BAB II KAJIAN TEORI
D. Sinkronisasi Data
3. Metode Pembelajaran
mampu menerapkan ilmu dan pemahaman yang sudah di dapatkan pada kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran kitab kuning di Madin Wustho Darul Falah dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Seperti hasil dokumentasi di atas yang menunjukkan bahwa asatidz menggunakan metode (ceramah) yang dikombinasikan dengan penerapan LMS pada pembelajaran kitab kuning.119 Adapun mengenai metode pembelajaran sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Madin Ustadz Ulil Abshor:
“Metode pembelajaran yang kita terapkan di kelas kitab kuning ini memang beragam dan juga sangat dipengaruhi oleh masing-masing pengampu. Ya tidak bisa dipungkiri kalau dari beliau pengampu kitab punya karakter dan cara yang berbeda dalam menerapkan metode ini.
Tapi secara garis besar kita masih menerapkan metode seperti sorogan, ceramah, weton/badongan dan juga syawir . Dalam praktiknya beberapa pengampu juga masih ada yang memakai metode ceramah. Kita juga
119 “Dokumentasi, Penerapan Metode Pembelajaran, Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah,” November 10, 2022.
tidak bisa membatasi atau menstandarkan harus memakai salah satu metode, yang penting targetnya adalah kefahaman dari santri.”120
Selaras dengan yang disampaikan oleh Kepala Madin, Ustadz Cahyo Widiarto ketika pembelajaran dikelas juga menyampaikan:
“Biasanya saya pakai metode sorogan dan ceramah saat pembelajaran. Karena penting bagi saya menjelaskan teori secara rinci baru nanti saya selingi dengan contoh-contoh real.
Adapun jika nanti beberapa santri memiliki kefahaman yang cepat juga saya jadikan sebagai objek penjelasan agar temanya sekelas bisa lebih memahami. Biasanya dari situ saya juga nyicil untuk memberikan penilaian.
Disela-sela penjelasan biasanya saya juga menawarkan tanya jawab kepada para santri sebagai interaksi agar kelas tetap aktif. Namun tidak lupa juga diakhir pembelajaran saya sampaikan kesimpulan dari penjelasan saya
120 Wawancara, Ulil Abshor, Metode Pembelajaran, November 8, 2022.
maupun penjelasan dari santri yang saya tunjuk untuk lebih menguatkan pemahaman.”121 Lebih lanjut Ustadz Cahyo Widiarto juga menyampaikan tentang metode sorogan yang diterapkan, beliau menyampaikan:
“Untuk sorogan, biasanya santri mendatangi saya atau saya tentukan tempatnya. Sorogan ini biasanya saya lakukan saat pembelajaran sebagai pengecekan terhadap kemampuan pemahaman dan pembacaan kitab oleh para santri. Jadi teknisnya biasanya mereka nanti saya minta untuk membaca beberapa baris dan menjelaskan. Jika dirasa penjelasan dari santri itu sudah sesuai ya saya anggap mereka sudah paham. Disini biasanya saya juga sekalian melakukan penilaian.”122
Metode ceramah ini dipakai oleh Ustadz Cahyo Widiarto untuk menyampaikan materi pelajaran kitab kuning. Metode ini dilakukan dengan cara menjelaskan dan menerangkan materi secara
121 Wawancara, Cahyo Widiarto, Metode Pembelajaran, November 9, 2022.
122 Ibid.
lisan, sementara santri hanya perlu mendengarkan dan mencatat keterangan penting yang disampaikan oleh Ustadz Cahyo. Pada akhir pembelajaran, Ustadz Cahyo menyampaikan kesimpulan umum terkait materi yang telah diajarkan. Selain itu, ada juga sesi tanya jawab sebagai fasilitas bagi santri untuk memperdalam pemahaman atau bertanya tentang materi yang belum dipahami. Namun, dalam metode pembelajaran Ustadz Cahyo Widiarto tidak hanya menggunakan metode ceramah saja, metode sorogan juga dipilih sebagai klarifikasi kefahaman santri dan juga kemampuan santri dalam membaca kitab kuning. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran yang dikombinasikan oleh para asatidz dapat membuat para santri lebih antusias dan meningkatkan kefahaman santri terhadap materi yang disampaikan.123 Akan tetapi, tentunya peralihan kitab kuning cetak menjadi tablet sedikit banyak membutuhkan adaptasi baik dari segi pemaknaan maupun pembacaan.
123 Observasi, Penggunaan Metode dalam Pembelajaran Kitab Kuning, Madin Wustho Darul Falah, November 9, 2022.
Adapun Ustadz Fadli menyampaikan bahwa terkait metode pembelajaran belaiu mengatakan bahwa:
“Kalau saya paling suka pakai metode ceramah setelah itu dilanjutkan dengan syawir. Metode ceramah yang saya gunakan ini sedikit banyak juga saya selipkan pancingan-pancingan materi yang akan dijadikan bahan syawir. Dua metode ini saya terapkan dipembelajaran kitab kuning dan lumayan manjur. Terbukti saat syawir para santri lebih bisa faham dengan adu argument dari masing-masing masalah yang saya tawarkan sebagai bahan.”124
Metode syawir ini memang sudah lama diterapkan pada pembelajaran kitab kuning, bahkan metode ini merupakan salah satu metode klasik yang hingga saat ini masih diterapkan. Namun, meskipun pembelajaran kitab luning di Madin Wustho Darul Falah sudah mulai merambah pada era digitalisasi, metode klasikpun masih cocok untuk diterapkan.
Seperti salah satu metode yang juga diterapkan oleh
124 Wawancara, Muhammad Fadli, Metode Pembelajaran, November 10, 2022.
Ustadzah Eka yang menyampaikan bahwa:
“Terkait metode biasanya saya terapkan campur-campur, karena saya lebih fleksibel jamnya. Saya sendiri mukim dipondok jadi kalau ceramah sudah pasti, kadang juga sering pakai weton/badongan yang lebih fleksibel waktu dan tempatnya. Kalau weton/badongan ini mungkin lebih cocok saya terapkan di LMS ini. Jadi waktu dan tempat saya tentukan atau disepakati satu kelas dan kitab mereka semua kan sudah di tablet. Tidak ada alasan kitabnya hilang atau belum beli. Sewaktu-waktu dan juga dimanapun langsung bisa akses.”125
Program digitalisasi yang diterapkan di Madin Wustho Darul Falah benar-benar diadaptasi dan dimanfaatkan oleh para asatid serta dipadukan dengan metode klasik yang masih eksis untuk diterapkan. Sehingga ketertarikan, keaktifan dan kefahaman santripun semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh salah satu santri Ustadz Cahyo yaitu Yusuf Jawawi yang
125 Wawancara, Eka Ayu Gandhini, Metode Pembelajaran, November 10, 2022.
mengatakan bahwa:
“Saat pembelajaran, biasanya Ustadz Cahyo menerangkan teori dengan detail, setelah itu baru dicontohkan di kehidupan sehari-hari.
Dilain waktu saat sorogan, kami para santri biasanya setoran bacaan kitab beberapa baris kemudian menjelaskan maksudnya. Dengan sorogan ini pemahaman kita semakin bertambah.”126
Adapun pendapat lain tentang metode pembelajaran juga disampaikan oleh Sintya Septi Mutrofin yang mengatakan bahwa:
“Yang paling saya suka dari pembelajaran Ustadz Fadli adalah saat masuk pada sesi syawir. Kami sekelas bisa saling beradu argument terkait masalah atau materi yang dijadikan sebagai bahan syawir . Tapi biasanya teman-teman yang berani mengutarakan argumenya ya hanya itu-itu saja. Yang lain terkadang hanya diam dan pasif mengikuti
126 Wawancara, Yusuf Jawawi, Tanggapan Metode Pembelajaran, November 12, 2022.
syawir yang sedang berlangsung.”127
Meskipun masih memiliki kelemahan yaitu hanya santri-santri tertentu saja yang berani mengutarakan argument, namun hal tersebut sudah cukup memberikan pemahaman tersendiri tentang materi yang disampaikan. Berbeda dengan yang disampaikan oleh Nadwa Azizah yang mengatakan bahwa:
“Kalau Ustadzah Eka itu terkait waktu dan tempat sangat fleksibel, jadi kita yang menyesuaikan. Untuk media yang digunakan pun sangat cocok karna bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Dari semua kelas, wetonan dengan Ustadzah Eka ini adalah yang paling aktif, karena kita selalu moving class, jadi suasana selalu ganti-ganti dan tidak membosankan.”128
Dari semua metode yang dilakukan oleh para asatidz tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dari segi kelebihan, semuanya jelas membuat
127 Wawancara, Sintya Septi Mutrofin, Tanggapan Metode Pembelajaran, November 12, 2022.
128 Wawancara, Nadwa Azizah, Tanggapan Metode Pembelajaran, November 12, 2022.
interaksi antara santri dan para pengajar menjadi lebih aktif. Sehingga suasana pembelajaran dikelas menjadi lebih hidup. Untuk kekuranganya tentu tetap menjadi bahan evaluasi, seperti pada metode ceramah, dimana dengan metode ini penjelasan materi pembelajaran akan menjadi teacher center.
Sehingga para santri lebih pasif dan terkadang juga materi tidak dapat difahami secara keseluruhan.
Untuk metode sorogan, memiliki kelemahan keterbatasan waktu jika dalam satu kelas terdapat jumlah santri yang banyak. Weton/badongan juga memiliki kelemahan jika dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak konsisten dalam waktu dan tempat. Apalagi jika sering ditinggal oleh pengajarnya. Metode syawir juga kurang dalam keaktifan keseluruhan santri, hanya santri-santri tertentu saja yang aktif dalam syawir. Meskipun demikian, adaptasi dari metode klasik menuju digitalisasi dengan LMS pada pembelajaran kitab kuning ini sangatlah cepat. Dengan pengajar yang mumpuni dan para santri yang kooperatif dalam pembelajaran, kolaborasi antar metode ini sedikit demi sedikit mampu disempurnakan.