PENDEKATAN DAN METODE
2.3. Metode Analisis Data
2.3.4. Metode Analisis Komoditas Unggulan
Dimana:
Vik = Nilai output (PDRB) sektor i di suatu wilayah Vk = PDRB total semua sektor wilayah tersebut Vip = Nilai output (PDRB) sektor i secara nasional Vp = PDRB total semua sektor secara nasional
Dengan hasil perhitungan LQ menghasilkan tiga (3) kriteria yaitu:
1. Bila LQ >1 memberikan indikasi bahwa sektor tersebut tergolong sektor basis di wilayah tersebut, dimana produksi sektor sudah melebihi konsumsi lokal sehingga kelebihannya dapat dijual ke luar wilayah.
2. Bila LQ <1 memberikan indikasi bahwa sektor tersebut tergolong sektor non basis di wilayah tersebut, dimana produksi sektor belum mencukupi konsumsi lokal sehingga harus didatangkan dari luar wilayah.
3. Bila LQ = 1 menunjukkan keswasembadaan (self-sufficiency) sektor tersebut di wilayah tersebut, dimana produksi sektor hanya mencukupi kebutuhan wilayah tersebut.
sisi penawaran (Sailah, 1998). Pendekatan untuk penetapan komoditas dan agroindustri unggulan ditunjukkan pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7.
Pendekatan dalam penetapan komoditas dan agroindustri unggulan (Sailah 1998).
Sisi penawaran mencerminkan kemampuan suatu wilayah untuk menghasilkan komoditas tersebut. Kemampuan ini meliputi kemampuan SDM, tingkat penerapan teknologi (application of technology), karakteristik biofisik wilayah (competitive commodity characteristic) dan produktivitas (yield). Sedangkan sisi permintaan menggambarkan kemampuan pasar untuk menyerap produk perikanan yang diolah dari komoditas yang ditawarkan. Kemampuan ini meliputi volume permintaan dengan tingkat mutu yang disyaratkan, perkembangan harga, sistem tata niaga dan tingkat persaingan antara pelaku pasar. Hasil kajian dari sisi penawaran dan permintaan akan dihasilkan daftar komoditas unggulan dan daftar produk perikanan unggulan. Hal ini berarti bahwa komoditas dan produk tersebut mempunyai pasar (riil dan potensial) dan dapat dihasilkan secara berkesinambungan pada tingkat produktivitas yang menguntungkan. Komoditas dari sisi penawaran unggul tetapi tidak diminati oleh pasar dapat dikelompokkan sebagai komoditas potensial.
Demikian juga untuk komoditas dan produk yang diminati oleh pasar tetapi tidak dapat dihasilkan jika ditinjau dari karakteristik wilayah.
Penentuan alat tangkap unggulan untuk SDI dilakukan dengan mengunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif membantu memberikan gambaran umum mengenai perikanan termasuk jenis alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap ikan. Alat tangkap terbaik yang digunakan untuk menangkap ikan dapat diketahui dengan menggunakan metode skoring. Metode skoring merupakan metode yang digunakan untuk menetapkan prioritas unit penangkapan suatu perikanan (Rosalina, 2011). Dalam penerapannya, metode skoring memberi nilai skor (terendah sampai nilai tertinggi) pada komponen yang terkandung di dalamnya. Penentuan nilai skoring pada data dengan menggunakan nilai ketidakpastian, sehingga digunakan skala likert dalam penentuannya. Meski skala likert digunakan untuk nilai ketidakpastian akan tetapi saat pengaplikasian skala likert akan menyebabkan berubahnya data kualitatif yang diperoleh menjadi data kuantitatif. Skala likert merupakan metode yang digunakan pada seseorang atau kelompok sebagai responden terhadap fenomena tertentu (Sugiono, 2012). Skala likert yang dapat digunakan pada metode skoring ini yaitu:
1 = Tidak baik 2 = Cukup baik 3 = Baik
4 = Sangat baik
Skala likert yang diperoleh akan diterapkan pada rumus fungsi nilai yang distandarisasikan sebagai berikut (Mangkusubroto dan Trisnadi, 1985):
π π = π β π0 π1β π0 π π΄ = β ππ ππ
π
π=1
Dengan keterangan sebagai berikut:
untuk i = 1,2,3,..,n, maka
V (X) = Fungsi nilai dari parameter X X = Nilai parameter X yang ke-i Xβ = Nilai tertinggi pada parameter X X0 = Nilai terendah pada parameter X
V (A) = Fungsi nilai dari alternatif A
Vi(Xi) = Fungsi nilai dari alternatif pada kriteria ke-i
i = 1,2,3,...n (opsi teknologi alat tangkap yang digunakan)
Nilai X pada perhitungan analisis skoring ini merupakan nilai rata-rata dari setiap parameter. Nilai parameter tersebut menggunakan skor dengan kisaran 1-4, dengan nilai 1, 2, 3, dan 4 masing-masing menyatakan tidak baik, cukup baik, baik, dan sangat baik ataupun menggunakan istilah yang setara maupun nilai rill (data kuantitatif). Penentuan nilai parameter untuk metode skoring ini ditentukan oleh responden. Setelah penentuan skor dari setiap parameter, akan didapatkan hasil akhir berupa nilai V. Nilai V merupakan fungsi yang mencerminkan kecenderungan dalam pengambilan keputusan. Sehingga, nilai V (X) tertinggi dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai penentu alat tangkap unggulan untuk ikan di suatu wilayah. Penentuan alat tangkap unggulan ini dapat dilihat dari tiga aspek. Aspek tersebut yaitu:
1. Aspek teknis merupakan aspek yang digunakan untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi keragaan teknis unit penangkapan ikan dan kegiatan operasi penangkapan ikan pada kapal motor (Wahyuningrum et al. 2012). Aspek teknis yang dikaji berupa ukuran kapal, ukuran alat tangkap, alat pendukung penangkapan, kapasitas es, kapasitas palka, kapasitas BBM, serta lama trip dalam satu kali operasi penangkapan ikan.
2. Aspek lingkungan merupakan sistem alam perikanan tangkap yang terdiri dari ikan, kualitas ekosistem dan lingkungan (Adam, 2012). Aspek yang akan dikaji berupa selektivitas alat tangkap, keramahan alat tangkap, kualitas hasil tangkapan, keamanan penggunaan alat tangkap bagi nelayan, keamanan produk bagi konsumen, tingkat hasil tangkapan sampingan, dampak terhadap biodiversitas, serta keamanan terhadap ikan yang dilindungi.
3. Aspek sosial ekonomi merupakan aspek yang dapat meningkatkan peningkatan taraf hidup masyarakat (Wasak, 2012). Aspek sosial ekonomi yang dikaji dalam penelitian ini adalah teknologi tepat guna, jumlah hasil tangkapan, keutungan, tingkat investasi, kemandirian terhadap pembuatan dan perawatan alat tangkap, serta memenuhi undang-undang yang berlaku.
2.3.4.2. Perikanan Budidaya
Penentuan komoditas unggulan prioritas investasi dlakukan melalui pendekatan proses berjenjang (analitical hierarchial process β AHP). Konsep AHP mensyaratkan
adanya hirarki proses dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks kajian ini, sebagai puncak hirarki adalah tujuan studi, yaitu βkomoditas potensial dialkukan invstasiβ. Kemudian, sebagai indikatornya adalah: 1) daya saing makro yang melekat pada indikator supply; 2) daya saing mikro yang melekat pada indikator kelayakan teknis; dan 3) potensi permintaan yang melekat pada indikator demand komoditas yang bersangkutan. Sedangkan komoditas yang akan dipilih didefinisikan sebagai βalternatifβ pilihan prioritas investasi.
Penentuan tingkat kepentingan masing-masing indikator dilakukan dengan teknik pembobotan berbasis kepakaran (expert judgment). Bertindak sebagai expert adalah semua tenaga ahli yang terlibat dalam kegiatan ini. Tahapan analisis pembobotan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Menentukan kriteria (indikator) dan alternatif (jenis-jenis komoditas yang akan dibobot)
2. Menentukan tingkat kepentingan setiap indikator oleh pakar (expert) 3. Menghitung bobot indikator
4. Mengalikan bobot indikator dengan alternatif (kondisi eksisting komoditas yang dibobot)
Tahapan penentuan komoditas prioritas investasi dengan AHP selengkapnya disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2.8.
Analisis AHP Tahap-1: Perumusan Kriteria dan Alternatif Komoditas Prioritas Investasi
Gambar 2.9.
Analisis AHP Tahap-2: Kuesioner Penentuan Tingkat Kepentingan Indikator
Gambar 2.10.
Analisis AHP Tahap-3: Tabulasi Kuesioner ke Dalam Matriks AHP
Sub teknis dihitung dengan menjumlahkan skor masing-masing sub indikator kelayakan teknis. Penilaian sub indikator kelayakan teknis ditentukan dengan kriteria: 1 = kurang; 2 = cukup; 3 = baik; dan 4 = sangat baik. Sub indikator kelayakan teknis yang didunakan untuk menentukan komoditas prioritas investasi adalah sebagai berikut.
Nama Responden : _________________________________________________
1. Berilah tanda silang (X) pada kolom βtingkat kepentinganβ dari parameter pembentuk keunggulan potensi dengan angka absolut antara 1 s.d. 9
2. Kriteria tingkat kepentingan parameter adalah sbb:
Nilai Kriteria Tingkat Kepentingan 1 Parameter tersebut kurang penting
3 Parameter tersebut sedikit lebih penting dari pada lainnya 5 Parameter tersebut lebih penting dibanding yang lain 7 Parameter tersebut jelas lebih penting dari elemen lain
9 Parameter tersebut mutlak lebih penting dari parameter lainnya
2,4,6,8, Nilai-nilai di antara dua pertimbangan yang berdekatan (misalnya, skor β2β
berarti antara 1 dan 3)