• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Kelompok Perempuan Sunda Wiwitan

Dalam dokumen Memahami Fenomena Sunda Wiwitan Masa Kini (Halaman 66-72)

Taman Atikan dilakukan pada sore hari. Taman Atikan merupakan sebuah wadah yang bergerak dalam bidang pendidikan dan budaya yang ada di Sunda Wiwitan. Pengajar di Taman Atikan terdapat berberapa perempuan- perempuan Sunda Wiwitan, yaitu: Lastri, Wiwit, Miming, dan Lina. Pengajar di Taman Atikan biasanya bersifat sukarelawan, sebab untuk melestarikan kebudayaan Sunda Wiwitan di kalangan anak-anak. Di Taman Atikan, anak- anak diajarkan budi pekerti, aksara Sunda, cara-ciri bangsa, dan cara-ciri manusia. Selain itu, diajarkan pula kesenian-kesenian khas Sunda dan juga diajarkan tarian tradisional.

Penutup

Teori gender dibedakan menjadi dua. Pertama, kelompok teori nature.

Peran laki-laki dan perempuan ditentukan berdasarkan faktor biologis. Laki- laki menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial, laki-laki menjalankan peran utama dalam masyarakat karena dianggap lebih potensial, lebih kuat, dan lebih produktif. Kedua, kelompok teori nurture yang melihat perbedaan karakter dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan berdasarkan faktor sosial budaya, seperti: pembagian kerja laki- laki dan perempuan berdasarkan budaya yang secara turun-temurun oleh laki-laki. Sedangkan di Kampung pasir, Garut, Sunda Wiwitan ini berbeda dengan teori tersebut karena perempuan dan laki-laki di sini sama, tidak ada perbedaan (kesetaraan gender). Perempuan di sini diperbolehkan bekerja dan tetap mengerjakan tugas rumahnya dan laki-laki juga membantu pekerjaan istrinya di rumah dan bekerja. Selain bekerja dan mengerjakan tugas rumah, perempuan Sunda Wiwitan di Kampung Pasir juga berpartisipasi di lingkungan sekitar yaitu dalam bidang budaya, pendidikan, serta ekonomi.

Bab 6

Toleransi Sosial di Tengah Keberagaman Masyarakat

Pengantar

Masyarakat Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kabupaten Samarang, Garut merupakan masyarakat multikultural dengan keanekaragaman agama.

Sebagian besar penduduknya beragama Islam, sebagian lagi merupakan penganut ajaran Sunda Wiwitan atau sering disebut Agama Djawa Sunda (ADS). Perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat tidak menjadikan mereka harus pecah dan saling bermusuhan, karena bagi mereka semuanya adalah saudara. Masyarakat multikultural diharuskan memiliki sikap toleransi yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan serta saling menghargai satu sama lain. Puncak dari kebersamaan ini adalah perdamaian. Perdamaian yang terjadi merupakan hasil dari pola adaptasi masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan kebudayaan.

Masyarakat selalu bersikap konformis sehingga perilaku menyimpang dan tindakan kriminal menjadi sangat rendah. Sebagai bangsa yang multikultur, para leluhur sudah menyadari akan pentingnya saling menghormati dan saling menghargai antar sesama walau berbeda. Hal ini tercermin dalam semboyan negara Indonesia, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Kebersamaan dalam perbedaan menjadi bagian yang harus tetap dipertahankan dalam kehidupan setiap individu di negeri ini. Kebersamaan dalam perbedaan dapat terwujud dengan sikap saling menghargai dan menghormati dalam kehidupan sosial. Perbedaan disikapi sebagai sebuah keniscayaan, bahkan bagian dari sunatullah (given). Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk saling mengenal meski berbeda etnik, budaya bahkan agama.

Agama seringkali diposisikan sebagai salah satu sistem acuan nilai (system of referenced value) dalam keseluruhan sistem tindakan (system of action) yang mengarahkan dan menentukan sikap dan tindakan umat beragama (Daulay, 2003: 61). Memahami agama, tidak sebatas pada pemahaman secara formal, melainkan harus dipahami sebagai sebuah kepercayaan, sehingga akan bersikap toleran kepada pemeluk agama lain. Akan tetapi, bila seseorang hanya memahami agama secara formal saja maka ia akan memandang bahwa hanya agamanya saja yang mempunyai klaim kebenaran tunggal dan paling baik. Sementara itu agama lain dipandang telah mengalami reduksionisme (pengurangan), karena itu tidak benar dan kurang sempurna. Menurut Mun’im A. Sirry, bahwa perbedaan agama sama sekali bukan halangan untuk melakukan kerjasama (dalam bidang sosial), bahkan Al-Quran menggunakan kalimat lita’arofu, supaya saling mengenal, yang kerap diberi konotasi “saling membantu”. Hubungan sesama warga negara yang muslim dan yang non-muslim sepenuhnya ditegakkan atas asas-asas toleransi, keadilan, kebajikan, dan kasih sayang.

Cowald (1992: 5) menyatakan bahwa dunia selalu memiliki pluralisme agama. Mengenai realita dalam masyarakat yang plural ini, tulisan ini mencoba memberi suatu gambaran tentang toleransi sosial antara umat Islam dan warga adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Garut. Walaupun di desa ini mempunyai agama yang berbeda, tetapi dari beberapa agama (Islam dan Sunda Wiwitan) ini terjalin toleransi sosial yang sangat baik dan tidak menjadikan agama sebagai pembeda, sehingga dalam toleransi sosial keagamaan khususnya umat Islam dan warga adat Sunda Wiwitan ini menjadi sasaran dalam tulisan ini.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Garut, Provinsi Jawa Barat. Kampung Pasir merupakan daerah yang memiliki iklim sejuk. Masyarakat Kampung Pasir memiliki keberagaman dalam beragama, tetapi tidak mengalami perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 29 Maret sampai dengan 1 April 2018. Peneliti melakukan satu kali kunjungan ke lapangan. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dimaksudkan penelitian ini dapat menjelaskan segala sesuatu yang sedang berlaku serta menginterpretasikan kondisi-kondisi yang ada dan sedang berlangsung. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen. Adapun yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah tokoh dari masing-masing agama, yaitu: Entis Sutisna dan Ata Sukanta sebagai pupuhu warga adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir; Sukarna sebagai warga adat Sunda Wiwitan;

dan Ijin sebagai tokoh muslim di Kampung Pasir sekaligus mantan penganut ajaran Sunda Wiwitan. Dengan melaksanakan wawancara mendalam dan observasi, akan diperoleh data primer. Data primer ini tidak dalam bentuk angka-angka yang dapat diproses dalam metode kuantitatif.

Jenis data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kualitatif yang tidak berbentuk angka-angka, sehingga penjabarannya dalam bentuk catatan lapangan (field notes). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni menekankan data-data yang bersifat gagasan, ide, nilai-nilai, dan pikiran yang tidak bisa diukur dengan angka. Metode kualitatif digunakan untuk memahami makna di balik data yang tampak. Pendekatan kualitaif dilakukan pada usaha menjawab pertanyaan melalui cara berfikir formal dan argumentatif.

Deskripsi Lokasi

Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut memiliki luas wilayah yakni sebesar 173.095 hektar. Ditinjau dari geografisnya yang berada di wilayah timur kabupaten Garut, batas-batas yang ada meliputi:

sebelah utara yaitu Desa Cintaasih; sebelah timur yakni Desa Kersamenak;

sebelah selatan yaitu Desa Banjarsari; serta sebelah barat yakni Desa Sirnasari. Secara administratif terbagi ke dalam dua dusun yaitu Dusun I yang mencakup: Kampung Ckamiri, Kampung Barujati, Kampung Cimanggah, Kampung Babakan Palah, dan Kampung Pasir; serta Dusun II yang mencakup: Kampung Pasir Tengah, Kampung Bariluk, Kampung Somong, Kampung Tunggeureung, Kampung Lamping, dan Kampung Saradan. Kedua dusun tersebut kemudian terbagi menjadi 6 RW dan 31 RT. Dengan luas wilayah yang ada, adapun klasifikasi jarak dari kantor pemerintah kecamatan sejauh 2,5 km serta membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Sementara itu, jarak dari ibukota kabupaten sejauh 7 km dengan waktu tempuh selama kurang lebih 30 menit. Dilihat dari topografi dan kontur tanah, Desa Cintakarya secara umum berupa dataran pada ketinggian 700 – 900 mdpl. Curah hujan rata-rata cukup tinggi mencapai 2,242 mm dengan jumlah hari hujan efektif antara 98 sampai 123 hari per tahun dengan suhu rata-rata 18 – 25°C. Dengan letak geografis desa yang cukup strategis, membuat perkembangan Desa Cintakarya terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Tabel 6.1

Penggunaan Lahan di Desa Cintakarya

No. Lahan Luas Lahan (Hektar)

1 Persawahan 120,352

2 Pemukiman 40

3 Tanah Perkebunan 5,010

4 Kuburan 2,5

5 Tanah Pekarangan 29,5

6 Tanah Perkantoran 0,812

7 Tanah Prasarana Umum 3,5

Sumber: Data Desa Cintakarya

Namun, seiring berjalannya waktu, dengan terus bertambahnya jumlah penduduk di Desa Cintakarya, proporsi lahan pertanian terus berkurang karena digantikan oleh laham pemukiman tempat tinggal. Penduduk Desa Cintakarya sampai dengan akhir bulan Desember tahun 2016 yaitu sebanyak 6.121 orang. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2015 sebesar 2%. Pertumbuhan pendudukan disebabkan karena adanya perkawinan dan pertumbuhan penduduk secara alamiah (kelahiran). Hampir 75% penduduk Desa Cintakarya yang sudah menikah dan dalam masa usia produktif mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, keadaan pemukiman di Desa Cintakarya semakin padat. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya lahan pertanian berubah menjadi daerah pemukiman. Dari data Desa Cintakarya bidang kependudukan, laju pertumbuhan penduduk dapat terlihat yaitu dari

jumlah kepala keluarga yang terdapat di beberapa RT pada tahun-tahun sebelumnya. Terdapat jumlah kepala keluarga rata-rata terdiri dari 1.599 KK, sedangkan pada tahun 2018, rata-rata jumlah KK di setiap RT di atas 60 KK yang berada di 2 Dusun, 6 RW dan 31 RT. Mayoritas penduduk Desa Cintakarya beragama Islam. Perkembangan serta pertumbuhan syiar Islam berjalan dengan baik, saling menghormati sesama serta memelihara kerukunan. Sarana keagamaan sudah representatif. Hal tersebut dibuktikan dengan berdirinya masjid-masjid di setiap RW yang merupakan hasil swadaya masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Tabel 6.2

Mata Pencaharian dan Angkatan Kerja Masyarakat Desa Cintakarya No. Mata Pencaharian Jumlah Angkatan Kerja

1 Pegawai Negeri Sipil 16 orang

2 TNI dan Polri 1 orang

3 Petani dan Buruh Tani 836 orang

4 Pedagang 177 orang

5 Peternak 78 orang

6 Wiraswasta 60 orang

7 Karyawan Swasta 32 orang

8 TKW/TKI 9 orang

Sumber: Data Desa Cintakarya

Kerangka Konseptual

Sikap toleransi yang menghargai keragaman atau kemajemukan terhadap hal yang berbeda, membuka diri terhadap keyakinan yang berbeda, kerelaan untuk berbagi, mau berdialog, dan mau belajar mencari persamaan agar terhindar dari konflik. Sikap toleransi ini dijadikan sebagai potensi untuk mewujudkan masyarakat yang menghargai setiap perbedaan, karena perbedaan itu fitrah manusia yang heterogen. Toleransi menurut Hasyim (1979: 22) yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat. Sedangkan Poerwadarminto (1985: 124) mendefinisikan toleransi sebagai suatu sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta memperbolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri.

Definisi toleransi beragama (religious tolerance) tidak mudah ditemukan secara eksplisit. Sebagian besar studi tentang toleransi beragama lebih

banyak mendeskripsikan sikap yang disebut toleran. Powell dan Clarke (2002) menyatakan bahwa: an attitude of tolerance is only possible when some action or practice is objectionable to us, but we have overriding reasons to allow that action or practice to take place. Dalam pernyataan tersebut, tersirat bahwa toleransi adalah pengecualian (exception) atas hal- hal yang sebenarnya tidak disukai, tetapi tetap dibiarkan dilakukan. Definisi lain dikemukakan oleh Andrew Cohen (2004: 69), yang menyatakan bahwa an act of toleration is an agent‘s intentional and principled refraining from interfering with an opposed other (or their behaviour, etc.) in situations of diversity, where the agent believes she has the power to interfere. Dalam definisi tersebut, toleransi diartikan sebagai sikap untuk tidak mencampuri atau mengintervensi urusan atau perilaku pihak lainnya. Dari beberapa pendapat tersebut, toleransi dapat diartikan sebagai sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain. Toleransi bukanlah hal tentang seseorang harus mengorbankan kepercayaan yang dianut, melainkan toleransi memunculkan suatu sikap baru yang saling menghargai adanya sebuah perbedaan antarmasyarakat. Toleransi bukan suatu hal yang dapat memecahbelahkan umat, tetapi menjadi alat pemersatu antarumat kepercayaan.

Sejarah Toleransi di Kampung Pasir

Masyarakat Kampung Pasir merupakan masyarakat yang multiagama, tetapi kehidupan mereka berjalan secara harmonis dan tidak ada konflik.

Kedamaian dan kebersamaan begitu terasa mewarnai kehidupan mereka yang beragam keyakinan. Gotong royong dan kerja sama tetap terjalin dalam keseharian tanpa melihat perbedaan yang terjadi di antara mereka.

Semuanya itu didasarkan atas dasar persamaan hak sebagai warga dan rasa saling menghormati serta saling menghargai atas setiap perbedaan yang sejak sedari dulu telah ditanamkan di Kampung Pasir ini. Berkenaan dengan kehidupan kemasyarakatan di Kampung Pasir, Ata Sukanta, warga Kampung Pasir penganut kepercayaan Sunad Wiwitan, mengungkapkan bahwa sejak zaman dahulu, para pendahulu Ajaran Sunda Wiwitan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan masyarakat Kampung Pasir selalu bekerja sama dan tidak membedakan latar belakang agama dan kepercayaan mereka. Pada saat peringatan hari besar keagamaan apapun, semua anggota keluarga akan saling membantu walau mereka berlainan agama dan kepercayaan.

Sejarah toleransi sosial tercipta karena di Kampung Pasir terdapat beberapa masyarakat yang berbeda keyakinan di tempat yang sama. Tentu saja hal tersebut merupakan sebuah keunikan atau menjadi ciri khas. Di Masyarakat Kampung Pasir, Desa Cintakarya memiliki keyakinan yang berbeda-beda, yakni: Islam dan Sunda Wiwitan yang masyarakatnya hidup rukun serta saling berdampingan. Hal ini dapat menjadi contoh dalam pola sikap multikulturalisme di masyarakat Indonesia.

“Toleransi sosial di warga adat kampung adat ini diawali dari ajaran leluhur Sunda Wiwitan, di mana adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penganut ajaran Sunda Wiwitan harus menghayati segala keyakinan supaya saling menghargai antarumat beragama. Walaupun mereka (penduduk) di Kampung Pasir ini berbeda keyakinan, tetapi mereka mempunyai tujuan yang sama, yakni percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan manusia, yang menjadi perbedaannya yaitu dari hal peribadatannya saja.”

Wawancara dengan Ata Sukanta, 29 Maret 2018 Penganut ajaran Sunda Wiwitan telah menanamkan toleransi antarumat beragama sejak kecil, dan sudah mendarah daging, karena mereka mempunyai keyakinan bahwa kerukunan antarumat beragama harus dijunjung tinggi dalam ajaran Sunda Wiwitan.

“Prinsip-prinsip yang ditanamkan Sunda Wiwitan dalam menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama yaitu dengan percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, mempertahankan nusa bangsa dan negara, menghargai diri pribadi (olah rasa), hidup jangan lepas dari musyawarah, dan hidup jangan lepas dari gotong royong.”

Wawancara dengan Entis Sutisna, 30 Maret 2018

Dalam dokumen Memahami Fenomena Sunda Wiwitan Masa Kini (Halaman 66-72)