BAB II KAJIAN TEORI
G. Tahapan Penelitian
2. Perencanaan Pembelajaran Kitab Kuning dengan LMS
tuntutan zaman.”90
Berdasarkan data yang diperoleh dari beberapa informan yang telah diwawancarai oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa meskipun baru berjalan kurang daru 2 tahun, pelaksanaan perencanaan program LMS ini tergolong maksimal.
Program LMS sendiri ditangani oleh tim yang sudah mumpuni pada bidangnya, perencanaan persiapan pada santri juga sudah dimulai sejak kelas 1, serta dari sisi pengajar yang sudah mampu beradaptasi dengan program digital yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi perencanaan, Madin Wustho Darul Falah sudah memaksimalkan perencanaan sejak awal. Sehingga dari berbagai pihak yang terlibat langsung mampu beradaptasi dengan tuntutan kondisi yang berlangsung.
2. Perencanaan Pembelajaran Kitab Kuning dengan
Perencanaan pembelajaran terhubung dengan pengambilan keputusan tentang pengorganisasian, implementasi, dan evaluasi. Tugas penting seorang ustaz dalam perencanaan adalah mempertimbangkan siapa yang akan dilibatkan dalam pembelajaran, kapan dan bagaimana pelaksanaannya, waktu yang dibutuhkan untuk proses pembelajaran, serta bahan dan sumber yang akan digunakan.
Gambar 4.8 Rapat Perencanaan Pembelajaran Dalam proses perencanaan pembelajaran, terdapat beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu penentuan materi pelajaran yang akan disampaikan, pemilihan media pembelajaran yang tepat, penerapan
pendekatan dan metode pengajaran yang efektif, serta evaluasi hasil belajar dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini terlihat dari dokumentasi di atas yang menunjukkan bahwa para asatidz mempersiapkan perancanaan pembelajaran dengan baik agar mendapat hasil yang maksimal.91 Proses ini sangat penting untuk memastikan bahwa pembelajaran berjalan dengan baik dan efektif.
Tujuan akhir dari perencanaan pembelajaran ini adalah untuk mencapai misi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah memiliki tahapan-tahapan dalam perencanaan pembelajaran Kitab Kuning. Madrasah ini memberikan pendidikan keagamaan yang didasarkan pada kurikulum internal dengan cara yang khusus dalam penyusunan perencanaannya. Proses perencanaan tersebut terdiri dari beberapa tahap.
Namun, perencanaan pembelajaran Kitab Kuning tidak dapat dilakukan secara mudah karena harus
91 “Dokumentasi, Rapat Persiapan Pembelajaran, Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah,” November 7, 2022.
mempertimbangkan berbagai faktor, seperti sumber daya, metode pengajaran, kurikulum, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pasalnya pendidikan nonformal sekelas madin tidak memiliki patokan penentuan perencanaan pembelajaran seperti pendidikan formal. Oleh karena itu, tahapan yang dilaksanakan seperti berikut:
a. Mengidentifikasi tujuan perencanaan pembelajaran dengan LMS.
Dalam rangka optimalisasi perencanaan pembelajaran dengan LMS, Madin Wustho Darul Falah menyusun perencanaan yang disesuaikan dengan tujuan dan target yang diprogramkan. Dari hasil wawancara dengan pengajar Kitab Kuning berbasis LMS, Ustadzah Eka Ayu Gandhini, didapatkan informasi bahwa:
“Tujuan perencanaan pembelajaran berbasis LMS ini disesuaikan dengan perkembanga era digitalisasi yang sudah mulai masuk ke Madin, dengan dasar
“didiklah anakmu sesuai dengan zamanya, karena mereka hidup di zamanya sendiri”. Kitab Kuning sebagai
objek pembelajaran yang dilakukan sengaja menjadi titik utama yang merasakan digitalisasi ini. Kami melihat bahwa Kitab Kuning yang sedari dulu menggunakan metode klasik dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengembangkan metode menuju pembelajaran digital. Seperti Madin pada umumnya, Madin Wustho Darul Falah mengajarkan Kitab Kuning dalam rangka memberikan pemahaman kepada santri terkait ilmu syariat seperti ilmu tauhid, tasawuf, fiqih dan ilmu keagamaan yang lain. Sehingga dengan metode ini diharapkan santri juga mampu merasakan digitalisasi yang memang sesuai dengan zaman mereka dan mampu menjadi lulusan yang tidak hanya jago dalam menguasai Kitab Kuning, tetapi juga melek digital.”92
Dari hasil wawancara tersebut, dapat
92 Wawancara, Eka Ayu Gandhini, Tujuan Perencanaan Pembelajaran LMS, November 10, 2022.
dikatakan bahwa Madin Wustho Darul Falah memiliki tujuan untuk membentuk lulusan yang modern dan paham akan Kitab Kuning.
Sehingga diharapkan para santri mampu menjawab tuntutan masyarakat di zaman digitalisasi yang mulai masuk disemua lini. Hal ini ditegaskan dengan observasi yang telah dilakukan peneliti yang menunjukkan bahwa para santri selain mahir dalam menguasai kitab kuning, juga tidak gaptek karena dikombinasikan dengan LMS sebagai program pembelajarannya.93 Untuk mencapai semua itu maka dibuatlah perencanaan tujuan pembelajaran Kitab Kuning dengan LMS yang disesuaikan dengan kebutuhan dan target lulusan dari para santri.
b. Menyesuaikan tujuan perencanaan dengan pencapaian program digitalisasi.
Dalam rangka perencanaan pembalajaran LMS, para pengajar tentu harus memperhatikan tujuan yang telah disepakati. Dari tujuan
93 Observasi, LMS dalam Pembelajaran Kitab Kuning, Madin Wustho Darul Falah, November 10, 2022.
tersebut kemudian muncul sebuah penyesuaian terhadap kondisi yang saat ini dialami, yaitu pembelajaran yang sekaligus menuntut pengajar dan santri beradaptasi dengan era digital yang sedang berkembang. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Ustadz Cahyo Widiarto, S.Pd yang mengatakan bahwa:
“Seperti yang kami katakan diawal bahwa yang mendasari program ini adalah digitalisasi. Sehingga tujuan dari pembelajaran Kitab Kuning dengan LMS ini disesuaikan dengan digitalisasi yang terjadi. Dengan lahirnya program ini, kami berharap para santri bisa lebih menanamkan kecintaanya terhadap Kitab Kuning. Disisi lain, penyesuaian ini juga kami maksudkan untuk tetap menjaga kesakralan Kitab Kuning yang tetap survive di era digital dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan eranya.”94
94 Wawancara, Cahyo Widiarto, Penyesuaian Tujuan dengan Pencapaian Program, November 9, 2022.
Lebih lanjut, tujuan dari pembelajaran Kitab Kuning di era digital ini memang terarah untuk menggunanakan metode yang berbasis digital. Hal tersebut juga disampaikan oleh Ustadz Muhammad Fadli yang mengatakan bahwa:
“Kami rasa LMS ini adalah metode yang pas di era digital ini. Maksudnya bukan berarti kami meninggalkan Kitab Kuning cetak, tapi kami hanya memindahkan isinya saja ke media tablet yang digunakan oleh santri tanpa mengurangi esensi dari Kitab Kuning itu sendiri.
Selain itu santri juga lebih mudah dalam menyimpan kumpulan kamib yang sudah mereka kaji tanpa khawatir kamibnya jamuran, dimakan rengat atau basah dan terbakar. Dan kami rasa cara yang paling sesuai untuk mencapai hal itu adalah dengan LMS.”95
Pernyataan ini menegaskan bahwa untuk
95 Wawancara, Muhammad Fadli, Penyesuaian Tujuan dengan Pencapaian Program, November 10, 2022.
dapat melaksanakan pembelajaran (Kitab Kuning) di era digital ini adalah dengan menggunakan LMS. Sehingga tujuan yang dibangun memang sudah disesuaikan dengan penggunaan LMS (digitalisasi). Penyesuaian inilah yang juga mendasari Madin Wustho Darul Falah menjadi salah satu Madin yang sudah mulai beradaptasi dengan digitalisasi (melek digital).
c. Mengembangkan pembelajaran LMS terhadap pembelajaran lain dengan penyesuaian digitalisasi teknologi.
Pengembangan dalam pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan.
Berkembangnya pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satuya adalah adaptasi terhadap perubahan zaman. Perkembangan pembelajaran juga dibutuhkan manakala pembelajaran yang dilakukan sudah tidak sesuai dan tidak bisa digunakan, yang berakibat pemahaman santri yang semakin menurun.
Dalam hal ini, pengembangan pembelajaran LMS yang dilakukan oleh Madin Wustho Darul
Falah tidak hanya pada berhenti pada kami kuning saja. Namun lebih jauh, LMS ini juga bisa digunakan untuk pembelajaran yang lain, seperti yang dikatakan oleh Ustadz Ulil Abshor bahwa:
“LMS pada pembelajaran Kitab Kuning ini merupakan titik awal kami dalam proses adaptasi era digital yang semakin maju. Kedepan LMS ini akan kami kembangkan diseluruh pembelajaran madin mulai dari pembelajarna dikelas, penilaian hingga monitoring segala aktifitas santri terkait kajian yang dipelajari. Kami berharap titik awal ini bisa menginspirasi Madin yang lain sehingga mampu tanggap dengan situasi pendidikan yang sedang terjadi.”96
Dari hasil wawancara tersebut terlihat jelas bahwa Madin Wustho Darul Falah terus melakukan pengembangan terhadap program LMS yang ada. Respon Madin terhadap era
96 Wawancara, Ulil Abshor, Pengembangan Pembelajaran LMS, November 8, 2022.
digital pada pembelajaran terlihat sangat cepat.
Dimana Madin lain masih mempertahankan metode klasik, Madin Wustho Darul Falah sudah mempelopori menggunakan metode digital dengan LMS. Dengan harapan agar Madin lain mampu mengadopsi cara yang dilakukan oleh Madin Darul Falah.
d. Mengadakan evaluasi sesuai dengan program LMS yang dilaksanakan.
Evaluasi dalam sebuah proses perencanaan merupakan hal yang wajib dilakukan. Terlebih jika program yang direncanakan merupakan program baru.
Evaluasi berperan sebagai kunci untuk menjadikan program lebih tertata dan sempurna.
Madin Wustho Darul Falah juga melakukan proses evaluasi pada rencana program LMS ini.
Dalam hal evaluasi, Ustadz Cahyo Widiarto, S.Pd menyampaikan bahwa:
“Karena ini program masih baru, evaluasi rutin kami lakukan setiap pekan.
Ada banyak hal yang perlu kami perbaiki setelah proses evaluasi. Terlebih pada
pemasukan/ input kamib baru yang harus disesuaikan dengan system. Kami selalu komunikasikan semuanya dengan tim IT dan programmer yang sejak awal membantu kami dalam pembuatan program ini. Sehingga dari tahun pertama sudah kami kawal dan berjalan hingga saat ini.”97
Perihal evaluasi juga telah gamblang disampaikan oleh Ustadz Ulil Abshor, S.Pd selaku Kepala Madin yang mengatakan bahwa:
“Setiap langkah baru pasti tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kami juga lakukan evaluasi terhadap semua program yang sudah kami buat. Evaluasi tersebut kami tampung dari laporan setiap pengajar maupun dari santri. Sehingga kedepat kami bisa terus melakukan perbaikan- perbaikan. Tim IT kami juga kooperatif dalam menanggapi segala hal yang
97 Wawancara, Cahyo Widiarto, Evaluasi Program LMS, November 9, 2022.
disampaikan terkait kekurangan program. Tidak bisa dipungkiri bahwa membangun sebuah program digital membutuhkan tim yang solid, waktu dan tenaga yang cukup serta kelapangan hati untuk terus melakukan perbaikan.”98 Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perencanaan yang dilakukan untuk program LMS ini memang sudah matang.
Hal ini menunjukkan bahwa Madin Wustho Darul Falah memang serius dalam menerapkan digitalisasi untuk pembelajaran kitab kuning para santri. Selain itu, Madin juga sudah mempertimbangkan segala resiko dan perbaikan yang akan dihadapi, mengingat program yang dijalankan masih baru dan butuh banyak evaluasi. Oleh karena itu, perencanaan dibuat diawal sematang mungkin untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
Dari hasil uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa program yang dijalankan ini memang tak luput
98 Wawancara, Ulil Abshor, Evaluasi Program LMS, November 8, 2022.
dari kesalahan. Namun dengan kekompakan pada tim dan pengajar dalam menyampaikan dan menanggapi segala keluhan yang ada, program dapat terus berjalan dan menjadi semakin baik. Dalam hal ini, proses yang dilakukan sudah secara runtut dijalankan mulai dari identifikasi tujuan, penyesuaian program dengan tujuan, pengembangan hingga evaluasi. Hal ini menjadi sebuah tolak ukur bahwa perencanaan pembelajaran dengan LMS ini memang sudah dipersiapkan sejak awal hingga memperkirakan segala resiko yang terjadi.
Gambar 4.9 Perencanaan LMS