• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitigasi dan Kepemilikan Risiko K3

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.8 Mitigasi dan Kepemilikan Risiko K3

Berdasarkan Gambar 4.3 faktor yang bersumber dari manusia sangat besar pengaruhnya dibandingkan faktor lingkungan, faktor peralatan dan faktor bahan/material. Disamping itu faktor lingkungan pengaruhnya cukup besar setelah faktor manusia kemudian dilanjutkan faktor peralatan dan faktor bahan/material yang paling kecil pengaruhnya. Manusia sebagai tenaga kerja merupakan alat produksi yang tidak efisien ditinjau dari aspek tenaga, keluaran, ketahanan fisik dan mental. Pembebanan yang berlebihan atau lingkungan kerja yang kurang nyaman harus diimbangi oleh pengurangan jam kerja dan istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga untuk mengurangi terjadinya risiko. Mengingat semakin meningkatnya persyaratan kerja, manusia harus meningkatkan efisiensinya dengan bantuan peralatan. Namun demikian, semakin canggih peralatan yang digunakan manusia semakin besar risiko yang ditimbulkan.

Pemilihan peralatan yang efektif (tepat guna) sesuai apa yang dikerjakan di proyek sangat diperlukan dalam perencanaan proyek. Desain peralatan ataupun lingkungan kerja dapat mencegah kecelakaan. Disamping itu arus material pun dapat menimbulkan kecelakaan kerja jika metode kerja yang tidak disesuaikan, perlu dilakukan penanganan material menurut perilaku pengangkutan dan pembawaannya ke areal proyek. Jadi, sangat diperlukan perhatian terhadap keempat sumber risiko ini yang saling berkaitan satu sama lain.

2. Pekerjaan struktur baja: pemasangan scaffolding, pemasangan angkur, pemasangan GRC, pengencangan baut.

3. Pekerjaan modul kulit patung: pengelasan modul, serta pemasangan modul.

Sedangkan tingkat risiko K3 dominan untuk risiko tinggi (high risk) lebih banyak bersumber dari manusia dan peralatan, yaitu:

1. Sumber dari manusia:

a. Risiko terkena manuver alat berat, dan tertabrak alat berat pada pekerjaan mobilisasi/demobilisasi alat berat.

b. Risiko kejatuhan material pada pekerjaan pengadaan instalasi kabel listrik, genset, dan elektrik lainnya, pemasangan scaffolding, pemasangan safety net dan reiling pengaman, pemasangan angkur, pemasangan rangka GRC, dan pengencangan baut.

c. Risiko terjepit pada pekerjaan erection dan oprasional passenger hoist, pemasangan kolom, balok/tie beam, balok kantilever, dan pengaku/bracing.

d. Risiko kejatuhan alat pada pekerjaan erection passenger hoist.

e. Risiko muatan jatuh/lepas pada pekerjaan pengoperasian tower crane, dan oprasional passenger hoist.

f. Risiko terbentur muatan tower crane pada pekerjaan pengoprasian tower crane.

a.

Risiko tertimpa pada pekerjaan penempatan material baja workshop, pemasangan kolom, balok/tie beam, balok kantilever, dan pengaku/bracing, dan penempatan modul.

b.

Risiko tertabrak truck pada pekerjaan penempatan modul.

2. Sumber dari peralatan:

a. Risiko tersengat listrik pada pekerjaan pengadaan instalasi kabel listrik, genset, dan elektrik lainnya, erection tower crane, dan menggerinda.

b. Risiko terbakar pada pekerjaan pengadaan instalasi kabel listrik, genset, dan elektrik lainnya, serta pemotongan dengan menggunakan cutting torch (LPG & Oksigen).

hoist.

d. Risiko taling sling putus pada pekerjaan pengoprasian, dan oprasional passenger hoist.

e. Risiko scaffolding roboh pada pekerjaan pemasangan scaffolding.

f. Risiko terpotong pada pekerjaan menggerinda.

Mitigasi risiko K3 untuk kategori risiko dominan (high risk dan extreme risk) pada penelitian ini serta kepemilikan risikonya dirangkum berdasarkan sumber risiko dijelaskan pada Lampiran E. Mitigasi dan Kepemilikan Risiko K3 Dominan. Melalui mitigasi risiko pada Lampiran E, pekerja diharapkan dapat mengenali risiko K3 melalui sumbernya sehingga pekerja termotivasi untuk melakukan kegiatan pekerjaan dengan keadaan sehat dan aman. Diperlukan penanganan khusus terkait dengan faktor manusia (people) itu sendiri dengan lebih memerhatikan kondisi pekerja, penggunaan alat pelindung diri yang benar, maupun arahan bekerja pada ketinggian. Penanganan lain dapat berupa:

1. Safety Induction

Melakukan pendekatan mengenai K3 kepada pekerja baru termasuk karyawan dan melakukan pengarahan tentang K3, house keeping, dan ketertiban proyek. Kegiatan ini dilakukan pada awal pelaksanaan proyek atau setiap ada pekerja yang baru masuk.

2. Safety Morning

Pengarahan singkat tentang K3 dan kondisi proyek kepada seluruh pekerja sebelum pekerjaan dimulai. Hal ini penting dilakukan agar pekerja mengetahui risiko yang ada pada pekerjaan yang akan dihadapi. Kegiatan ini biasanya rutin dilakukan seminggu sekali.

3. Safety Inspeksi

Inspeksi yang dilakukan untuk memonitor pelaksanaan K3 dan untuk menjaga konsistensi penerapan K3 di proyek. Inspeksi K3 biasanya dilakukan sebulan sekali.

4. Safety Patrol

Patroli rutin yang dilakukan setiap hari dan setiap waktu yaitu untuk

dengan rencana atau tidak 5. Training

Training K3 kepada karyawan, mandor tentang dasar-dasar K3, P3K, dan cara pemadaman kebakaran. Penanganan risiko K3 tersebut wajib dilaksanakan pada proyek dan menjadi tanggung jawab pemilik risiko K3 dalam upaya pencegahan kecelakaan atau menekan jumlah kecelakaan yang terjadi seminimal mungkin (zero accident).

Selain dilakukan tindakan mitigasi risiko K3 dengan kategori dominan (major risk) tersebut dapat dialokasikan kepada berbagai pihak yang terikat kontrak. Alokasi risiko tersebut disebut juga kepemilikan risiko, merupakan penentuan dan pelimpahan tanggung jawab terhadap suatu risiko. Kepemilikan risiko ini didasarkan penilaian terhadap hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dengan risiko tersebut. Kepemilikan tanggung jawab risiko K3 terbesar untuk risiko-risiko K3 dominan (major risk) pada pembangunan proyek konstruksi adalah safety manager dan pekerja konstruksi. Safety manager ini memiliki tanggung jawab terbesar karena sebagian besar pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan harus memperoleh instruksi dari safety manager terlebih dahulu terkait faktor risiko pekerjaan dan memastikan penerapan K3 di lapangan.

Sedangkan pekerja memiliki tanggung jawab terkait kesadaran akan K3 pada dirinya sendiri baik dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) maupun instruksi kerja di lapangan, dalam hal ini faktor risiko manusia (people) lebih diutamakan. Sedangkan pemilik risiko terkecil adalah operator, mekanik, supervisor mendampingi safety manager dan pekerja dalam melaksanakan penerapan K3 proyek. Adapun tugas dari seorang safety manager yaitu:

1. Menerapkan K3 pada proyek kontruksi.

2. Memastikan seluruh pekerja mengtahui prosedur penanganan dan instruksi kerja K3 pada proyek.

3. Memonitor kelengkapan dan kebenaran bukti kerja terkait K3.

4. Menyelenggarakan komunikasi dan konsultasi K3.

5. Melaporkan dan memberi input kepada pimpinan proyek tentang kinerja

6. Membuat dan mengadakan rambu-rambu dan fasilitas K3

7. Menghentikan pelaksanaan pekerjaan di proyek apabila dianggap dapat membahayakan keselamatan pekerja

8. Menjamin bahwa pelaksanaan K3 di proyek sesuai dengan rencana K3

Dokumen terkait