• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAMATAN LAPANGAN

3.2. Peralatan Pekerjaan

3.3.1. Pekerjaan Kolom

Kolom merupakan struktur atas yang menerima beban secara aksial yang berasal dari balok atau dinding dan meneruskan beban tersebut kepada struktur yang ada di bawahnya yaitu pondasi. Adapun proses pekerjaan kolom sebagai berikut:

1. Marking As

Pekerjaan penentuan as kolom dilaksanakan oleh tim surveyor. Hal ini bertujuan agar kolom yang berdiri berada di lokasi yang tepat dan sesuai dengan gambar rencana. Cara menentukan titik as kolom adalah dengan membuat as awal yang berpatokan pada titik BM kemudian dibuat as-as yang lain dengan mengikuti jarak yang telah direncanakan pada perencanaan awal.

Gambar 3.23. Marking AS Kolom 2. Pembesian Kolom

Proses pabrikasi tulangan kolom dilakukan diluar area konstruksi supaya tidak mengganggu pekerjaan lainnya. Proses pabrikasi dibantu menggunakan bar bender dan bar cutter supaya mempermudah pekerjaan dalam membentuk tulangan sesuai dengan shop drawing. Ketika sudah dipotong dan dibentuk, tulangan sengkang dan ties perlu diikat menggunakan kawat bendrat agar rangkaian tidak mengalami pergeseranatau lepas.

47 Gambar 3.24. Pembesian Kolom

3. Pemasangan Tulangan

Pada proyek ini penyambungan tulangan pada kolom dilakukan menggunakan metode pengikatan menggunakan kawat bendrat.

Pengikatan dilakukan pada overlapping tulangan pokok kolom sisa pengecoran sebelumnya dengan overlapping tulangan pokok kolom yang diangkut. Panjang tulangan overlap yaitu 40D sesuai dengan standar perencanaan yang digunakan di proyek.

Gambar 3.25. Pemasangan Tulangan 4. Pemasangan Beton Decking

Pemasangan beton decking/tahu beton dengan tebal sekitar 4 cm pada tempat yang telah ditentukan untuk menjaga ketebalan selimut beton, sehingga saat di cor bekisting tidak akan menempel pada tulangan. Beton decking dipasang dengan cara diikat menggunakan bendrat pada tulangan terluar.

48 Gambar 3.26. Pemasangan Beton Decking

5. Checklist Pekerjaan

Langkah terakhir yaitu checklist saat tulangan sudah di setting dan terpasang dengan benar. Proses checklist dilakukan oleh Quality Control (QC) bersama Manajemen Konstruksi (MK). Proses ini adalah pengecekan dan pengontrolan jumlah tulangan, jarak tulangan, dimensi tulangan, kekuatan sambungan kawat bendrat, dan ukuran overlapping apakah sudah sesuai dengan gambar shop drawing yang direncanakan. Jika keseluruhan sudah disetujui Quality Control (QC) bersama Manajemen Konstruksi (MK) maka dapat dilakukan pemasangan bekisting. Jika belum disetujui, maka harus dibenahi dahulu sebelum pemasangan bekisting.

Gambar 3.27. Checklist Pekerjaan 6. Pemasangan Bekisting

Pekerjaan bekisting ini dikerjakan setelah pekerjaan penulangan kolom dan pemasangan beton decking selesai dan disetujui oleh MK. Secara umum bekisting harus memenuhi syarat berikut ini:

a. Memiliki struktur yang kuat

b. Kokoh, diharapkan tidak merubah bentuk

49 c. Tidak bocor

d. Mudah dibongkar

Sebelum pemasangan bekisting, pastikan kolom telah bersih dari sampah seperti sisa kawat bendrat atau sampah lainnya. Supaya saat pengecoran, beton tidak tercampur dengan sampah tersebut. Selain itu, sebelum pemasangan, bekisting perlu diberi minyak pelumas supaya saat pengecoran beton tidak akan menempel pada bekisting serta untuk mempermudah dalam pelepasan bekisting.

Gambar 3.28. Pemasangan Bekisting Knockdown 7. Pengecoran Kolom

Pada proyek pembangunan Costruction of Smart Building for BPKP Training Facility at Ciawi, Denpasar, Medan and Makassar beton yang digunakan pada bangunan center dan learning solution menggunakan mutu fc’ 25 MPa Alat yang digunakan dalam proses ini yaitu concrete bucket dengan pipa tremie, vibrator dan tower crane. Berikut merupakan tahapan yang dilakukan ketika pengecoran kolom:

a. Pekerjaan persiapan

1) Persiapkan shop drawing / gambar kerja & material approval

2) Periksa persetujuan atas pembesian, beksiting yang telah terpasang (cek verticality dan kekuatan) lakukan checklist hinngga closing pembesian dan bekisting.

3) Pastikan area kolom tidak tersisa laitance dipermukaan betonnya dan dalam keadaan bersih.

4) Pastikan elevasi stopcor sesuai dengan rencana pengecoran, dimana ditentukan bahwa elevasi stopcor berada minus 50mm dari level

50 bottom balok terendah.

5) Siapkan peralatan (vibrator, tremie, dan bucket) dalam kondisi siap pakai.

6) Siapkan tower crane untuk mengangkat bucket yang berisi beton.

7) Siapkan cetakan silinder untuk benda uji dan alat slump test dengan kerucut abrams.

b. Tuang beton dengn jarak max 1,5 m, usahakan sedekat mungkin antara pipa tremie dengan permukaan beton lama.

c. Padatkan beton dengan menggunakan vibrator untuk menghilangkan rongga udara yang akan mengakibatkan keropos beton.

Gambar 3.29. Pengecoran Kolom 8. Pembongkaran Bekisting

Pembongkaran bekisting dilakukan setelah 12 jam sejak pengecoran selesai.

Pembongkaran bekisting menggunakan bantuan dari tower crane dan dibongkar secara manual, berikut proses pembongkaran bekisting.

Gambar 3.30. Pembongkaran Bekisting

51 3.3.2. Pekerjaan Balok

1 Menentukan Elevasi

Sebelum memulai pekerjaan balok kita harus menentukan elevasi dan AS untuk mencegah terjadinya kemiringan pada pemasangan balok dari titik AS. Oleh karena itu penentuan elevasi dan as dilakukan di awal sebelum melakukan pekerjaan balok dan slab pada proyek pembangunan Costruction of Smart Building for BPKP Training Facility at Ciawi, Denpasar, Medan and Makassar yang dilaksanakan oleh tim surveyor. Alat yang dapat membantu untuk menentukan titik-titik as balok adalah dengan menggunakan alat total station dan waterpass untuk memastikan datarnya balok. Cara menentukan titik as balok yaitu membuat garis pinjaman setinggi 1 m dari as balok dibawahnya. Kemudian diukur menggunakan waterpass sesuai dengan elevasi ketinggian balok yang akan dikerjakan.

Gambar 3.31. Menentukan Elevasi 2. Pemasangan Perancah

Langkah awal untuk membuat balok dan slab kita memerlukan perancah yang berguna untuk penahan/penopang beban sendiri dan beban beton yang akan di cor, sampai umur beton sudah mencapai 14 hari.

Gambar 3.32. Pemasangan Perancah

52 3. Pemasangan Bekisting Slab menggunakan plywood.

Melakukan pemasangan bekisting slab diatas tiang perancah yang berfungsi sebagai cetakan sementara slab menggunakan kayu plywood berukuran 9mm.

Gambar 3.33. Pemasangan Bekisting Slab 4. Pemasangan Bekisting Balok Bodeman.

Pada proyek Costruction of Smart Building for BPKP Training Facility at Ciawi, Denpasar, Medan and Makassar dilakukan pemasangan bekisting balok bagian bawah diatas tiang perancah yang berfungsi sebagai cetakan balok sementara menggunakan kayu plywood 9mm.

Gambar 3.34. Pemasangan Bekisting Balok Bodeman 5. Pemasangan Bekisting Balok Tembereng.

Melakukan pemasangan bekisting balok bagian samping kanan-kiri diatas tiang perancah yang berfungsi sebagai cetakan balok sementara menggunakan kayu plywood 9mm.

53 Gambar 3.35. Pemasangan Bekisting Balok Tembereng

6. Pemasangan pembesian Slab dan Balok.

Melakukan pekerjaan pembesian dari balok dan slab sesuai gambar acuan/shop drawing yang telah direncanakan.

Gambar 3.36. Pemasangan Pembesian Slab dan Balok 7. Pengecoran

Berikut ini merupakan metode pelaksanaan pengecoran slab dan balok:

a. Pemasangan decking dan bekisting plat sebagai batas cor di sekeliling plat. Pemasangan decking dilakukan pada ¼ bentang balok dan plat lantai.

Gambar 3.37. Pemasangan Decking

b. Pembersihan besi sebelum pengecoran, pelaksanaan pembersihan tulangan dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran yang

54 berada baik pada tulangan maupun pada bekisting sehingga tidak ada kotoran seperti serpihan bekisting dan serpihan sampah sisa pipa conduit untuk pelindung kabel-kabel yang digunakan di ruangan.

Pembersihan tulangan dilakukan dengan menggunakan water compressor dan dilakukan tepat sebelum pelaksanaan pengecoran.

Gambar 3.38. Pembersihan Area Pengecoran

c. Melakukan persiapan mesin concrete pump yang akan digunakan dalam pengecoran. Kemudian memasukkan semen mortar sebelum ready mix concrete dituangkan ke concrete pump.

Gambar 3.39. Persiapan Mesin Concrete Pump

d. Truck mixer melakukan loading dari batching plan dan truck mixer sampai di proyek, dilakukan slump test dan suhu beton sesuai dengan kriteria kemudian dilakukan pembongkaran truck mixer ke concrete pump dan melakukan pemompaan concrete pump ke area pengecoran.

55 Gambar 3.40. Pemompaan Concrete Pump ke Area Pengecoran

e. Pada saat beton dituangkan dari pipa tremie, penggunaan concrete vibrator juga dilakukan pada beton dengan mengeluarkan getaran saat proses pengecoran. Tujuan dari penggunaan concrete vibrator agar tidak terdapat void atau rongga pada beton mengeras sehingga tidak terjadi keropos pada beton. Pada saat penggunaan concrete vibrator harus hati-hati dalam menggunakannya.

Gambar 3.41. Penggunaan Concrete Vibrator

f. Melakukan pengukuran elevasi slab menggunakan alat total station agar tidak terjadi perbedaan elevasi di satu area pada saat perataan beton. Kemudian dilakukan perataan beton menggunakan trowel beton.

Gambar 3.42. Pengukuran Elevasi Slab

56 8. Perawatan Balok

Proses perawatan dilakukan untuk menjaga agar beton tetap lembab dan dalam kondisi yang baik selama periode pengerasan. Perawatan ini dilakukan dengan cara menyiramkan air pada beton yang bertujuan agar beton tidak mudah retak. Akan tetapi pada proyek ini perawatan beton dilakukan dengan memanfaatkan hujan yang ada karena kondisi proyek terletak pada daerah yang sering hujan.

Pada proyek pembangunan Costruction of Smart Building for BPKP Training Facility at Ciawi, Denpasar, Medan and Makassar beton yang digunakan pada bangunan center dan learning solution 25 MPa (kolom balok dan slab) , FA 15% , dengan nilai slump 12 ± 2 cm.

Dokumen terkait