• Tidak ada hasil yang ditemukan

Olahraga dan Kesempatan Kerja

Dalam dokumen Sport Edupreneurship (Halaman 57-66)

DAN OLAHRAGA

B. Olahraga dan Kesempatan Kerja

Ditengah-tengah revolusi industri 4.0 yang membawa dampak seperti terjadinya penurunan peran sumber daya manusia diberbagai sektor sehingga terjadi peningkatan jumlah pengangguran yang disebabkan karena semua sektor berbasis teknologi, nampaknya olahraga menjadi salah satu alternatif dalam memecahkan dampak tersebut. Bagaimanapun pesatnya perkembangan teknologi, tidak akan pernah menggantikan peran pelatih olahraga baik untuk olahraga prestasi maupun olahraga rekreasi, guru olahraga, manajemen even, maupun petugas pertandingan dan perlombaan. Bahkan pada jaman modern ini beberapa profesi yang akan berkembang dan sangat dibutuhkan seperti: atlet untuk olahraga amatir, olahraga profesional, agen olahraga, manajemen fasilitas dan even, wahana rekreasi dan olahraga masyarakat, imformasi dan jurnalis olahraga, pemasaran olahraga, manajeman olahraga klub dan industri kebugaran, guru olahraga profesional, biomekanis dan kinesiologis sesuai cabang keolahragaan, ahli medis keolahragaan, ahli fisioterafi dalam bidang olahraga,

46

personal trainning, usaha dalam manajeman olahraga air dan wahana untuk olahraga rekreasi dan waktu luang (Freeman, 2001).

Dahulu memasuki era globalisasi saja sudah menjadi kakhawatiran dan selalu menjadi perbicangan antara optimisme dan pesimisme terkait dampak yang akan dihasilkan dari perkembangan zaman atau yang lebih akrab dikatakan sebagai globalisasi. Namun sekarang dunia bukan sekadar globalisasi lagi, tetapi sudah memasuki era revolusi industri 4.0, yang dikenal dengan sebutan era digitalisasi (Ghufron, 2018).

Disamping itu, Irianto (2017) menyederhanakan tantangan industri 4.0 yaitu: kesiapan industri, tenaga kerja terpercaya, kemudahan pengaturan sosial budaya, dan diversifikasi dan penciptaan lapangan kerja dan peluang industri 4.0 yaitu; (1) inovasi ekosistem, 2) basis industri yang kompetitif, (=3) investasi pada teknologi, dan 4) integrasi Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kewirausahaan.

Begitu pula dengan ungkapan Y. Kiram (2017) Bahwa pada saat ini disemua negara, masalah pengangguran selalu menjadi perhatian oleh pemerintah. Hal ini dapat dipahami karena masalah pengangguran yang merupakan masalah sosial dan kesejahteraan masyarakat yang pada dasarnya merupakan masalah kemanusiaan. Masalah pengangguran tentunya akan menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Misalnya, semakin tinggi angka pengangguran tentunya akan disertai dengan semakin tingginya pula angka kriminalitas dan masalah sosial lainnya. Masalah yang demikian dapat mengganggu, bahkan menggoncangkan stabilitas politik dan keamanan suatu negara. Masalah ketenagakerjaan muda diakui sebagai salah satu prioritas terbesar negara. Pemborosan sumber daya manusia dan efek pengangguran yang melemahkan mengharuskan masalah ini segera ditangani.

Seperti studi kasus di sebagian besar negara Afrika, pengangguran kaum muda telah mencapai proporsi yang mengkhawatirkan karena peningkatan pertumbuhan penduduk, perluasan sistem pendidikan yang cepat, tingginya

47 tingkat migrasi desa-kota, konflik politik, dan memburuknya kinerja ekonomi (Uko & Atare, 2016). Nigeria adalah salah satu negara Afrika di mana masalah pengangguran kaum muda tumbuh dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam upaya untuk memecahkan masalah ini, pemerintah Afrika di mana Nigeria menjadi anggota memasukkan vokasionalisasi sistem pendidikan sejalan dengan United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) 2005 Education Summit.

Terlepas dari kejuruan ini, pengangguran tetap ada.

Untuk memberikan solusi lebih lanjut terhadap masalah ini, program pengembangan kewirausahaan diperkenalkan di negara-negara seperti Gambia dan Nigeria di Afrika Barat, Malawi dan Zimbabwe di Afrika Tengah, Uganda dan Kenya di Afrika Timur. (Chatsaire, 2005). Keyakinan di negara-negara ini adalah bahwa pengangguran dapat diselesaikan dengan mempromosikan usaha kecil. Agar usaha-usaha ini dapat dimulai dan dipertahankan, pemuda dengan keterampilan kewirausahaan diperlukan. Selain itu, penghidupan kaum muda dengan keterampilan kewirausahaan dapat dicapai melalui pengembangan program yang tepat bagi kaum muda yang menganggur.

Kewirausahaan umumnya disebut sebagai bagian penting dalam mendorong inovasi dan meningkatkan pembangunan lokal dan regional (Audretsch & Belitski, 2021; D. F. Meyer, 2020). Olahraga telah menjadi sektor industri yang terus berkembang untuk memasukkan kerangka inovatif dan pendekatan manajemen karena tuntutan masyarakat dan ekonomi (Hoeber, 2012). Berbagai aspek kewirausahaan olahraga terkait dengan identifikasi, pendirian, dan pengejaran peluang baru atau, pada tingkat umum, berperilaku kewirausahaan dalam konteks olahraga (Hammerschmidt et al., 2020). Industri olahraga merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi suatu negara. Di berbagai negara industri maju dan modern seperti di Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Korea dan China, olahraga telah menjadi industri unggulan sebagai pemasok devisa negara.

48

Selain itu olahraga juga dirancang sebagai industri modern berskala global. Selain gagasan dalam membangun karakter bangsa, pada saat ini olahraga sudah menjadi identitas industri yang memiliki nilai tambah yang signifikan. Dengan pengertian lain, bahwa industrialisasi dalam bidang olahraga di negara- negara tersebut berkontribusi secara signifikan terhadap perluasan kesempatan kerja. Hal ini tentunya memiliki landasan yang menjadi dasar asumsi dalam pembahasan ini. Berikut dikemukakan asumsi-asumsi yang digunakan.

Gambar. Perkembangan Olahraga Dan Kesempatan Kerja Sumber Yanuar Kiram “Revolusi Olahraga” 2020 Menurut Pitts Fielding, and Miller (1994) industri olahraga adalah setiap produk, barang, servis, tempat, orang- orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga. Dikutip dari pernyataan Nuryadi (2010) Sport Industry adalah sebuah industri yang menciptakan nilai tambah dengan memproduksi dan menyediakan olahraga yang berkaitan dengan peralatan dan layanan. Sport marketing adalah penerapan spesifik prinsip dan proses pemasaran kepada produk olahraga dan untuk memasarkan produk nirlaba olahraga melalui asosiasi dengan olahraga. Industri olahraga merupakan sektor yang menjanjikan untuk membuka peluang kerja. Ungakapan ini tentunya memiliki dasar yang jelas.

Dikatakan bahwa hal ini disebabkan karena kewirausahaan dikaitkan dengan penciptaan dan komersialisasi inovasi dan dengan demikian mendorong pertumbuhan ekonomi (Pellegrini

49 et al., 2020). Selain itu, bukti menyoroti aspek sosial kewirausahaan (Bjärsholm, 2017). Kehadiran bisnis kewirausahaan di wilayah geografis tertentu dapat menyebabkan kesejahteraan sosial yang lebih tinggi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar usaha tersebut (Zollo et al., 2018). Keadaan ini mempengaruhi organisasi nirlaba kewirausahaan tetapi juga organisasi olahraga kewirausahaan.

Organisasi nirlaba wirausaha lebih cenderung menciptakan nilai melalui efek limpahan dari aktivitas bisnis mereka yang mendorong manfaat masyarakat dalam hal infrastruktur yang lebih baik atau kesadaran yang tumbuh oleh pembuat kebijakan.

Sebaliknya, organisasi olahraga wirausaha memiliki kekuatan untuk menciptakan nilai secara langsung melalui aktivitasnya yang mampu menghasilkan nilai bagi masyarakat (Pellegrini et al., 2020).

Industrialisasi dan komersialisasi dalam dunia olahraga dapat diartikan dalam dua sisi. Sisi pertama industrialisasi dalam artian produk-produk teknologi, seperti peralatanperalatan fitness, alat-alat ukur, peralatan-peralatan olahraga, seperti perangkat peralatan panahan, menembak, reket tenis, industri bola, dsb. Sisi kedua dari industry olahraga dalam artian pertunjukan pertandingan atau perlombaan.

Contoh konkrit misalnya pertandingan tinju kelas dunia, merupakan industri olahraga yang dikemas dalam bentuk entertaiment dan bisnis, piala dunia sepak bola, tenis, dll. Pada kejuaraan atau pertandingan kelas dunia tersebut harga tiket sangat mahal, dan jual beli hak siaran juga sangat tinggi. Bagi negara-negara yang memiliki kekuatan IPTEK, telah menjadikan olahraga sebagai salah satu kekuatan ekonomi mereka. USA, Cina, Inggris, Perancis, Jerman, Korea Selatan merupakan negara-negara telah merubah logika berpikir mereka tentang pembangunan dan pengembangan olahraga. Mereka telah merubah paradigma pembangunan dan pengembangan olahraga menuju suatu kekuatan ekonomi mereka. Selain itu peran mediamassa yang menyebarluaskan berbagai informasi tentang olahraga ke berbagai belahan dunia, juga telah mampu

50

memobilisasi masyarakat untuk berolahraga. Rasionalnya adalah semakin meningkatnya jumlah pelaku olahraga, maka akan semakin meningkat pula kebutuhan akan atribut dan perlengkapan olahraga. Prinsip suply and demaind dalam dunia ekonomi, ternyata tidak tanggung-tanggung, bahkan mengejutkan. Mari kita cermati data yang disampaikan oleh,Toho Cholik Mutohir (Dirjend Olahraga Kementerian Pendidikan Nasional, 2003) Di Korea Selatan, total uang yang dibelanjakan untuk membeli sepatu olahraga, pakaian olahraga dan peralatan olahraga mencapai sekitar 1 triliyun, 275 milyar, pada tahun 1997, 933 miliyar pada tahun 1998, dan 1 triliyun 104 miliyar pada tahun 1999. Industri olahraga Korea menghasilkan 2,48 % dari GDP dalam tahun 1999, dan jumlah tersebut sekitar 12 triliyun 134 miliyar won atau 3,35% lebih kurang dari pendapatan AS (tahun 1996), dan 3,88% lebih kurang dari Jepang (1996). Data ini memperlihatkan bahwa betapa industri olahraga merupakan kekuatan potensial untuk dijadikan salah satu kekuatan ekonomi negara.

Industri Olahraga Membuka Peluang Kerja Yang Signifikan Industrialisasi dalam bidang olahraga, merupakan sektor yang menjanjikan untuk membuka peluang kerja, sebagaimana yang di dikemukakan oleh Cholik Mutohir: 2003, halaman 65 industri olahraga di Korea dewasa ini terdiri atas 75.637 perusahaan yang menyediakan pekerjaan lebih dari 570.000 orang. Jika industri ini tumbuh rata-rata 8% pertahun.

Diperkirakan industri tersebut akan menyediakan pekerjaan sebanyak 1 juta orang pada tahun 2010 dan akan menjadi sebuah budaya industri yang representatif”. Di Indonesia saja, masyarakat yang bekerja dalam dunia olahraga cukup banyak.

Hal ini dapat dilihat dengan berbagai industri olehraga yang berkembang di Indonesia. Eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) selama ini, telah mengakibatkan terjadinya krisis SDA, seperti minyak dan gas, dan hasil-hasil tambang lainnya. Krisis SDA ini, tidak hanya menjadi masalah besar bagi negaranegara pemilik, tetapi bahkan memiliki pengaruh yang cukup besar bagi negara- negara pengguna, terutama negara-negara industri, seperti USA,

51 Inggris, Jerman, Rusia, Prancis, Korea, dan Jepang. Krisis SDA tersebut, mengharuskan banyak negara, terutama negara-negara industri besar mencari alternatif lain untuk dijadikan penyangga kekuatan ekonomi negara mereka.

Alternatif tersebut tentulah alternatif yang memiliki potensi besar dan menjanjikan untuk dijadikan kekuatan ekonomi. Elly M. Setiadi, Usman Kolip (2011), mengemukakan, Potensi negara berkembang sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah dapat dijadikan sebagai tumpuan bahan baku industri dan pangsa pasar bagi produk negara industri”. Industri olahraga merupakan sektor kekuatan ekonomi yang sangat menjanjikan.

Toho Cholik Mutohir (2003), mengemukakan menurut laporan statistik tahun 1996, total besar industri olahraga di AS adalah 255,5 milyar dolar, 2 kali lebih besar dari pada industri mobil dan hampir tujuh kali perusahaan industri filem. Kedudukannya, rengking ke sebelas dalam hal ukuran besarnya usaha. Data yang dipublikasi dalam Street and Smith`s Sport Business Journal (1999), mengetengahkan bahwa industri olahraga mencapai nilai 213 miliyar dolar, rengking ke enam dalam industri di AS pada abad ke 20. Bisnis global dalam industri olahraga mencapai lebih dari 500 milyar dolar dalam milenium baru (Philip Cheng, dari National Taiwan Normal University). Di Jepang, besarnya industri olahraga adalah 19 triliyun, 389,2 milyar yen. Dengan memperhitungkan kenyataan, Dewan Struktrur Industri (Industri Structure Council) menetapkan industri olahraga merupakan bagian dari industri enterteimen untuk abad ke 21.

Industri alat-alat olahraga diperkirakan tumbuh 5% pada tingkat dunia dan olahraga tontonan diperkirakan menciptakan nilai tambah yang memuaskan. Dampak bisnis olahraga meningkat di Asia, tatkala nilai kesehatan dan waktu senggang kian memperoleh perhatian seperti di Jepang, Korea dan Taiwan. Peristiwa-peristiwa olahraga besar dan penting, menjadi berita utama di koran dan televisi. Media masa memperoleh jutaan dolar setiap tahun dari hasil pemberitaan

52

dan penyiaran yang bersifat enterpreuner tersebut. Olympic Games merupakan peristiwa olahraga multy even terbesar di dunia. Even olahraga terbesar ini, melalui siaran atau penayangan televisi telah berhasil menarik perhatian ratusan juta penduduk dunia. Hal ini telah banyak menarik perhatian dari media masa terkemuka. Pada tahun 1995, NBC (National Broad Casting) sebuah perusahaan besar penyiaran di Amerika, membuat kontrak hak siaran dengan Komite Olimpiade Internasional sebesar $ 3,6 miliar untuk hak siaran televise pada Olimpiade tahun 2000 dan 2008. NBC (National Broad Casting) didukung oleh banyak sponsor eksklusif yang memanfaatkan siaran tersebut untuk produk-produk industri mereka. Angka- angka tersebut sangat fantastis dan sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai salah satu tiang penyangga kekuatan ekonomi suatu negara. Kondisi tersebut didukung oleh banyak faktor.

Olahraga merupakan kebutuhan masyarakat dunia dari seluruh populasi masyarakat. Kebutuhan terhadap olahraga akan terus berkembang dan meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia. Perbaikan dan perluasan pendidikan, perbaikan dan peningkatan ekonomi masyarakat, menyebabkan meningkatnya jumlah pelaku olahraga. Secara rasional, industri olahraga sebagai suatu kekuatan ekonomi akan bertahan lama, dibanding dengan kekuatan ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam. Sumber daya alam lama kelamaan akan habis. Pada saat sekarang saja dunia mengalami krisis sumber daya alam. Berbeda dengan olahraga. Kekuatan ekonomi yang berlatarbelakang industri olahraga tidak mengandalkan sumber daya alam. Sementara itu, kebutuhan manusia terhadap olahraga akan bertahan, selagi manusia itu ada. Hal ini disebabkan karena olahraga memiliki dampak yang sangat positif yang diperlukan masyarakat.

Olahraga diperlukan untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani. Dengan meningkatnya kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat, maka daya tahan bekerja semakin meningkat, dan hal yang demikian akan meningkatkan produktifitas kerja. Dengan meningkatnya

53 produktif kerja, tentu akan berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat, yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Olahraga menjanjikan komunikasi dan interaksi. Dengan meningkatnya interaksi dalam masyarakat, maka peluang untuk terjadinya integrasi semakin besar. Interaksi dan integrasi akan mengurangi terjadinya konflik dalam masyarakat. Skemaan ini merupakan keadaankeadaan yang rasional yang mengakibatkan industri olahraga dapat dijadikan suatu kekuatan ekonomi suatu negara.

Sejalan dengan peningkatan derap industri, nilai produksi terus menunjukkan peningkatan. Peningkatan nilai produksi ini dimungkinkan oleh adanya peningkatan daya saing produk- produk industri olahraga. Peningkatan daya saing tersebut tentunya disertai adanya peningkatan daya beli masyarakat dan pencapaian prestasi melalui produk-produk industri olahraga terutama dalam menembus pasaran internasional. Pengusaha olahraga terlibat dalam sektor publik, organisasi nirlaba, dan pasar komersial. Oleh karena itu, tidak selalu dapat mengejar pendekatan seperti bisnis dan sangat bergantung pada konteksnya. Implikasi ini penting bagi akademisi dan praktisi untuk lebih memahami bagaimana pengusaha olahraga atau organisasi olahraga secara wirausaha mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang, menciptakan atau mempertahankan keunggulan kompetitif melalui inisiatif kewirausahaan, dan menciptakan nilai dengan kegiatan olahraga. Maka dari itu, Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian dari perguruan tinggi yang berperan dalam mencetak calon pendidik untuk dapat mencerdasakan kehidupan bangsa. Pada era 4.0 pendidikan jasmani dan olahraga harus mampu menciptakan calon pendidik yang bukan hanya sesuai bidang keilmuannya saja akan tetapi juga dilengkapi dengan kompetensi pendukung yang mendampingi bidang keahliannya sehingga akan memperluas kesempatan bekerja dan mempersempit bidang pengangguran serta menciptakan manusia yang berdaya guna dengan kompetensi yang dimilikinya.

54

C. Entrepreneurship Dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Dalam dokumen Sport Edupreneurship (Halaman 57-66)