Antara Identitas dan Jati Diri Bangsa: Upaya Pelestarian
Merawat Budaya dan Tradisi Sunda di Taman Atikan
Adat Istiadat Pernikahan Warga Adat Karuhun Sunda
Peran Nonoman dalam Pelestarian Kearifan Lokal
Kiprah Perempuan Sunda Wiwitan Kampung Pasir
Toleransi Sosial di Tengah Keberagaman Masyarakat
Advokasi Hak Sipil Penghayat Sunda Wiwitan untuk
Pelestarian Seni dan Budaya Sunda Wiwitan
Atikan Park didirikan pada bulan Oktober 2014 atas dana sendiri dan gotong royong masyarakat adat Sunda Wiwitan Cigugur. Hal inilah yang melatarbelakangi didirikannya Taman Atikan sebagai tempat belajar anak-anak masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Pasir.
Relasi Sekolah Formal Tingkat Menengah Atas dengan
Begitu pula dengan siswa yang mengenyam pendidikan formal namun menganut kepercayaan tradisional yaitu Sunda Wiwitan. Masyarakat adat Kampung Pasir penganut agama Sunda Wiwitan terbuka terhadap pendidikan, baik formal maupun informal. Masyarakat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir menyadari bahwa pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri dan juga ilmu yang didapat dari sekolah akan bermanfaat bagi orang lain.
Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat Sunde Wiwitan di Kampung Pasir bersifat fleksibel, artinya keyakinan tersebut tidak menghalangi mereka untuk meningkatkan kualitas diri. Tidak hanya sebatas pendidikan formal, masyarakat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir juga menyelenggarakan pendidikan nonformal. Pembangunan Taman Atikan ini berdasarkan musyawarah dan kesepakatan bersama antara Sunda Wiwitan di Kampung Pasir dan Cigugur.
Sosialisasi Budaya Sunda Wiwitan Melalui Taman
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini akan fokus pada pola perkawinan adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir. Artikel ini menguraikan tentang rangkaian proses pernikahan adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Sehingga nilai-nilai budaya dalam kepercayaan Sunda Wiwitan dapat dilestarikan secara turun temurun hingga saat ini.
Upacara pernikahan masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Pasir diawali dengan proses pendekatan atau dalam istilah Sunda disebut tootgan. Istilah Jonoman mempunyai definisi tersendiri bagi masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir. Di sini para pemuda biasa dipanggil Jonoman, para pemuda inilah yang akan meneruskan adat dan kepercayaan Sunda awal di sini.
Nilai Pitutuh Luhur Sebagai Landasan Nonoman dalam
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya prinsip sifat bangsa dan sifat kemanusiaan yang dianut teguh oleh masyarakat adat Sunda Wiwitan memberikan kebebasan bagi masyarakat adat untuk menganut agama lain. Banyaknya masyarakat adat yang berpindah keyakinan tidak menjadi kendala bagi masyarakat adat Sunda Wiwitan untuk mempertahankan eksistensinya. Memiliki masyarakat adat yang telah menganut agama lain, masyarakat adat Sunda Wiwitan berharap dapat melestarikan budaya asli bangsa Indonesia.
Melestarikan budaya asli Indonesia justru menjadi hakikat masyarakat adat dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan untuk menjaga budaya yang ada. Menurut Dewi Wulan Sari (2009), peran adalah konsep tentang apa yang seharusnya dilakukan individu dalam masyarakat dan mencakup persyaratan perilaku masyarakat terhadap seseorang, dan perilaku individu itulah yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Peran Nonoman dalam Aspek Sosial dan Budaya
Manakala dalam aspek kebudayaan, remaja dipandu oleh ciri-ciri bangsa, di mana unsur-unsur dalam ciri-ciri bangsa ialah seni dan budaya yang dipelihara oleh remaja dan tradisional Sunda Wiwitan.” Kepercayaan Sunda Wiwitan bahawa di Kampung Pasir terdapat. merupakan kepercayaan yang dipegang teguh oleh semua elemen masyarakat tradisional. Dalam bahagian ini, akan dibincangkan tentang kebangkitan belia masyarakat tradisional Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Garut.
Pemberian label pada kelompok minoritas pada masyarakat adat Sunda Wiwitan di Desa Cintakarya tidak menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya jumlah masyarakat adat yang berpindah agama atau kepercayaan. Status minoritas yang dialami masyarakat adat Sunda Wiwitan menjadi tantangan besar bagi generasi muda khususnya di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Garut. Pitutuh Luhur merupakan pedoman yang menjadi landasan nilai-nilai masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi non-manusia dalam menjalankan perannya.
Peran Nonoman Sebagai Agen Reproduksi Budaya
Begitu pula dengan perempuan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang menjalankan peran dan kedudukan dalam berbagai aspek. Masyarakat Adat Kampung Pasir merupakan bagian dari masyarakat adat Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan. Oleh karena itu, perempuan Sunda Wiwitan menjadi bekal moral bagi anak-anaknya agar dapat menjalani kehidupan sebagai warga adat Kampung Pasir.
Di Desa Cintakarya, tepatnya di Kampung Pasir, masyarakat adat Sunda Wiwitan mempunyai peran dan kedudukan yang sama dengan perempuan. Atikan Park merupakan wadah yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sunda Wiwitan. Dengan demikian, peran perempuan di luar rumah sangat penting untuk mendukung keberlangsungan kepercayaan Sunda Wiwitan dalam pelestarian budaya.
Kesetaraan Gender Pada Perempuan Sunda Wiwitan
Selain itu, anak-anak Sunda Wiwitan juga diajarkan untuk melakukan latihan mental atau meditasi. Unsur budaya dalam Sunda Wiwitan sangat penting karena termasuk dalam salah satu ciri khas bangsa. Oleh karena itu, masyarakat asli Sunda Wiwitan ikut serta dalam pelestarian budaya Sunda Wiwitan.
Seiring berjalannya waktu, jumlah warga Sunda Wiwitan di Kampung Pasir bertambah, terdiri dari kurang lebih 90 kepala keluarga. Mengingat masa kanak-kanak merupakan masa emas, maka perlu ditanamkan nilai-nilai dan budaya Sunda Wiwitan. Para guru di Taman Atikan sebagian besar merupakan relawan yang melestarikan budaya Sunda Wiwitan di kalangan anak-anak.
Partisipasi Kelompok Perempuan Sunda Wiwitan
Sedangkan di Kampung Pasir, Garut dan Sunda Wiwitan berbeda dengan teori ini, karena di sini perempuan dan laki-laki sama, tidak ada perbedaan (kesetaraan gender). Selain bekerja dan melakukan pekerjaan rumah tangga, perempuan Sunda Wiwitan di Kampung Pasir juga berperan serta dalam bidang lingkungan hidup, yaitu di bidang kebudayaan, pendidikan, dan ekonomi. Mayoritas penduduknya beragama Islam, ada pula yang menganut ajaran Sunda Wiwitan atau sering disebut Agama Sunda Jawa (ADS).
Melihat realitas masyarakat majemuk tersebut, artikel ini mencoba memberikan gambaran mengenai toleransi sosial antara umat Islam dengan masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Garut. Yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah perwakilan masing-masing agama, yaitu: Entis Sutisna dan Ata Sukanta sebagai pupuhu, masyarakat adat Sunda Wiwitan di desa Pasir; Sukarna sebagai warga asli Sunda Wiwitan; Pada masyarakat Kampung Pasir Desa Cintakarya mempunyai perbedaan keyakinan yaitu: Islam dan Sunda Wiwitan dimana masyarakatnya hidup rukun dan berdampingan.
Sejarah Toleransi Sosial
Toleransi sosial dikalangan masyarakat adat desa adat ini bermula dari ajaran nenek moyang Sunda Wiwitan, dimana adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penganut ajaran Sunda Wiwitan harus mematuhi segala keyakinan untuk saling menghargai antar umat beragama. Wawancara Ata Sukanta, 29 Maret 2018 Penganut ajaran Sunda Wiwitan sudah menanamkan toleransi antar umat beragama sejak kecil, dan hal itu sudah mendarah daging dalam diri mereka, karena mereka meyakini bahwa kerukunan antar umat beragama harus tetap dijaga dalam ajaran Sunda Wiwitan. Selain itu, tidak jarang warga Sunda Wiwitan juga ikut serta dalam acara-acara yang diadakan warga setempat.
Selain memberikan respon positif terhadap warga Sunda Wiwitan, masyarakat sekitar dan warga Sunda Wiwitan juga mempunyai hal yang bisa mempersatukan kedua pihak agar tidak terjadi perpecahan. Sambutan yang begitu besar di kalangan warga sekitar dan masyarakat adat Sunda Wiwitan tidak memiliki ciri khusus karena mereka hidup rukun antar warganya. Tak hanya sekedar menentukan agama apa yang akan dianut, warga sekitar juga memberikan kebebasan sebesar-besarnya kepada anggota keluarga untuk bermain atau mengobrol dengan warga tradisional Sunda Wiwitan, dalam kesehariannya warga muslim di kawasan tersebut juga membuka pintu seluas-luasnya. memungkinkan diantara warga Sunda Wiwitan untuk saling berbagi dalam hal berbagi penghidupan dengan umat islam.
Respons Masyarakat Setempat
Empat prinsip yang dipegang teguh masyarakat adat Sunda Wiwitan adalah: (1) keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) membela tanah air dan bangsa; (3) menghargai diri sendiri (selera); dan (4) kehidupan tidak boleh lepas dari musyawarah. Toleransi nyata masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Pasir terhadap umat Islam terlihat jelas dalam tiga aspek kehidupan, yaitu: dalam bentuk ibadah, dalam bidang sosial dan dalam bentuk kebudayaan. Misalnya saja ketika bulan Ramadhan tiba, anak-anak masyarakat Sunda Wiwitan sudah diajarkan untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa.
Dalam urusan sosial, sikap toleran mereka juga sangat terlihat jelas, dimana masyarakat adat Sunda Wiwitan selalu membantu masyarakat muslim sekitar dengan cara apapun. Contoh nyata dalam hal sosial ini adalah masyarakat adat Sunda Wiwitan membantu proses pemakaman umat Islam. Dari segi budaya, tidak ada perbedaan antara pribumi dan umat Islam karena mereka memiliki kesamaan budaya atau kesenian.
Toleransi Warga Adat Sunda Wiwitan
Toleransi juga sangat terlihat jelas di sini, masyarakat adat pun ikut berduka atas meninggalnya salah satu warga muslim melalui acara yang mereka adakan saat menyambut mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yang turun ke lapangan di Kampung Pasir, Cintakarya, dari penundaan atau penundaan. . Desa. Meskipun masyarakat adat Sunda Wiwitan merupakan kelompok minoritas di Kampung Pasir, namun tidak pernah terjadi konflik antara masyarakat adat dengan umat Islam di kawasan tersebut. Masyarakat adat Sunda Wiwitan selalu mengajarkan cara pandang yang positif, bahkan yang negatif pun hendaknya disikapi dengan kebaikan.
Toleransi yang tercermin antara masyarakat sekitar dengan masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir sangat jelas terlihat pada sikap gotong royong dan saling menghormati perbedaan keyakinan yang dianut masing-masing individu. Adanya sikap toleransi menghasilkan dampak positif antara masyarakat Islam dan penduduk asli Sunda Wiwitan. Adanya toleransi dapat menjadi alat hidup berdampingan secara damai antara masyarakat Islam dengan masyarakat adat Sunda Wiwitan.
Toleransi Sosial di Kampung Pasir
Seluruh masyarakat adat Sunda Wiwitan yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan bentuk kepercayaan yang dianut oleh para pengikut nenek moyang terdahulu. Seperti yang dialami masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, desa Cintakarya, dalam upayanya mendapatkan status keimanan di kolom agama. Adanya diskriminasi pada bagian agama di KTP membuat masyarakat adat Sunda Wiwitan kesulitan dalam perjodohan di kantor catatan sipil.
Oleh karena itu, orang Sunda Wiwitan yang menikah asli tidak memiliki buku nikah atau akta. Selain itu, masyarakat adat Sunda Wiwitan juga terus memperjuangkan haknya ketika terjadi kesalahan ketik pada kolom agama. Masyarakat asli Sunda Wiwitan masih menaruh harapan besar terhadap kebijakan pemerintah terkait hak-haknya sebagai warga negara.
Advokasi Warga Adat Sunda Wiwitan
Upacara Seren Taun di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat: Tradisi Sebagai Dasar Pelestarian Lingkungan” dalam Herbarium Bogoriense, LIPI-399-415.Hak Asasi Manusia di Indonesia (Menuju Pemerintahan Demokratis)” dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. .Pemberdayaan Cerita Rakyat dalam Memasuki Otonomi Daerah dan Globalisasi” dalam Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Vol.
“Proses Pembentukan Identitas Budaya Nasional dan Promosi Pariwisata Indonesia di Eropa (Studi Kasus Diaspora Bali di Perancis)” dalam Jurnal Pariwisata dan Perhotelan, Vol. “Komunikasi Instruksional Guru Dalam Membentuk Sikap Anggota Melestarikan Tulisan Sunda Sebagai Budaya Sunda” dalam Jurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran, Vol. Eksistensi Agama Lokal Parmalim: Studi Kasus di Nomonatif Penghayat Nomor 35 Desa Air Kulium Mandau Bengkalis” dalam Jom FISIP, Vol.