• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oogenesis (Proses Pembentukan Sel Telur/Ovum)

Dalam dokumen PDF KelasIX IPA BG - Universitas Padjadjaran (Halaman 152-157)

Bagaimanakah proses pembentukan sel telur? Samakah dengan proses SHPEHQWXNDQ VSHUPD" 7HUQ\DWD SURVHV SHPEHQWXNDQ VHO WHOXU EHUEHGD dengan proses pembentukan sperma. Oogenesis dimulai di dalam embrio SHUHPSXDQ SDGD VDDW PDVLK GL GDODP UDKLP 2RJHQHVLV WHUMDGL GL GDODP RYDULXP

Gambar Ovarium

7DKDSDQ RRJHQHVLV GLPXODL GL GDODP HPEULR SHUHPSXDQ GHQJDQ memproduksi oogonium dari sel germinal primordial. Selanjutnya, oogonium membelah secara mitosis untuk membentuk oosit primer. Selanjutnya, oosit primer mengalami pembelahan secara meiosis. Akan tetapi, pembelahan meiosis tersebut tidak selesai, melainkan berhenti pada tahap profase meiosis I. Pembelahan tersebut akan dilanjutkan pada saat seorang perempuan telah mengalami pubertas. Pada saat seorang perempuan mengalami pubertas, KRUPRQ )6+ IROOLFOH VWLPXODWLQJ KRUPRQH DWDX KRUPRQ SHUDQJVDQJ folikel telah aktif berfungsi, sehingga secara periodik dapat merangsang folikel untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangannya. Biasanya, hanya satu folikel yang matang penuh setiap bulan, dengan oosit primernya menyelesaikan tahap meiosis I.

Selanjutnya, pembelahan meiosis II dimulai untuk membentuk oosit sekunder. Akan tetapi, pembelahan meiosis II berhenti pada tahap metafase.

3DGD NRQGLVL LQL RRVLW VHNXQGHU GLOHSDVNDQGLRYXODVLNDQ VDDW IROLNHOQ\D SHFDK7DKXNDKNDPXNDSDQNDKSHPEHODKDQPHLRVLVWHUVHEXWVHOHVDL"

7DKDS SHPEHODKDQ PHLRVLV DNDQ GLODQMXWNDQ DSDELOD DGD VSHUPD \DQJ

\DQJPHQHPEXVRRVLWVHNXQGHUWHUMDGLIHUWLOLVDVL'HQJDQGHPLNLDQKDVLO dari proses oogenesis adalah satu sel telur matang yang telah mengandung NHSDODVSHUPD2OHKNDUHQDLWXMDQJDQKHUDQDSDELODDGD\DQJPHQGH¿QLVLNDQ fertilisasi adalah sebagai penyatuan nukleus haploid sperma dan oosit sekunder. Pada saat pembelahan meiosis untuk pembentukan oosit primer dan sekunder, selain dihasilkan oosit primer dan sekunder juga dihasilkan badan kutub yang bersifat non fungsional. Agar kamu dapat memahami SURVHVRRJHQHVLVSHUKDWLNDQ*DPEDUWDKDSDQ3HPEHQWXNDQ6HO7HOXU

Gambar Tahapan Pembentukan Sel Telur

E. INTERAKSI DENGAN ORANG TUA

Mengingat materi pada Bab 1 ini adalah materi yang mungkin bagi VHEDJLDQNDODQJDQPDVLKGLDQJJDSVHEDJDLKDO\DQJYXOJDUDWDXWDEXXQWXN dibicarakan, maka sangat diharapkan selama siswa mempelajari materi ini orang tua senantiasa melakukan pendampingan. Meskipun demikian, penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan materi ini senetral PXQJNLQ DJDU WHUKLQGDU GDUL SRUQRJUD¿ 7XMXDQ XWDPD GDUL GLODNXNDQQ\D pendampingan adalah agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mempelajari materi ini. Selain itu, agar siswa tetap bisa memandang setiap materi yang WHUVDMLSDGDEDELQLGDULVLVLNHLOPXZDQEXNDQGDULVLVLSRUQRJUD¿

F. KUCI JAWABAN UJI KOMPETENSI

1. Pilihan Ganda

1. A 6. C 2. C 7. A

3. C 8. C

4. D 9. A 5. D 10. C

2. Uraian

1. FSH yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari memicu perkembangan IROLNHOGDODPRYDULXP)ROLNHO\DQJEHUNHPEDQJDNDQPHQJKDVLODNDQ KRUPRQHVWURJHQODOXGLVXVXOGHQJDQKRUPRQSURJHVWHURQ(VWURJHQ dan progesteron akan memicu dinding rahim untuk menebal PHPSHUVLDSNDQ PHOHNDWQ\D HPEULR MLND VHO WHOXU GLEXDKL (VWURJHQ yang dihasilkan memicu dikeluarkannya hormon LH oleh kelenjar pituitari. Hormon LH meningkat secara mendadak dan memicu SHQJHOXDUDQVHOWHOXUGDULIROLNHO\DQJWHODKPDWDQJRYXODVL6HWHODK sel telur keluar folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Sel telur

\DQJGLRYXODVLNDQDNDQEHUJHUDNPHQXMXWXEDIDORSLL$SDELODWLGDN ada sel sperma yang membuahi maka korpus luteum akan berhenti memproduksi estrogen dan progesteron. Rendahnya hormon estrogen dan progesteron menyebabkan rusaknya jaringan dinding rahimdan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadilah menstruasi.

2. Fungsi uterus adalah melindungi bayi yang tumbuh, selain itu mbruterus merupakan tempat tumbuhnya embrio.

3. $,'6 DGDODK SHQ\DNLW \DQJ GLVHEDENDQ ROHK YLUXV +,9 6HVHRUDQJ GDSDWWHUWXODUYLUXV+,9DSDELODPHODNXNDQNRQWDNGHQJDQSHQGHULWD

VHSHUWLEHUKXEXQJDQVHNVXDOGHQJDQRUDQJ\DQJPHPLOLNL+,9$,'6 DWDXPHQHULPDWUDQVIXVLGDUDKGDULRUDQJ\DQJPHPLOLNL+,9$,'6 ,QWLQQ\D+,9$,'6GDSDWPHQOXDUDSDELODVHVHRUDQJEHUVLQJJXQJDQ dengan cairan yang berasal dari tubuh penderita seperti air mani, GDUDKGDQDLUOLXU$NWLYLWDVVHSHUWLEHUELFDUDEHUMDEDWWDQJDQGDQ EHUSHOXNDQWLGDNDNDQPHPEXDW+,9$,'6PHQXODU&DUDSHQFHJDKDQ DJDU WLGDN WHUWXODU +,9$,'6 DGDODK KLQGDUL KXEXQJDQ VHNV GLOXDU nikah, hindari penggunaan jarum suntik secara bersama atau lebih dari satu kali pemakaian, melakukan hubungan badan hanya jika sudah menikah dan setia pada pasangan

4. Salah satu cara pencegahan polispermi adalah depolarisasi membrane sel telur. Depolarisasi membran sel telur meliputi perubahan- perubahan potensial elektrik membran yang berlangsung dengan cepat, mungkin hanya beberapa detik segera setelah sperma memasuki telur. Seperti halnya dengan membran sel yang lain, membran sel telur dapat membangkitkan potensial membran yang berbeda yang disebut resting potensial membran. Pada telur yang telah dibuahi, resting potensial membrannya bermuatan negatif. Fusi tubulus akrosom sperma dengan membran plasma telur, menyebabkan membran plasma mengalami depolarisasi dengan cepat menyebabkan membrannya menjadi bermuatan positif, dan selama 2-3 detik potensial membran sel seluruhnya menjadi positif. Potensial membran yang positif menyebabkan sperma yang lain tidak dapat berfusi dengan membran plasma sel telur. Kejadian tersebut merupakan dasar penghambatan polispermi yang berlangsung dengan cepat.

5. +RUPRQ )6+ IROOLFOH VWLPXODWLQJ KRUPRQH \DQJ GLKDVLONDQ ROHK NHOHQMDU KLSR¿VLV PHUDQJVDQJ SHUWXPEXKDQ IROLNHO )ROLNHO \DQJ sedang tumbuh tersebut menghasilkan hormon estrogen yang EHUIXQJVLPHUDQJVDQJSHUWXPEXKDQHQGRPHWULXPSHQHEDODQGLQGLQJ UDKLP 6HWHODK WHUMDGL RYXODVL NRUSXV OXWHXP DNDQ PHQJKDVLONDQ hormone progesterone yang akan mempertahankan ketebalan dinding endometrium yang memungkinkan terjadinya implantasi. Setelah terjadi kehamilan dan terbentuk plasenta, plasenta ini selanjutnya DNDQ PHQJKDVLONDQ +&* KXPDQ FKRULRQLF JRQDGRWURSKLQ \DQJ akan mempertahankan korpus luteum agar tidak berdegenarasi.

G. KEGIATAN PROYEK

7XJDVSUR\HNLQLGDSDWGLODNVDQDNDQROHKVLVZDVHODPD“GXDPLQJJX Pada minggu pertama, peserta didik mencari informasi dari buku ensiklopedia, koran, majalah ataupun media massa yang lainnya baik media massa cetak ataupun elektronik tentang berbagai upaya pencegahan penyakit seksual. Kemudian, pada minggu kedua, peserta didik menyusun brosur.

Selama pelaksanaan tugas proyek ini, peserta didik diharuskan untuk selalu melakukan konsultasi dengan guru. Berkaitan dengan cara penilaian proyek ini, guru dapat merujuk cara penilaian yang terdapat pada bagian umum dengan disesuaikan tugas peserta didik.

A. PENGANTAR

Materi yang disajikan pada bab 2 ini adalah reproduksi tumbuhan dan hewan. Materi tersebut disajikan dalam tiga subbab, yaitu reproduksi tumbuhan, reproduksi hewan, kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan.

Bagian pertama yaitu reproduksi tumbuhan membahas reproduksi tumbuhan secara seksual dan aseksual. Pembahasan mencakup golongan tumbuhan Spermatophyta yang terbagi menjadi Angiospermae dan Gymnospermae, Pteridhophyta, dan Bryophyta. Bagian kedua yaitu reproduksi hewan membahas reproduksi hewan secara aseksual dan seksual, metamorfosis yang terjadi pada hewan serta teknologi reproduksi pada hewan ternak. Bagian ketiga, yaitu tentang kelangsungan hidup organisme membahas adaptasi pada tumbuhan dan hewan serta seleksi alam. Materi ini diajarkan melalui kegiatan diskusi; menginvestigasi; menganalisis data; mencari informasi melalui media massa, media elektronik ataupun lingkungan sekitar; dan melakukan percobaan. Setelah mempelajari seluruh bagian yang terdapat pada bab 2, peserta didik menyelesaikan proyek. Proyek yang akan dikerjakan oleh peserta didik adalah melakukan percobaan perkembangbiakan vegetatif pada tumbuhan. Setelah melakukan pekerjaan proyek peserta didik diminta membuat suatu laporan dari kegiatan yang telah dilakukan.

1. Kompetensi Dasar

3.2 Memahami reproduksi pada tumbuhan dan hewan, sifat keturunan, serta kelangsungan makhluk hidup.

4.2 Menyajikan karya hasil perkembangbiakan pada tumbuhan.

2. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi bab 2 tentang reproduksi pada hewan dan tumbuhan ini dikembangkan dengan mengacu pada KI dan KD yang tercantum pada lampiran Permen dikbud No 58 tahun 2014. Pada kegiatan pembelajaran di lapangan, guru dapat mengembangkan sendiri Indikator Pencapaian Kompetensi dengan disesuaikan pada kondisi peserta didik masing-masing. Berikut ini dipaparkan contoh Indikator Pencapaian Kompetensi yang dapat dijabarkan dari KD 3.2 dan KD 4.2.

Dalam dokumen PDF KelasIX IPA BG - Universitas Padjadjaran (Halaman 152-157)