A. Kebijakan Legislasi
2. Pedoman Pemidanaan
a. Kedudukan Pidana Mati dalam Stetsel Pidana
Praktik pemidanaan masih menjadi persoalan mendasar, yang sulit dilepaskan dari sistem pemidanaan yang berlaku dalam kebijakan dan sistem hukum nasional beserta landasan-landasan pemikiran yang menjadi basisnya. Dikemukakan Hulsman bahwa sistem pemidanaan
207 Best Steven & Kellner Douglas, Postmodern Theory.(Terjemahan) NY.The Guilford Press.1991.h.56
(the sentencing system) adalah "aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan sanksi pidana dan pemidanaan"
(the statutory rules relating to penal sanctions and punishment).208Hal ini juga berarti bahwa sistem pemidanaan memerlukan sinergi antara pedoman dan pola pemidanaan.
Pemidanaan, sebagai suatu proses pemberian atau penjatuhan pidana, maka dapatlah dikatakan bahwa sistem pemidanaan mencakup keseluruhan ketentuan perundang- undangan yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum pidana) berarti semua aturan perundang-undangan mengenai Hukum Pidana Substantif, Hukum Pidana Formal dan Hukum Pelaksanaan dapat dilihat sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan.
Aturan perundang-undangan (the statutory rules) apabila dibatasi pada hukum pidana substantif yang terdapat dalam KUHP, maka dapatlah dikatakan bahwa keseluruhan ketentuan dalam KUHP baik berupa aturan umum (Buku I) maupun aturan khusus mengenai tindak pidana (Buku II dan III) pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sistem pemidanaan.
Secara umum, sistem pemidanaan terutama erat kaitannya dengan: (1) jumlah atau lamanya ancaman pidana, (2) peringanan dan pemberatan pidana dan (3) sistem perumusan dan penerapan pidana. Dalam menetapkan jumlah atau lamanya ancaman pidana, maka pembuat UU tentunya diperhadakan pada dua alternatif sistem, yaitu:
Sistem atau pendekatan Absolut dan Sistem atau pendekatan relatif209.
208 Hulsman. L.H.C. Heeft Het Strafrecht Nog Zin?, Kri no. tanpa tahun
209 Hulsman. L.H.C. Heeft Het Strafrecht Nog Zin?, Kri no. tanpa tahun
Sistem pemidanaan ada dua pendekatan yakni pendekatan Absolut dan
Penerapan sistem absolut (sistem maksimum/indefinite), mau tidak mau menghadapi masalah penentuan lamanya maksimum dan minimum pidana, khususnya untuk pidana penjara dan denda. Sistem atau pendekatan relatif (dapat juga disebut pendekatan imaginatif) tersebut terlihat misalnya di dalam Model Penal Code yang dirancang oleh The American Law Institute dan disarankan pula oleh The Canadian Law Reform Commission.
Walaupun dengan ide yang berbeda, KUHP Green-land dapat juga dikatakan menganut pendekatan yang relatif.
Kedua sistem yang disebutkan masing-masing mempunyai segi positif dan segi negatif. Menurut Colin Howard,210 segi positif dari sistem yang pertama (yang disebutnya "sistem indefinite" atau "sistem maksimum") ialah adanya tiga keuntungan yang menyolok, yaitu: dapat menunjukkan tingkat keseriusan masing-masing tindak pidana; memberikan fleksibilitas dan diskresi kepada kekuasaan pemidanaan; melindungi kepentingan si pelanggar itu sendiri dengan menetapkan batas-batas kebebasan dari kekuasaan pemidanaan.
pendekatan relatif
1. Pendekatan Absolut, menekankan bahwa untuk setiap tindak pidana ditetapkan
"bobot/ kualitas"-nya sendiri-sendiri, yaitu dengan menetapkan ancaman pidana maksimum (dapat juga ancaman minimumnya) untuk setiap tindak pidana. Penetapan maksimum pidana untuk tiap tindak pidana ini dikenal pula dengan sebutan "sistem indefinite" atau "sistem maksimum"209 Dapat juga disebut dengan sistem atau pendekatan tradisional, karena bisaa digunakan dalam perumusan KUHP berbagai negaratermasuk dalam praktik legislatif di Indonesia.
2. Pendekatan Relatif, menekankan bahwa untuk tiap tindak pidana tidak ditetapkan bobot/ kualitas (maksimum pidana)-nya sendiri-sendiri, tetapi bobotnya di-"relatif'-kan, yaitu dengan melakukan penggolongan tindak pidana dalam beberapa tingkatan dan sekaligus menetapkan maksimum pidana untuk tiap kelompok tindak pidana itu.
210 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana. 2006. Op cit. 138-211
Sebaliknya pada sistem yang kedua (pendekatan relatif), kesulitan atau segi-segi negatif dari sistem pertama dalam menetapkan bobot/kualitas tindak pidana dapat lebih diatasi, karena tingkat keseriusan suatu delik di-"relatif'- kan211. Namun hal ini pun ada segi negatifnya, karena dengan merelatifkan ancaman maksimum untuk suatu kelompok tindak pidana berarti memberikan kewenangan dan diskresi yang sangat luas kepada para hakim dan di lain pihak dapat memberi peluang adanya disparitas pidana yang semakin mencolok.
Ketiga keuntungan di atas secara teoretis mengandung aspek Perlindungan masyarakat dan individu.
Aspek perlindungan masyarakat terlihat dengan ditetapkannya ukuran obyektif berupa maksimum pidana sebagai simbol kualitas norma-norma sentral masyarakat yang ingin dilindungi dalam perumusan dengan ditentukannya batas-batas kewenangan bagi aparat yang bersangkutan, dan aspek perlindungan individu dalam menjatuhkan pidana.
Menurut Barda Nawawi Arief 212 , bahwa dengan keuntungan tersebut, maka dengan dianutnya sistem absolut/ maksimum akan membawa konsekuensi yang cukup sulit dalam menetapkan maksimum khusus untuk tiap tindak pidana. Dalam setiap proses kriminalisasi pembuat undang-undang selalu dihadapkan pada masalah
"pemberian bobot" dengan menetapkan kuantifikasi ancaman pidana maksimumnya.
Terlepas dari keuntungan dan kelemahan kedua pendekatan pemidanaan (Absolut dan Relatif) tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar, yakni Bagaimana
211Ibid
212Ibid
kedudukan pidana mati dalam pola maksimum dan minimum?Parameter apa yang digunakan dalam menentukan suatu tindak pidana diancam pidana mati?
Menyimak Buku I KUHP tentang Aturan Umum dan Buku II tentang Perumusan Tindak Pidana, dapat diperoleh gambaran mengenai pola maksimum dan minimum pidana213 dalam pola perumusan khusus untuk semua tindak pidana yang tergolong "sangat serius" (di atas 7 tahun penjara) tidak dialternatifkan dengan pidana denda, kecuali apabila dilakukan oleh korporasi dapat dikenakan maksimum denda menurut kategori ke-5 untuk delik yang diancam pidana penjara 7 tahun ke atas sampai dengan 15 tahun, dan menurut kategori ke-6 untuk yang diancam pidana penjara 20 tahun atau seumur hidup.214
Pertanyaan selanjutnya, jika pidana mati digolongkan sebagai sanksi atas tindak pidana yang dianggap “sangat serius”, parameter apa yang digunakan untuk mengukur tingkat keseriusan tersebut ? Jawaban atas pertanyaan ini belum ditemukan dalam KUHP maupun Rancangan KUHP Baru 2006. Namun berdasarkan rapat-rapat Tim Pengkajian BPHN215, diketengahkan bahwa masih tetap dimungkinkan
213 Diadakannya pidana minimal umum denda disetujui dalam Rapat Tim tgl. 25 November 1988.
(1) untuk pidana penjara tetap dibedakan antara pidana penjara seumur hidup dan untuk waktu tertentu;
(2) pidana penjara untuk waktu tertentu, minimal (umum) satu hari kecuali ditentukan lain maksimal berturut-turut 15 tahun yang dalam hal-hal tertentu dapat mencapai 20 tahun;
(3) pidana minimal untuk denda adalah Rp 1.500,- kecuali ditentukan lain dan maksimalnya ditetapkan dalam enam kategori, yaitu (Pasal 77 Konsep 1987/1988; Pasal 73 Konsep 1993).
214 Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, Tahun 2007. Tim Pengkajian Sistem Pemidanaan KUHP Baru Departemen Hukum dan HAM RI 2007
215 Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, Tahun 2007. Tim
adanya "penyimpangan" dari pola maksimum dan minimum tersebut.
Menarik dicermati mengenai pola “minimum khusus”
untuk pidana penjara, yang menurut Konsep RKUHP Baru merupakan suatu perkecualian, yaitu untuk delik-delik tertentu yang dipandang sangat merugikan, membahayakan atau meresahkan masyarakat dan delik-delik yang dikualifikasi atau diperberat oleh akibatnya (Erfolgsqualifizierte Delikte): sebagai ukuran kuantitatif adalah delik-delik yang diancam pidana penjara di atas 7 tahun (sampai pidana mati) yang dapat dikenakan minimum khusus, karena delik-delik itulah yang digolongkan "sangat serius", namun dalam hal-hal tertentu patokan itu dapat diturunkan pada delik-delik yang tergolong "berat" (yaitu yang diancam 4-7 tahun penjara).
Lamanya minimum khusus, pada mulanya berkisar antara 3-7 tahun dengan perbandingan pola yang ada di berbagai negara, antara lain: Norwegia: Berkisar antara 2 bulan - 8 tahun; Yugoslavia: berkisar antara 3 bulan - 10 tahun; Polandia: berkisar antara 6 bulan - 10 tahun; Korea:
berkisar antara 1 tahun-10 tahun dan Jepang: berkisar antara 3 bulan -7 tahun.
Selanjutnya, perkembangan rapat Tim Pengkajian BPHN April 1989 menyepakati pola minimum yang berkisar antara 1-7 tahun, yakni untuk golongan berat maksimum 12 tahun sampai 15 tahun dan/atau pidana mati, seumur hidup atau pidana penjara 20 tahun. 216
Pengkajian Sistem Pemidanaan KUHP Baru Departemen Hukum dan HAM RI 2007
216 Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, Tahun 2007. Tim Pengkajian Sistem Pemidanaan KUHP Baru Departemen Hukum dan HAM RI 2007. Dalam perkembangannya, pola ini berubah antara 1-5 thn. (lihat Bab VIII)
Ketentuan peringanan pidana yang diatur pada Pasal 53 RKUHP Tahun 1987/1988217 dan Pasal 132 RKUHP 2006/2007218, cenderung lebih banyak mengatur syarat umur dan kondisi hamil pembuat pidana, penyertaan di dalam pidana tidak terlalu penting atau pembantuan terjadinya tindak pidana, menyerahkan diri pada saat melakukan tindak pidana, pidana denda atau ganti kerugian, serta pembuat pidana yang mengidap suatu penyakit psikologis (kegoncangan jiwa).
Ketentuan tersebut secara umum belum memikirkan tentang peringanan pidana bagi terpidana mati yang mengalami penundaan eksekusi. Dengan kata lain, syarat peringanan pidana tersebut tidak dapat diterapkan kepada
217 Pasal 53 RKUHP 1987/1988:
Pidana diperingan dalam hal: ke-1 seseorang yang melakukan tindak pidana dan pada waktu itu berumur 12 tahun atau lebih, tetapi masih di bawah 18 tahun;
ke-2 seseorang mencoba melakukan atau membantu terjadinya tindak pidana;
ke-3 seseorang setelah melakukan tindak pidana dengan sukarela menyerahkan diri kepada yang berwajib; ke-4 seorang wanita hamil muda melakukan tindak pidana; ke-5 seseorang setelah melakukan tindak pidana, dengan sukarela memberi ganti kerugian yang layak atau memperbaiki kerusakan akibat perbuatannya; ke-6 seseorang melakukan tindak pidana karena kegoncangan jiwa yang sangat hebat sebagai akibat yang sangat berat dari keadaan pribadi atau keluarganya.
218. Pasal 132 Konsep 2006/2007: Faktor-faktor yang memperingan pidana meliputi:
a. Percobaan melakukan tindak pidana;
b. pembantuan terjadinya tindak pidana;
c penyerahan diri secara sukarela kepada yang berwajib setelah melakukan tindak pidana;
d. tindak pidana yang dilakukan oleh wanita hamil;
e. pemberian ganti kerugian yang layak atau perbaikan kerusakan secara sukarela sebagai akibat tindak pidana yang dilakukan;
f- tindak pidana yang dilakukan karena kegoncangan jiwa yang sangat hebat;
g. tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39; atau faktor-faktor lain yang bersumber dari hukum yang hidup dalam masyarakat .
terpidana mati yang menjalani penundaan eksekusi. Dapat dikatakan demikian sebab dalam salah satu ketentuannya juga menyebutkan bahwa seseorang yang telah melakukan tindak pidana dapat diberikan peringanan pidana bila secara sukarela memberi ganti kerugian. Hal ini juga berarti bahwa terpidana mati yang divonis pidana mati juga patut mendapat peringanan setelah melakukan tindak pidana.
Pada huruf g Pasal 132 RKUHP 2006/2007 disinggung mengenai faktor-faktor lain yang bersumber dari hukum yang hidup di masyarakat, tapi tidak dijelaskan. Penulis berpendapat, ada baiknya dimasukkan salah satu syarat dari peringanan pidana, yaitu bilamana ada permintaan maaf dari pihak keluarga korban. Hal ini penting karena “permohonan maaf, saling memaafkan” umumnya dipraktikkan masyarakat, dan hal ini juga sesuai Qishas dalam Surat Almaida Kitab Suci Alqur’an yang pada intinya bahwa bilamana seseorang melakukan pembunuhan, maka hukuman pembalasan pembunuhan atau eksekusi pidana mati dapat ditiadakan jika pihak keluarga korban memberikan maaf dan/atau ada pemberian dari pihak keluarga korban. Jadi, konsep atas adanya pemberian maaf dari keluarga korban dapat dipertimbangkan dalam Ius Constitendium RKUHP.
Selanjutnya dalam hal lamanya peringanan pidana diatur dalam Pasal 53 RKUHP Tahun 1987/1988 dan Pasal 133 Konsep (RKUHP) 2006/2007219. Kedua ketentuan ini
219. Pasal 53 RKUHP 2006/2007:
1. Peringanan pidana berarti, bahwa maksimum ancaman pidananya dikurangi sepertiga
2. Dalam hal ancaman pidananya adalah pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka maksimum pidananya adalah pidana penjara lima belas tahun 3. Peringanan atau pengurangan pidana sepertiga menurut Ayat (1) berlaku juga
terhadap minimum pidana yang diancam untuk tindak pidana tertentu
mengisyaratkan lamanya peringanan pidana, termasuk pidana mati dengan peringanan maksimum dari ancaman pidananya, sehingga maksimum pidananya adalah pidana penjara lima belas tahun. Hal ini juga berarti bahwa terpidana mati yang menjalani penundaan eksekusi dapat menerima peringanan pidana dengan maksimum pidana penjara 15 tahun.
Dari uraian ketentuan syarat peringanan pidana dan lamanya peringanan pidana tersebut baik pada RKUHP 1987/1988 maupun RKUHP 2007/2008, tampaknya tidak berbeda substansinya bahkan redaksinya pun dapat dikatakan sama, kecuali ada penambahan yang sifatnya penegasan saja, termasuk pada huruf g Pasal 132 RKUHP 2006/2007 yakni tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39; atau faktor-faktor lain yang bersumber dari hukum yang hidup dalam masyarakat, ataukah dalam konteks pertimbangan- pertimbangan tertentu peringanan pidana dapat berarti peringanan jenis pidana (Pasal 53 RKUHP 2006/2007) dan pertimbangan-pertimbangan tertentu peringanan pidana dapat berupa perubahan jenis pidana dari yang lebih berat ke jenis pidana yang lebih ringan (Pasal 133 Konsep (RKUHP) 2006/2007).
4. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, peringanan pidana dapat berarti peringanan jenis pidana.
Pasal 133 Konsep (RKUHP) 2006/2007:
Peringanan pidana adalah pengurangan 1/3 (satu per tiga) dari ancaman Pidana maksimum maupun minimum khusus untuk tindak pidana tertentu. • Untuk tindak pidana yang diancam pidana mati dan penjara seumur hidup,maksimum pidananya penjara 15 (lima belas) tahun. berdasarkan pertimbangan- pertimbangan tertentu, peringanan pidana dapat berupa perubahan jenis pidana dari yang lebih berat ke jenis pidana yang lebih ringan.
Syarat-syarat peringanan pidana juga belum mengatur mengenai perubahan perilaku terpidana, ataukah apakah ini masuk dalam “pertimbangan tertentu”. Menurut hemat penulis, jika seseorang (terpidana) yang mendapat keringanan pidana karena masalah psikologis, atau karena mampu membayar ganti kerugian, lalu mengapa tidak dipertimbangkan peringanan pidana bagi yang mampu menunjukkan perubahan perilaku yang lebih baik atau bertaubat, termasuk terpidana mati yang mampu mencapai derajat kejiwaan dan mental yang stabil. Menurut hemat penulis, syarat-syarat peringanan pidana tersebut masih lemah dan belum dapat diterapkan kepada terpidana yang menjalani penundaan eksekusi.
Pada Pasal 53 dan 133 RKUHP tersebut juga ditegaskan bahwa untuk tindak pidana yang diancam pidana mati dan penjara seumur hidup, maksimum pidananya penjara 15 (lima belas) tahun. berdasarkan pertimbangan- pertimbangan tertentu, peringanan pidana dapat berupa perubahan jenis pidana dari yang lebih berat ke jenis pidana yang lebih ringan. Pertanyaannya, parameter apa yang dapat digunakan untuk melakukan peringanan pidana mati menjadi pidana penjara 15 tahun? Hal ini patut dipertanyakan karena pada Pasal 132 KUHP 2006/2007 belum ada indikasi dapat digunakan. Hal ini juga berarti bahwa dalam peringanan pidana, selain diperlukan alternatif pidana mati, juga memerlukan standar, kriteria, mekanisme yang jelas dalam kebijakan penundaan eksekusi.
Selanjutnya, bilamana ditinjau pola pemberatan pidana, seperti yang diatur dalam Pasal 54 Konsep 1987/1988 220 kemudian dikaitkan dengan penundaan
220. Pasal 54 RKUHP 1987/1988:
eksekusi, maka pemberatan pidana terutama dapat terjadi bilamana terpidana melakukan pengulangan tindak pidana seperti yang disebutkan pada sub 8. Pengulangan tindak pidana itu dapat pula masuk dalam sub 5 jika terpidana melakukan tindak pidana dengan kekerasan atau cara yang kejam selama di penjara.
Terkait dengan alasan pemberatan pidana bagi peng- ulangan tindak pidana (recidive), diatur dalam Aturan Umum Buku I. Pengaturan umum semacam ini juga terdapat pada beberapa KUHP negara lain 221 , namun penulis tidak Pidana diperberat dalam hal: ke-1 Pegawai negeri yang melanggar suatu kewajiban jabatan yang khusus ditentukan oleh peraturan perundang-undangan atau pada waktu melakukan tindak pidana menggunakan kekuasaan, kesempatan atau upaya yang diberikan kepadanya karena jabatannya; ke-2 seseorang melakukan tindak pidana dengan menyalah-gunakan bendera kebangsaan, lagu kebangsaan ataulambang Negara Republik Indonesia; ke-3 seseorang melakukan tindak pidana dengan menyalahgunakan keahlian atau profesinya; ke-4 orang dewasa melakukan tindak pidana bersama dengan anak di bawah umur delapan belas tahun; ke-5 tindak pidana dilakukan dengan kekuatan bersama, dengan kekerasan atau dengan cara yang kejam; ke-6 tindak pidana dilakukan pada waktu ada huru-hara atau bencana alam; ke-7 tindak pidana dilakukan pada waktu negara dalam keadaan; ke-8 terjadinya pengulangan tindak pidana,
Dalam perkembangan berikutnya (Konsep 2004 - 2006/2007), ditambahkan faktor ke-9, yaitu "faktor-faktor lain yang bersumber dari hukum yang hidup dalam masyarakat."
221 Pengaturan Recidive pada Negara lain : misalnya: KUHP Thailand mengaturnya dalam Pasal 92-94 Buku I (General Provisions) Bab 8 yang berjudul "Recidivism"; KUHP Korea mengaturnya dalam Pasal 35-36 Buku I (General Provisions) Bab 2 sub 4 berjudul "Repeated Crime"; KUHP Jepang mengaturnya dalam Pasal 56-59 Buku I (General Provisions) Bab X berjudul
"Repeated Crimes''; KUHP Norwegia mengaturnya dalam Pasal 61 Buku I (General Part) Bab 5 yang berjudul "Ground for Mitigating or Aggravating Punishment'; KUHP Austria mengaturnya dalam Pasal 44 Buku I (tentang
"Felonies") Bab III tentang salah satu alasan yang memperberat sifat kejahatan pada umumnya; KUHP Polandia mengaturnya dalam Pasal 60-65 Buku I (tentang "Recidivism"); KUHP Yugoslavia mengaturnya dalam Pasal 40 (Recidivity) dan Pasal 40A (Multiple Recidivity) Bagian Umum (General Part).
membahasnya. Syarat-syarat recidive diatur dalam Pasal 113 Bab V Konsep RKUHP 1987/1988 222 dan mengalami perubahan pada Pasal 24 (2005/2006/2007)223.
Mengacu kepada Pasal 113 Bab V Konsep RKUHP 1987/1988, maka yang dapat dikategorikan melakukan pengulangan tindak pidana adalah melakukan tindak pidana yang sesifat dan sejenis dengan tindak pidana yang telah menyebabkan ia dipidana, dalam waktu ia menjalani pidana, atau dalam waktu tiga tahun setelah ia selesai menjalani pidana. Sedangkan berdasarkan Pasal 24 RKUHP (2005/2006/2007) diuraikan bahwa : pengulangan tindak pidana terjadi apabila orang yang sama melakukan tindak pidana lagi dalam waktu 5 (lima) tahun sejak: a. menjalani seluruh atau sebagian pidana pokok yang dijatuhkan; b.
pidana pokok yang dijatuhkan telah dihapuskan; atau c.
kewajiban menjalani pidana pokok yang dijatuhkan belum kadaluwarsa.
Bilamana dikaitkan dengan terpidana mati yang menjalani penundaan eksekusi, pengulangan tindak pidana terutama dapat terjadi selama masa percobaan atau penundaan eksekusi, atau sebelum eksekusi benar-benar dilaksanakan. Bentuk-bentuk pengulangan tindak pidana tersebut, misalnya bagi terpidana kasus terorisme
222 Pasal 113 Bab V Konsep RKUHP 1987/1988
“Dipidana karena pengulangan, barangsiapa melakukan tindak pidana yang sesifat dan sejenis dengan tindak pidana yang telah menyebabkan ia dipidana, dalam waktu ia menjalani pidana, atau dalam waktu tiga tahun setelah ia selesai menjalani pidana".
223 Pasal 24 RKUHP (2005/ 2006/ 2007) :
Pengulangan tindak pidana terjadi, apabila orang yang sama melakukan tindak pidana lagi dalam waktu 5 (lima) tahun sejak: a. menjalani seluruh atau sebagian pidana pokok yang dijatuhkan; b.pidana pokok yang dijatuhkan telah dihapuskan; atau c. kewajiban menjalani pidana pokok yang dijatuhkan belum kadaluwarsa.
mengendalikan kegiatan terorismenya di balik jeruji. Bagi terpidana kasus pembunuhan misalnya, pengulangan tindak pidana dapat berupa berbuat kekerasan atau ancaman kekerasan di dalam penjara, melarikan diri ataukah membunuh narapidana lain. Demikian pula bagi terpidana kasus narkoba misalnya, dapat kembali mengulangi kebisaaannya seperti mengkonsumsi narkoba, menjual narkoba ke sesama narapidana. Ini berarti keterlibatan aparat di LAPAS patut dicurigai di atas pengulangan tindak pidana. Hal ini juga berarti bahwa :
Pengulangan tindak pidana tidak tertutup kemungkinan melahirkan pembuat pidana baru selain yang terpidana itu sendiri atau pembuat pidana lama (Kartini Malarangan, 2011).
Pertanyaan selanjutnya, sejauhmana pertimbangan pemberatan pidana jika ada pihak lain khususnya oknum petugas LAPAS yang mendukung terjadinya pengulangan tindak pidana selama penundaan eksekusi ?
Konsepsi tersebut di atas, mengindikasikan bahwa pengulangan tindak pidana bukan hanya sifat, jenis, waktu dan tempat, melainkan juga faktor keterlibatan pihak lain (perbarengan/concourse), intensitas atau frekuensi perbuatan pidana dilakukan, dan akibat yang ditimbulkan.
Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa baik Pasal 113 Bab V Konsep RKUHP 1987/1988 maupun Pasal 24 RKUHP (2005/
2006/ 2007), keduanya masih lemah. Ini juga berarti, syarat pemberatan pidana pada Pasal 54 RKUHP 1987/1988 juga masih lemah, sehingga perlu alternatif (Kartini Malarangan, 2011).
Perbarengan (concourse), walaupun pada dasarnya mengandung sifat pemberatan pidana, namun tidak
dimasukkan dalam perumusan Pasal 54 di atas. Hal ini disebabkan, karena menurut Pasal 55 RKUHP (Konsep)
"pemberatan pidana berarti penambahan sepertiga dari ancaman maksimum," padahal di dalam concursus tidak selalu demikian. Oleh karena itu, concursusdiatur secara tersendiri dalam Pasal 56-63. Pengaturan dan sistem pemidanaan untuk concursus menurut RKUHP (Konsep) tidak jauh berbeda dengan KUHP sekarang; hanya ada sedikit perbedaan sehubungan dengan tidak dikenalnya lagi perbedaan jenis kejahatan dan pelanggaran menurut RKUHP (Konsep) dan sehubungan dengan adanya minimum khusus dalam RKUHP (Konsep).
Selanjutnya ditinjau mengenai gabungan alasan peringanan dan pemberatan pidana, seperti diatur pada Pasal 55a RKUHP (Konsep) 1989224. Bilamana dikaitkan dengan penundaan eksekusi, jika terpidana mengalami suatu kegoncangan jiwa (dapat diperingan pidananya) dan pada saat yang bersamaan melakukan suatu kejahatan atau pengulangan tindak pidana (dapat diperberat pidananya), sehingga menurut ketentuan ayat (1) Pasal 55a RKUHP
224 Pada mulanya RKUHP (Konsep) 1982/1983 yang diperbaharui menjadi RKUHP (Konsep) 1987/1988 tidak mengaturnya. Setelah Lokakarya tanggal 18-19 Februari 1988, Tim Pengkajian BPHN bersepakat dalam rapat bulan November dan Februari 1989, untuk menambah satu pasal yaitu Pasal 55a Pasal 55a RKUHP (2005/ 2006/ 2007) :
(1) Jika dalam suatu perkara terdapat hal-hal yang memperingan pidana dan hal-hal yang memperberat pidana secara bersama-sama, maka maksimum ancaman pidana diperberat sepertiga lebih dahulu, kemudian hasil pemberatan tersebut dikurangi sepertiga.
(2) Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, pengadilan dapat tidak menerapkan ketentuan peringanan pidana maupun pemberatan pidana dalam hal terjadi perkara seperti tersebut pada Ayat (1).
(3) Ketentuan pemberatan pidana tidak berlaku terhadap anak di bawah delapan belas tahun yang melakukan pengulangan tindak pidana.
.