Salah seorang pakar Ilmu Kenegaraan yaitu Nasroen misalnya komentar mengenai pengertian negara dari sudut pandang sosiologis sebagai berikut “Menurut pendapat saya, tidak dapat disangkal bahwa negara itu suatu bentuk pergaulan hidup dan oleh sebab itu harus juga ditinjau secara sosiologis agar sesuatunya dapat jelas dan dipahami.”67 Definisi ini sangat sederhana karena yang dapat diketahui dari definisi tersebut yaitu bahwa negara adalah suatu bentuk pergaulan hidup manusia. Akan tetapi, makna istilah bentuk pergaulan hidup belum jelas sehingga istilah tersebut masih perlu dijelaskan. Bentuk pergaulan hidup manusia beraneka ragam. Ada bentuk pergaulan
67 Nasroen, Asal Mula Negara (Jakarta, 1986), hlm. 9.
hidup yang disebut paguyuban dan pertembayan. Apakah negara termasuk paguyuban atau pertembayan atau kombinasi dari keduanya?
Negara sebagai suatu pergaulan hidup baik sebagai suatu paguyuban, pertembayan atau kombinasi dari keduanya adalah suatu organisasi yang secara sengaja dibentuk oleh sekelompok anggota masyarakat demi mencapai tujuan bersama. Sifat hakikat negara sebagai suatu bentuk pergaulan hidup tanpa memandang bentuknya adalah suatu organisasi. Sifat hakikat negara sebagai suatu organisasi melekat pada pengertian konsep negara pada zaman sekarang. Usep Ranawijaya mengemukakan sebagai berikut
“Sifat pertama yang paling menonjol dari suatu negara adalah sifat sebagai organisasi yaitu suatu bentuk kerja sama antarmanusia untuk mencapai tujuan tertentu.”68
Ada berbagai macam bentuk pergaulan hidup manusia dengan sifat hakikat sebagai suatu organisasi dengan nama yang berbeda-beda. Ada bentuk pergaulan hidup yang disebut dusun, desa, kampung, gampong, huta, kota, kabupaten, provinisi dan sebagainya. Apa perbedaan yang prinsip antara ciri-ciri negara sebagai suatu bentuk pergaulan hidup dengan ciri-ciri bentuk pergaulan hidup yang lain seperti dusun, desa, kampung, gampong, huta dan lain-lain?
Sebagai suatu bentuk pergaulan hidup, negara memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dari dusun, desa, kampung, gampong atau huta. Negara adalah bentuk pergaulan hidup yang lebih tinggi sifatnya. Nasroen mengemukakan sebagai berikut “Negara itu bukanlah suatu pergaulan hidup biasa, tetapi suatu bentuk pergaulan hidup yang khusus dan kekhususannya terletak pada syarat-syarat tertentu yaitu rakyat, daerah dan pemerintah tertentu yang harus dipenuhi oleh pergaulan hidup itu agar dapat dinamakan
68 Usep Ranawijaya, Hukum Tata Negara Indonesia Dasar-dasarnya (Jakarta, 1982), hlm. 173.
negara.”69 Menurut Nasroen, perbedaan negara dengan desa, kampung, gampong atau huta terletak pada syarat-syarat pembentuk negara. Perbedaan syarat-syarat formal pembentukan negara dengan desa, kampung, gampong atau huta membuat Nasroen menarik suatu kesimpulan mengenai ciri-ciri khusus negara sebagai berikut “. . . negara itu adalah suatu bentuk pergaulan hidup yang bertingkat tinggi . . . .”70
Secara formal tidak ada perbedaan prinsip mengenai unsur formal pembentuk negara dengan unsur formal pembentuk dusun, desa atau kampung. Pembentukan dusun, desa, kampung, gampong atau huta juga harus memenuhi unsur-unsur formal seperti wilayah, rakyat dan pemerintah desa. Unsur-unsur formal pembentuk negara seperti dikemukakan Nasroen bukan unsur hakiki yang membedakan negara dengan dusun, desa ataupun kampong. Ada ciri negara yang paling penting tetapi tidak disinggung Nasroen yakni kekuasaan yang bersifat memaksa secara sah oleh hukum. Unsur kekuasaan yang bersifat memaksa secara sah merupakan ciri negara yang paling penting.
Mac Iver mengemukakan definisi negara sebagai berikut “The state is an association which, acting through law as promulgated by a government endowed to this end with coersive power, maintains within a community territorially demarcated the external conditions of order.”71 (Negara adalah asosiasi yang bertindak melalui hukum seperti yang diumumkan oleh pemerintah yang diberi kekuasaan memaksa untuk mencapai tujuan memelihara kondisi eksternal ketertiban dalam suatu masyarakat yang dibatasi secara territorial.)” Definisi di atas lebih lengkap daripada definisi Nasroen. Ada
69 Ibid., hlm. 9.
70 Ibid., hlm. 51.
71 Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih, op. cit., hlm. 55.
beberapa aspek negara yang dapat diketahui dari definisi tersebut. Pertama, negara adalah organisasi dari sekelompok orang yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah (teritorial). Kedua, sebagai suatu asosiasi, negara bertindak berdasarkan undang-undang yang dibuat oleh pemerintah. Ketiga, negara berfungsi sebagai pemelihara ketertiban eksternal. Keempat, untuk memelihara ketertiban eksternal tersebut, negara dianugerahi atau diberi kekuasaan yang bersifat memaksa oleh undang-undang.
Aspek terpenting dari keempat unsur negara yang disebut dalam definsi Mac Iver di atas adalah kekuasaan yang bersifat memaksa. Bukti betapa penting unsur kekuasaan memaksa yang berlaku secara sah sebagai unsur essensial negara dikemukakan oleh Kranenburg. Kranenburg mengemukakan sebagai berikut “Negara itu pada hakikatnya adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut bangsa.”72 Logemaan juga mengemukakan sebagai berikut “Negara itu pada hakikatnya adalah suatu organisasi kekuasaan yang meliputi atau menyatukan kelompok manusia yang kemudian disebut bangsa.”73
Logemaan dan Kranenburg bersepakat tentang sifat dan hakikat negara sebagai organisasi kekuasaan. Akan tetapi, dalam hal pembentukan negara dan bangsa, kedua pakar mengambil posisi yang berbeda. Menurut Kranenburg, negara diciptakan oleh bangsa. Bangsa lebih dahulu terbentuk daripada negara. Menurut Logemann, negara lebih dahulu terbentuk daripada bangsa. negara yang membentuk bangsa.
Sifat hakikat negara sebagai organisasi kekuasaan seperti dikemukakan Kranenburg dan Logemaan menggambarkan pemahaman bahwa kekuasaan negara
72 Soehino, Ilmu Negara, op. cit., hlm. 142.
73 Ibid., hlm. 143.
merupakan kekuasaan yang diorganisir oleh sekelompok orang yang disebut bangsa.
Pengorganisasian kekuasaan dilakukan secara sadar untuk mencapai suatu maksud dan tujuan tertentu. Ada berbagai macam tujuan yang hendak dicapai seperti untuk memelihara ketertiban, keamanaan, menyelenggarakan kesejahteraan bangsa dan sebagainya. Kesimpulan seperti itu selaras dengan pendapat beberapa pakar mengenai definisi negara yang dikemukakan dalam uraian berikut.
Hood Philips, Paul Jackson dan Patricia Leopold mengemukakan negara sebagai
“An independent political society occupying a defined territory, the members of which are united together for the purpose of resisting external force and the preservation of internal order.”74 (Masyarakat politik yang merdeka yang menduduki suatu wilayah tertentu yang anggota-anggotanya bergabung bersama untuk tujuan menolak kekuatan luar dan untuk pemeliharaan ketertiban internal).” Sesuai dengan pendapat di atas, pengorganisasian kekuasaan negara oleh suatu bangsa dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama. Dengan demikian, penggunaan kekuasaan negara di luar tujuan negara adalah suatu bentuk penyalahgunaan kekuasaan negara.
Jika unsur kekuasaan yang bersifat memaksa dipakai sebagai patokan untuk merumuskan sifat hakikat negara masih ada kelemahan. Unsur kekuasaan yang bersifat memaksa tidak hanya ada pada negara tetapi juga dusun, desa, kampung, huta, gampong meskipun secara terbatas. Secara konkrit, unsur kekuasaan yang memaksa tampak dalam tindakan paksa fisik yang dilakukan dusun, desa, kampong atau huta, terhadap anggotanya dan orang lain yang melanggar aturan desa. Namun, jika bertitik tolak dari unsur kekuasaan memaksa, perbedaan negara dengan dusun, desa, kampung, huta
74 O. Hood Phillips, Paul Jackson and Patricia Leopold, Constitutional and Administrative Law (London, 2001), hlm. 4.
sebagai suatu bentuk pergaulan hidup manusia masih belum tampak dengan jelas. Untuk itu, masih perlu dibicarakan definisi lain supaya perbedaan negara dengan bentuk-bentuk pergaulan hidup manusia yang lain seperti desa atau huta, dapat diketahui dengan jelas.
Ciri yang dapat membedakan negara dengan bentuk-bentuk pergaulan hidup yang lain seperti dusun atau desa adalah aspek monopoli kekuasaan. Monopoli kekuasaan merupakan hak istimewa negara yang tidak dimiliki desa atau kampung. Max Weber mengemukakan definisi negara sebagai berikut “The state is human society that (successfully) claims monopoly of the legitimate use of physical force within a given territory).”75 (Negara adalah masyarakat manusia yang memiliki monopoli penggunaan paksaan fisik yang sah dalam suatu wilayah tertentu.”
Unsur negara yang menonjol dalam definisi Max Weber di atas adalah monopoli penggunaan kekuasaan memaksa yang sah. Aspek monopoli kekuasaan yang memaksa tidak dimiliki bentuk pergaulan hidup yang lain. Meskipun bentuk pergaulan hidup yang lain memiliki kekuasaan yang memaksa tetapi kekuasaan tersebut tidak bersifat monopoli. Aspek monopoli kekuasaan yang memaksa secara sah adalah ciri yang membedakan negara dengan dusun, desa, kampung, huta, gampong dan sebagainya.
Bintan R. Saragih juga mengemukakan komentar bahwa monopoli kekuasaan sebagai sifat khusus negara. Bintan R. Saragih mengemukakan komentar sebagai berikut:
“Sebagai organisasi di dalam masyarakat ia (maksudnya negara - - - pen.) dibedakan daripada organisasi-organisasi lainnya karena negara mempunyai sifat- sifat yang khusus. Kekhususannya terletak pada monopoli dari kekuasaan jasmaniah yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lainnya seperti gereja, partai, perserikatan-perserikatan lainnya.”76
75 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta, 2006), hlm. 39-40.
76 Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih, op. cit., hlm. 56.
Dusun, desa, kampung, huta, gampong memiliki kekuasaan memaksa yang berlaku sah dalam wilayah masing-masing tetapi bukan kekuasaan yang bersifat monopoli. Kekuasaan dusun, desa, kampung, huta, gampong harus tunduk kepada kekuasaan negara. Sekalipun dusun, desa, kampung, huta, gampong memiliki kekuasaan memaksa yang sah dan berlaku dalam wilayahnya tetapi bukan bersifat monopoli karena ada kekuasaan yang lebih tinggi yaitu kekuasaan negara. Kekuasaan dusun, desa, kampung, gampong atau huta harus tunduk kepada kekuasaan negara karena kedudukan kekuasaan desa, huta atau gampong lebih rendah. Dengan perkataan lain, negara memiliki kedaulatan atas desa, gampong atau huta. Bukti monopoli kekuasaan negara atas dusun, desa, kampung, gampong, huta terbukti dari kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang dibentuk negara. Untuk menunjukkan perbedaan tersebut, Bintan R. Saragih mengemukakan komentar sebagai berikut:
“Contoh dari monopoli itu adalah bahwa negara dapat menjatuhkan hukuman kepada setiap warga negaranya yang melanggar peraturan. Dan apabila perlu negara dapat menjatuhkan hukuman mati. Selain itu, negara dapat mewajibkan warga negaranya untuk mengangkat senjata kalau negeri itu diserang musuh.
Kewajiban ini berlaku juga bagi warga negara yang berada di luar negeri. Juga negara dapat memungut pajak dan menentukan uang yang berlaku di dalam wilayahnya.”77
Monopoli kekuasaan yang memaksa dan sah oleh negara sekaligus membuat kedudukan negara lebih tinggi daripada kedudukan desa, huta, kampong, gampong dan sebagainya. Untuk menggambarkan perbedaan kedudukan negara tersebut, Harold J.
Lasky mengemukakan pendapat mengenai negara sebagai berikut:
“The state is a society which integrated by possessing a coercive authority legally supreme over any individual or group which part of the society.”78 (Negara adalah
77 Ibid.
78 Miriam Budiardjo, op. cit., hlm. 39-40.
suatu masyarakat yang terintegrasi berdasarkan pemilikan kewenangan memaksa yang sah yang berkedudukan lebih tinggi atas setiap individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat tersebut).”
Kekuasaan negara dipakai untuk menyelenggarakan kepentingan masyarakat yang mendirikan negara. Kekuasaan negara tidak boleh dipakai untuk kepentingan golongan penguasa ataupun sekelompok. Bahkan, kekuasaan yang dimiliki negara tidak boleh dipakai penguasa dengan alasan untuk kepentingan negara padahal untuk kepentingan pribadi. Demikian juga kekuasaan negara tidak dapat dipakai dengan alasan kepentingan negara tetapi dengan cara-cara yang melanggar prinsip-prinsip dasar kehidupan bersama yang sudah disepakati sebagai fondasi kehidupan bernegara. Jika negara bertindak untuk kepentingan penguasa atau sekelompok, hal itu merupakan penyimpangan dari sifat hakikat negara sebagai alat bangsa untuk menyelenggarakan kepentingan bersama. Setiap tindakan penguasa yang dilakukan atas nama kekuasaan negara harus dapat dibuktikan memang dilakukan semata-mata untuk dan demi kepentingan bersama bangsa. Dalam hal ini, kepentingan bangsa harus dipahami sebagai lebih utama daripada jenis kepentingan lain seperti kepentingan negara, penguasa ataupun kepentingan golongan.
Bahkan, sesungguhnya negara tidak boleh memiliki kepentingan sehingga pemakaian istilah demi kepentingan negara adalah sesuatu hal yang salah secara konseptual. Roger L. Soltau misalnya mengemukakan sebagai berikut “The state is agency or authority managing or controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of community.”79 (Negara adalah alat atau kewenangan untuk mengelola atau mengendalikan masalah-masalah umum atas nama dan di dalam nama masyarakat).
79 Ibid., hlm. 39.
Jika bertitik tolak dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa kesimpulan mengenai sifat hakikat negara yang memiliki monopoli kekuasaan dan kedudukan yang lebih tinggi daripada individu, kelompok dan organisasi sosial yang lain dan selalu bertindak untuk dan demi kepentingan bersama. Ciri-ciri sifat hakikat negara tersebut adalah sebagai berikut (1) memiliki monopoli kekuasaan, (2) memiliki kekuasaan yang bersifat memaksa secara sah, (3) bertindak untuk dan atas nama masyarakat dan (4) memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada individu atau bentuk pergaulan hidup lain. Sifat dan hakikat negara seperti dikemukakan di atas sama dengan pandangan Miriam Budiardjo mengenai sifat hakikat negara yakni memiliki sifat yang (1) memaksa, (2) memonopoli dan (3) mencakup semua.80