• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEKNIK PELAKSANAAN DILAPANGAN

2.4 Menguraikan Metode Kerja

2.4.3 Pekerjaan Struktur Atas

(b) Pemasangan Bekisting Pier Head Gambar 2.17. Penulangan Badan Pilar

49 b) Proses perakitan jembatan wtt 60,2 m :

1. Pemasangan batang bawah dari gelagar induk sebelah kiri dan kanan dengan jarak melintang nya disesuaikan dengan Panjang gelagar melintang dengan lebar 5m.

2. Pemasangan gelagar melintang dan memanjang

3. Pemasangan batang batang diagonal dan vertical pada titik buhul dengan baut baut. Agar batang batang diagonal dan vertical dapat berdiri dengan kokoh pada posisi nya maka dibuatkan batang yang diikatkan pada jembatan lama setelah batang diagonal dan vertical selesai dipasang maka dilanjutkan pemasangan batang batang bagian atas yang memanjang dan melintang serta ikatan angina atas.

4. Pemasangan unsur pembentuk system jalan rel

Gambar 2.19.WTT 60,2 m 2. Penyetelan Jembatan Baja WTP 26,5 m & 15,6 m

Secara garis besar :

1. Membuat penyanggaan jembatan terlebih dahulu

2. Memasang komponen jembatan dari bagian bawah sampai bagian atas 3. Setelah komponen disetel, masukkan perusut pada lubang-lubang baut 4. Lalu dilakukan pengecekan chamber jembatan sementara

5. Mengganti perusut dengan baut TC dan kencangkan sementara menggunakn kunci manual

6. Cek chamber final lalu setelah ok, kencangkan baut TC menggunakan alat imfact sampai putus

7. Turunkan jembatan ke pilar atau abutment dan cek kembali chamber sebelum pekerjaan grouting

(a) Penyetelan Jembatan Baja WTP 15,6 m

(b) Penyetelan Jembatan Baja WTP 26,5 m Gambar 2.20. WTP 26,5 m & 15,6 m 3. Penyetelan Andas Baja

Setelah pondasi pilar selesai dilaksanakan pemasangan andas baja. Pemasangan dilaksanakan dengan mengangkat jembatan menggunakan dongkrak kemudian andas baja dipasang diujung ujung jembatan dan di baut, setelah andas baja dipasang di jembatan, jembatan baja tersebut di ukur chamber nya sesuai dengan ketentuan nya, setelah oke jembatan diturunkan, kemudian pasang angkur pada masing masing andas, dan setelah chamber benar benar oke barulah andas tersebut di grouting pada pilar abutment jembatan tersebut

(a) Sebelum di Grouting

51 (b) Sesudah di Grouting

Gambar 2.21. Penyetelan Andas Baja 4. Pemasangan Bantalan Kayu

1. Proses pemasangan bantalan kayu jembatan kereta api dimulai dengan meng-chiping bantalan kayu yang berguna agar bantalan kayu dapat sesuai dengan diameter ukuran bantalan kayu pada jembatan wtp dan wtt.

Gambar 2.22. Chiping Bantal Kayu

2. Pemasangan bantalan kayu denga ukuran bantalan Panjang 180 cm lebar bantalan diameter 22x20 cm.Jarak pemasangan perbantalan kayu adalah 60cm dengan jumlah bantalan kayu seluruhnya 152 bantalan.

3. Setelah itu dilakukan proses pengecatan menggunakan cat taire yang gunanya untuk melindungi bantalan kayu dari kelapukan akibat panas dan air hujan.

(a) Pemasangan bantalan ke WTP dan WTT

(b) Pengukuran Bantalan Kayu

(c) Proses Rail Gauge

Gambar 2.23 Pemasangan bantalan kayu 5. Pemasangan Rel

Proses pemasangan rel pada bantalan kayu adalah melakukan pengeboran lubang baut untuk pemasangan base plat atau dudukan rel pada bantalan rel kayu. Untuk memasangan rel diambil lah sampel atau potongan rel untuk acun disalah ujung bantalan jembatan. Setelah potongan rel tersebut dipasangn lalu di tarik benang lurus dari ujung ke ujung jembatan menggunakan alat Rail Gauge (alat ukur rel) Setelah pengukuran selesai, proses selanjutnya yakni pemasangan rel diatas bantalan. Rel tersebut lalu di kencangkan menggunakan pen roll yang dilapisi oleh rubber

Gambar 2.24. Alat Penroll atau Penjepit Rel

53 6. Penghubungan Rel

Pada penjelasan kali ini kami akan menjelaskan tentang pemasangan bantalan setelah jembatan atau penghubung antara rel dan jembatan.

a) Proses pertama untuk pemasangan bantalan beton proses penimbunan.

Lapisan timbunan tanah ini harus memiliki tingkat kepadatan yang diisyarat kandengan tinggi timbunan menyesuaikan elevasi rencana.

b) Pemasangan bantalan,bantalan dipasang diatas balas secara melintang dengan jarak 60 cm antar bantalan. Mutu beton yang dipakai cukup tinggi antara K 350 atau K 400. Didalam bantalan diberi tulangan prategang.

c) Pada proses pemasangan rel itu tidak dipasang dengan ukuran langsung panjang, tetapi dipasang per 20-25 meter. Pemasangan rel tersebut di pasang di atas Baseplat lalu setelah terpasang rel di sambung perbagian.

Penyambungan rel ada 2 metode yakni : 1. Conventional Jointed Rails (CJR)

Metode inii merupakan plat besi sekitar 50-60 cm yang berfungsi untuk menyambungkan dua segmen/potongan batang rel. Pada plat tersebut terdapat 4 atau 6 lubang untuk tempat skrup/baut penyambung serta mur-nya. Panjang batang rel yang dipasang memiliki panjang 20-25 m sehingga perlu komponen penyambung berserta bautnya. Pada setiap sambugan rel ,terdapat celah pemuaian (Expansion Space) sehingga membuat rangkaian Kereta Api saat melintas akan terdengar bunyi “Jeg- jeg...Jeg-jeg” dari bunyi roda Kereta Api yang melewati celah pemuaian tersebut. Metode ini merupakan metode sambungan tradisional.

Gambar 2.25. Conventional Jointed Rails (CJR)

2. Countinuous Welded Rails (CWR)

Untuk metode ini merupakan metode yang sekarang lebih banyak digunakan, yakni penyambungan metode dengan las termit.

Tiap 2-4 potong dapat dilas menjadi satu rel yang panjang tanpa diberi celah pemuaian, sehingga metode ini memiliki panjang sekitar 40-100 m. Metode ini biasanya diterapkan pada jalur dengan kecepatan laju kereta api yang tinggi, kerena permukaan rel menjadi lebih rata dan halus sehingga rangkaian kereta api dapat melintas dengan lebih nyaman. Penerapan metode ini juga mengurangi resiko rusaknya roda Kereta Api, karena roda Kereta Api akan “tersandung” saat melewati celah pemuaian.

(a) Proses Pembakaran

(b) Pengisian Serbuk Baja/Biji Besi Gambar 2.26. Countinuous Welded Rails (CWR) 7. Memasukan Balas

Lapisan ini disebut pula sebagai Tack Bed, karena fungsinya sebagai tempat pembaringan trek rel KA. Lapisan Ballast merupakan suatu lapisan berupa batu- batu berukuran kecil yang ditaburkan di bawah trek rel, tepatnya di bawah, samping, dan sekitar bantalan rel (sleepers). Bahkan terkadang dijumpai bantalan rel yang “tenggelam” tertutup lapisan ballast, sehingga hanya terlihat batang relnya saja.

55 Fungsi lapisan ballast adalah :

1. Untuk meredam getaran trek rel saat rangkaian KA melintas

2. Menyebarkan axle load dari trek rel ke lapisan landasan dibawahnya, sehingga trek rel tidak ambles

3. Menjaga trek rel agar tetap berada di tempatnya

4. Sebagai lapisan yang mudah direlokasi untuk menyesuaikan dan meratakan ketinggian trek rel (levelling)

5. Memperlancar proses drainase air hujan

6. Mencegah tumbuhnya rumput yang dapat mengganggu drainase air hujan.

Ballast yang ditabur biasanya batu kricak (bebatuan yang dihancurkan menjadi ukuran yang kecil) dengan diameter sekitar 28-50 mm dengan sudut yang tajam (bentuknya tidak bulat). Ukuran partikel ballast yang terlalu kecil akan mengurangi kemampuan drainase, dan ukuran terlalu besar akan mengurangi kemampuannya dalam mentransfer axle load saat rangkain KA melintas. Dipiih sudutnya tajam unuk mencegah timbulnya rongga-rongga didalam taburan ballast, sehingga lapisan ballast tersebut susunannya menjadi rapat

Ballast ditaburkan dalam 2 tahap. Pertama saat sebelum perakitan trek rell, yakni ditaburkan diatas formation layer dan menjadi track bed atau “Kasur”

bagi bantalan rel, agar bantalan tidak bersentuhan langsung dengan lapisan tanah. Karena jika bantalan langsung bersentuhan dengan tanah (formation layer) bias-bisa bantalan tersebut akan ambles, karena axle load yang diterima bantalan langsung menekan frontal ke bawah karena ketiadaan ballast untuk menyebarkan axle load.

Kedua ketika trek rel selesai dirakit, untuk menambah ketinggian lapisan ballast hingga bantalan, mengisi rongga-rongga antar bantalan, dan di sekitar bantalan itu sendiri. Ballast juga ditabur disisi samping bantalan hingga jarak minimal 50 cm dengan kemirigan (slope) tertentu sehingga membentuk “bahu” ballast yang berfungsi menahan gerakan lateral dari trek rel. pada kasus tertentu, sebelum ballast, ditaburkan terlebih dahulu lapisan sub-ballast, yang berrupa batu kricak yang berukuran lebih kecil. Fungsinya untuk memperkuat lapisan ballast, meredam getaran saat rangkaian KA lewat, dan sekaligus menahan

resapan air dari lapisan blanket dan subgrade dibawahnya agar tidak merembes ke lapisan ballast.

Ketebalan lapisan ballast minimal 150 mm hingga 500 mm, karena jika kurang dari 150 mm menyebabkan mesin pecok ballast (Plasser and Theurer Tamping Machine) justru akan menyentuh formation layer yang berupa tanah,

sehingga bercampur ballast dengan tanah, yang akan mengurangi elastisitas ballast dalam menahan trek rel dan mengurangi kemampuan drainasenya.

Secara periodic, dilakukan perawatan terhadap lapisan ballast dengan dibersihkan dari lumpur dan debu yang mengotorinya, di pecok, ata bahkan dengan diganti dengan yang baru. Untuk itu dilakukan perawatan dengan mesin khusus yang diproduksi oleh Plasser and Theurer Australia. Di Indonesia ada mesin pemecok ballast (Ballast Tamping Machine) untuk mengembalikan ballast yang telah bergeser ketempatnya semula, sekaligus merupakan lapisan ballast dibawah bantalan agar bantalan tidak bersinggungan langsung dengan tanah.

Gambar 2.27. Bantalan Rel dan Ballast

Dokumen terkait