• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

G. Tahapan Penelitian

1. Perencanaan pembuatan program LMS

Perencanaan merupakan hal terpenting dalam pembelajaran. Seorang pendidik harus memahami apa yang diinginkan oleh santri dan membuat perencanaan yang baik untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan dari pembelajaran adalah agar pelajar mampu mengetahui, memahami, menghargai, dan mengamalkan materi pelajaran. Proses perencanaan pembelajaran meliputi keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan rasional tentang pengorganisasian, implementasi, serta penilaian pembelajaran. Belajar di Madrasah Diniyah tidak hanya berkaitan dengan menyelesaikan studi, tetapi

juga memiliki tujuan untuk memahami materi yang telah dipelajari dan memiliki standar untuk mencapai tujuan tersebut.

Gambar 4.2 Rapat Lembaga Dengan TIM IT LMS Dalam dokumentai di atas, terlihat Madin Wustho Darul Falah melakukan koordinasi perencanaan terkait dengan LMS.84 Perencanaan program LMS ini disusun dan dirancang oleh satu tim yang tergabung dalam tim IT LMS. Dari tim ini dapat diketahui alasan mendasar dibuatnya program ini, seperti yang diungkapkan oleh kepala Madrasah

84 “Dokumentasi, Rapat Koordinasi, Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah,” November 7, 2022.

Diniyah Wustho Darul Falah, Ustadz Ulil Abshor, S.Pd yang mengatakan bahwa:

“Program ini kami mulai dan kami bentuk atas dasar adaptasi lembaga terhadap era digitalisasi yang semakin pesat. Oleh karena itu kami siapkan tim khusus untuk mengerjakan perencanaan program agar bisa segera terealisasikan. Tim ini terdiri dari asatidz yang dibantu programmer (pihak ketiga) sebagai fasilitator pembuatan LMS di Madrasah kami.”85

Peralihan pembelajaran Kitab Kuning ke LMS pada Madrasah Diniyah Darul Falah ini tidak serta merta terwujud dengan mulus. Hal ini ditegaskan dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti yang menunjukkan bahwa pelaksanaan program digitalisasi (LMS) di Madin Wustho Darul Falah masih terus dievaluasi dan dikembangkan.86 Digitalisasi teknologi menjadi alasan utama terlahirnya LMS ini, sebagai wujud adaptasi dari

85 Wawancara, Ulil Abshor, Dasar Pembentukan Program, November 8, 2022.

86 Observasi, LMS dalam Pembelajaran Kitab Kuning, Madin Wustho Darul Falah, November 7, 2022.

perubahan era yang semakin maju. Dengan harapan LMS ini dapat menjadi solusi agar pembelajaran semakin baik dan kondusif. Di sisi lain, simulasi kepada para asatidz sebagai bentuk adaptasi awal dari perubahan pembelajaran ini juga gencar dilakukan agar dalam pelaksanaannya bisa berjalan maksimal. Lebih lanjut, LMS yang diterapkan tidak hanya pada pembelajaran Kitab Kuning saja, melainkan bisa digunakan secara fleksibel pada seluruh pelajara Diniyah maupun umum. Hal ini senada dengan pernyataan Ustadz Cahyo Widiarto, S.Pd yang mengatakan bahwa:

“Sasaran utama kami adalah pada pembelajaran Kitab Kuning, agar pembelajaran klasik yang konvesional dapat kami rubah menjadi LMS sesai dengan tuntutan zaman. Namun tidak menutup kemungkinan jika program tersebut sudah benar-benar 100% jadi akan dapat digunakan untuk pembelajaran yang lain. Program ini juga yang membuat Madrasah kami memiliki

ciri khas dan berbeda dari Madrasah lain.”87 Program digitalisasi dewasa ini memang menuntut para stakeholder dunia pendidikan melakukan inovasi besar-besaran. Salah satunya pada proses pembelajaran yang langsung dirasakan oleh peserta didik. Inovasi ini bukan hanya sebagai respon adaptasi dari digitalisasi yang berlangsung, akan tetapi juga sebagai sarana untuk tetap eksis mempertahankan kelangsungan lembaga. Imbas yang sangat terlihat adalah kepercayaan masyarakat.

Dimana tentunya mereka akan memilihkan lembaga untuk anak-anaknya pada Madrasah yang memiliki inovasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Gambar 4.3 Pengadaan Tablet dan Persiapan Simulasi Program

87 Wawancara, Cahyo Widiarto, Pengembangan Program, November 9, 2022.

Pada tahapan persiapan ini, Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah juga mempersiapkan santri sebagai sasaran utama yang terlibat dalam pelaksanaan program ini. Persiapan yang dilakukan adalah dengan pengadaan media tablet sebagai sarana penunjang LMS yang sudah dimulai satu tahun ini. Langkah selanjutnya tentu dengan mengadakan berbagai simulasi kepada para santri agar segera mampu beradaptasi dalam penggunaan LMS untuk pembelajaran kitab kuning. Seperti terlihat pada gambar di atas yang menunjukkan bahwa para santri sudah siap dengan tablet masing- masing untuk melaksanakan program pembelajaran berbasis LMS ini.88 Hal ini juga senada dengan yang diutarakan oleh Kepala Madrasah yaitu Ustadz Ulil Abshor, S.Pd:

“Persiapan pada santri yang sudah kami lakukan adalah pengadaan tablet. Ini sudah kami mulai sejak satu tahun yang lalu dan kami arahkan di kelas 1 secara keseluruhan.

Pengadaan tablet ini secara mandiri yang

88 “Dokumentasi, Persiapan LMS Menggunakan Tablet, Madrasah Diniyah Wustho Darul Falah,” November 7, 2022.

bekerja sama dengan koperasi pondok, sehingga untuk pembayarannya bisa diangsur. Untuk Kamib, ada beberapa yang sudah masuk diaplikasi, ada yang gratis da nada yang berbayar. Namun Kami yang saat ini sudah dikaji diantaranya yaa Kamib Mabadi Fiqih. Sampai saat ini terus kami kembangkan dan kami tambahkan Kamib- Kamib lain sejumlah pelajaran yang ada di Madin.”89

Berdasarkan persiapan yang dilakukan, terlihat jelas bahwa dalam menyikapi digitalisasi teknologi ini, Madin Wustho Darul Falah berusaha maksimal menyempurnakan berbagai sisi, sambil terus mengevaluasi kekurangan dari program yang dijalankan. Di sisi lain, persiapan dan perencanaan yang dilakukan pun juga melibatkan pengajar yang notabene masih menerapkan metode klasik dalam pembelajaran Kitab Kuning.

89 Wawancara, Ulil Abshor, Persiapan LMS, November 8, 2022.

Gambar 4.4 Tampilan Tablet sebagai Media LMS

Gambar 4.5 Tampilan Aplikasi Kitab Kuning

Gambar 4.6 Tampilan Kitab Kuning

Gambar 4.7 Tampilan Tugas dan Evaluasi Penilaian Kitab Kuning

Pengajar Kitab Kuning harus mampu beradaptasi dengan metode baru menggunakan LMS, mulai dari pemasukan Kamib, pemaknaan maupun penyimpanan pada media tablet yang dimiliki para santri. Tanggapan positif juga disampaikan oleh pengajar Kitab Kuning, salah satunya adalah Ustadz Muhammad Fadli yang mengatakan bahwa:

“Sejujurnya kami merasa LMS ini menjadi sebuah tantangan baru. Karena selama ini kami mengajar Kitab Kuning masih dengan metode klasik dan benar-benar menggunakan kami. Sedangkan sekarang harus beradaptasi dengan tablet yang baru kami alami di Madrasah ini. Dari segi efektifitas kami sangat terbantu dan sangat senang program ini cepat terealisasi. Para santri lebih fleksibel dalam memiliki Kamib yang bisa disimpan hanya dengan satu tablet. Selain itu kami juga lebih mudah dalam mengajar karena media yang kami gunakan mudah diakses, mudah dicari dan tentunya sesuai dengan

tuntutan zaman.”90

Berdasarkan data yang diperoleh dari beberapa informan yang telah diwawancarai oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa meskipun baru berjalan kurang daru 2 tahun, pelaksanaan perencanaan program LMS ini tergolong maksimal.

Program LMS sendiri ditangani oleh tim yang sudah mumpuni pada bidangnya, perencanaan persiapan pada santri juga sudah dimulai sejak kelas 1, serta dari sisi pengajar yang sudah mampu beradaptasi dengan program digital yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi perencanaan, Madin Wustho Darul Falah sudah memaksimalkan perencanaan sejak awal. Sehingga dari berbagai pihak yang terlibat langsung mampu beradaptasi dengan tuntutan kondisi yang berlangsung.

2. Perencanaan Pembelajaran Kitab Kuning dengan

Dokumen terkait