• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kasus. Paradigma penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian kualitatif yang menghasilkan data, tulisan, dan tingkah laku yang didapat dan apa yang diamati dan juga untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. Dengan menggunakan penelitian kualitatif peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam tentang penyebab remaja menggunakan narkoba di lingkungan keluarga miskin di Kelurahan Mandailing Tebing Tinggi. Penelitian kualitatif digunakan untuk melihat individu secara utuh serta berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi (Ginting, 2005: 14)

Pendekatan kasus adalah penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisasi baik mengenai unit tersebut. Tergantung pada tujuannya, ruang lingkup penelitian itu mungkin mencakup keseluruhan siklus kehidupan atau hanya segmen-segmen tertentu saja. Studi ini mungkin mengkonsentrasikan diri pada faktor-faktor khusus tertentu atau dapat pula mencakup keseluruhan faktor-faktor dan kejadian.

Tujuan dari penelitian kasus adalah untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial baik individu, kelompok, lembaga atau masyarakat. (Sumadi Suryabrata, 2002: 22).

3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada remaja keluarga miskin yang ada di Kelurahan Mandailing Kecamatan Tebing Tinggi Kota. Alasan peneliti memilih di daerah ini, karena daerah kampung Mandailing memiliki streotipe yang negatif dari masyarakat sekitar. Terkait dengan perilaku penyalahgunaan narkoba pada remaja. Menurut data Kepolisian Reskrim Tebing Tinggi tahun 2011 sampai 2012 ada sekitar 43 tersangka pengguna narkoba pada remaja di Kelurahan Mandailing yang terjadi di lingkungan keluarga miskin.

3.3. Unit analisis dan informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian.

Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah para remaja yang menggunakan narkoba, yang tinggal di lingkungan keluarga miskin di kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi Kota.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang-orang yang masuk dalam karakteristik unit analisis dan dipilih menjadi sumber data yang memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti (Arikunto, 2006). Adapun informan dalam penelitian ini adalah:

1. Para remaja yang melakukan tindakan penyalahgunaan narkoba yang berumur 16 – 24 tahun.

2. Para orang tua remaja yang menggunakan narkoba, untuk mengetahui hubungan orang tua dan anak.

3. Masyarakat lingkungan tempat tinggal remaja yang menggunakan narkoba dan masyarakat tersebut mengetahui adanya penggunaan narkoba tersebut.

Pengambilan informan dilakukan dengan snowball sampling yaitu teknik sampling dimana responden awal dipilih berdasarkan kriteria penelitian.

Kemudian mereka diminta untuk memberikan informasi mengenai rekan – rekan lainya sehingga diperoleh lagi informan tambahan.

Adapun kriteria – kriteria remaja pengguna narkoba adalah sebagi berikut:

1. Remaja tersebut berasal dari keluarga yang kurang mampu 2. Pernah dan masih menggunakan narkoba saat ini

3.Remaja tersebut tinggal di kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi Kota

4. Remaja tersebut berusia 16 sampai 24 tahun

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan ada 2 yaitu data primer dan data sekunder, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui observasi dan wawancara, oleh karena itu untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara penelitian lapangan, yaitu sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu pengamatan yang dilakukan secara langsung untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini peneliti hanya berperan sebagai pengamat. Observasi dilakukan untuk mengamati objek di lapangan yang meliputi remaja yang menggunakan naroba di Kelurahan Mandailing Tebing Tinggi.

2. Wawancara mendalam, yaitu proses tanya jawab secara langsung ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian dengan menggunakan pedoman wawancara atau panduan wawancara serta menggunakan alat bantu perekam atau tape recorder untuk memudahkan peneliti menangkap keseluruhan informasi yang diberikan informan. Wawancara dilakukan terhadap para informan yaitu para remaja untuk mengetahui penyebab mereka menggunakan narkoba dan akibat yang di timbulkan setelah menggunakan narkoba. Wawancara juga akan di lakukan pada orang tua, karena peneliti ingin mengetahui perilaku orang tua terhadap anak. Peneliti juga akan mewawancarai masyarakat sekitar untuk mengetahui kondisi lingkungan dan perilaku remaja pengguna narkoba di Kelurahan Mandailing Tebing Tinggi.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari majalah, jurnal dan bahan dari situs-situs internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini yang berkaitan dengan perilaku penyalahgunaan narkoba pada remaja. Data – data juga diperoleh dari kantor Kepolisi Reskrim Tebing Tinggi. Menurut data kepolisian Reskrim Tebing Tinggi jumlah remaja yang menggunakan narkoba dari tahun 2011 sampai 2012 berjumlah 43 tersangka dan jumlah pengedar 2011 sampai 2012 berjumlah 15 tersangka.

3.5. Interpretasi Data

Data yang dikerjakan sejak peneliti mengumpulkan data dilakukan secara intensif setelah pengumpulan data selesai dilaksanakan. Pengolahan data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan (observasi) yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya,

Langkah selanjutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan itu kemudian di kategorisasikan. Berbagai kategori tersebut dilihat kaitannya satu dengan lainnya dan diinterpretasikan secara kualitatif. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak awal penulisan proposal, sehingga selesainya penelitian ini yang menjadi ciri khas dari analisis kualitatif

3.6. Jadwal Kegiatan

No Kegiatan Bulan ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pra Survey √

2 Acc Judul Penelitian √

3 Penyusunan Proposal √

4 Seminar Proposal √

5 Revisi Proposal √

6 Penelitian Lapangan √ √ √

7 Pengumpulan dan Analisis Data √ √

8 Bimbingan Skripsi √ √ √

9 Penulisan Laporan √ √ √

10 Sidang Meja Hijau √

BAB IV

DESKRIPSI WILAYAH DAN PROFIL INFORMAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Kelurahan Mandailing Kecamatan Tebing Tinggi Kota

Kelurahan Mandailing merupakan salah satu kelurahan dari 3 kelurahan yang terdapat di wilayah kecamatan Tebing Tinggi Kota. Luas wilayah berkisar 24 km2 terdiri dari 5 lingkungan yaitu : lingkungan I sampai lingkungan V.

Kelurahan Sari Rejo mempunyai batas – batas dengan daerah lain sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kampung Durian yaitu Kecamatan Tebing Tinggi Kota.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Rambutan, Kecamatan Tebing Tinggi Kota

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Melayu, Kecamatan Tebing Tinggi Kota.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Kampng Durian yaitu Kecamatan Tebing Tinggi Kota

4.1.2 Luas Kelurahan

Tabel 1 dibawah ini menunjukkan jumlah luas kelurahan Mandailing sebagai berikut:

Tabel 1

Luas kelurahan Mandailing Kecamatan Tebing Tinggi Kota Tahun 2011

No Sumber Daya Alam Luas Kelurahan

1. Luas Pemukiman 0,8 km

2 Luas Kuburan 0,01 km

3 Luas Pekarangan 0,01 km

4 Perkantoran 0,01 km

5 Prasarana Umun 0,03 km

Jumlah 24 km

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.1.3 Sumber Daya Air

Berikut tabel 2 di bawah ini yang menunjukkan sumber daya air yang di gunakan masyarakat di Kelurahan Mandailing :

Tabel 2

Sumber Daya Air yang terdapat di kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi Kota tahun 2011

No. - Jumah (Unit) Pengguna

1. Mata Air 0 0

2. Sumur Galian 153 155 KK

3 Sumur Pompa 143 143 KK

4 Hidran Umum 3 48 KK

5. PAM 480 480 KK

6. Pipa 0 0 KK

7. Sungai 0 0 KK

Total 826

Sumber: Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.2 Keadaan Penduduk di Kelurahan Mandailing

4.2.1.1 Jumlah Penduduk Kelurahan Mandailing

Menurut data kelurahan tahun 2011 bahwa jumlah penduduk di KelurahanMandailing ini adalah 3.087 jiwa, terdiri dari 1.652 Kepala Keluarga. Untuk lebih memahami aspek Kelurahan Mandailing, berikut ini gambaran kependudukan tersebut:

4.2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

Masyarakat Kelurahan Mandailing pada umumnya beragama islam, seperti yang diuraikan pada tabel 3 berikut ini:

Tabel 3

Jumlah penduduk berdasarkan agama menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi Kota tahun 2011

No. Agama Jumlah

1. Islam 2988 orang

2 Kristen 27 0rang

3 Khatolik -

4 Hindu -

5 Budha 213 orang

Jumlah 3228 orang

Sumber: Kantor Lurah Mandailing, 2011

Berdasarkan data yang disajikan diatas pada tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk di Kelurahan Mandailing ini beragama Islam yaitu sebanyak 2.988 orang.

4.2.2.1Tingkat Pendidikan Kelurahan Mandailing

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu pemberian dan peningkatan pendidikan terhadap masyarakat perlu ditingkatkan. Keterlibatan orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat Kelurahan Mandailing perlu ditingkatkan kesadarannya akan pentingnya pendidikan. Berikut jumlah penduduk berdasarkan pendidikan dapat dilihat ditabel 4 berikut ini:

Tabel 4

Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan menurut kelurahan Mandailing kecamtan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Tingkat Pendidikan Jumlah

1 Tidak Tamat SD 387 jiwa

2 Tamat SD 625 jiwa

3 Tamat SLTP 837 jiwa

4 Tamat SLTA 1.160 jiwa

5 TAMAT Akademik 42 jiwa

6 Tamat S- 1 36 jiwa

Jumlah 3.087 jiwa

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

Berdasarkan data yang disajikan pada table 4 diatas menunjukan bahwa pendidikan penduduk Kelurahan tersebut adanya masyarakat yang tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP, tamat SLTA, tamat Akademik dan tamat Sarjana.

Penduduk di Keluruhan Mandailing hanya sedikit yang melanjutkan pendidikannya ke bangku perguruan tinggi. Kurangnya pengetahuan dan wawasan dapat membuat masyarakat di Kelurahan ini tidak dapat berpikir dalam menyeleksi perilaku – perilaku yang baik dan yang buruk untuk dilakukan. Bagi orang tua hal ini semacam ini dapat membuat mereka merasa kewalahan dalam mendidik anak – anaknya, karena orang tua sendiri tidak dibekali ilmu pengetahuan sehingga bagaimana mereka memberikan contoh serta pengetahuan yang baik untuk anaknya.

4.2.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa

Pada tabel 5 berikut ini di gambarkan jumlah penduduk berdasarkan suku bangsa:

Tabel 5

Jumlah penduduk berdasarkan suku bangsa menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Suku Bangsa Jumlah

1 Jawa / Sunda / Banten 291 orang

2 Simalungun / Mandailing / Karo 1.304 orang

3 Melayu 168 orang

4 Minang 1.245 orang

5 Tionghoa 213 orang

6 Lain – lain 6 orang

Jumlah 3.228 orang

Sumber: Kantor Lurah Mandailing, 2011

Pada table 3 di atas menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di Kelurahan Mandailing ini bersuku Batak dan Minang.

4.2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Pada table 6 dibawah ini akan digambarkan jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian penduduk Kelurahan Mandailing. Ada bermaca – macam mata pencaharian penduduk di Kemurahan ini:

Tabel 6

Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

NO. Jenis Pekerjaan Jumlah

1 Buruh 217 orang

2 Pegawai Negeri 54 orang

3 Pedagang 542 orang

4 Penjahit 41 orang

5 Tukang Batu 10 orang

6 Tukang Kayu 1 orang

7 Peternak 2 orang

8 Nelayan 1 orang

9 Montir 17 orang

10 Dokter 2 orang

11 Supir 18 orang

12 Pengemudi Becak 58 orang

13 TNI 6 orang

14 Pengusaha 18 orang

15 Bidan 7 orang

16 Tukang Pangkas 4 orang

Jumlah Total 998 orang

Sumber: Kantor Lurah Mandailing, 2011

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kelurahan Mandailing mempunyai mata pencaharian menjadi pedagang serjumlah 542 orang dan Buruh 217 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Dengan pendidikan masyarakat yang rendah tersebut, masyarakat hanya mampu bekerja sebagai pedagang dan buruh.

4.3 Prasarana dan Sarana Transportasi 4.3.1 Prasarana Air Bersih

Pada tabel 7 di bawah ini dapat dilihat prasarana air bersih yang terdapat di Kelurahan Mandailing:

Tabel 7

Jumlah Prasarana Air Bersih menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Sarana Air Bersih Jumlah

1 Sanyo 260 unit

2 Sumur Galian 124 unit

3 Hidran Umum 2 unit

4 MCK 1 unit

Jumlah 473 unit

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.3.2 Prasarana Tempat Ibadah

Dalam hal ini prasarana keagamaan yang ada di Kelurahan Mandailing dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini:

Tabel 8

Jumlah prasarana tempat ibadah menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Sarana Beribadah Jumlah

1 Mesjid 3 buah

2 Langgar / Mushola 3 buah

3 Gereja Kristen -

4 Gereja Katolik -

5 Wihara 2 buah

6 Pura -

Jumlah 11 buah

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.3.3 Prasarana Kesehatan

Dalam hal ini prasarana kesehatan yang ada di kelurahan Mandailing dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini:

Tabel 9

Jumlah prasarana kesehatan menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No Kelompok Usia Jumlah

Poliklinik Pengobatan 1 unit

2 Posyandu 4 unit

Jumlah 5 unit

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.4 Ekonomi Masyarakat

4.4.1 Jumlah Pengangguran di Kelurahan Mandailing

Pada tabel 10 berikut ini akan digambarkan ekonomi masyarakat berdasarkan jumlah usia:

Tabel 10

Jumlah pengangguran menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Pengangguran Jumlah

1 Jumlah kerja usia 15 – 15 tahun 2.215 orang 2 Jumlah penduduk usia 15 -55 tahun

masih sekolah

732 orang

4.4.2 Kemiskinan di Kelurahan Mandailing Tabel 11

Jumlah kemiskinan menurut kelurahan Mandailing kecamatan Tebing Tinggi tahun 2011

No. Kemiskinan Jumlah

1 Keluarga Prasejahtera 1 1 keluarga 2 Keluarga sejahtera 1 132 keluarga 3 Keluarga sejahtera 2 156 keluarga 4 Keluarga sejahtera 3 323 keluarga 5 Keluarga sejahtera 3 plus 214 keluarga

Jumlah 826 keluarga

Sumber : Kantor Lurah Mandailing, 2011

4.5 Gambaran Umum Kondisi Kelurahan Mandailing

Kelurahan Mandailing memiliki 5 lingkungan yang merupakan lingkungan yang biasa saja, tidak ada yang menonjol dari lingkungan ini. Lingkungan ini terlihat bersih, hamper semua jalan yang ada telah di aspal dan saluran

3 Jumlah penduduk usia 15 – 55 tahun yang menjadi ibu rumah tangga

987 orang

4 Jumlah penduduk usia 15 – 55 tahun yang bekerja penuh

827 orang

5 Jumlah penduduk usia 15 – 55 tahun yang bekerja tidak tentu

28 orang

Kondisi perumahan yang ada di Kelurahan Mandailing ini ada yang permanen, semi permanen dan rumah papan. Kondisi rumah masyarakat di Kelurahan ini tidak semuanya baik, ada yang layak dan tidak layak. Perumahan yang ditepati oleh masyarakat, ada yang milik sendiri dan ada juga yang mengontrak. Masyarakat yang mengontrak sebanyak 320 rumah tangga dan yang memiliki rumah sendiri sekitar 506 rumah tanggga. Masyarakat di Kelurahan ini juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah berupa pembangunan rumah bagi masyarakat yang memiliki rumah tapi kondisinya tidak layak. Maka Pemerintah setempat memberi bantuan berupa atap lantai dan dinding (ALADIN).

Di kelurahan Mandailing masyarakatnya distreotipekan negatife oleh masyarakat sekitar. Terkait dengan perilaku penggunaan narkoba yang dilakukan masyarakat dan para remaja. Daerah kelurahan Mandailing terdapat para pengguna dan para pengedar narkoba yang pelakunya adalah masyaraka di lingkungan tersebut. Pada tahun 2011 sampai 2012 jumlah pengguna narkoba pada remaja sekitar 43 tersangka dan jumlah pengedar 15 tersangka. Para pengguna narkoba biasanya melakukan pembelian (transaksi) di lorong – lorong rumah warga, daerah pinggir sungai dan lapangan kosong. Para pengguna narkoba biasanya memakai di rumah – rumah kosong dan pondok – pondok tertutup yang terdapat di pinggiran sungai.

Daerah Kelurahan Mandailing ketika malam hari pada pukul 00.00 wib hingga menjelang subuh. Maka akan tampak jelas didaerah – daerah lingkungan tersebut para pengguna dan pengedar yang sedang berkumpul dan berkeliaran.

Para remaja pun ikut dalam pengedaran narkoba tersebut.

4.6 Pemerintahan Kelurahan Mandailing

Kelurahan Mandailingerupakan kelurahan bagian dari Pemerintahan yang kecil dalam wilayah Pemerintahan Republik Indonesia yang di kepalai oleh seorang Lurah. Kelurahan Mandailing terdiri dari 5 lingkungan. Untuk kelancaran dan pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan, Kelurahan Mandailing mempunyai struktur pemerintahan yang tertera dalam struktur organisasi pemerintahan Kelurahan Mandailing.

Lurah mepunyai tugas menjalankan urusan rumah tangga sendiri, urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Sekretaris Lurah bertugas menjalankan administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta member pelayanan adinistrasi kepada Lurah. Kepala urusan bertugas menjalankan kegiatan sekretaris kelurahan berdasarkan bidangnya masing – masing. Kepala lingkungan bertugas membantu pelaksanaan pemerintah Kelurahan di setiap lingkungan masing – masing.

4.7 Profil Informan

4.7.1 Profil Informan Pertama Remaja

Nama : Wandi

Umur : 21 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Tingkat Pendidikan : SMA Suku Bangsa : Mandailing

Agama : Islam

Wandi merupakan remaja yang tinggal di Kelurahan Mandailing, yang saat ini Wandi membantu orang tuanya berjualan makanan di depan rumahnya.

Kegiatan Wandi Sehari – harinya hanya di rumah saja dan tidak memiliki pekerjaan sendiri. Wandi memiliki hubungan yang tidak baik dengan Ayah nya,

karena ayah Wandi selalu berlaku tidak adil padanya. Ayah Wandi tidak perduli terhadap dirinya, apapun yang Wandi lakukan Ayahnya tidaklah perduli. Ayah dan Ibunya sering bertengkar karena ibu Wandi selalu membela dirinya. Wandi menganggap ayahnya tidak pernah menyayangi dirinya, karena ayahnya tidak mau tau tentang keberadaan diri Wandi. Ayahnya tidak pernah mencari disaat Wandi tidak pulang kerumah ataupun Wandi pulang larut malam. Keluarga Wandi tidak pernah bertanya apa yang saat ini dirinya butuhkan, orang tuanya hanya memberikan hal-hal yang penting saja, seperti ketika dirinya meminta uang sekolah. Tapi keluarganya tidak dapat memberikan apa yang Wandi inginkan karena kondisi keluarganya yang hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Masalah keluarga tersebut yang membuat Wandi tertekan, sehingga Wandi menggunakan obat – obatan terlarang seperti shabu dan ganja. Wandi menggunakan narkoba sejak dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sudah sekitar 7 tahun Wandi menggunakan narkoba. Wandi memperoleh narkoba dari teman – temannya, menurut Wandi ia sering melihat teman - temannya menggunakan narkoba mereka merasa lebih tenang. Wandi mulai ingin mencoba menggunakanya untuk menghilangkan masalahnya. Teman – teman Wandi mengajarkan bagaimana cara menggunakan dan menghirub narkoba tersebut.

Narkoba tersebut ternyata membuat dirinya merasa lebih tenang dan aktif, sehingga Wandi dapat melupakan masalah – masalah yang di hadapinya dengan keluarga. Wandi mulai merasa ketagihan untuk menggunakan narkoba jenis Sabu, tapi ketika dirinya tidak memiliki uang untuk membelinya maka Wandi menggunakan cara lain seperti menjambret di jalan – jalan raya. Karena Wandi tidak memiliki uang untuk membeli narkoba. Ketika dirinya sedang menghadapi

masalah dengan keluarga, maka Wandi menggunakan sabu yang dapat membuat dirinya lebih aktif dan semangat untuk beraktifitas.

Menurut Wandi narkoba jenis sabu ini bisa membuat kita lebih semangat, selalu ingin bergerak dan rasanya melayang – layang ketika kita menggunakannya. Sedangkan narkoba jenis ganja membuat kita lebih ngantuk, malas dan telayang. Menurut Wandi dirinya menggunakan narkoba untuk menenangkan diri dari masalah – masalah yang dihadapinya. Ketika dirinya tidak menggunakan narkoba tersebut, maka dirinya merasa tidak nyaman dan gelisah.

Tapi Wandi menggunakan narkoba hanya ketika dirinya sedang menghadapi masalah saja. Ketika Wandi ingin menggunak narkoba dan tidak ada uang, maka Wandi berusaha menahanya walaupun rasa gelisah menghantuinya. Orang tua wandi mengetahui dirinya menggunakan narkoba, tapi orang tua nya hanya diam dan tidak mau perduli. Wandi menganggap orang tuanya tidak perduli dengan kondisinya, menurutnya orang tuanya beranggapan bahwa dirinya adalah anak yang tidak mau dengar perkataan orang tua. Orang tua nya tidak mau tau tentang apa yang sedang dirinya hadapi, ketika Wandi mengalami masalah dia bercerita kepada teman dekatnya yang bernama Wira. Karena Wira selalu mendengar keluh kesah dan masalah yang dihadapi Wandi. Wandi merasa takut untuk bercerita dengan ke dua orang tuanya, dirinya takut orang tuanya malahan akan memarahinya dan tidak mau mendengar.

Wandi merasa dirinya lebih nyaman bersama teman – teman sepermainanya, karena menurut Wandi teman – temanya adalah orang –orang yang senasib dengan dirinya. Teman – temannya sering mengajarin hal – hal yang tidak baik, seperti mengunakan narkoba. Wandi menggunakan narkoba terkadang

secara bersama- sama dengan temanya, karena dapat membuat kebersamaan antara mereka. Sesama pemakai biasanya teman –temannya selalu mengajak dirinya untuk menggunakan narkoba. Wandi mengatakan bahwa teman – temannya akan marah ketika dirinya tidak memakai narkoba lagi. Wandi sering diteror melalui SMS atau telepon oleh teman – temannya yang ingin mengajaknya untuk menggunakan narkoba. Wandi sendiri kesulitan untuk tidak menggunakan narkoba, karena dirinya sudah tergantung memakai narkoba tersebut.

Wandi memiliki hubungan yang baik – baik saja dengan masyarakat sekitar lingkunganya. Masyarakat mengetahui kalau Wandi menggunakan narkoba, tapi masyarakat tidak perduli dirinya menggunakan narkoba. Masyarakat di lingkungan Wandi tidak perduli apa yang dilakukan masyarakat. Masyarakat di lingkungan Wandi bebas melakukan kegiatan apa saja, yang penting mereka tidak mengganggu kehidupan orang lain. Masyarakat di lingkungan Wandi sering minum – minuman dan berjudi didaerah tempat tinggal Wandi, tapi tanggapan masyarakat biasa saja. Masyarakat sudah terbiasa dengan hal tersebut, karna kegiatan tersebut sudah biasa mereka lihat di lingkungannya.

4.7.2 Profil Informan Kedua Remaja

Nama : Hari

Umur : 22 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Tingkat Pendidikan : STM Suku Bangsa : Melayu

Agama : Islam

Hari kegiatanya sehari – hari hanya duduk dan berkeliling – liling saja, karena hari tidak memiliki pekerjaan. Hari biasanya bekerja ketika hari diajak oleh masyarakat lingkungan untuk memperbaiki jalanan. Hari tidak memiliki pekerjaan yang tetap pada saat ini, karena Hari tidak mengetahui mau bekerja apa.

Hari memiliki hubungan yang tidak baik dengan Ayahnya, karena Hari sering bertengkar dengan ayahnya dirumah. Hari bertengkar jarena ketidak cocokan dirinya dengan ayah, ayah Hari sering membesar –besarkan masalah yang kecil.

Keluarga Hari tidak memperdulikan anak –anaknya, apa lagi memperdulikan Hari. Apapun yang dilakukan Hari ayahnya tidak pernah perduli. Sehingga Hari tidak betah dengan kondisi dirumah.

Hari menggunakan narkoba karena dia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan ketika sedang ada masalah. Hari menggunakankan narkoba karena diajak oleh teman – temannya. Pertama Hari hanya melihat teman –temanya menggunakan narkoba, karena Hari sering melihat temannya menggunakan narkoba maka dirinya mulai tertarik untuk mencoba. Teman Hari mengajari Hari menggunkan narkoba jenis sabu, dari cara memakai sampai menggulung Hari ketahui dari teman – temannya. Hari mulai menggunakan narkoba semenjak dirinya duduk di kelas 2 SMP sampai saat ini ketika umurnya sudah beranjak 22 tahun. Hari memperoleh narkoba dari teman - temannya yang sering memberikan Hari secara cuma – Cuma, tapi itu hanya beberapa kali. Hari mengatakan kalau

Dokumen terkait