BAB III LAPORAN PRODUKSI
3.4. Proses Kerja Camera Person
3.4.6. Kendala Produksi dan Solusinya
Dalam sebuah penciptaan sebuah karya pastinya sebuah masalah – masalah pastinya kerap akan muncul dari mulai pra hingga paskah, kendala yang dialami oleh camera person saat produksi adalah :
Full memori pada saat sedang produksi. Solusinya Backup terlebih dahulu sebelum melakukan produksi atau membawa laptop untuk cadangan membackup data. Low baterai pada saat sedang produksi. Solusinya menggunakan baterai cadangan
3.4.7 Lembar Kerja Camera Person Konsep Kerja Kameramen
Kameramen merekam konsep yang telah di sepakati oleh sutradara pada saat pra produksi dan mengambil gambar sesuai skenario dengan acuan director shot yang telah di buat sutradara dan memperhatikan type shot, angel kamera, gerakan kamera dan mengatur komposisi gambar pada saat produksi, penulis ingin memberikan gambar – gambar yang bagus dan menarik untuk di lihat oleh masysarakat, penulis akan memberikan sentuhan shot – shot yang berbeda dengan film yang lain nya.
CAMERA REPORT Dokumenter
Production Company : BSI Produser : Abel Alkautsar
Project Title :Green House Coffee Roastery Director : Gelar putra pratama
Durasi : 25:02 Menit
No Shot
Visual
Dicrection Audio
Shot Size Angle Moving
1 1 ES Eye Level Still Lokasi sekitar Backsound
2 2 ES Eye Level Panning Gapura Backsound
3 3 ES Eye Level Panning Sekitar kebun Backsound
4 4 LS Eye Level Panning Gudang Backsound
5 5 ES Eye Level Still Mobil Backsound
6 6 KS Eye Level Still Halaman rumah mang ukas Backsound
7 7 MS Eye Level Still Tempat grading Backsound & audio
89
8 8 ES Eye Level Still Perjalanan Backsound & audio
9 9 MC Eye Level Still Halaman rumah mang ukas Backsound & audio
10 10 MS Eye Level Still Tempat grading Backsound & audio
11 11 MS Eye Level Still Garasi Backsound
12 12 FS High angle Still Teras rumah Backsound
13 13 LS Tracking panning Kebun kopi Backsound
14 14 CU Eye Level Still Green House Backsound
15 15 ES Eye Level Still Sawah Backsound & audio
16 16 ES Eye Level Panning Kebun kopi Backsound & audio
17 17 FS Eye Level Still Halaman rumah Backsound & audio
18 18 CU Eye Level Still Halaman rumah mang ukas Backsound & audio
19 19 FS Eye Level Still Halaman rumah Backsound & audio
20 20 FS Eye Level Panning Halaman rumah Backsound & audio
21 21 FS Eye Level Still Halaman rumah Backsound
22 22 ES Eye Level Still Tempat grading Backsound
23 23 FS Eye Level Still Kebun kopi Backsound
24 24 ES Eye Level Panning Kebun kopi Backsound
25 25 ES Eye Level Panning Kebun kopi Backsound
90
26 26 MCU Low Angle Panning Kebun kopi Backsound & audio
27 27 FS Eye Level Still Halaman rumah Backsound & audio
28 28 ES Eye Level Still Kopi gram Backsound & audio
29 29 ES Eye Level Panning Bar Backsound & audio
30 30 MS Eye Level Still Bar Backsound & audio
31 31 MCU Eye Level Panning Bar Backsound & audio
32 32 CU High Angel Panning Bar Backsound & audio
33 33 LS Eye Level Panning Kopi gram Backsound & audio
34 34 MS Eye Level Still Kopi gram Backsound & audio
91
SPESIFIKASI KAMERA (Non Drama, Dokumenter TV)
1. Sony a7 mark IV
Body Type
Body type Mirorrless
Sensor Max resolution 7008 x 4672
Image ratio 1:1, 4:3, 3:2, 16:9 Effective pixels 33 megapixels
Sensor size Full frame (35.6 x 23.8 mm)
Processor Bionx XR
Color space sRGB, Adobe RGB Image
92
ISO Auto, 100-51200 (expands to 50-204800) White balance
6 Presets
Custom white balance
Yes
Image stabilization Yes
File format JPEG (Exif v2.3)
Optics & Focus Raw (14-bit Canon CR2) Contrast Detect (sensor) Phase Detect
Multi-area Center
Selective single-point
Autofocus Tracking
Single Continuous Touch
Face Detection Live View Autofocus assist lamp Yes (flash)
Manual focus Yes
Lens mount Canon EF/EF-S
3840 x 2160 @ 60p / 200 Mbps, XAVC HS, MP4, H.265, Linear PCM
3840 x 2160 @ 50p / 200 Mbps, XAVC HS, MP4, H.265, Linear PCM
3840 x 2160 @ 30p / 140 Mbps, XAVC HS, MP4, H.265, Linear PCM
3840 x 2160 @ 25p / 140 Mbps, XAVC HS, MP4, H.265, Linear
Format PCM
3840 x 2160 @ 24p / 100 Mbps, XAVC HS, MP4, H.265, Linear PCM
3840 x 2160 @ 60p / 600 Mbps, XAVC S-I, MP4, H.264, Linear PCM
3840 x 2160 @ 50p / 500 Mbps, XAVC S-I, MP4, H.264, Linear PCM
3840 x 2160 @ 30p / 300 Mbps, XAVC S-I, MP4, H.264, Linear PCM
MPEG-4, XAVC S, XAVC HS, XAVC S-I, H.264, H.265
Microphone Stereo
Speaker Mono
Connectivity
USB
USB 3.2 Gen 2 (10Gbit/sec)
HDMI Yes
Microphone port Yes Headphone port No
Wireless Built-In
Wireless notes Includes Bluetooth LE and NFC
Remote control Yes (via smartphone or Bluetooth remote)
2. Sony A6000
Body Type Body type Mirorrless
Body material Aluminium alloy and polycarbonate resin with carbon and glass fiber
Sensor Max resolution 6000 x 4000
Image ratio 3:2, 16:9 Effective pixels 24 megapixels
Sensor size APS-C (23.5 x 15.6 mm)
Sensor type CMOS
Processor Bionz X
Color space sRGB, Adobe RGB Color filter array RGB Color Filter Array
Image
ISO Auto, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400, 12800 (25600 with boost)
White balance
6 Presets
Custom white balance
Yes
Image stabilization No
File format MPEG-4, AVCHD
Autofocus
Optics & Focus
Contrast Detect (sensor)
Phase Detect
Multi-area
Center
Selective single-point
Tracking
Single
Continuous
Touch
Face Detection
Live View Autofocus
assist lamp
By built-in flash
Manual focus Yes
Lens mount Canon EF/EF-S
Videography Features
Resolutions 1920 x 1080 (60p, 60i, 24p), 1440 x 1080 (30p, 25p), 640 x
480 (30p, 25p)
Format MPEG-4, H.264
Microphone Streo
Speaker Mono
Connectivity
USB USB 2.0 (480 Mbit/sec)
HDMI Yes (HDMI mini)
Microphone port No Headphone port No
Wireless Build-in
Remote control Yes (wired or pc)
SPESIFIKASI LENSA (Dokumenter TV)
1. Lensa Wide GM
Focal Range 24- 70 mm
Aperture F.2.0 Max
Filter Thread 77 mm Weather Sealed
Max Format 35 mm FF Canon EF Mount
Weight 500g
Diameter 84 mm
Length 97 mm
Min Focus Distance 0.28m
Max Magnification 0.24x
2. Lensa GM 50MM
Focal Range 50mm
Aperture f/1.2-32
Focal Lenght 50mm
Min Zoom Range 0.95m
Max Macro Magnification 1:3.1 at f=200 mm
3. Lensa kit
Focal Range 50mm
EF Mount Lens/Full-Frame Format.
Maximum Aperture: f/1.8.
Optimized Lens Coatings.
STM AF Motor Supports Movie Servo AF.
Manual Focus Override.
Metal Lens Mount.
Rounded 7-Blade Diaphragm.
Minimum Focus Distance: 14″
10 0
3.5 Proses Kerja Penata Artistik
Dalam dunia perfilman art director memiliki peran yang sangat penting, karena Art director merupakan seorang yang bertugas menata atau bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan art dalam skenario, baik yang meliputi;
merancang, mendesign, menciptakan dari suatu konsep yang sudah di ciptakan, hingga menjadi sebuah program yang dapat dinikmati.
Menurut Irwanto, dkk (2014:193) “Art director (penata artistik) bertanggung jawab dalam menciptakan penataan yang baik termasuk urusan property, kostum, make up, set desain dan sebagainya. Oleh karena itu sangatlah penting bagi penata artistik untuk menciptakan pandangan yang luas dan terus berpikir untuk sesuatu yang baru dan secara konstan berusaha menciptakan kreativitas yang lebih tinggi”.
3.5.1 Pra Produksi
Peran seorang art director sangat di butuhkan untuk membangun serta menciptakan sebuah karya yang berkompeten. Dalam hal ini art director pada saat pra produksi melakukan bedah naskah dengan kru-kru lainnya, serta mendiskusikan apa saja yang diperlukan pada saat produksi.
Berdasarkan pengertian diatas Pra produksi merupakan segala kegiatan yang berhubungan dengan persiapan sebelum melakukannya tahapan produksi. Dalam tahapan ini semua kru akan melakukan perencanaan yang fungsinya guna mempersiapkan segala sesuatu yang sesuai dengan konsep.
Beberapa elemen-elemen material dalam artistik sebagai persiapan menjelang produksi, diantaranya:
1. Pra Production Meeting
2. Bedah Nasakah/Skenario 3. Menentukan tim/divisi 4. Riset atau hunting
5. Membuat Breakdown Artistik
6. Mencari dan Mengumpulkan Property 3.5.2 Produksi
Dalam produksi art director bertugas untuk bertanggung jawab dengan memastikan segala sesuatu yang di perlukan untuk produksi telah disiapkan. Jadi tugas dalam produksi pun tak jauh lebih sulit pada saat pra produksi, namun kerja art director dalam produksi telah terjadwalkan berapa lama art director harus mengerjakan setting lokasi dan property, wardrobe dan make up. Ketentuan waktu tersebut telah dijadwalkan oleh asisten sutradara bagian scheduling.
Produksi, Menurut Zoebazary (2010:199) produksi ialah tahap ketika pelaksanaan pengambilan gambar dilakukan sebagai bagian dari tahap yang dilakukan sebelumnya (pra produksi).
3.5.3 Pasca Produksi
Pada tahapan pasca produksi ini penulis sebagai art director akan mengevaluasi berbagai keperluan memeriksa kekurangan-kekurangan pada saat pengambilan gambar. Kemudian juga penata artistik akan mengembalikan serta merapikan semua property yang telah digunakan.
Pasca produksi ialah proses penyelesaian akhir dari tahap sebelumnya (produksi). Biasanya istilah ini di gunakan untuk editing.
Pengertian diatas menjelaskan bahwa, pasca produksi merupakan tahapan akhir dari sebuah produksi, yaitu menyelesaikan berbagai keperluan yang telah di lakukan pada saat produksi.
3.5.4 Peran dan Tanggung Jawab Penata Artistik
Tanggung jawab sebagai art director tidaklah mudah. Art director harus sebisa mungkin mendapatkan property, make up dan wardrobe sesuai yang di butuhkan oleh naskah, dan penulis sebagai art director juga harus bisa menjaga dan bertanggung jawab atas semua barang-barang yang telah di dapat atau di pinjam dari divisi lain, agar dapat mempermudah bila mencari property, wardrobe atau make up apabila di butuhkan oleh sutradara untuk pengambilan gambar. Karena, tanggung jawab sebagai art director sangat penting dalam pembuatan program.
Menurut Tino Saroengalo (140-143) dalam menjelaskan tugas sebagai penata artistik bertanggung jawab dalam beberapa hal:
1. Membangun dunia pemain yang diinginkan sutradara.
2. Merancang segala sesuatu sesuai dengan pengambilan gambar.
3. Set dressing yaitu segala sesuatu yang ada diset.
4. Penggandaan barang cadangan atau duplikat.
5. Property master.
6. Bekerjasama dengan divisi penata kostum untuk menciptakan look pemain.
7. Pengarah artistik property master, penata kostum, maupun penata rias harus membuat breakdown adegan sesuai dengan naskah divisi masing- masing.
3.5.5 Proses Penciptaan Karya
Pada tahap penciptaan karya program dokumenter “Bunga Krisan” semua kru berusaha untuk menciptakan dan mengumpulkan semua ide-ide kreatif sehingga menghasilkan konsep yang menarik, yang terdiri dari;
1. Konsep Kreatif 2. Konsep Produksi 3. Konsep Teknis
3.5.6 Kendala produksi dan solusinya
Pada saat pra produksi, produksi dan pasca produksi penata artistic pasti akan mengalami beberapa kendala yang membuat jalannya produksi tersendat, seperti:
1. Kendala
Kendala yang art director di alami yaitu sulitnya mencari beberapa property dan saat pemasangannya.
2. Solusi
Maka solusi yang di ambil dari kendala diatas alangkah baiknya seorang art director meminta koordinasi kepada tim untuk bekerja sama untuk mencari dan mengeset serta merealisasikan keperluan tersebut.
BREAKDOWN ART
Production Company : BSI Produser : Abel Alkautsar
Project Title: Green House Coffee Roastery Director : Gelar Putra
Durasi : 25 menit
No Cast Wardrobe Makeup Setting Property
1 Bapak Lukas
sendal Kaos topi Celana chinos
Natural
Di halaman
rumah
2 Mas Bima
Kaos polo Celana bahan
Sendal
Natural
Di saung
3 Petani Muda
Kaos pendek Celana cargo
Sendal
Natural Di kebun
4 Pekerja
daster
kerudung Natural Di teras
rumah
tampah
SET DAN PROPERTY
Production Company : BSI Produser : Abel Alkautsar
Project Title: Green House Coffee Roastery Director : Gelar Putra
Durasi : 25 menit
No Location
1 Green House
2 Kebun
3 Saung
107
3.6 Lembar Kerja Penata Suara a) Konsep Penata Suara
b) Spesifikasi Peralatan Audio yang Digunakan c) Treatment Audio
Konsep Penata Suara Dalam konsep audio program Dokumenter “Green House Coffee Roastery” mengusung tema mengenai biografi petani bunga potong krisan. Untuk itu, backsound yang mempunyai beat yang agak santai seperti music
“………”. Hal ini agar gambar dan audio bisa selaras dan menimbulkan tontonan yang bagus untuk dilihat. Penulis juga akan menyisipkan beberapa voice over ke dalam video tape agar informasi yang dijelaskan bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton.
3.6.1 SPESIFIKASI PERALATAN AUDIO
Saramonic Blink500 adalah sistem mikrofon nirkabel 2 orang yang sangat ringan, ultrakompak, dan mudah digunakan untuk kamera DSLR, Mirrorless, dan Video, atau perangkat seluler yang menghadirkan suara berkualitas siaran yang detail. Seri sistem terdiri dari tiga penerima yang berbeda. Penerima RX memiliki output 3.5mm dan termasuk kabel output TRS dan TRRS, memungkinkannya bekerja dengan perangkat apa pun dengan input audio 3.5mm. Penerima RXDi memiliki output Lightning Bersertifikat MFi dan dirancang untuk perangkat Apple iOS. Dan penerima RXUC memiliki output USB-C dan dirancang untuk perangkat dengan port USB-C,
termasuk smartphone dan tablet Android.
Pemancar clip-on memiliki mikrofon internal yang terdengar bagus dan kecil serta cukup ringan untuk dijepitkan ke kemeja dan pakaian, atau Anda dapat menggunakannya
sebagai pemancar beltpack tradisional dengan mikrofon lavalier profesional SR-M1 yang disertakan.
Tidak ada pengetahuan teknis audio yang diperlukan untuk beroperasi. Sistem Blink500 beroperasi pada spektrum 2.4GHz bebas gangguan dan secara otomatis melompat ke saluran bebas untuk menghindari kebisingan statis dan gangguan audio.
Fitur Saramonic
Transmission Type: 2.4GHz Digital Frequency
Modulation: GFSK
Audio Output Connector: 3.5 mm Jack
Audio Output level: 60 dBV
Power Requirements: Built-in Li-ion Battery or USB-C DC 5V
Built-In Battery Life: Approx. 6 hours
Antenna: PIFA Antenna
Weight: Approx. 26.5g (0.93oz)
Dimensions: 62 33 15.5mm
Operating Temperature: 0°C to 50°C
Storage Temperature: 20°C to +55°C
KOLOM TREATMENT AUDIO
Production Company : BSI Produser : Abel Alkautsar I
Project Title : Green House Coffee Roastery Director : Gelar Putra
Durasi : 25:02 Menit
N O
SEGMEN T
DESCRIPTIO N
EQUIPMEN T
ATMOSPHER E
VOLLE
Y MUSIC
1 1 Title - Natural - Backsoun
d
2 1 Bumper - Natural - Backsoun
d
3 1
Establish Pemukiman warga sekitar
- Natural - Backsoun
d
4 1 Establish
Gapura - Natural - Backsoun
d
5 1
Establish Pemandangan
desa
- Natural - Backsoun
d
6 1 Judul - Natural - Backsoun
d
7 1
Establish Gudang penyimpanan
kopi
- Natural Backsoun
d
8 1 Establish
perjalanan
SARAMONI
C Natural - Backsoun
d 110
9 1
Establish Halaman rumah
mang lukas
- Natural - Backsoun
d
10 1 Title - Natural - -
11 1 Wawancara
Mas Bima
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
12
Persiapan menggiling
buah kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
13 Establish
pemandangan
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
14
Establish gapura desa sukamakmur
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
15 Establish plang
desa wisata
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
16
Establish penggilingan
buah kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
17
Establish mesin penggiling buah
kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
18
Footage proses penggilingan
kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
19
Footage menurunkan
buah kopi
- Natural Backsoun
d
20
Footage ibu ibu sedang menyortir buah
kopi
- Natural Backsoun
d
21
Memindahkan kopi yang sudah
di sortir untuk dijemur di green house
- Natural Backsoun
d
22 Footage proses
penjemuran - Natural Backsoun
d
23 Wawancara mas
bima
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
24 Establish
pemandangan
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
25 Establish
gudang
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
26
Establish mesin pengupasan
kulit kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
27 Establish mesin
grading - Natural Backsoun
d
28
Establish prosesn penggiling
- Natural Backsoun
d
29
Wawancara Mas Satria
Bima
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
30
Establish pemandangan
rumah warga
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
31 Establish
suasana desa
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
32 Wawancara mas
bima mengenai panen kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
33
Establish pemanadangan
desa
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
34
Establish hasil penggilingan
buah kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
35 Title - Natural -
IKLAN
36 Wawancara pak
lukas
SARAMONI C
Backsoun d
37
Establish proses penggilingan
kopi
SARAMONI C
Backsoun d
38 Pengeringan
buah kopi
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
39 Establish
suasana desa - Natural Backsoun
d
40 Establish
pekerja - Natural Backsoun
d
41 Establish mesin
grading - Natural Backsoun
d
42 Establish kebun
kopi - Natural Backsoun
d
43
Establish penjemuran
kopi
- Natural Backsoun
d
44 Establish Green
House - Natural Backsoun
d
45 Establish kebun
kopi - Natural Backsoun
d
46 kawasan ini
(Narasi)
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
47 Wawancara mas
Bima
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
48 Title - Natural -
49 Wawancara Pak
Lukas
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
50 Establish Kopi
yang di jemur
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
51 Establish
pemandangan
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
52 2 Proses grading SARAMONI
C Natural Backsoun
d
53 2 Establish kopi yang di jemur
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
53 2 Pekerja - Natural Backsoun
d
54 2 Wawancara
pekerja
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
55 2 Title - Natural -
56 2 Establish
Coffee Shop - Natural Backsoun
d
57 2 Establish bar SARAMONI
C Natural Backsoun
d
58 2 Establish Logo
Coffee Shop
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
59 2
Wawancara Barista Coffe
Shop
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
60 2 Pembuatan kopi
oleh barista
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
61
Proses shaking menu yang di
sajikan
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
62 Establish
mencuci shaker
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
63
Establish Pengunjung coffee shop
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
64 Establish
pekerja
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
65 Title - Natural Backsoun d
66 Wawancara
customer
SARAMONI
C Natural Backsoun
d
67 Title penutup - Natural Backsoun
d SELESAI
3.7 Proses Kerja Editor 3.7.1 Pra Produksi
Dalam produksi ini penulis yang bekerja sebagai editor harus memikirkan konsep dan ide kreatif secara matang, agar nantinya berita ini benar-benar dapat diterima dan dicerna oleh penonton. Editor adalah orang terakhir dari seluruh pekerja produksi. Pekerjaannya adalah mengolaborasikan berbagai unsur ekreatif sehingga bisa memberikan sentuhan seni pada akhir film. Editingmenjadi fase akhir dalam menyelesaikan. Intensitas kerja yang dibutuhkan sangat tinggi, lantaran tahap editing akan menentukan yang akan dibuat. Dengan kata lain, sebagus apapun momenyang sudah ditangkap, atau seemosional apapun dramatisasi yang diinginkan, tidak akan pernah bisa tersampaikan. Fase editing adalah upaya untuk membangun sebuah pesan, sebagai bentuk kerjapalingakhir dari seorang pembuat karya. Dalam proses produksi program berita ini, kami bekerja sesuai dengan profesi masing-masing yang sudah ditentukan dengan initanggung jawab yang kami dapatkan sangat besar dalam proses produksi ini.
sebagai editor yang mempunyai tanggung jawab besar dalam pasca produksi nanti, menciptakan dan mengkolaborasikan gambar yang sesuai dengan alur cerita akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. maka dari itu editor akan menjelaskan proses kerja editing.
Dalam produksi program karya tugas akhir ini penulis bertanggung jawab sebagai editor yang berperan sebagai penyunting pemotong penyambung dan merangkai potongan gambar secara runtut dan utuh sesuai dengan kebutuhan dalam drama televisi berjudul “Rumah Untuk Pulang” serta sesuai dengan konsep yang telahdibuat.
“Editor adalah seorang yang bertanggung jawab dan bertugas menyunting gambar bergerak melalui proses seleksi, memilih, memilah, untuk dijadikan sebagai rangkaian kesatuan film yang utuh” (Irwanto et al., 2019).
“Editor adalah orang yang bertanggung jawab pada saat pasca produksi dengan melakukan editing atau proses penyunting gambar,hingga suatu program TV layak untuk ditayangkan atau disiarkan” (KN, 2018b).
“Pengertian Editing adalah penyuntingan pemotongan penyambungan merangkai pemotongan gambar secara runtut dan utuh dari bagian-bagian dari hasil rekaman gambar dan suara” (Latief & Utud, 2018).
3.7.2 Produksi
Dalam tahap ini konsep dari seorang editor juga dipelukan, yang dimana penulis dapat memasukkan konsep-konsep dari seorang editor, agar nanti nya proses pembuatan film lebih terarah jalannya, dan cepat terselasaikan. Yang dimana berita ini tidak hanya konsep dari satu orang saja, tetapi dari semua pihak yang terlibat. Ditahap ini juga seorang editor sudah pasti mendapat gambaran tentang shot-shot yang akan dimasukkan nantinya dalam proses editing, agar memudahkan editor dalam bekerja nanti, penulis memberikan sebuah catatan berupa time code dari hasil pengambilan gambar yang sedemikian banyaknya, fungsi time code dimeja editing sangatlah berguna, baik buat seorang editor. Dimana penata kamera dapat mengingatkan kembali tentang shot-shot menarik yang ingin dimasuk kan nantinya. “Pra produksi adalah berbagai kegiatan persiapan sebelum pelaksanaan produksi dimulai” (KN, 2018b).
Sebelum memulai produksi setiap jobdesk seperti produser, sutradara, penulisnaskah, cameraman, audioman, penata cahaya, maupun penata artistik dan juga editormulai mempersiapkan hal-hal yang harus disiapkan di setiap jobdesk dari mulai budgeting, peralatan kamera maupun peralatan audio dan juga peralatan penata cahya.Kemudian di pra produksi ini penata artistik mulai bekerja keras untuk mendekor suaturuangan untuk scene yang akan di pakai. Pada tahap ini juga editor menyiapkan beberapa peralatan seperti laptop, hardisk, headset dan lain-lain. Tujuan dari mempersiapakan itu semua merupakan sebuah upaya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan atau dilupakan dan juga untuk membuat rasa pertemanan lebih erat dan memahami satu sama lain sebelum lanjut ketahap produksi.
Tugas editor pada tahap pra produksi terdiri dari 6 tahapan antara lain : 1. Setelah menerima naskah kemudian editor merencanakan
konsep editing seperti apa yang akan dipakai kemudian melihat dan mengingatkan sutradara shot apa saja yang penting dan tidak boleh dihilangkan.
2. Berdiskusi dan memberi masukan dengan sutradara untuk mencari stok shot yang dapat digunakan serta angle yang tepat untuk produksi yang akan dilaksanakan.
3. Berdiskusi dengan departemen dan kru yang lain untuk pembahasan secara teknis.
4. Bersama Produser dan sutradara membicarakan proses pasca produksi yang berlangsung baik dari sisi peralatan maupun dari sisi lighting.
5. Bersama tim yang lain melaksanakan survey lokasi untuk menentukan kesesuaian dengan gambaran dari naskah yang telah dibuat.
118
6. Menentukan tim editing (Irwanto et al., 2019).
Sesuai kutipan diatas banyak yang harus disiapkan menjadi editor pada tahap pra produksi ini sampai pada tahap pasca produksi, editor harus memahami konsep yang harus di pakai dalam produksi Rumah Untuk Pulang. Tujuan untuk memahami konsep yang dibahas pada pra produksi merupakan suatu tujuan untuk memahami
3.7.3 Pasca Produksi
Di tahap ini, perjalan film baru dimulai, apalah artinya tentang film yang diambil di lokasi sebagus apapun dengan kamera sebagus apapun juga tanpa proses editing. Dalam hal ini kecermatan, kreatifitas dan ide-ide tambah dengan konsep sutradara yang menarik dibutuhkan, untuk membangun suatu kesatuan audio visual yang bercerita. Setelah semua perlengkapan editing telah disiapkan, video dari hasil produksi kemarin, dikumpulkan dan disatukan dengan membaca kembali time code ataupun catatan dari penata kamera. Untuk membangun sebuah karya audio visual yang menarik. Dalam tahap ini penulis mulai membangun cerita melalui sebuah gambar yang disatukan dengan tahap editing, agar menjadi sebuah cerita yang sesuai dengan konsep yang ditentukan. Setelah semua gambar yang bagus telah dipilih dan diseleksi, editor mulai memperhalus hasil editan dengan memeriksa lagi dari awal, setelah semuanya rapih hasil editan mulai dipercantik dengan transisi-transisi halus sesuai dengan konsep editing yang telah dibahas. Tidak lupa juga diberikan efek jika memang diperlukan untuk membangun sebuah karya audio visual yang menarik. Dan tahap selanjutnya editor mulai memilih jenis musik ilustrasi dan musik efek yang di perlukan agar suasananya lebih hidup dan mudah dimengerti oleh penonton