BAB I PENDAHULUAN
G. Kajian Pustaka
2. Model Pembelajaran Numbered Head Together
Pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993), merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan banyak siswa dalam memperoleh materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran.15
Numbered Head Together yaitu aktivitas yang mendorong siswa untuk berfikir dalam suatu tim dan berani tampil mandiri.16 Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berikir bersama adalah merupakan jenis
15Sutarto, Desain Pembelajaran…., h. 136.
16Warsono dan Hariyanto, Pembelajaran Aktif (Bandug: Rosda, 2012), h. 216.
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.17
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
Model Pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) mempunyai empat langkah dalam pelaksanaanya sebagai berikut.
1). Penomoran
Siswa dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa.Setiap anggota kelompok memiliki kemampuan akademik serta jenis kelamin yang heterogen (satu berkemampuan tinggi, dua sedang, dan satu atau dua rendah), jika memungkinkan maka anggota kelompok juga berasal dari ras, suku, budaya, agama yang berbeda.
2). Mengajukan Pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.
3). Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
4). Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk
17Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresi f(Jakarta: Kencana, 2010), h. 82.
seluruh kelas. Dalam memanggil suatu nomor 1 sampai x (x adalah banyaknya siswa dalam kelompok).18
Adapun keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran Numbered Head Together ini adalah sebagai berikut:
1. Keunggulan Model Pembelajaran Numbered Head Together a). Setiap siswa menjadi siap semua
b). Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh c). Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai 2. Kelemahan Model Pembelajaran Numbered Head Together
a). Kemungkinan nomor yang dipanggil, akan dipanggil lagi oleh guru b). Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru19
3. Mata Pelajaran Matematika SD/MI a. Pengertian Matematika
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disetiap jenjang pendidikan, sehingga kata matematika sudah tidak asing lagi didengar.
Matematika berasal dari kata mathema, dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai
“sains, ilmu pengetahuan, atau belajar”, juga mathematikos yang diartikan sebagai
“suka belajar”. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bilangan dan bangun (datar dan ruang) lebih menekankan pada materi
18Ibid., h. 137-138.
19Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung : Pustaka Setia), h. 90.
matematikanya.20 Banyak hal disekitar kita yang berhubungan dengan matematika, misalnya urusan jual beli, mencari nomor sepatu yang cocok, menukar uang, menghitung jarak, waktu, kecepatan, dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu ilmu matematika sangat penting untuk dipelajari. Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari, serta memberikan dukungan dalam perkembangan teknologi.21
Beberapa definisi atau pengertian tentang matematika akan disajikan di bawah ini.
1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik.
2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasinya.
3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logis dan berhubungan dengan bilangan.
4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logis.
6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.22
Adapun penjelasannya, matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang membahas tentang bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data.
Matematika dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari. Belajar matematika
20 Syahrir, Metodologi Pembelajaran Matematika (Yogyakarta: Naufan Pustaka, 2010),
h. 84.
21 Ahmad Susanto, Teori Belajar, h. 185
22 Irzani, Matematika 1”Untuk Calon Guru SD/MI”, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2010), h. 5
memiliki manfaat besar dalam kehidupan, contohnya dapat menghitung nominal uang, jumlah barang, dan lain sebagainya.
b. Tujuan Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a). Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
b). Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
c). Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
d). Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
c. Ruang lingkup Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a. Bilangan
b. Geometri dan pengukuran
c. Pengolahan data.23
Tabel 3
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI Kelas V
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Bilangan
5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
5.1 Mengubah pecahan ke bentuk persen dan desimal serta sebaliknya 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan
berbagai bentuk pecahan
5.3 Mengalikan dan membagi berbagai bentuk pecahan
5.4 Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala
4. Pecahan dan Operasinya a. Pengertian Pecahan
Pecahan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan (part to whole).Bentuk pecahan 𝑎𝑏 menjelaskan bahwa bagian-bagian yang ekuivalen dari b. Bilangan a disebut pembilang dan b disebut penyebut dengan b ≠ 0.24Pecahan dapat diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimaksud adalah bagian yang diperhatikan, yang biasanya ditandai dengan arsiran. Bagian inilah yang disebut dengan
23Kemendiknas, Permen No 22 Tahun 2006 tentang Stantar Isi ( Jakarta: Kemendiknas, Tahun 2006), h. 417.
24Anton Noornia, Metode Pembelajaran Matematika 2 (Jakarta: Azka press, 2008), h. 10.
pembilang. Adapun bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap sebagai satuan dan dinamakan penyebut.25
b. Operasi Pecahan
1) Penjumlahan Pecahan Berpenyebut Sama
Kemampuan prasyarat yang harus dikuasai siswa dalam operasi penjumlahan pecahan adalah penguasaan konsep nilai pecahan, pecahan senilai, dan penjumlahan bilangan bulat. Kemampuan penguasaan pecahan senilai lebih ditekankan terutama dalam penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama.
Ada hal yang perlu diperhatikan dalam proses penjumlahan ini, terutama dalam penulisan penyebut, karena penyebut tidak dijumlahkan.
Adapun penulisan dua penyebut menjadi satu penyebut harus dilakukan, agar terbentuk dalam pemikiran siswa bahwa bilangan penyebut harus sama dan tidak dijumlahkan.
Dua pecahan yang memiliki penyebut sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan pembilang pecahan-pecahan itu.
0
,
denganp
p b a p b p a
2) Pengurangan Pecahan Berpenyebut Sama
25Heruman, Model Pembelajaran Matematika di SD (Bandung: Rosda, 2007), h. 43.
Dalam operasi pengurangan pecahan, kemampuan prasyarat yang harus dikuasai siswa adalah penguasaan konsep nilai pecahan, pecahansenilai, dan pengurangan bilangan bulat. Kemampuan penguasaan pecahan senilai lebih ditekankan terutama dalam pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.
Dua pecahan yang memiliki penyebut sama dapat dilakukan dengan
mengurangkan pembilang pecahan-pecahan itu.
0
,
denganp
p b a p b p a
3) Penjumlahan Pecahan Berpenyebut Tidak Sama
Pembelajaran yang sering dilakukan guru dalam penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama adalah dengan cara menyamakan penyebut kedua pecahan tersebut tanpa melalui proses atau media peraga. Siswa dipaksa untuk menerima penjelasan guru, tanpa membuktikan atau membangun sendiri dalam pikirannya.
Dua pecahan yang penyebutnya tidak sama dapat diubah menjadi pecahan-pecahan yang penyebutnya sama. Hal ini dikerjakan dengan tidak mengubah nilainya artinya setiap pecahan yang diberikan, dijadikan pecahan yang memiliki persekutuan-persekutuan terkecil dari pecahan itu atau disebut dengan Persekutuan Kelipatan Terkecil (KPK) dari penyebut-penyebut pecahan
yang bersangkutan. Selanjutnya dapat dikerjakan seperti kasus dengan penyebut pecahan yang sama , dengan pq0
pq bp aq q b p a
4) Pengurangan Pecahan Berpenyebut Tidak Sama
Selama ini, pembelajaran yang sering dilakukan guru dalam hal pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama, tidak jauh berbeda dengan pembelajaran penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama, yaitu dengan cara menyamakan penyebut kedua pecahan tersebut tampa melalui proses atau media peraga. Siswa dipaksa untuk menerima penjelasan guru, tanpa membuktikan atau membangun sendiri dalam pikirannya.
Dua pecahan yang penyebutnya tidak sama dapat diubah menjadi pecahan-pecahan yang penyebutnya sama. Hal ini dikerjakan dengan tidak mengubah nilainya artinya setiap pecahan yang diberikan, dijadikan pecahan yang memiliki persekutuan-persekutuan terkecil dari pecahan itu atau disebut dengan Persekutuan Kelipatan Terkecil (KPK) dari penyebut-penyebut pecahan yang bersangkutan. Selanjutnya dapat dikerjakan seperti kasus dengan penyebut pecahan yang sama. , denganpq0
pq bp aq q b p a
5) Penjumlahan Pecahan Campuran
Selama ini, pembelajaran yang sering dilakukan guru dalam penjumlahan pecahan campuran adalah dengan cara mengubah pecahan campuran ke dalam pecahan murni. Kenyataannya, pecahan campuran
tersebut tidak harus diubah ke dalam pecahan murni, karena selanjutnya akan membuat penyelesaian menjadi lebih rumit. Adapun kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari penjumlahan pecahan campuran ini adalah konsep pecahan campuran, pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama, dan penjumlahan pecahan campuran
6) Pengurangan Pecahan Campuran
Sama halnya pada penjumlahan pecahan campuran, selama ini pembelajaran yang sering dilakukan guru dalam pengurangan pecahan campuran adalah dengan cara mengubah pecahan campuran ke dalam pecahan murni. Kenyataannya, pecahan campuran tersebut tidak harus diubah kedalam pecahan murni, karena akan membuat penyelesaian selanjutnya menjadi lebih rumit. Adapun kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari pengurangan pecahan campuran ini adalah konsep pecahan campuran dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.
7) Perkalian Pecahan
Perkalian pecahan terdiri atas tiga kategori, yaitu perkalian pecahan dengan bilangan bulat, bilangan bulat dengan pecahan, dan pecahan dengan pecahan.
Pemahaman Konsep
-Perkalian pecahan dengan bilangan bulat
Kegiatan pemahaman konsep dapat dilakukan dengan memberikan contoh soal dengan jawaban yang benar dan salah sebagai berikut.
Benar atau salahkah pernyataan dibawah ini?
a. 1
2 2 2 1 2 1 2
21
b. 4
2 4 1 4 1 4
31
-Perkalian bilangan bulat dengan pecahan
Perkalian dua buah pecahan, sama dengan suatu pecahan yang pembilangnya merupakan hasil kali pembilang-pembilang semula dan penyebutnya merupakan hasil kali penyebut-penyebut semula. , denganp0
p ab p a b
-Perkalian pecahan dengan pecahan
Perkalian dua buah pecahan, sama dengan suatu pecahan yang pembilangnya merupakan hasil kali pembilang-pembilang semula dan penyebutnya
merupakan hasil kali penyebut-penyebut semula.
0 ,
0 , 0
,
dengan p q dan pq
pq ab q b p a
8) Pembagian Pecahan
Pembagian pecahan terdiri dari pembagian bilangan bulat dengan pecahan dan pembagian pecahan dengan pecahan.
Hasil bagi dua pecahan adalah suatu pecahan yang pembilangnya dibentuk oleh hasil bagi pembilang-pembilang semula dan penyebutnya dibentuk oleh hasil bagi penyebut-penyebut semula.
Kebalikan pecahan b
a adalah b a/
1 , jika penyebut dan pembilangnya
dikalikan dengan b, maka pecahan itu berubah menjadi b
a . Jadi, kebalikan suatu pecahan diperoleh jika pembilang dan penyebutnya dipertukarkan tempatnya. Selanjutnya berlaku pula bahwa membagi dengan suatu pecahan berarti mengalikan dengan kebalikannya. Dapat dinyatakan dengan rumus :
0 ,
: dengan bc bc
ad c d b a d c b a
26
H. Kerangka Pikir
Proses belajar seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, demikian pula dengan proses belajar matematika. Permasalahan yang terjadi pada siswa kelas V pada tahun sebelumnya yaitu rendahnya rata-rata nilai matematika dan siswa masih malu bertanya tentang materi yang belum di mengerti. Agar prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan baik maka harus diupayakan seluruh faktor yang dapat mendukung proses belajar siswa.
Penggunaan model pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Salah satunya adalah penggunaan penerapan model pembelajaran NHT dalam mengoptimalkan pemahaman konsep matematika merupakan kondisi yang baik untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
26Ibid., h. 55-82.
Dalam model pembelajaran ini, akan memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran. Siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna serta dapat meningkatkan prestasi belajarnya.Pada model ini aktivitas belajar lebih banyak berpusat pada siswa. Dalam proses pembelajaran, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator, konsultan dan menejer yang mengkoordinir proses pembelajaran. Suasana belajar dan interaksi antara siswa dengan guru maupun antar siswa membuat proses berpikir siswa lebih optimal dan siswa mengkonstruksi sendiri ilmu yang dipelajarinya menjadi pengetahuan yang akan bermakna dan tersimpan dalam ingatannya. Hal ini bisa memupuk minat dan perhatian siswa dalam mempelajari matematika, yang dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar siswa.
BAB II
METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian
Setting penelitian ini adalah MI Al-Ittihadul Islamiah, yaitu kelas V yang jumlah siswanya 33 orang yang terdiri dari 16 laki-laki dan 17 perempuan. Lokasi ini diambil dengan pertimbangan dapat bekerja sama dengan guru Matematika di MI Al- Ittihadul Islamiyah sehingga memudahkan peneliti dalam mencari data, peluang waktu yang luas, dan subjek penelitian yang sangat sesuai dengan potensi peneliti.
B. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian merupakan suatu objek penelitian tindakan kelas yang merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang diam dan tanpa gerak.27
Adapun sasaran penelitian tindakan ini adalah :
a. Faktor siswa, yaitu peningkatan hasil akhir belajar siswa kelas V dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan materi pelajaran Matematika melalui model pembelajaran NHT.
b. Guru, di sini peran pendidik sebagai pembimbing dan pendorong bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran sehingga mempengaruhi tingkat belajar siswa, mengalami peningkatan dan berpengaruh pada minat dan prestasi belajar siswa.
27Suharsimi Arikunto,dkk,Penelitian Tindakan Kelas ( Jakarta:Bumi Aksara, 2009) , h. 24.
28
c. Materi yang disajikan harus sesuai dengan materi rencana semesteran, tahunan dan harus mengikuti rencana KTSP sehingga dapat dituntaskan dan siswa dapat menguasai materinya.
C. Rencana Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas.28 PTK juga menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya model pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi pecahan di kelas. Data tersebut dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan yang terdiri dari 4 tahap yaitu, (1) perencanaan, (2) pelaksanaan atau observasi, (3) evaluasi, dan (refleksi). Adapun bentuk spiral kerja tindakan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 1
Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas29
1. Siklus I
a. Tahap
28Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), h. 45
29 Suharsimi Arikunto,dkk,Penelitian Tindakan….. , h. 16.
Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan pembelajaran dengan model
pembelajaran NHT dan menyiapkan nomer untuk dibagikan kepada siswa 2) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan guru.
3) Menyiapkan lembar kerja siswa
4) Membuat evaluasi yakni berupa tes tertulis untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
1). Memberikan informasi tentang rencana pembelajaran pada siswa
2). Memberikan pemahaman terhadap model pembelajaran yang akan diterapkan
3). Mengerjakan lembar kerja siswa (LKS) dengan model NHT 4). Mengisi lembar observasi aktivitas guru dan siswa
5). Melakukan evaluasi pada akhir siklus c. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini peneliti dan guru memberikan tes evaluasi berupa tes tulis kepada siswa pada setiap akhir siklus dengan tes essay sebanyak sepuluh soal. Tes ini dikerjakan secara individual untuk mengetahui
pemahaman siswa setelah belajar konsep operasi hitung pecahan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan setelah observasi dan evaluasi dilaksanakan dan dijadikan sebagai acuan. Pada tahap ini guru dan siswa mengkaji hasil yang diperoleh dan pemberian tindakan pada siklus awal. Hasil refleksi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyempurnakan serta memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada tahap berikutnya.
2. Siklus II
Adapun tahap-tahap yang dilakukan pada siklus kedua adalah sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran NHT dan menyiapkan nomer untuk dibagikan kepada siswa 2) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan guru.
3) Menyiapkan lembar kerja siswa
4) Membuat evaluasi yakni berupa tes tertulis untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
1). Memberikan informasi tentang rencana pembelajaran pada siswa
2). Memberikan pemahaman terhadap model pembelajaran yang akan diterapkan
3). Mengerjakan lembar kerja siswa (LKS) dengan model NHT 4). Mengisi lembar observasi aktivitas guru dan siswa
5). Melakukan evaluasi pada akhir siklus c. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini peneliti dan guru memberikan tes evaluasi berupa tes tulis kepada siswa pada setiap akhir siklus dengan tes essay sebanyak sepuluh soal. Tes ini dikerjakan secara individual untuk mengetahui pemahaman siswa setelah belajar konsep operasi hitung pecahan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan setelah observasi dan evaluasi dilaksanakan dan dijadikan sebagai acuan. Pada tahap ini guru dan siswa mengkaji hasil yang diperoleh dan pemberian tindakan pada siklus awal. Hasil refleksi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyempurnakan serta memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada tahap berikutnya.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian. Adapun dalam penelitian ini, data diambil dengan menggunakan 2 instrumen penelitian yaitu:
1. Lembar Observasi
Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengamati keterlaksanaan proses pembelajaran, yaitu aktivitas guru dan siswa. Lembar observasi akan diberikan kepada seorang observer sebelum proses belajar berlangsung. Kemudian observer mengisi lembar observasi tersebut pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
a). Lembar Observasi Aktivitas Guru
Adapun aktivitas guru yang akan menjadi acuan dalam lembar observasi ada 5 Indikator/Deskriptor diantaranya:
1) Pemberian motivasi dan apersepsi kepada siswa 2) Pengaturan kegiatan kelompok
3) Membimbing siswa dalam kegiatan diskusi kelompok
4) Pemberian umpan balik terhadap hasil diskusi siswa dan melaksanakan penguatan
5) Mengakhiri dan menutup pelajaran
b). Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Adapun aktivitas siswa yang akan menjadi acuan dalam lembar observasi adalah:
1) Antusias siswa dalam mengikuti pelajaran 2) Interaksi siswa dengan guru
3) Interaksi siswa dengan siswa
4) Kerjasama siswa dalam kelompok dengan model pembelajaran NHT 5) Aktivitas siswa dalam diskusi kelompok dengan model pembelajaran
NHT
6) Aktivitas siswa dalam pembelajaran
7) Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar 2. Tes Evaluasi
Tes merupakan instrumen alat ukur untuk pengumpulan data di mana dalam memberikan respon atas pertanyaan dalam instrumen, peserta didorong untuk kemampuan maksimalnya.30Tes yang digunakan dalam penelitian adalah tes formatif berbentu essay atau uraian. Tes esai adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang
30Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Puastaka Belajar, 2011), h. 63-64.
relatif panjang.31 Tes dalam bentuk essay diyakini mampu mengembangkan kreativitas siswa dalam berfikir kritis. Tes ini diasumsikan sudah valid, karena diadopsi dari beberapa buku pelajaran Matematika yang dipergunakan oleh guru bidang studi.
Tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai peningkatan hasil belajar siswa pada materi pokok operasi hitung pecahan. Jenis tes yang digunakan adalah post tes yaitu yaitu tes yang dilaksanakan setelah diadakan tindakan.
E. Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April 2016 hingga selesai di kelas V MI Al-Ittihadul Islamiyah.
F. Cara Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlansung, pengamatan dilakukan dengan lembar observasi oleh observer yang telah disiapkan. Adapun yang diamati adalah bagaimana pelaksanaan tindakan, bagaimana guru menyajikan pelajaran melalui model Numbered Head Together, bagaimana sikap siswa, begitu juga proses pembelajaran, apakah sudah sesuai dengan skenario yang dibuat.
G. Analisis Data dan Refleksi 1. Analisis Data
a. Data Tes Hasil Belajar Siswa
31Ibid., h. 70.
Setelah memperoleh data tes hasil belajar siswa, data tersebut dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui ketercapaian ketuntasn belajar siswa dengan kriteria sebagai berikut:
a) Ketuntasan individu, yaitu setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas secara individu terhadap materi pelajaran yang diberikan jika siswa mampu memperoleh nilai ≥ 75.32
b) Ketuntasan klasikal
Ketuntasan belajar klasikal dikatakan telah tercapai apabila target pencapaian ≥ 85% dari jumlah siswa dalam kelas bersangkutan yang telah memenuhi kriteri ketuntasan belajar individu. Hal ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
∑ siswa yang tuntas belajar
p = x100%
∑ siswa
Keterangan:
p = Ketuntasn klasikal
∑ siswa yang tuntas belajar / mendapatakan nilai ≥ 75.
∑ siswa Jumlah siswa yang ikut tes.33
32Ibid., h. 192.
33 Zainal Aqib dkk Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. (Bandung: CV. Yrama Widya, 2009), h. 41.
c) Untuk menghitung rata-rata kelas dipergunakan persamaan:
M = Nx Keterangan :
M = Mean (rata-rata)
∑x = Jumlah nilai total yang diperoleh dari nilai setiapsiswa N = Jumlah individu.34
b. Data Aktivitas siswa
Menentuka rata-rata skor aktivitas belajar siswa denga menggunakan rumus:
∑X
NA = x100%
N Keterangan :
∑X= Jumlah keseluruhan skor yang diperoleh N= Jumlah keseluruhan skor maksimal NA = Nilai akhir35
Data tentang aktivitas belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Indikator tentang aktivitas belajar siswa yang diamati adalah sebanyak 7 indikator dan setiap indikator memiliki 3 deskriptor. Adapun cara penskoran sebagai berikut:
a) Skor 1 diberikan jika X ≤ 25 % (1-8 siswa);
34Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 302.
35Ibid., h. 331.