• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku referensi ilmu negara

N/A
N/A
aulian

Academic year: 2023

Membagikan "Buku referensi ilmu negara"

Copied!
491
0
0

Teks penuh

Ilmu kenegaraan Yunani kuno bukanlah ilmu ilmiah karena tidak menggunakan metode ilmiah ilmu pengetahuan modern. Dengan kata lain, orang-orang Yunani kuno mempelajari keadaan yang tidak menggunakan metode verifikasi deduto-hipotetis sebagai metode ilmiah ilmu pengetahuan modern.

Pembagian Ilmu Negara Menurut Sistematika Georg Jellinek

Pendekatan yang digunakan Jellinek dalam Studi Negara dalam Arti Luas (Staatswissenschaft) didasarkan pada 2 (dua) sudut pandang, yaitu (a) sosiologis dan (b) hukum. Jika ilmu politik (Staatswissenschaft) dalam arti luas dilihat dari aspek kenegaraan saja (an-sich), maka menurut Jellinek lahirlah ilmu politik dalam arti sempit.

Ilmu Negara Umum

Perspektif sosiologis umum mengenai ilmu negara dalam kajian tentang negara bersumber dari sudut pandang internal. Yurisprudensi umum negara (Allgeimene Staatsrechtlehre) mengkaji negara dari sudut pandang hukum, yaitu sebagai suatu struktur hukum (korporasi).

Ilmu Negara Khusus

Ilmu Negara Khusus (Spezielle Staatslehre) merupakan salah satu cabang Ilmu Negara Khusus yang mengkaji negara sebagai suatu struktur hukum. Berdasarkan pendapat Soehino di atas, maka operasionalisasi Ilmu Pengetahuan Khusus Negara dapat dijelaskan pada uraian berikut.

Hubungan Ilmu Negara Umum dengan Ilmu Negara Khusus

Teori Ilmu Politik Khusus Indonesia dibangun dengan titik tolak Teori Ilmu Politik Umum. Doktrin ahli tersebut menghubungkan teori Ilmu Politik Umum dengan Ilmu Politik Khusus Indonesia.

Objek Kajian Ilmu Negara (Objek Material Ilmu Negara)

Padmo Wahyono mengemukakan pendapatnya tentang pengertian pokok negara sebagai berikut: “Sebagai contoh, anda pernah mendengar tentang Parlemen. Sesuai dengan uraian di atas, Ilmu Negara mengkaji berbagai pengertian dasar dan aspek dasar negara.

Objek Formal Ilmu Negara atau Sudut Pandang Dalam Mengkaji Negara

Jika negara diteliti (dikaji) dari sudut pandang hukum sebagai badan hukum atau korporasi, maka ada beberapa hal tentang negara yang perlu dibahas. Pokok-pokok bahasan Ilmu Negara berdasarkan perspektif sosiologi dan hukum di atas merupakan rangkuman dari bahan ajar (mata pelajaran) Ilmu Negara.

Hubungan Tinjauan Sosiologis dengan Tinjauan Yuridis Dalam Mengkaji Negara

Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan tentang hakikat dan hakikat negara serta berbagai aspek negara dari sudut pandang sosiologi merupakan cara pandang bagi terbentuknya teori tentang keadaan bangsa. Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa pengertian negara dari segi sosiologi menentukan pengertian negara dari segi hukum.

Pengertian dan Sifat Hakikat Negara

Metode pendekatan doktrinal merupakan metode pendekatan yang berupaya memahami konsep negara dengan bertolak dari definisi para ahli. Metode pendekatan linguistik merupakan suatu metode pendekatan yang tujuannya untuk memahami konsep negara dengan cara membahas konsep-konsep negara.

Metode Pendekatan Doktriner Dalam Memahami Konsep Negara

Meskipun bentuk interaksi sosial lainnya mempunyai kekuatan koersif, namun kekuatan tersebut tidak bersifat monopoli. Aspek monopoli dalam pemaksaan hukum merupakan ciri yang membedakan negara dengan desa, dusun, dusun, gubuk, gampong dan sebagainya.

Metode Pendekatan Terminologis Dalam Memahami Konsep Negara

Istilah negara merupakan istilah baru yang diadopsi dari istilah la stato pada Abad Pertengahan. Istilah la stato diadaptasi ke dalam berbagai bahasa seperti staat (Belanda dan Jerman), state (Inggris) dan Etat (Prancis).

Pengantar

Teori-teori Ilmu Politik yang berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan teori-teori dasar yang membenarkan keberadaan negara. Argumentasi dasar yang dikemukakan oleh teori-teori dasar untuk membenarkan keberadaan negara untuk membenarkan keberadaan negara, kekuasaan negara, dan tindakan negara tidak selalu dimulai dari fakta empiris (fakta kehidupan sehari-hari).

Doktrin/Teori Teokrasi Sebagai Teori Dasar Pembenar Eksistensi Negara

Sehubungan dengan doktrin teokrasi langsung yang dikemukakan di atas, maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut. Argumentasi doktrin teokrasi langsung sebagai landasan pembenaran keberadaan dan kekuasaan negara sebagaimana dikemukakan di atas tampaknya kurang memuaskan. Namun doktrin teokrasi langsung tidak mampu menjelaskan peristiwa tersebut dengan argumen yang dapat diterima akal sehat.

Ketidakmampuan untuk memberikan penjelasan yang memuaskan dan dapat diterima oleh akal sehat merupakan kelemahan paling mendasar dari doktrin teokrasi langsung. Dalam doktrin teokrasi tidak langsung yang dimaksud bukanlah wahyu Tuhan atau wahyu para dewa, melainkan hakikat Tuhan. Saragih memberikan gambaran mengenai doktrin teokrasi tidak langsung sebagai berikut: “Mengapa teori ini disebut tidak langsung adalah karena bukan Tuhan sendiri yang memerintah, melainkan raja atas nama Tuhan.

Teori Kekuatan Sebagai Dasar Pembenar Eksistensi Negara/Raja

Oleh karena itu, teori kekuasaan dapat disebut sebagai teori empiris dalam pengertian dan sudut pandang tertentu. Doktrin kekuasaan memberikan bukti bahwa kekuatan fisik dan kekayaan sebenarnya bisa menjadi sumber kekuasaan. Misalnya, orang dengan kekuatan fisik lebih besar cenderung lebih mudah memperoleh kekuatan dibandingkan orang yang fisiknya lebih lemah.

Doktrin kekuatan fisik mengemukakan doktrin (doktrin) bahwa negara dibangun atau didirikan oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik yang besar. Doktrin kekuatan fisik merupakan doktrin yang bersifat universal karena terdapat dalam budaya berbagai bangsa baik di dunia Barat maupun Timur. Doktrin kekuatan ekonomi lebih realistis dibandingkan doktrin teokratis karena doktrin ini dengan mudah memberikan bukti nyata akan kekuatan ekonomi sebagai sumber kekuatan.

Konsep-konsep Hukum (Konsep Status Hukum, Hak Milik dan Perjanjian) Sebagai Doktrin Dasar Pembenar Eksistensi Negara

Ahmad Suhelmi menanggapi Robert Filmer mengenai doktrin patriarki sebagai berikut: “Dalam Patriacha, Filmer menulis bahwa kekuasaan Raja Inggris (Charles I) bersifat turun-temurun. John Locke lebih jauh mengemukakan pandangan berikut: “Demikianlah setiap orang membentuk suatu tubuh politik dengan berkonsultasi dengan orang lain. Mengenai kondisi manusia sebelum adanya negara, Rosseau menyatakan sebagai berikut: “Manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas.”177 Lalu di manakah manusia mendapatkan kebebasan?

Rosseau lebih lanjut memberikan komentar berikut: “Kekuatan tambahan ini hanya dapat ditunjukkan ketika lebih banyak orang bersatu. Sejarah dapat membantu Ilmu Pengetahuan Umum Negara untuk membentuk teori-teori pertumbuhan negara yang dapat diterapkan secara umum. Proses penalaran induksi menghasilkan teori-teori Ilmu Negara yang berlaku umum untuk semua negara.” negara.

Sudut Pandang (Perspektif) dan Unsur-unsur Konstitutif Pembentuk Negara Salah satu doktrin atau teori Ilmu Negara yang berlaku secara umum bagi semua

Unsur-unsur pembentuk negara dan penentu pertumbuhan negara ditinjau dari segi sosiologi berbeda dengan unsur hukum. Sudut pandang sosiologi menentukan masa pertumbuhan negara di mana unsur-unsur utama pembentuk negara terbentuk. Dari sudut pandang sosiologi, unsur konstitutif yang membentuk negara adalah unsur formal yang membentuk negara sebagai organisasi sosial.

Apa saja unsur-unsur pembentuk suatu negara yang menentukan waktu tumbuhnya negara dari sudut pandang hukum? Dari sudut pandang hukum, negara dipandang sebagai satu kesatuan (entity), yakni sebagai suatu korporasi (badan hukum). Dari sudut pandang sosiologi, unsur kemampuan menjalin hubungan dengan negara lain bukan merupakan unsur konstitutif dalam pembentukan suatu negara.

Teori Pertumbuhan Negara Primer dan Sekunder 1.Teori Pertumbuhan Negara Primer

Dengan kata lain, kita belum mengenal istilah pemerintah dan rakyat dalam bentuk sederhana yaitu masyarakat yang hidup bersama. Dalam kehidupan sehari-hari manusia yang sederhana, unsur pembentuk negara adalah anggota kelompok dan wilayah. Unsur pembentuk negara yang tumbuh dalam kehidupan bersama disebut Genonssenschaft (Genootschap) yang merupakan unsur daerah.

Bentuk kehidupan kolektif seperti Genonssenschaft (Genootschap) belum bisa disebut negara, karena unsur-unsur pokok pembentuk negara belum terbentuk sempurna. Dalam bentuk kehidupan manusia yang secara kolektif disebut negara, telah terbentuk sempurna tiga unsur pembentuk negara dari sudut pandang sosiologi, yaitu wilayah, rakyat, dan pemerintahan yang berdaulat. Padahal negara sebagai wujud kehidupan manusia telah memenuhi tiga unsur sosiologis konstitutif pembentuk negara, yaitu rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat.

Teori-teori Tujuan Negara dan Manfaat Mempelajarinya

Teori-teori tujuan negara mutlak harus dibahas dalam Ilmu Politik karena tujuan negara sangat penting bagi eksistensi negara karena tidak ada negara yang tidak mempunyai tujuan. Teori-teori Tujuan Negara hendaknya dibahas cukup banyak karena mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya tujuan negara Indonesia ditentukan oleh cara pandang masyarakat Indonesia terhadap hakikat negara Indonesia.

Apa sebenarnya tujuan negara sebagai bentuk interaksi sosial dengan masyarakat atau sebagai organisasi kemasyarakatan? Dalam bidang ilmu ketatanegaraan, tidak ada kesepakatan antar para ahli mengenai tujuan negara, sehingga timbullah teori-teori tujuan negara yang berbeda-beda. Namun ada juga para ahli yang menganggap tidak perlu membahas teori tujuan negara dalam Ilmu Politik.

Macam-macam Teori Tujuan Negara

Kesusilaan Sebagai Tujuan Negara

Artinya siapa yang mempunyai kekuasaan atau kedaulatan tertinggi adalah negara, yang menurut Jean Bodin bersifat abadi. Bukti keterbatasan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi, menurut Jean Bodin, adalah ketidakmampuan kedaulatan untuk mengabaikan atau membatalkan perintah leges imperii. Namun sesuai dengan adat istiadat Abad Pertengahan, dapat diartikan bahwa dalam pandangan Jean Bodin, pemegang kekuasaan tertinggi haruslah seorang raja, meskipun kekuasaannya terbatas.

Kebebasan individu sebagai tujuan summa potestas dapat dimaknai dari gagasan Jean Bodin tentang summa potestas dengan kekuasaan yang terbatas. Pandangan demikian tidak hanya terdapat pada teori summa potestas karya Jean Bodin, namun juga pada gagasan Trias Politika karya Montesquieu. Dengan kata lain, menurut teori Jean Bodin, tujuan negara adalah kemerdekaan.274.

Kebaikan Tertinggi Sebagai Tujuan Negara

Tugas Night Watch State adalah menjamin ketertiban dan keamanan masyarakat.298 Rule of Law karya Immanuel Kant disebut juga rule of law liberal karena pendukungnya adalah kelompok liberal. Negara Hukum Liberal kemudian dikembangkan oleh Friederich Julius Stahl menjadi Negara Hukum Formal dengan batasan kekuasaan yang lebih ketat. Kelemahan-kelemahan Rule of Law Formal kemudian dikoreksi dengan Welfare Rule of Law sebagai konsepsi rule of law yang terkini.

Tujuan UU Negara Kesejahteraan mempunyai konsekuensi terhadap seluruh fungsi negara dan tugas penyelenggara negara. Negara kesejahteraan atau negara pelayanan sosial bertindak aktif untuk menjamin kesejahteraan penduduk. Negara juga diberikan kebebasan untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri, sehingga tidak dapat terikat secara kaku oleh hukum sebagai aturan hukum formal.

Kesejahteraan Umum Sebagai Tujuan Negara Republik Indonesia

Pembukaan UUD 1945 merupakan wujud nyata normatisasi nilai dan asas (asas) proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan kata lain, teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan Teks Lampiran UUD 1945. Untuk mempertanggungjawabkan keabsahan atau kebenaran proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, maka teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia harus dipertanggungjawabkan. pertanyaan berikut harus ditanyakan.

Tidak ada alasan untuk meragukan keabsahan proklamasi kemerdekaan Indonesia berdasarkan empat alasan di atas. Secara politis, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia diumumkan kepada bangsa lain dalam keadaan vakum kekuasaan. Setelah terbentuknya bangsa, negara, dan sistem hukum bangsa Indonesia, kini dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Bentuk-bentukNegara Zaman Klasik 1.Pengertian Bentuk Negara

Oleh karena itu, bentuk negara yang menjadi fokus pembahasan pada bab ini merupakan subtopik pembahasan pertama mengenai struktur organisasi negara yang dimulai dari segi yuridis. Sebagai suatu pola suatu sistem penyelenggaraan kekuasaan, bentuk negara merupakan bagian terluar dari wajah organisasi negara. Bentuk negara aristokrat mencerminkan keadaan jiwa manusia yang terbaik, yaitu jiwa yang mengutamakan pemikiran keadilan.

Dengan cara ini bentuk negara pun berubah.”360 Orientasi kekuasaan untuk mencapai kesuksesan, kejayaan, dan kehormatan sebesar-besarnya demi kepentingan sendiri lambat laun bergeser ke orientasi pada kekayaan. Kemunduran timokrasi melahirkan bentuk negara ketiga yaitu oligarki, oligarki dipimpin oleh sekelompok orang yang mempunyai kekayaan (golongan kaya). Tirani adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa yang sewenang-wenang dan menindas rakyat.

Referensi

Dokumen terkait

“Analisis Isi Buku Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kurikulum 2013 dalam Pembentukan Karakter Bangsa pada Siswa SMP Kelas V II”.. Surakarta:

Pertanyaannya antara lain: Apakah Negara-negara dan bangsa- bangsa di dunia sekarang lebih "bendaulat" dan tidak tergantung sama lain, atau apakah tindakan

Legitimasi adalah suatu tindakan perbuatan dengan hukum yang berlaku, atau perbuatan yang ada, baik secara hokum formal, etis, adat istiadat, maupun hokum kemasyarakatan yang sudah

Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan

Jurnal Tingkat Sarjana bidang Senirupa dan Desain EKSPLORASI TEKSTUR TIGA DIMENSIONAL DENGAN AKSARA SUNDA BAKU SEBAGAI INSPIRASI VISUAL PADA PRODUK FASHION.. Referensi Internet