jalanan Terhadap
Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kualitatif Perpustakaan Jalanan Semarang di Taman Pandanaran, Semarang). Jurnal Ilmu Perpustakaan,
6(3), 431-440. Diakses dari
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jip/article/view/23175 pada 11 Maret 2020.
Mardikanto. (2012). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Maskurotunisa, R. S., Rohmiyati, Y. (2016). Peran Perpustakaan Desa “Mutiara”
Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Jurnal Ilmu Perpustakaan, 5(4), 81-90.
Diakses dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jip/article/view/15335 pada 12 Maret 2020.
Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah RI. (2001). Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001 Tentang 26 perpustakaan desa/kelurahan. Jakarta: Menteri Dalam Negeri danOtonomi
Daerah RI. Diakses dari
https://www.jdih.sulbarprov.go.id/view/download.php?page=peraturan&id
=4536 pada 20 Maret 2020.
Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif (Revisi ed.). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Moleong, L. J. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Nugrahani, F. (2014). Metode Penelitian Kualitatif:dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Solo: Cakra Books.
Pemerintah Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta: Presiden Republik Indonesia. Diakses dari http://ppid.perpusnas.go.id/upload/regulasi/094607-
UU_No_43_tahun_2007_tentang_Perpustakaan.pdf pada 22 Maret 2020.
Satori, dkk. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Standar Nasional Indonesia. (2010). Perpustakaan desa/kelurahan.
Jakarta: Badan Nasional Indonesia.
Saeful, A., Sukaesih. (2017). Transformasi Perpustakaan Desa Untuk
Pemberdayaan Masyarakat : Studi Kasus Di Desa Margamukti – Pangalengan Bandung. Jurnal Perpustakaan Pertanian, 26(2), 47-52.
Diakses dari
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jpp/article/view/8255 pada 10 Maret 2020.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sulistiyani, A. (2004). Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan. Yogyakarta:
Gaya Media.
Sulistyo-Basuki. (2006). Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Sutarno, N. (2004). Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Samitra Media Utama.
Sutarno. (2006). Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto.
Widjajanti, K. (2011). Model Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ekonomi
Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan, 12(1), 15-
27. Diakses dari
http://journals.ums.ac.id/index.php/JEP/article/viewFile/202/189 pada 15 April 2020.
Winoto, Y., Sukaesih. (2019). Studi Tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyelenggaraan Perpustakaan Desa Dan Taman Baca Masyarakat.
Journal of Library and Information Science, 9(1), 79-94. Diakses dari https://ejournal.upi.edu/index.php/edulib/article/view/16170 diakses pada tanggal 6 April 2020 pada 10 Maret 2020.
Wrihatnolo, R. R., Dwidjowijoto R. N. (2007). Manajemen Pemberdayaan:
Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
YS. Lincoln, G. E. (1985). Naturalistic Inquiry. Newbury Park: Sage
Publications. Diakses dari
https://www.researchgate.net/publication/215788544_Naturalistic_inquiry pada 20 April 2020.
1
LAMPIRAN
2
Surat Izin Penelitian LAMPIRAN 1
3
Surat Keterangan Penelitian LAMPIRAN 2
4
Pedoman wawancara
PERAN PROGRAM BUJAYA PERPUSTAKAAN BUKUKU GURUKU DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Nama : Instansi : Waktu :
Pengelola Perpustakaan 1. Apa yang dimaksud tentang program Bujaya?
2. Bagaimana cara kerja program Bujaya?
3. Apa yang melatar belakangi terciptanya program Bujaya?
4. Apa tujuan dari program Bujaya?
5. Kegiatan apa saja yang ada di program Bujaya?
6. Siapa yang menjadi sasaran dari program Bujaya?
7. Apa koleksi perpustakaan sangat berpengaruh pada kelancaran Bujaya?
8. Jika ada pelatihan yang akan dilakukan namun tidak ada koleksi perpustakaan tentang prlatihan tersebut, lalu bagaimana?
9. Untuk memulai Bujaya apakah berdasarkan koleksi yang ada / koleksi itu akan dicarikan dan menyesuaikan dengan pelatihan yang akan dilakukan?
10. Apakah Bujaya sangat membantu dalam pengentasan kemiskinan masyarakat Desa Puro?
11. Bagaimana Bujaya dapat berperan dalam pemberdayaan masyarakat?
12. Bagaimana antusiasme masyarakat dalam mengikuti program Bujaya?
13. Apa fasilitas yang disediakan dalam Bujaya?
14. Apa kendala dalam melaksanakan program Bujaya?
15. Apakah sudah ada masyarakat yang membaik masalah perekonomiannya karena mengikuti Bujaya?
16. Apa manfaat yang didapatkan oleh masyarakat setelah mengikuti Bujaya?
LAMPIRAN 3
5
17. Bagaimana kelanjutan Bujaya setelah selesai pelatihan? Apakah disediakan sarana untuk melanjutkan keterampilan agar menjadi mata pencaharian / tidak?
18. Bagaimana menjaga keberlangsungan program Bujaya?
19. Apa harapan Ibu untuk program Bujaya?
Masyarakat Desa Puro 1. Pendapat tentang program Bujaya?
2. Apa yang memotivasi Anda untuk ikut BUjaya?
3. Manfaat yang diperoleh dari Bujaya?
4. Seberapa penting Bujaya dalam membantu peningkatan ekonomi keluarga?
5. Apakah Anda sering membaca buku di perpustakaan terutama koleksi yang dipakai untuk Bujaya?
6. Keterampilan apa yang Anda dapatkan dari Bujaya?
7. Kendala apa yang ada dalam mengikuti Bujaya?
8. Dari mana Anda mengetahui tentang program Bujaya?
9. Sejak kapan Anda mengikuti program Bujaya?
10. Seberapa besar Bujaya dalam mempengaruhi perekonomian Anda?
11. Fasilitas yang didapatkan dari program Bujaya?
12. Apakah Bujaya mampu mensejahterakan masyarakat Dea Puro?
13. Apakah Bujaya mampu memberdayakan masyarakat sesuai dengan tujuan dari Bujaya?
14. Usaha apa yang Anda miliki sekarang setelah mengikuti program Bujaya?
15. Apakah Anda merasa Bujaya memperbaiki perekonomian keluarga Anda?
16. Apa harapan Anda untuk Bujaya?
6
Transkrip wawancara dan koding
LAMPIRAN 4
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19 Grouping
No. Kode Grup
1 H1, H30, H44, H49 Program Bujaya H10 Alasan masyarakat dalam mengikuti program Bujaya
H37 Manfaat program Bujaya
H42 Motivasi untuk mengikuti program Bujaya
Program Bujaya
2 H2 Pelatihan berdasarkan koleksi
H14, H16, H27, H45 Pelatihan keterampilan H29 Pelatihan pemasaran produk
H39, H40 Keterampilan masyarakat
Pelatihan keterampilan
3 H18, H20, H36 Koleksi perpustakaan H19 Pemanfaatan koleksi perpustakaan
Koleksi perpustakaan 4 H3, H25 Program perpustakaan desa
H11, H15, H31, H33, H46 Kerjasama perpustakaan desa
H13, H17, H22 Layanan perpustakaan desa H48 Kegiatan masyarakat di perpustakaan
Perpustakaan Desa
5 H4, H23, H26 Perekonomian masyarakat H12 Permasalahan perekonomian masyarakat
Perekonomian masyarakat 6 H5, H6 Keadaan masyarakat
H41 Kondisi masyarakat
Keadaan masyarakat 7 H7 Sasaran program Bujaya
H9, H21, H47, H51 Peserta program Bujaya
Peserta program Bujaya
8 H8 Produk usaha masyarakat
H32, H34, H35, H38, H43 Penghasilan masyarakat
H50 Pendapatan masyarakat
Penghasilan masyarakat
9 H24 Peningkatan pengetahuan masyarakat Pengetahuan masyarakat 10 H28 Mengikuti perkembangan teknologi
informasi
Mengikuti perkembangan teknologi informasi LAMPIRAN 5
20
Penentuan Tema
Pengetahuan masyarakat Perpustakaan Desa
Mengikuti perkembangan teknologi informasi Program Bujaya
Pelatihan keterampilan Koleksi perpustakaan Peserta program Bujaya
Perekonomian masyarakat Keadaan masyarakat Penghasilan masyarakat
Keterampilan
Produk Usaha LAMPIRAN 6
21
Catatan Lapangan
Kamis, 19 Desember 2019
Saya pertama kali mendatangi perpustakaan Bukuku Guruku untuk memberikan surat pengantar penelitian saya dan menjelaskan tentang maksud kedatangan saya.
Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB dan memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di perpustakaan. Sesampainya saya di perpustakaan, saya langsung bertemu dengan Ibu Sri Hartati yang sering disapa Bu Tatik selaku kepala perpustakaan Bukuku Guruku yang saat itu sedang berada di perpustakaan. Saya menjelaskan maksud kedatangan saya untuk mengadakan penelitian di perpustakaan Bukuku Guruku yang berfokus pada program Bujaya.
Di sana ada 3 pengelola perpustakaan, semua pengelolanya perempuan. Mereka sangat ramah dan melayani pengunjung dengan baik. Ketika saya berada di perpustakaan, ada 3 anak kecil laki-laki yang sedang membaca buku bergambar anak-anak selagi menunggu dijemput oleh orang tuanya. Ketika saya sudah selesia menjelaskan maksud kunjungan saya, saya mengobrol dengan Bu Tatik mengenai kondisi masyarakat Desa Puro sambil membangun kedekatan dengan beliau.
Pukul 11.12 WIB saya berpamitan untuk pulang dan akan kembali jika ingin mengambil data atau sekadar mencari informasi.
LAMPIRAN 7
22 Selasa, 2 Juni 2020
Setelah beberapa bulan saya tidak berkunjung ke perpustakaan karena terjadi pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua masyarakat untuk lockdown, akhirnya saya kembali di perpustakaan dengen tetap mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 08.30 WIB dan sampai di sana sekitar pukul 09.00 WIB. Perpustakaan Bukuku Guruku juga menerapkan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat untuk cuci tangan sebelum masuk ke perpustakaan dan semua pengunjung serta pengelola wajib menggunakan masker dan berjaga jarak satu sama lain. Saya datang ke perpustakaan untuk mencari informasi untuk memenuhi bab 4 saya yaitu mengenai profil perpustakaan dan struktur kepengurusan di Perpustakaan Bukuku Guruku. Saya diberikan buku profil perpustakaan yang digunakan untuk mengikuti lomba perpustakaan desa antar provinsi Jawa Tengah. Dari buku profil tersebut, saya mendapatkan semua informasi mengenai perpustakaan Bukuku Guruku. Sebelum pulang, saya membuat janji terlebih dahulu dengan Bu Tatik untuk dapat di wawancarai mengenai program Bujaya.
Jumat, 19 Juni 2020
Hari ini pukul 09.30 WIB saya mendapat pesan dari Bu Tatik bahwa beliau sedang berada di perpustakaan dan memiliki waktu luang untuk memberikan data mengenai program Bujaya. Saya langsung bersiap-siap dan berangkat dari rumah sekitar pukul 09.55 WIB. Sebelum tiba di perpustakaan, saya membeli Serabi