Pendidikan Berbasis Karakter
B. Model Integrasi Pendidikan Karakter
Culberston (1982) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan dengan menjadikan karakter sabagai tujuan harus memiliki sifat integral.
Some characteristics of the school management process of character in an school unit, which are: (1) integrate the values of the characters in the whole school management activities;
(2) integrating the values of the characters in theh overall school performance activity; (3) integrating the value character value to the overall performance of personel activities; (4) integrate the values of the characters on the overall activities of educational services; and (5) integrating the values of the characters in the whole learning activities.9
Kutipan tersebut memberikan standar manajemen pendidikan ketika dikaitkan dengan karakter. Dimana manajemen pendidikan berbasis karakter setidaknya memiliki standar, yaitu;
9 Culberston, Character Education: Teaching Values for Life, Chicago: Science Research Asociater Inc, 1982, hlm.190.
1. Mengintegrasikan nilai-nilai karaker pada semua aspek kegiatan manajemen. Seperti membuat perencanaan strategis selama lima tahun ke depan dengan menyusun capaian indikator karakter beserta evaluasinya;
2. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada seluruh capaian kinerja stakeholders dengan masing-masing kompetensinya. Seperti melakukan penilaian sikap, komitmen, profesionalisme dan tanggungjawab selama melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai petugas;
3. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada seluruh capaian kinerja lembaga. Seperti menjalin kerjasama dengan lembaga lain, studi lintas negara, prestasi anak didik, akreditasi lembaga dan sebagainya;
4. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada semua kegiatan layanan pendidikan. Seperti membuat fasilitas multimedia yang baik, memberikan pelayanan total kepada stakeholders dan lain-lain;
5. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada semua kegiatan pembelajaran. Seperti mengkonversi materi dasar tentang akhlak kepada semua pelajaran saat pembelajaran, membuka kegiatan belajar mengajar dengan doa.
Pendapat ini kemudian didukung oleh Hoover (2003):
Success in the process of forming the character of an educational unit graduates will be determined not by the strength of the learning process., but will be determined by the strength of its management, which implies that the qualit of graduates character has a strong dependence on the quality of school management. This is because the process of character formation should be integrated into various forms of schoool activitie.10
Pendapat Hoveer ini dapat dibilang menentang dari pendapat para pengamat manajemen pendidikan lainnya yang terlalu banyak memfokuskan konsep manajemen pada ranah pembelajaran saja, dengan mengabaikan aspek yang lebih penting lainnya seperti mutu dan karakter. Hoveer, mengatakan bahwa proses pembentukan karakter anak didik bukan ditentukan oleh kekuatan proses pembelajaran, namun dintentukan oleh manajemen lembaga pendidikannya. Dengan kata lain, kualitas lulusan tergantung pada model manajemen
10 Gary L. Hoover, Individualized in Education of Character, USA: Parkland Disertation, 2013, hlm.
29.
yang diterapkan. Hal ini disebabkan karena menurutnya pendidikan karakter seharusnya diintegrasikan ke dalam aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukan di sekolah, baik melalui pengajaran, pembiasaan, maupun kultur sekolah.
Manajemen pendidikan berbasis karakter, tentu bukan sekadar teoritis. Juga memerlukan kajian implementatif sebagai bagian pelakanaan dalam manajemen. Pola manajemen pendidikan berbasis karakter bertumpu pada sebuah proses untuk memberikan dukungan kepada anak didik untuk membentuk karakternya dengan benar serta mengabulkan tuntutan tujuan pendidikan secara menyeluruh. Dari itu, bentuk implementasi manajemen pendidikan tersebut terfokus pada lima komponen manajemen, yaitu input, proses, output, outcome dan tujuan.11
11 Implementasi manajemen seperti ini, hakikatnya telah melalui kajian strategi penting dan telah dilaksanakan oleh beberapa lembaga sekolah di Indonesia. Diantara strategi tersebut adalah; 1) strategi optimalisasi input, meliputi a) strategi menyatukan pikiran, b) strategi pemberdayaan sumber daya internal dan eksternal lembaga, c) strategi mengukuhkan komitmen. 2) strategi pada aspek efektivitas proses manajemen dengan menerapkan; a) strategi penciptaan tatanan kehidupan dan keiatan lembaga berbasis karakter, b) strategi integritas nilai karakter pada layanan lembaga pendidikan, c) strategi pembelajaran berbasis karakter dengan pendekatan integritas sesuai kurikulum pendidikan. 3) strategi peningkatan
Dengan mengacu pada kelima komponen terebut, manajemen pendidikan berbasis karakter hanya bisa tercapai dengan cara; 1) melakukan tahapan efesiensi input sapai dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran proses; 2) efektivitas proses sampai menghasilkan harapan yang ingin dicapai; 3) produktivitas proses dari hasil yang telah memberikan dampak positif, bermutu dan memiliki sumber dana yang cukup; 4) terdapat relevansi antara hasil dengan dampak atau output yang dihasilkan.
Pertama, aspek efisiensi input pada proses persiapan manajemen pendidikan adalah komponen instrumental dan environmental input yang dimasukkan dalam tahap perencanaan dalam manajemen. Dimana pembuat/manaje pendidikan menetapkan intrumen, alat atau landasan dalam membuat perencanaan dengan bertumpu pada pembinaan karakter. Kedua, efektifitas proses. Yaitu dengan cara melakukan internalissi nilai karakter pada setiap tahapan manajemen, memberikan penekanan (stressing) dengan cara membuat aturan tentang
produktivitas output dan outcome dengan menggunakan cara optimalisasi hasil. Lihat dalam Asep Saepul Hidayat, Manajemen Sekolah Berbasis Karakter, Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, Vol. 1, No. 1, 2012, hlm.13-14.
kedisiplinan dan melakukan integrasi karakter yang terhubungan pada seluruh bentuk kegiatan pembelajaran.
Ketiga, hasil proses dari implementasi manajemen pendidikan berbasis karakter diantaranya adalah 1) menciptakan iklim, kebiasaan, aturan yang berbasis karakter, 2) menciptakan budaya pendidikan yang berorientasi pada karakter, 3) menciptakan sistem pembelajaran berbasis karakter, dan 4) membentuk peserta didik memiliki karakter yang mulia. Keempat, dampak yang dihasilkan dari dari proses implementasi manajemen pendidikan berbasis karakter adalah 1) terbentuknya sifat atau karakter pribadi peserta didik yang mulia, 2) terentuknya karakter lembaga yang bermutu, 3) terbentuknya karakter daerah atau lingkungan baik internal maupun eksternal yang dihormati dan, 4) terbentuknya karakter bangsa yang bermartabat secara internasional.12
12 Dari proses ini akan melahirkan komponen- komponen keberhasilan sebagai indicator.
Diantara indicator keberhasilan itudala dilihat dari beberapa hal meliputi, 1) indicator pada efisiensi input manajemen, 2) indicator efektifitas proses manajemen, 3) indicator produktivitas proses output manajemen, 4) indicator outcome-goal, 5) indicator realisasi dampak dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jelas lihat Asep Sarpul Hidayat, Manajemen Sekolah Berbasis Karakter, hlm. 17.