BAB I PENDAHULUAN
H. Metodologi Penelitian
ada perbedaan. Ditambah dengan perbedaan yang lain yaitu penelitian yang akan penulis lakukan yaitu dengan memasukkan pemikiran M. Quraish Shihab untuk diperbandingkan antara ketiga mufassir kontemporer Indonesia.
Dari pemaparan beberapa tinjauan pustaka diatas, dapat dilihat bahwa belum ada hasil penelitian yang mengkaji tentang toleransi antar umat beragama berdasarkan Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Mishbah (studi perbandingan).
H. Metodologi Penelitian
b) Sumber data sekunder
Buku-buku, jurnal, artikel maupun majalah pendukung lainnya yang sesuai dengan tema.
4. Metode Analisis Data
Dalam menganalisa data yang disajikan, penulis menggunakan beberapa metode antara lain: metode deduktif, yaitu mengemukakan masalah yang bersifat umum kemudian menyimpulkannya kepada yang bersifat khusus. Penulis juga menggunakan metode tematik, yakni mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan tema yang diangkat. Disamping itu, penulis juga menggunakan metode studi tokoh, dan juga menggunakan metode komparatif, yaitu membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain, lalu diambil keputusan yang lebih kuat dan bila perlu, menggunakan pendapat sendiri.
Dengan menggunakan metode di atas, maka akan di dapat pola pikir dan hasil dari pemikiran tersebut secara jelas dan mudah dipahami. Sehingga hasil penelitian yang di harapkan bisa maksimal.
I. Teknik dan Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini menggunakan buku pedoman penulisan skripsi, tesis dan disertasi Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta edisi revisi yang diterbitkan oleh IIQ Press, cetakan ke-3 tahun 2017. Untuk mempermudah penulisan, skripsi ini dibagi dalam lima bab, secara garis besar isi dari masing-masing bab adalah:
BAB I berisi tentang Pendahuluan yang terdiri dari; Latar Belakang Masalah, Identifikasi, Batasan dan Rumusan Masalah,
Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II menjelaskan tentang pengertian toleransi, faktor pendukung dan penghambat terjadinya toleransi beserta masalah Islamophibia, dilanjutkan dengan kisah toleransi antar umat beragama sepanjang sejarah Islam, lalu khusus kisah toleransi yang ada di Indonesia, kemudian juga menyebutkan hadis-hadis beserta ayat Al-Qur`an mengenai sikap toleransi. Sebagai bab yang bersifat pengantar untuk pembahasan inti yang terletak pada bab kedua, ketiga dan keempat.
BAB III mencakup biografi M. Hasbi as-Shiddieqy, Buya Hamka dan M. Quraish Shihab serta karya-karyanya sekaligus pengenalan Kitab Tafsir beliau.
BAB IV menguraikan tentang Analisis terhadap Tafsir An- Nur, Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Mishbah tentang ayat-ayat toleransi beragama.
BAB V merupakan bab penutup, yang berisi kesimpulan dari uraian-uraian skripsi ini kemudian dikemukakan beberapa saran sehubungan dengan persoalan yang telah dibahas.
25
TOLERANSI BERAGAMA A. Pengertian Toleransi
Toleransi berasal dari bahasa Inggris Tolerant, kata sifat yang artinya sabar. Tolerance, adalah kata benda; artinya kesabaran atau kelapangan dada.1 Dalam bahasa Inggris yang lain, toleransi berasal dari kata Tolerate yang berarti memperkenankan atau sabar tanpa protes terhadap perilaku orang ataupun kelompok lain. Ia juga berarti saling menghormati, melindungi, dan kerjasama terhadap yang lain.2 Toleransi juga berasal dari bahasa Latin Tolerantia yang artinya menahan. Ketika seseorang memiliki “toleransi yang tinggi pada rasa sakit”, berarti dia bisa “menahan rasa sakit”. Dengan demikian, toleransi adalah istilah sebuah sikap untuk menahan dari hal-hal yang dinilai negatif, khususnya dalam hal perbedaan sikap dan tingkah laku dalam suatu intraksi dalam kehidupan bermasyarakat.3
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Toleran; bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendirian sendiri.toleransi artinya: 1) sifat atau sikap toleran, 2) batas ukur untuk penambahan atau pengurangan
1 John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta:
Gramedia, 1999), h. 595
2 Sufa‟at Mansur, Toleransi Dalam Agama Islam, (Yogyakarta: Harapan Kita, 2012), h. 1
3 Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur`an, h. 5
yang masih dibolehkan, 3) penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.4
Sedangkan dalam bahasa Arab, toleransi disebut dengan at- Tasâmuh5 yang merupakan salah satu ajaran inti Islam yang sejajar dengan ajaran lain, seperti kasih, kebijaksanaan, kemaslahatan universal, dan keadilan. Beberapa ajaran inti Islam tersebut tidak bisa dibatalkan dengan nalar apapun, dan kulliyât, yaitu bersifat universal, melintasi ruang dan waktu. Pendeknya, prinsip-prinsip ajaran inti Islam itu bersifat trans-historis, trans-ideologis, bahkan trans- keyakinan-agama.6 Dalam Ensiklopedi Lintas Agama, toleransi artinya tenggang rasa, sama artinya dengan seseorang menahan dari apa yang ia deritakan; baik derita mengenai fisik maupun menyangkut perasaan atau kejiwaan.7
Dunia pun mendukung penuh atas sikap toleransi antar umat beragama. Hal ini dapat dilihat pada deklarasi prisip-prinsip tentang toleransi yang diumumkan dan ditandatangani oleh Negara-negara anggota UNESCO pada 16 November 1995.8 Pada pasal 1 dari deklarasi tersebut isinya berbunyi: toleransi adalah penghormatan, penghargaan dan penerimaan terhadap berbagai budaya dunia dan bentuk-bentuk ekspresi dalam kepercayaan agama.
Menurut Soerjono Soekanto, toleransi adalah suatu sikap yang merupakan perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain
4 Deperteman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 1065-1066
5 Kata tersebut tidak ditemukan dalam Al- Qur`an, tetapi bisa ditelusuri dalam
kata: ar-Rahmah, al-„Afwu dan as-Sabhu. Lihat, surah Al-Anbiya‟ ayat 107.
6 Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur`an, h. 215
7 Abujamin Rohan, Ensiklopedi Lintas Agama, (Jakarta: Emerland, 2009), h. 692
8 http://referensi.eslam.or.id/2014/10/deklarasi-prinsip-prinsip-tentang-toleransi/
(diakses pada 15 Agustus 2108)
yang tidak disetujui.9 Toleransi juga sebagai salah satu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal. Toleransi ini bisa timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan. Hal ini disebabkan karena adanya watak yang orang perorangan atau kelompok manusia untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari suatu perselisihan.10 Sedangkan menurut Zuhairi Misrawi, toleransi berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan, dan kesabaran. Maka dapat dipahami bahwa toleransi adalah sikap terbuka untuk mengakui keberadaan orang lain dalam memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan gagasannya sekalipun berbeda dan salah di mata orang lain.11
Hanya saja, perkembangan konsep toleransi dalam pemikiran politik dan keagamaan Barat menjelaskan secara gamblang, bahwa terminologi ini tidak lagi berarti “menahan perasaan terhadap perbedaan-perbedaan atas dasar perbedaan”, tapi kini artinya sudah menjadi “menahan perasaan terhadap perbedaan-perbedaan atas dasar, bahwa perbedaan adalah sebuah nilai positif”.12
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Toleransi 1. Faktor pendorong
a) Adanya sifat bangsa yang religius.
b) Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
9 Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, (Jakarta: Royandi, 1985), h. 518
10 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1982), h. 65
11 Zuhairi Misrawi, Al-Qur`an Kitab Toleransi; Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme, (Jakarta: Fitrah, 2007), h. 181
12 Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama; Tinjauan Kritis, (Depok: Gema Insani, 2006), h. 212-213
c) Adanya nilai-nilai luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat, misalnya gotong royong dan saling hormat menghormati.13
d) Memperkuat dasar-dasar kerukunan internal dan antar umat beragama, serta antar umat beragama dengan pemerintah.
e) Membangun harmoni sosial dan persatuan nasional dalam bentuk upaya mendorong dan mengarahkan seluruh umat untuk hidup rukun dalam bingkai teologi dan implementasi dakan menciptakan kebersamaan dan sikap toleransi.
f) Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif dalam rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama serta pengamalan agama yang mendukung bagi pembinaan kerukunan hidup intern dan antar umat beragama.
g) Melakukan eksplorasi secara luas tentang pentingnya nilai- nilai kemanusiaan dari seluruh keyakinan plural umat manusia yang fungsinya dijadikan sebagai pedoman bersama dalam melaksanakan prinsip-prinsip berpolitik dan berinteraksi sosial satu sama lainnya dengan memperlihatkan adanya sikap keteladanan.
h) Melakukan pendalaman nilai-nilai spiritual yang implementatif bagi kemanusiaan yang mengarahkan kepada nilai-nilai ketuhanan, agar tidak terjadi penyimpangan- penyimpangan nilai-nilai sosial kemasyarakatan maupun sosial agama.
i) Menempatkan cinta dan kasih dalam kehidupan antar umat beragama dengan cara menghilangkan rasa saling curiga
13 Dini Fitriani, http://diarytoleransidini.blogspot.com/?m=1 (diakses pada 15 Agustus 2018)
terhadap pemeluk agama lain, sehingga akan tercipta suasana kerukunan yang manusiawi tanpa dipengaruhi oleh faktor- faktor tertentu.
j) Menyadari bahwa perbedaan adalah suatu realita dalam kehidupan bermasyarakat, oleh sebab itu hendaknya hal ini dijadikan mozaik yang dapat memperindah fenomena kehidupan beragama.14
2. Faktor Penghambat
a) Pendirian rumah ibadah; apabila dalam mendirikan rumah ibadah tidak melihat situasi dan kondisi umat beragama dalam kacamata stabilitas sosial dan budaya masyarakat setempat, maka akan tidak menutup kemungkinan menjadi biang dari pertengkaran atau munculnya permasalahan umat beragama.
b) Penyiaran agama; apabila penyiaran agama bersifat agitasi dan memaksakan kehendak bahwa agama sendirilah yang paling benar dan tidak mau memahami keberagaman agama lain, maka dapat memunculkan terjadinya permusuhan agama yang kemudian akan menghambat kerukunan antar umat beragama, karena disadari atau tidak kebutuhan akan penyiaran agama terkadang berbenturan dengan aturan kemasyarakatan.
c) Perkawinan beda agama; perkawinan beda agama disinyalir akan mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis, terlebih pada anggota keluarga masing-masing pasangan berkaitan dengan perkawinan, warisan dan harta benda, dan yang paling
14 Rahmad Asri Pohan, Toleransi Inklusif, (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2014),
h. 269
penting adalah keharmonisan yang tidak mampu bertahan lama di masing-masing keluarga.
d) Penodaan agama; melecehkan atau menodai doktrin suatu agama tertentu. Tindakan ini sering dilakukan baik perorangan atau kelompok. Meski dalam skala kecil, baru- baru ini penodaan agama banyak terjadi, baik dilakukan oleh umat agama sendiri maupun dilakukan oleh umat agama lain yang menjadi provokatornya.
e) Kegiatan aliran sempalan; suatu kegiatan yang menyinggung dari suatu ajaran yang sudah diyakini kebenarannya oleh agama tertentu. Hal ini terkadang sulit di antisipasi oleh masyarakat beragama sendiri. Pasalnya akan menjadikan rancu diantara menindak dan menghormati perbedaan keyakinan yang terjadi di dalam agama ataupun antar agama.
f) Berebut kekuasaan; saling berebut kekuasaan masing-masing agama untuk memperebutkan anggota atau jamaat dan umat, baik secara intern umat beragama maupun antar umat beragama untuk memperbanyak kekuasaan.
g) Beda penafsiran; masing-masing kelompok di kalangan antar umat beragama mempertahankan masalah-masalah yang prinsip. Misalnya dalam perbedaan penafsiran terhadap kitab suci dan ajaran-ajaran keagamaan lainnya dan saling mempertahankan pendapat masing-masing secara fanatik dan sekaligus menyalahkan yang lainnya.
h) Kurang kesadaran; masih kurangnya kesadaran di antara umat beragama dari kalangan tertentu menganggap bahwa agamanya yang paling benar, misalnya di kalangan umat
Islam yang dianggap lebih memahami agama dan masyarakat Kristen menganggap bahwa di kalangannya yang benar.15 i) Fanatisme dangkal, sikap kurang bersahabat antar umat
beragama.
j) Pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara suatu agama dengan agama lainnya.16
Dari sekian faktor penghambat terjadinya toleransi, ada lagi satu faktor yang perlu diperhatikan. Yakni mengenai pandangan non- Muslim mengenai Islamophobia.17 Keadaan seperti ini justru di
“produk”, bukan sejak WTC roboh, juga bukan sejak perang Salib, tetapi karena Islam Islamophobia menjadi bisnis yang menguntungkan. Bila ada kejahatan yang pelakunya dicurigai Muslim, maka reportase, wawancara, analisis dan kronologis bersuasana Islamophobia menyedot penonton yang iklannya menghasilkan uang.
Virus Islamophobia sudah ada sejak zaman Rasulullah. Di Mekkah virus ini menjangkiti Musyrikin. Hijrah di Madinah, virus Islamophobia mempermainkan kabilah Aus dan Khazraj. Intrik yang ada dikembangkan sehingga kedua kabilah itu selalu bermusuhan lalu berperang. Yahudi menarik keuntungan karena permusuhan dan perang membutuhkan uang. Lalu Islam datang membawa keteguhan keyakinan, persaudaraan dan keadilan. Persaudaraan membuat Yahudi tak bisa mengadu domba. Keyakinan Iman dan Islam yang dibawa Rasulullah menggoyahkan keyakinan Yahudi.
15 Sudjangi, Profil Kerukunan Hidup Umat Beragama, (Badan Penelitian dan Pengembangan Agama; Proyek Peningkatan Kerukunan Hidup Umat Beragama), h. 117
16 Dini Fitriani, http://diarytoleransidini.blogspot.com/?m=1 (diakses pada 15 Agustus 2018)
17 Islamophobia adalah rasa takut dan benci terhadap Islam sekaligus kepada Muslim.
Dewasa ini, virus Islamophobia semakin meruyak. Kejahatan kebencian yang dilakukannya lebih brutal. Di tengah khalayak ramai, jilbab ditarik. Ada kontes menggambar Nabi Muhammad saw.
Ironisnya, Islamophobia tidak hanya menjangkiti masyarakat non- Muslim, ia juga menjangkiti kaum Muslimin. Di Turki, pernah berlangsung selama puluhan tahun larangan jilbab bagi mahasiswi atau pegawai pemerintah.
Belanda juga mengidap Islamophobia, mereka tahu Islam adalah kekuatan yang sulit digambarkan batas-batasnya. Mereka mengalami perang Paderi, perang Diponegoro, sampai Aceh yang sulit ditundukkan.18
Ustadz Adnin Armas menyebutkan, Islamophobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia.
hal itu disampaikan dalam tabligh akbar bertema “Untuk Indonesia yang Lebih Beradab” di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan.
“Indikasinya sudah muncul. Orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif,19 fundamentalis,20 radikal, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI, dan fitnah-fitnah serupa,” ucapnya, Kamis (30/4) malam.21
Di Indonesia, yang merupakan negara dengan mayoritas masyarakat pemeluk agama Islam, telah lama terjadi Islamophobia.
Keadaan tersebut bukan tanpa alas an, minimnya pengetahuan
18 Harri ash-Shiddiqie, https://www.republika.co.id. (diakses pada 15 Agustus 2018)
19 Konservatif diartikan sebagai 1. Kolot, 2. Bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku. https://kbbi.web.id/konservatif.html (diakses pada 15 Agustus 2018)
20 Fundamentalis adalah penganut gerakan keagamaan yag bersifat kolot dan rekasioner yang selalu merasa perlu kembali ke ajaran agama yang asli seperti yang tersurat di dalam kitab suci. https://kbbi.web.id/fundamentalis.html (diakses pada 15 Agustus 2018)
21 Lihat selengkapnya di https://m.republika.co.id/amp/nnmsbg (diakses pada 15 Agustus 2018)
tentang Islam dan kurangnya iman membuat masyarakat apatis, takut, bahkan benci terhadap agama mereka sendiri. Islamophobia sebenarnya sudah muncul sejak zaman penjajahan Belanda. Namun, propagandanya saat ini semakin terstruktur, sistematis dan massif.
Salah satu isu yang menjadi propaganda adalah terorisme Islam.
Kemudian semakin mencuat setelah adanya bom Bali.22
Menurut peneliti, Islamophobia ini muncul karena kesalahpamahaman sebagian orang, terlebih umat non-Muslim yang menganggap bahwa Islam itu identik dengan kekerasan, terorisme dan disebarkan menggunakan pedang. Kesalahan pemikiran ini terjadi karena adanya segelintir pemeluk agama Islam yang bersikap keras dalam menanggapi perbedaan. Salah satunya yaitu adanya sikap diskriminatif terhadap orang yang berbeda keyakinannya.
Di Indonesia sendiri, sikap diskriminasi tergolong masih tinggi. Hal ini terjadi karena adanya kecenderungan manusia yang saling membeda-bedakan yang lainnya. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, ras, agama, kepercayaan, aliran politik dan kondisi fisik atau karakteristik lain, hal ini diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.
Dampak dari sikap diskriminasi yang ada dalam masyarakat yaitu antara lain tidak terciptanya rasa keadilan, tidak adanya rasa persatuan dan kesatuan antar sesama warga negara, adanya kesengjangan sosial, dan kerukunan antar warga negara sulit terwujud. Untuk itu, ada beberapa langkah atau cara untuk menghindari terjadinya diskriminasi di kalangan masyarakat. Di antaranya adalah:
22 Hidayatu Rahman, https://uad.ac.id/id/berita/islamophobia-di-negeri-mayoritas- muslim (diakses pada 15 Agustus 2018)
1. Tidak memandang orang dari segi materi, pangkat, dan jabatan.
2. Menghindari sikap saling merendahkan.
3. Tidak memandang status sosial.23
Untuk tercapainya kerukunan antar umat beragama, pemerintah Indonesia menggulirkan konsep Tri kerukunan umat beragama dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat antar umat beragama nan rukun. Kemajemukan bangsa Indonesia nan terdiri atas puluhan etnis, budaya, suku dan agama membutuhkan konsep yang memungkinkan terciptanya masyarakat damai nan rukun. Pemerintah menyadari resistensi konflik antar umat beragama.
Berbagai kebijakan pemerintah telah diterbitkan untuk memperbaiki keadaan. Berbagai rambu peraturan telah disahkan agar meminimalisir bentrokan-bentrokan kepentingan antar umat beragama.
Adanya konsep Tri kerukunan umat bergama ini bertujuan agar masyarakat Indonesia dapat hayati dalam kebersamaan, sekali pun banyak perbedaan. Konsep ini dirumuskan dengan teliti dan bijak agar tak terjadi pengekangan atau pengurangan hak-hak manusia dalam menjalankan kewajiban dari ajaran-ajaran agama yang diyakininya. Tri kerukunan ini meliputi tiga kerukunan, yaitu:
kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.24
Dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
23 Rizqi Apriansyah, http://www.klikberita.co.id/opini/diskriminasi-dalam- masyarakat-ini-tips-menghindarinya.html (diakses pada 16 Agustus 2018)
24Jaja Sudarno, https://bengkulu.kemenag.go.id/artikel/42737-tri-kerukunan-umat- beragama (diakses pada 16 Agustus 2018)
1) Saling tenggang rasa menghargai dan toleransi antar umat beragama.
2) Tidak memaksakan seseorang untuk memeluk agama tertentu.
3) Melaksanakan ibadah sesuai dengan agamanya.
4) Memenuhi peraturan keagamaan, baik dalam agamanya maupun peraturan Negara atau Pemerintah.25
C. Toleransi Sepanjang Sejarah Islam
Sesuai ayat-ayat Al-Qur`an, Rasulullah saw. berperilaku baik dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang kafir. Beliau menganggap seluruh manusia sebagai anak cucu adam as; semua sama-sama berasal dari tanah. Merenungkan asal-usul manusia bukan hanya berujung pada kesimpulan adanya persamaan setiap orang, tetapi bahkan tersingkapnya substansi hubungan kekeluargaan antar umat manusia dalam konteks penciptaan yang berawal dari Sang Pencipta.
Inilah ladang persemaian kasih sayang dan tumbuhnya kecintaan antar sesama, yang tentu saja kebih luhur dari sikap toleran dan kerukunan hidup beragama.
Beliau juga menegaskan bahwa kriteria kemuliaan dan penghormatan Allah swt. (kepada manusia) adalah nilai kemanusiaan itu sendiri, jiwa sosial serta berbakti pada sesama. Seluruh manusia adalah makhluk dan keluarga Allah swt. Karenanya, tidak ada perbedaan dan keistimewaan yang satu di atas yang lain. Hanya yang
25AM Ulfa, http://eprints.walisongo.ac.id/6995/3/BAB%20ll.pdf (diakses pada 16 Agustus 2018)
paling dicintai-Nya adalah orang yang paling baik dan berguna bagi yang lain.26
Rasulullah saw. berulang kali menasehati kaum Muslim untuk berlaku arif dan adil terhadap non-Muslim. Beliau berkata:
ِسَُْغِب بًئَُْش ُهُِْي َرَخَأ ْوَأ ،ِهِتَقبَط َقْىَف ُهَفَّهَك ْوَأ ،ُهَصَقَتَْا ِوَأ ،اًدِهبَعُي َىَهَظ ٍَْي َلََأ « ِتَيبَُِقْنا َو ْىََ ُهُجُِجَح بَََأَف ،ٍسْفََ ِبُِط
27
»
“Ingatlah, siapa yang mendzalimi seorang mu‟ahid (Ahli Kitab yang terikat perjanjian dengan Islam), merendahkannya, memebebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat”. (HR. Abû Dâud, no. Hadis: 3052)
Melalui hadis ini, Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa gangguan apa saja yang diderita Ahli Kitab, oleh siapa pun itu dilakukan, sama saja dengan menyulut permusuhan dengan beliau.
Lalu, di hari kiamat, beliau akan membela pihak yang dizalimi, sekalipun itu orang Yahudi.28
Di Madinah, Rasulullah saw. mempraktikkan toleransi dalam kehidupan keberagaman dan politik. Dikisahkan, bahwa suatu hari ketika delegasi Kristen Najran mendatangi Rasulullah saw., beliau menerima mereka di masjid. Saat itu Rasulullah saw. sedang melaksanakan shalat ashar. Lalu mereka meminta izin pada Rasulullah saw. untuk melakukan kebaktian di masjid. Beliau menjawab, “Biarkan mereka melakukan kebaktian di masjid ini”.
Mereka pun menunaikan kebaktian sembari menghadap ke arah
26 Muhammad Hasan Qadrdan Qaramaliki, terj. Abdurrahman Arfan, Al-Qur`an dan Pluralisme Agama; Islam, Satu Agama Diantara Yang Lurus Dan Toleransi Sosial, h.
87-88
27 Abû Dâud Sulaiman bin al-Asy‟ats as-Sijistâni, Sunan Abu Daud, (Beirut:
Maktabah Al-Ashriyah), Bab Ahlu Dzimmah, Juz 3, h. 170
28 Muhammad Hasan Qadrdan Qaramaliki, Al-Qur`an dan Pluralisme Agama;
Islam, Satu Agama Diantara Yang Lurus Dan Toleransi Sosial h. 88-89
timur.29 Dalam kisah itu, diceritakan pula bahwa pendeta Abu Al- Harisah telah mengetahui risalah ke nabian Muhammad saw., tapi tak satu pun dari mereka yang berikrar masuk Islam. Hal tersebut tak membuat Rasulullah saw. memaksa mereka memeluk Islam.30
Suatu hari, Rasulullah saw. duduk bersama sekumpulan sahabat. Tiba-tiba beliau berdiri saat melihat jenazah seorang Yahudi diusung ke pemakaman. Para sahabat berkata, “Bukankah itu jenazah Yahudi?” Beliau menjawab, “Kapan saja kalian melihat jenazah, berdirilah untuk menghormatinya.31
Tercatat dalam sejarah, Nabi pernah mendapat ancaman hingga ia eksodus ke Madinah. Ia hijrah dari Mekkah ke Madinah dan kemudian kembali lagi ke Mekkah, yang dalam sejarah Islam peristiwa itu dikenal dengan Fathul Makkah. Mekkah akhirnya jatuh dalam kekuasaan politik umat Islam. Dalam peristiwa penuh kemenangan ini, Nabi tak mengambil langkah balas dendam kepada siapapun yang dulu telah mengusirnya dari tempat kelahirannya, Mekkah. Nabi mengatakan kalian adalah orang-orang yang bebas merdeka.32
Peristiwa ini seharusnya memberikan kesan kuat bagi umat Islam bahwa Nabi telah memberikan teladan mengenai etika penghargaan dan toleransi, baik pada wilayah praksis maupun konseptual. Dia tak memaksakan agar Islam diterima orang lain.
Intinya, Nabi mengakui keberadaan agama-agama lain yang tumbuh
29 Zuhairi Misrawi, Al-Qur`an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lilâlamîn, h. 197
30https://www.republika.co.id/berita/koran/khazanahkoran/14/08/25/naurl79toleran si-rasulullah (diakses pada tanggal 3 juli 2018)
31 Muhammad Hasan Qadrdan Qaramaliki, Al-Qur`an dan Pluralisme Agama;
Islam, Satu Agama Diantara Yang Lurus Dan Toleransi Sosial, h. 89
32 Abd. Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, h. 6-7