BAB III METODOLOGI METODOLOGI
3. Pekerjaan Jalan Akses
4.3. Pekerjaan Abutment
4.3.1 Pekerjaan Pemancangan Steel Pipe
a. Langkah pertama yang dilakukan pada pekerjaan ini adalah pengadaan Tiang Pancang D609 mm dengan panjang 12 m dan 10 m.
b. Untuk pemesanan Tiang pancang ini di PT. Spindo Steel Indonesia yang berlokasi di kota Pasuruan. Yang
berjarak 48.26 km dari lokasi proyek.
c. Setelah semua tiang pancang sampai di laydown area.
Dilakukan pelansiran ke lokasi yang dekat dengan titik pemancangan dengan cara mengangkut dengan truck trailer dengan kapasitas 28 ton.
d. Pelansiran dari laydown area ke lokasi dekat pengerjaan menggunakan alat berat mobil crane yang berkapasitas 50T dan Truck trailer yang berkapasitas 28 ton.
e. Setelah pelansiran selesai maka dilakukan pemancangan dengan menggunakan alat berat mobil crane 100T, mobil crane 50 T, vibratory hammer, juga pile drive hammer dengan attachment.
f. Banyaknya titik tiang pancang untuk bangunan abutment ini adalah sebanyak 5 titik dan elevasi cut off sedalam 31 meter.
g. Pertama kali dilakukan penyetelan steel pipe D609 12 m dengan vibratory hammer dengan menggunakan crane 50 T. Tiang pancang di setting pada vibratory hammer (untuk vibratory hammer ini diangkat oleh crabe 100T) dan dikunci. Selanjutnya ditarik keatas menuju ke titik
pancang. Pemancangan dipandu oleh surveyor, dengan menggunakan totalstation agar menjaga arah tegak lurus tiang pancang. Apabila tiang pancang telah berada pada posisi sesuai dengan desain, maka dilakukan pemancang menggunakan vibratory hammer hingga tertanam sedalam ± 10 meter.
h. Setelah tiang pancang pertama sudah tertanam, maka dilanjutkan dengan menggunakan diesel hammer dengan menyetel dan mengunci terlebih dahulu ke tiang pancang yang sudah tertanam. Kemudian diambil tiang pancang D609 10 m dan diangkat menuju titik pancang dengan menggunakan crane 100 T. Apabila tiang pancang telah berada pada posisi sesuai dengan titik tiang pancang yang sudah tertanam dilakukan penyambungan dengan pengelasan.
i. Kemudian dilakukan penyetelan alat untuk diesel hammer, leader hammer dittoing ke tiang pancang dan dikunci. Dilakukan pemukulan terus menerus hingga mencapai kedalaman rencana yang ditentukan.
j. Setelah pemancangan mencapai final set, maka dilakukan pemotongan tiang sampai elevasi cut off level.
Pemotongan tiang pancang menggunakan blander dari atas platform yang dipasang pada tiang pancang.
4.3.2 Pekerjaan Isian Pancang
a. Setelah pekerjaan pemacangan selesai dilanjutkan pekerjaan isian pancang. Pertama-tama dilakukan fabrikasi tulangan dan pembatas cor yang berbahan plywood.
b. Perakitan dilakukan dengan melakukan pengukuran panjang yang diperlukan lalu dilakukan pemotongan dengan bar cutter dan pembengkokan dengan bar bender.
Proses ini dilakukan pada saat suhu dingin.
c. Batang tulangan kemudian disusun/diapasang sesuai dengan Shopdrawing dan persilangannya diikat kuat dengan kawat bendrat.
d. Langkah selanjutnya adalah pemasangan baja tulangan ke dalam tiang pancang.
e. Kemudian dilakukan pengecoran, beton dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis (concrete mixer) yang berada di batching plant. Pencampur dilengkapi dengan tangka air bersih yang memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap penakaran.
f. Waktu pencampuran diukur pada saat air mulai dimasukkan dalam campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan dimasukan sebelum waktu pencampuran telah berlangsung ¼ bagian. Waktu pencampuran untuk mesin kapasitas ¾ m3 atau kurang selama 1,5menit;
untuk mesin lebih besar waktu ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3.
g. Penuangan dilakukan secara langsung dari truck mixer dibantu dengan concrete pump.
4.3.3 Pekerjaan Pembesian Balok Abutment, Wingwall, Pelat Injak
a. Pekerjaan pertama yang dlikakukan adalah dengan melakukan pengukuran panjang yang diperlukan lalu dilakukan pemotongan dengan bar cutter dan pembengkokan dengan bar bender. Proses ini dilaksanakan pada saat suhu dingin
b. Pelaksanaan pemotongan (barcutter) dan pembengkokan (bar bending) ini dilakukan diarea fabrikasi (laydown area).
c. Setelah tulangan ini sudah terangkai, maka langkah selanjutnya mengangkut rangkaian tulangan ini menujutitik lokasi.
d. Batang tulangan abutment kemudian disusun/dipasang sesuai dengan gambar rencana (shop drawing) dan persilangannya diikat kuat dengan kawat bendrat. Kawat bendrat/kawat pengikat harus sesuai dengan spesifikasi teknis.
e. Kemudian dilakukan pemasangan baja tulangan ke dalam kedalam galian tanah yang akan digunakan untuk abutment.
4.3.4 Pekerjaan Pemasangan Bekisting dan Pengecoran Abutment, Wingwall dan Pelat Injak
a. Beton dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis (concrete mixer). Pencampur dilengkapi dengan tangki air bersih yang memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap penakaran.
b. Waktu pencampuran diukur pada saat air mulai dimasukan dalam campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan dimasukan sebelum waktu pencampuran telah berlangsung ¼ bagian. Waktu pencampuran untuk mesin kapasitas ¾ m3 atau kurang selama 1,5 menit;
untuk mesin lebih besar waktu ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3.
c. Sebagai persiapan, lokasi pengecoran dibersihkan dari sampah, potongan kayu, bendrat, paku dan sampah lainnya dengan penghisap debu, kompressor dan atau air.
d. Bekisting dilumuri mould oil hingga rata. Kebocoran bekisting telah dicek dan disumbat. Sambungan dengan pengecoran sebelumnya telah disiram dengan calbond atau air semen serta bekisting dibebaskan dari genangan air. Sebelum instruksi pengecoran segala persetujuan yang diperlukan telah diurus dan disetujui oleh direksi/owner dan pengawas pekerjaan.
e. Penuangan dilakukan secara langsung dari truck mixer, dibantu dengan talang cor (jika diperlukan) ke tempat bekisting/lokasi pekerjaan. Untuk Lokasi yang tidak dapat dijangkau oleh truck mixer, penuangan beton dibantu dengan menggunakan concrete pump. Tinggi jatuh beton pada saat pengecoran tidak lebih dari 1,5
meter agar tidak terjadi pemisahan antara batu pecah yang berat dengan pasta beton, (segregasi).
f. Pemadatan dibantu dengan vibrator mekanikal type tertentu dalam jumlah yang memadai. Selang vibrator dibenamkan sampai batas kedalaman beton sebelumnya dan agar tidak terjadi kantong udara. Vibrator tidak mengenai tulangan atau penutup (shutter) kecuali penutup dari beton.
g. Lama penggetaran pada suatu tempat yang sama secara manual dapat dideteksi dengan indera pendengaran. Jika alat vibrator di dalam beton frekwensi suara yang dihasilkan rendah dan semakin meninggi. Saat frekwensi suara yang dihasilkan konstan dimungkinkan pemadatan sudah cukup.
h. Selanjutnya dilakukan perawatan beton sesuai spesifikasi teknis.