B. Hasil Belajar
5. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam a. Strategi Pembelajaran
e. Kualitas hasil akhir yang dapat dicapai Pendidikan Agama Islam
f. Tingkat alih belajar g. Tingkat retensi belajar 2) Efisiensi
Pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan dan mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam belajar, sehingga pendidik harus bisa menciptakan sesuatu yang baru dalam pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam pembelajaran.
3) Daya Tarik
Daya tarik yang dimaksud dalam hal ini adalah pembelajaran itu diukur dengan mengamati kecendurungan peserta didik untuk berkeinginan terus belajar. Dan serta harus dimotivasi agar peserta didik dapat gemar dengan Pendidikan Agama Islam. Karena akhir-akhir ini Pendidikan Agama Islam dianggap kuno sehingga minat untuk belajar sangatlah kurang dan lebih memilih dengan pelajaran-pelajaran eksak yang dianggap penting dan populer saat ini dan mengabaikan pelajaran Pendidikan Agama Islam.32
5. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Menurut wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Senada dengan pendapat diatas, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa.33
b. Metode Pembelajaran 1) Metode ceramah
Guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu tertentu (waktunya terbatas) dan tempat tertentu pula. Dilaksanakan dengan bahasa lisan untuk memberikan pengertian terhadap suatu masalah, karena itu cara tersebut juga sering disebut dengan metode kuliah, sebab ada persamaan guru mengajar dengan seorang dosen/mahaguru memberikan kuliah kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Dalam metode ceramah ini murid-murid duduk, melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip ikhtisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalkannya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan. Untuk bidang studi
33Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), h. 126
agama, metode ceramah masih tepat untuk dilaksanakan, misalnya: untuk memberikan pengertian tentang Tauhid.34
2) Metode Diskusi
Metode ini biasanya erat kaitannya dengan metode lainnya, misalnya metode ceramah, karyawisata, dan lain-lain karena metode diskusi ini adalah bagian yang terpenting dalam memecahkan suatu masalah (Problem Solving), Dalam dunia pendidikan metode dsikusi ini mendapatkan perhatian karena dengan dsikusi akan merangsang murid-murid berpikir atau mengeluarkan pendapat sendiri.
3) Metode Eksperimen
Metode ini biasanya dilakukan dalam suatu perjalanan tertentu seperti ilmu alam, ilmu kimia, dan sejenisnya, biasanya terhadap ilmu-ilmu alam yang di dalaam penelitiannya menggunakan metode yang sifatnya objektif, baik dilakukan di dalam/ di luar kelas maupun dalam suatu laboratorium tertentu.
Melalui pelajaran tentu, seperti ilmu hayat, sebenarnya ilmu hayat sebenarnya seorang guru dapat pula memanfaatkan eksperimen untuk membantu aspek-aspek pelajaran agama.
4) Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.
Dengan metode demonstrasi guru atau murid memperlihatkan pada seluruh anggota kelas suatu proses,
34 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),, h.289-290
misalnya bagaimana cara shalat yang sesuai dengan ajaran/
contoh Rasulullah saw.
5) Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar bilamana guru memberi tuas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru. Dengan cara tersebut diharapkan agar murid belajar secara bebas tapi bertanggung jawab dan murid-murid akan berpengalaman mengetahui berbagai kesulitan kemudian berusaha untuk mengatasi kesulitan- kesulitan itu.
6) Metode Sosiodrama
Drama atau sandiwara dilakukan sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita yang telah disusun naskah ceritanya dan dipelajari sbeelum dimainkan. Adapun para pelakunya harus memahami lebih dahulu tentang peranan masing-masing yang akan dibawakannya.
Metode sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak disiapkan naskahnya terlebih dahulu.
Tidak pula diadakan pembagian tugas pembagian tugas yang harus mengalami latihan lebih dahulu, tetapi dilaksanakan seperti sandiwara di spanggung.
7) Metode Drill (Latihan)
Penggunaan istilh “Latihan” sering disamakan artinya dengan istilah “Ulangan”. Padahal maksudnya berbeda. Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak ddik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan
ulangan hanayalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pelajaran tersebut.
8) Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok adalah membagi-bagi anak didik dalam kelompok-kelompok untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu pekerjaan yang perlu dikerjkan bersama-sama.
9) Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.
10) Metode Proyek
Metode ini disebut juga dengan tekhnik pengajaran unit.
Anak didik disuguhi berbagai macam masalah dan anak didik bersama-sama menghadapi masalah tersebut dengan mengikuti langkah-langkah tertentu secara ilmiah, logis dan sistematis. Cara demikian adalah teknik yang modern. Karena murid tidak dapat begitu saja menghadapi perssoalan tanpa pemikiran ilmiah.
Tujuan metode ini adalah melatih anak didik agar berpikir secara ilmiah, logis dan sistematis.35
35 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),h. 292-310
53
METODOLOGI PENELITIAN